[4] Nindy Si Pelumpuh Hati

1065 Words
"Baiklah, mulai hari ini Nindy akan jadi bagian dari kelas ini," tukas Bu Nida begitu Nindy selesai memperkenalkan diri. "Sekarang, apa ada yang ingin bertanya?" tanya Bu Nida pada semua siswa yang ada di dalam kelas itu. Marvel tentu saja takkan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan cepat, ia mengangkat tangan kanannya untuk mengajukan pertanyaan pada cewek yang kini menjadi incarannya itu. "Ya, Leon!" ujar Bu Nida menunjuk cowok yang duduk sebangku dengan Marvel. Dan ketika nama itu disebut, barulah Marvel sadari bahwa dirinya bukanlah satu-satunya orang yang mengangkat tangan dengan niat untuk bertanya. Pandangannya berkeliling, dan ternyata hampir semua siswa cowok di dalam kelas itu mengangkat tangannya. Gila ya, ini cewek satu emang menarik banget! "Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Bu Nida kembali. Sementara cewek baru yang berdiri di sampingnya, masih tetap diam menunggu pertanyaan dari Leon. Leon yang mendapat kesempatan emas itu, mulai mempersiapkan diri untuk mengajukan pertanyaannya. Merapikan kerah bajunya, mengibas-ibaskan jambul kebanggaannya, dan memasang tampang sok coolnya di depan cewek cantik yang kala itu tengah memandanginya. "Ekhem... Ekhem..." Leon pura-pura berdeham. "Nindy?" tanya cowok itu dengan begitu lembut dan tak lupa juga dengan disertai senyuman. "Ya?!" balas Nindy masih agak canggung. "Bapak kamu... tukang bubur ya?" tanya Leon lagi. Dari pertanyaan yang ia ucapkan tadi, sudah jelas kalau itu merupakan awal dari sebuah rayuan. Karena ayah Nindy memang bukan tukang bubur, jadi secara otomatis cewek itu menggeleng tidak setuju. Dan secara tidak langsung, hal itu telah menggagalkan usaha Leon yang mencoba untuk merayunya. Tapi bukan Leon namanya, kalau sekali gagal langsung nyerah gitu aja. Ia kembali mencoba dengan menggunakan pertanyaan gombal yang lainnya. Kali aja, yang ini bakalan berhasil. "Kalo gitu, bapaknya Nindy pasti tukang jual petasan deh!! Iya kan?" tanya cowok itu, berharap bahwa jawabannya 'iya' Namun Nindy kembali menggeleng. Dan usaha Leon kembali gagal untuk yang kedua kalinya. "Bukan juga?" Leon bertanya agak kecewa. "Kalo gitu, tukang odong-odong ya?" "Bukan," jawab Nindy, kali ini tanpa gelengan. Cewek itu malah tersenyum mendengar pertanyaan konyol yang satu itu. Leon beralih ke pertanyaan yang lainnya. Namun Nindy masih tetap menjawab tidak akan pertanyaan-pertanyaan yang Leon ajukan. Hingga segala profesi disebutkannya, mulai dari polisi, maling, seniman, wartawan, tukang jual pulsa, tukang pos, sampai tukang gali kubur pun ditanyakannya. Namun jawaban Nindy tetap satu: tidak. Putus asa dengan semua tebakan yang ditanyakannya tak ada satu pun yang benar, akhirnya Leon mengajukan satu pertanyaan pamungkas yang jawabannya sudah pasti benar. "Nindy, bapak kamu laki-laki ya?" Belum sempat Nindy menjawab, pertanyaan itu keburu didebat oleh Tara, cewek yang duduk di baris paling belakang deretan bangku paling kanan. "Nyon! Lo kok tau sih, bokapnya Nindy laki-laki? Kalo lagi mandi, sering lo intipin ya?" tanya cewek itu keras-keras. Seketika itu ruangan yang tadinya sepi kini mulai ramai oleh suara tawa siswa-siswi penghuninya. Tawa yang disebabkan serangan telak Tara pada Leon. Melihat suasana kelas yang riuh dan semakin ribut oleh kata-kata nggak jelas yang terucap dari mulut-mulut siswanya, tentu Bu Nida tak bisa diam saja. "Oke. Oke. Oke. Untuk pertanyaan nggak penting Leon ini, tentu kalian semua udah taulah jawabannya," kata Bu Nida mencoba menenangkan siswanya. Mencoba mengembalikan suasana kelas seperti yang sebelumnya. "Jadi, kita berlanjut ke pertanyaan selanjutnya!" Bu Nida menyimpulkan. Dengan kesimpulan itu, terlukislah tampang kecewa di wajah Leon. Sementara