Aurel berulang kali mengembuskan napasnya. Ia tampak frustasi karena sedari tadi ia tak bisa tidur walau rasa kantuk sudah menyerangnya. Setiap kali ia memejamkan matanya, halusinasi liarnya selalu memenuhi pikirannya, membuatnya merasa takut sehingga membuatnya kembali membuka matanya.
Aurel kembali mengembuskan napasnya dan mengubah posisi tidurnya menjadi duduk. Ia menjerit dengan suara tertahan seraya melemparkan selimutnya, bermaksud untuk meluapkan rasa kesal karena tak bisa memejamkan matanya setelah beberapa jam mencoba. Dan fakta lain yang membuatnya begitu kesal, harus ada Deo di sampingnya agar ia bisa tidur dengan damai dan nyenyak.
Sial sekali nasibnya, padahal kemarin malam ia bisa tidur tanpa Deo dan hanya beralaskan sofa yang tak terlalu besar. Tetapi sekarang, disaat ia sedang bertengkar dengan Deo, kenapa penyakit 'tak bisa tidur tanpa Deo' itu kembali muncul. Menyebalkan sekali. Entahlah, mungkin efek dari ciuman yang diberikan Deo beberapa saat yang lalu juga turut andil dalam ketidakbisaannya untuk tidur.
Setelah memikirkan matang-matang apa yang akan dilakukannya, Aurel bangkit dari tidurnya. Dia melangkah dengan pelan menuju ruang tv untuk mencari Deo, karena biasanya pria itu lebih memilih untuk tidur disofa ruang tv ketika sedang bertengkar dengannya.
Dan benar saja, lampu ruang tv masih menyala dan tampaklah tubuh Deo yang tengah berbaring di atas sofa panjang tersebut dengan sebelah tangan yang menutupi kedua matanya serta satu tangannya lagi yang berada di atas perutnya.
Aurel menghentikan langkahnya sejenak dan memikirkan alasan apa yang tepat agar pria itu bersedia untuk tidur bersamanya. Masalahnya, kali ini Deo sangat sangat marah dengannya sampai-sampai melakukan tindakan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Jika saja Deo tak terlalu marah seperti kemarin-kemarin, tentu semuanya tak akan sesulit ini. Ia tinggal memindahkan selimut dan bantal di atas sofa yang ditiduri Deo saat ini dan tidur di sampingnya seperti yang lalu-lalu.
"Tak bisa tidur?"
Aurel tersentak kaget saat mendengar suara tersebut. Ia segera menoleh ke sumber suara dan mendapati Deo yang tengah duduk dengan kepala yang menghadap ke arahnya.
Aurel menelan ludahnya kelu lantas menganggukkan kepalanya dengan gerakan kikuk.
Deo bangkit dari duduknya lantas berjalan melewati Aurel begitu saja, membuat gadis itu membuka mulutnya tak percaya.
"Hey! Kenapa diam saja? Ayo, tidur."
Aurel membalikkan badannya dan mendapati Deo yang tengah berdiri di hadapannya dengan sebelah alis yang terangkat ke atas.
"Tidur?" tanya Aurel memastikan.
Deo mengangguk. "Aku tunggu di kamar," ucapnya seraya berbalik untuk melanjutkan langkahnya. Sedetik kemudian, Deo kembali berhenti dan berbalik untuk menatap Aurel. "Ah ya, jangan lupa matikan lampu ruang tv sekalian ya," tambahnya lantas berlalu begitu saja.
Aurel menggeleng tak percaya. "Aku sudah dimaafkan? Semudah itukah?" gumamnya lantas bergegas untuk mematikan lampu ruang tv.
"Sudah?" tanya Deo saat melihat Aurel yang tengah berjalan menuju ranjang.
Aurel hanya membalas pertanyaan Deo dengan menganggukkan kepalanya.
"Coba buka bajumu," pinta Deo sesaat setelah Aurel menaiki ranjang.
"Hah?" Aurel menatap Deo dengan pandangan penuh tanya.
Deo mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Tatapannya terarah lurus ke arah Aurel. "Buka saja cepat. Aku hanya ingin melihat punggungmu."
Aurel tak mengerti dengan maksud Deo, tetapi tak urung ia tetap melepaskan bajunya, membiarkan Deo menatap punggung telanjangnya.
"Oh syukurlah," gumam Deo seraya menghela napas lega saat tak melihat ada luka apapun di punggung Aurel.
Sementara itu, Aurel hanya mengerutkan keningnya heran karena sikap Deo yang menurutnya aneh. Alih-alih bertanya, ia lebih memilih untuk diam.
"Sudah. Pakai lagi bajumu," ucap Deo seraya menepuk pelan pundak Aurel lantas membaringkan tubuhnya seperti sebelumnya.
Aurel mengedikkan bahunya lantas kembali memakai bajunya. Setelah itu, ia mengambil posisi berbaring di samping Deo. Tubuhnya membentuk posisi telentang dengan sebelah tangan yang berada di keningnya dan satu tangannya yang berada di perutnya, persis seperti Deo.
Deo melirik ke arah Aurel setelah beberapa detik kamar yang mereka tempati diisi dengan kesunyian. Ia terkekeh pelan karena melihat posisi Aurel. Deo memiringkan tubuhnya ke arah Aurel lantas menyangganya dengan sikunya agar pandangannya semakin tinggi dan lebih leluasa untuk menatap gadis itu.
Aurel yang awalnya memejamkan matanya, kini perlahan membuka matanya karena ia merasa bahwa dirinya tengah diperhatikan. Dan benar saja, saat matanya sudah sepenuhnya terbuka, ia langsung dihadapkan dengan wajah Deo yang sedang menunjukkan senyumnya.
Aurel mengubah posisinya menjadi menyamping, menghadap ke arah Deo. Begitu pula dengan pria itu sehingga membuat posisi mereka menjadi saling berhadapan.
"Maaf," ucap Aurel penuh penyesalan.
"Permintaan maaf diterima," balas Deo tersenyum.
Aurel tampak mengerutkan keningnya. Masih belum percaya kalau Deo akan semudah itu memaafkannya. "Semudah itu?"
Deo mengangguk. "Kau tahu sendiri, baik aku atau pun kau, tidak bisa marah begitu lama."
Aurel mengulas senyum simpjl di bibirnya seraya berkata, "aku menyayangimu, Kak," ia lalu memeluk tubuh Deo dengan erat untum meluapkan rasa senangnya.
Deo terkekeh pelan seraya membalas pelukan Aurel. "Tetapi lain kali jangan kau ulangi lagi, okey?"
"Okey."
"Aku juga minta maaf karena telah berbuat kasar kepadamu. Kau tidak apa-apa, kan?"
Aurel menarik tubuhnya dari Deo, sedikit memberi jarak agar ia bisa menatap pria itu. "Jangan bilang kalau Kakak mengecek punggungku karena Kakak tadi sempat mendorongku begitu kuat dan ingin memastikan kalau punggungku baik-baik saja?" tuduh Aurel dengan matanya yang menyipit penuh curiga.
Deo terkekeh pelan seraya mengacak rambut Aurel. "Kau tahu saja."
Aurel mengembuskan napasnya seraya memutar kedua bola matanya dan kembali menatap Deo yang kini tengah menunjukkan cengirannya.
"Aku berlebihan, ya?" tanya Deo.
"Of course you are. Lagi pula Kakak membanting tubuhku bukan di tempat keras. For heaven's sake, aku jatuh di atas kasur yang empuk, Kak. Dan seharusnya kau tak perlu mencemaskannya," jawab Aurel seraya memutar kembali kedua bola matanya.
"Aku hanya khawatir. Aku takut menyakitimu," sanggah Deo. "Uh, pengendalian emosiku masih belum begitu baik ternyata," lanjutnya.
Aurel membelai rahang Deo. "Sudahlah, sebaiknya kita tidur dan lupakan masalah tadi."
Deo mengangguk seraya mengambil tangan Aurel yang berada di rahangnya, mengecupnya sekilas dan meletakkannya di dadanya lantas kembali memeluk gadis itu. "Selamat malam."
*****
Aurel terbangun saat mendengar suara yang terdengar asing di telinganya. Ia menggeliat sebentar sebelum membuka matanya. Dan setelah matanya benar-benar telah terbuka, Aurel langsung berhadapan dengan kepala kecil berwarna putih dengan kumis panjang di kedua pipinya.
"Wow! Apa yang kau lakukan di sini, Deo Junior?" Aurel mengangkat kucing tersebut lantas mengelus bulunya yang terasa begitu lembut di tangannya.
"Kau lapar, huh?" tanyanya yang hanya dibalas dengan miaw oleh kucing tersebut.
"Ternyata kau lapar," Aurel bangkit dari tidurnya. Ia sudah bersiap untuk mengajak kucingnya sarapan bersamanya, tetapi suara Deo sudah lebih dulu menginterupsinya dan membuatnya mengurungkan niatnya untuk segera memberi Deo Junior sarapan.
"Dia sudah makan," kata Deo.
"Kakak yang memberinya?"
Deo mengangguk seraya mengambil duduk di pinggir ranjang. Ia membawa Deo Junior mendekat ke arahnya dan mengelus bulunya seperti yang biasanya dilakukan Aurel. "Dia ternyata begitu manis. Aku merasa kalau aku memiliki seorang anak," kekehnya geli.
Aurel mendekat ke arah Deo. Ia memeluk pria itu dari belakang lantas menyandarkan kepalanya di pundak Deo. "Bagaimana kalau kita angkat Deo Junior menjadi anak kita, Kak?"
Deo meletakkan jari telunjuknya di dahi Aurel lantas mendorongnya ke belakang, membuat sandaran Aurel di bahu Deo terlepas. "Stupid!"
Aurel mengerucutkan bibirnya sebal seraya melepaskan pelukannya.
Deo bangkit dari duduknya lantas mengacak rambut Aurel dengan gemas. "Cepat sana mandi. Setelah itu sarapan. Tadi Ibu ke sini bawain sayur asam untuk kita."
"Ibu ke sini?" tanya Aurel dengan mata yang melotot lebar.
Deo mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Aurel.
"Ish! Kenapa Kakak tidak membangunkan ku, sih?" gerutu Aurel seraya beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Deo hanya mengedikkan bahunya lantas beranjak keluar kamar.
****
"KAK DEO!!!" teriakan Aurel yang begitu kuat, membuat Deo yang sedang membaca komiknya terlonjak kaget. Ia segera beranjak ke dapur karena memang suara Aurel berasal dari sana.
"Ada apa?" tanya Deo setelah ia berada di hadapan gadis itu. Perlahan keningnya membentuk kerutan saat melihat Aurel yang tengah menatapnya dengan kesal sambil memegang mangkuk yang berisi sayur asam.
"Kenapa kacang tanahnya dihabiskan?" tanya Aurel kesal.
Deo menggaruk tengkuknya lantas menunjukkan cengiran lebarnya seperti tak merasa bersalah sama sekali setelah ia menghabiskan semua kacang tanah yang ada dalam sayur tersebut.
"Dasar rakus!" ucap Aurel seraya berjalan ke meja makan dengan kaki yang menghentak-hentak kesal.
"Hey! Kau juga sering menghabiskan kacang tanahnya," ucap Deo tak terima seraya mengikuti Aurel dari belakang. "Kau sendiri yang sering bilang 'siapa cepat dia dapat'," tambahnya.
Aurel mengambil duduk di meja makan dan mulai mengambil nasi dan lauknya sebagai menu sarapannya. "Setidaknya aku selalu menyisakannya untukmu, Kak."
Deo mengambil duduk di hadapan Aurel. "Kau hanya menyisakanku tiga buah. Tiga buah, Aurel," ucapnya dengan nada penuh penekanan seraya mengangkat tiga jarinya.
Aurel menatap Deo dengan kesal. "Sudahlah diam. Aku mau makan."
Deo hanya mengedikkan bahunya dan Aurel kembali melanjutkan sarapannya.
Begitulah jika sayur asam yang mendapat julukan makanan terfavorit dari mereka berdua dijadikan satu dan mengharuskan keduanya untuk saling berbagi. Pasti salah satu dari mereka akan lebih dulu menghabiskan kacang tanah atau yang biasa mereka sebut sebagai primadona sayur asam tersebut. Kalau tidak Aurel yang menghabiskannya, Deo yang akan menghabiskannya. Tergantung siapa dulu yang menemukannya.
"Kakak tidak kerja?" tanya Aurel setelah ia menyelesaikan sarapannya.
Deo yang sedari sibuk dengan ponselnya, kini mengalihkan pandangannya ke arah Aurel. "Tidak. Dean sudah pulang, jadi aku bebas untuk ambil cuti."
"Kak Dean dan Kak Ica sudah pulang?" tanya Aurel dengan suara yang terdengar begitu senang.
Deo mengangguk untuk menjawab pertanyaan Aurel.
"Ayo kesana, Kak," ajak Aurel penuh semangat.
"Kau sendiri saja, ya? Aku ada urusan dengan Jordan."
Aurel mengerucut sebal. "Aku pikir dia sudah musnah, ternyata masih hidup," gerutunya.
Deo tersenyum geli. "Bersiap-siaplah, kita pergi bersama saja."
Aurel mengangguk dan segera bersiap-siap untuk bertemu dengan kakaknya.