Marvel, sahabatnya, segera bersiap mengangkat tangan untuk bertanya pada kesempatan kedua ini. "Ada yang ingin bertanya lagi?" tanya Bu Nida membuka pertanyaan bagi siapa saja, termasuk Marvel. Marvel langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Namun lagi-lagi, Dewi Fortuna belum berpihak kepadanya. "Ya, Fian! Silakan!" ujar Bu Nida mempersilakan cowok yang duduk di sebelah Tara untuk mengajukan pertanyaannya. "Udah punya cowok belom, Ndy?" tanya cowok itu dengan suara lantangnya. Langsung ke pokok permasalahan, tanpa adanya basa basi terlebih dahulu. Dengan adanya pertanyaan Fian barusan, otomatis mengundang para siswa lain untuk tertawa dan menyorakinya. "Uuuuuuuu..." Terdengar suara cewek-cewek yang saling bersorak kompak. "Sudah! Sudah! Jangan berisik, atau Ibu sudahi sesi pertanyaan ini?!" ancam Bu Nida menengahi mereka semua. "Nindy, gimana? Kamu mau jawab apa nggak?" tanya Bu Nida, kali ini hanya pada cewek baru yang masih berdiri di sebelahnya itu. Sementara cewek yang ditanya hanya dapat tersenyum ragu-ragu, menanggapi kedua pertanyaan tersebut. Baik pertanyaan dari Bu Nida maupun pertanyaan dari Fian. "Jawab doooong!!" pinta sebagian cowok-cowok yang mengharapkan satu jawaban pasti. "Atau kalo nggak mau jawab, minta nomer hapenya aja deh!" sahut Dani yang nggak sabar ingin bertanya, karena Bu Nida tak kunjung memberinya kesempatan untuk bertanya. "Uuuuuu..." Lagi-lagi cewek-cewek bersorak kompak akan pertanyaan itu. "Cukup... cukup!! Ibu rasa, pertanyaan kalian nggak ada yang bener ini. Ngawur semuanya!" potong Bu Nida. "Baiklah, ibu beri satu lagi kesempatan pada kalian untuk bertanya pada Nindy. Tapi kali ini yang bener ya?!" "Saya, Bu!" Marvel langsung berucap dan mengangkat kembali tangannya tinggi-tinggi, padahal Bu Nida belum mempersilakan mereka untuk melakukan itu. Marvel memang sengaja melakukan itu, agar tak didahului lagi oleh yang lain. "Baiklah, Marvel. Apa yang ingin kamu tanyakan?" Akhirnya... kesempatan emas itu didapatkan Marvel. Ia bersiap mengajukan pertanyaan. Ia mulai membuka mulutnya, namun tak ada satu pun kata yang keluar. Cewek itu menatapnya! Nindy benar-benar menatapnya. Dan tatapan itu membuat Marvel tak berkutik. Membuat sederetan pertannyaan yang telah direncanakanya menguap sia-sia. Hilang diserap oleh suatu sensasi aneh yang dirasakannya. Cowok itu seakan tersihir. Sihir yang begitu kuat, hingga membuat dirinya tak kuasa untuk selalu mengagumi satu mahakarya Tuhan yang begitu istimewa ini. Satu cewek yang baru beberapa menit ini ia lihat, namun telah berhasil membuat hati Marvel lumpuh total. Gila ya, s***s banget nih cewek! "Marvel?! Apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Bu Nida sekali lagi. Mati-matian Marvel menghadapi tatapan maut milik Nindy itu. Mati-matian juga ia berusaha untuk tampil biasa saja di hadapan cewek itu. "Ummm... anu... itu..." Hanya itulah yang dapat keluar dari mulut Marvel. Itu pun dia sudah berusaha mati-matian kali! Marvel masih terus mengingat-ingat deretan pertanyaan yang tiba-tiba menghilang itu, atau mencari-cari pertanyaan baru yang akan ia ajukan agar kesempatan emas ini tak terbuang sia-sia. Namun entah kenapa, saat ini ia merasa sulit sekali untuk berpikir. Dan ia tersadar, tatapan cewek itu bukan hanya melumpuhkan hatinya. Tapi juga melumpuhkan cara kerja otaknya. Hingga Marvel menemukan sesuatu di dalam kolong mejanya. Sesuatu yang dapat ia jadikan bahan pertanyaan. Ya, walaupun bukan pertanyaan yang penting, tapi setidaknya ada satu pertanyaan yang ia ajukan. Marvel segera meraih serumpun kedondong yang masih tersisa di dalam kolong mejanya. Ia lalu menarik napas panjang, dan mulai bertanya dengan suara yang bergetar. "Ma... mau kedondong?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD