-Cinta itu berarti ada dalam segala situasi bahkan yang terburuk sekalipun.-
Nico menatap Cassie yang sedang mengangkat ponselnya. Raut wajah Cassie tiba -tiba berubah. Senyuman itu mendadak berubah menjadi tangisan.
“A… apa?” tangan Cassie melemas dan menjatuhkan ponselnya. Air matanya menetes.
“Nico…. Grandma…. Grandma…. Meninggal,” ujar Cassie dengan terisak. Nico langsung memeluk Cassie, membenamkan wajah gadis itu ke dadanya. Ia tahu Cassie membutuhkan pelukannya tanpa ia meminta.
Cassie menumpahkan semua rasa sedihnya dalam pelukan Nico. Ia tak menyangka kedatangannya ke Surabaya saat itu adalah saat terakhir ia bertemu dengan Grandma’nya. Kedua sahabatnya terkejut dan berlari kembali ke booth melihat Cassie yang menangis.
“Ada apa, Nic?” tanya Donna mencari tahu.
“Grandma Cassie meninggal,” jawab Nico lirih.
Kedua sahabat Cassie ikut memeluk Cassie dari belakang. Mereka ikut memberikan dukungan pada gadis itu. Malam harinya Cassie dan Nico berangkat ke Surabaya. Ning Fang dan Donna mengantar kedua orang itu dari bandara.
Donna memeluk Cassie lalu berganti Ning Fang yang memeluk Cassie.
“Jangan pikirkan apapun di sini. Kami akan mengurus semuanya, okay?” bisik Ning Fang pada Cassie untuk menenangkannya. Cassie mengurai pelukannya. Ia mengangguk.
“Terima kasih,” katanya lirih pada kedua sahabatnya. Nico membantu membawakan bagasi Cassie ke dalam bandara. Mereka berangkat dengan penerbangan terakhir hari itu. Beruntunglah Nico mendapatkan tiket terakhir 3 jam sebelum keberangkatan mereka.
Di ruang tunggu Cassie menatap landasan pacu dengan tatapan kosong. Hatinya begitu hampa. Orang yang dicintainya pergi untuk selamanya. Satu-satunya keluarga kandungnya sekarang pergi meninggalkannya selamanya. Ia sebatang kara di dunia meskipun ia tinggal bersama keluarga Johnson yang menganggapnya sebagai anak kandung mereka sendiri.
Nico menarik tangan Cassie dan menggenggamnya. Cassie menoleh ke arah Nico dan berusaha tersenyum.
“Aku tahu yang kau pikirkan. Ingatlah kau tidak pernah sendiri,” kata Nico seolah memahami isi pikiran Cassie. Cassie hanya tersenyum. Ia menatap langit gelap di luar sana dengan tatapan hampa.
Kini keduanya sudah berada di dalam pesawat. Cassie mengeluarkan ponselnya dan melihat semua foto-fotonya bersama Grandma’nya yang mereka ambil saat ia di Surabaya waktu itu. Ia menangis kembali. Nico menarik bahu Cassie dan mendekapnya untuk memberikan dukungan. Menangis selama itu membuat tubuh Cassie lelah, ia tertidur dalam dekapan Nico.
Nico mengatur badan Cassie agar gadis itu mendapatkan posisi tidur yang lebih nyaman. Ia membiarkan badan gadis itu bersandar di kursi sementara kepalanya bersandar di bahunya. Ia membenarkan anak rambut Cassie yang terurai.
“Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendirian. Ingatlah, aku akan selalu ada di sisimu. Menjagamu dan mendukung semua mimpimu. Aku sayang padamu, Cassie,” kata Nico lirih sambil mengelus pipi Cassie yang tertidur.
Di saat Nico tidak memperhatikan, Cassie membuka matanya. Ia mendengar semua penuturan Nico tadi. Hatinya terasa kacau. Tapi ia mengesampingkan semua perasaannya itu saat ini. Ia hanya ingin memberikan penghormatan terakhir pada Grandma’nya. Cassie memejamkan matanya lagi hingga penerbangan mereka sampai di Surabaya.
***
Cassie bersimpuh di depan peti mati di hadapannya. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia tidak pernah menyangka bahwa Grandma’nya pergi secepat ini. Mungkin benar kata orang, jika seseorang yang kita sayangi akan pergi, kita akan merasakan rindu dan ingin bertemu untuk terakhir kalinya. Begitulah yang Cassie rasakan saat ia meminta hadiah ke Surabaya waktu itu. Hatinya dipenuhi rasa rindu yang amat dalam pada Grandma’nya. Dan benar, Tuhan akhirnya menjemput Grandma-nya dalam damai. Dalam tidurnya.
Keluarga Johnson baru saja tiba di tempat persemayaman itu. Mereka menyempatkan hadir dalam pemakaman Nancy. Ketika melihat Cassie dan wajah sembabnya, Jollyn langsung memeluk putri angkatnya itu. Ia ikut menangis bersama Cassie.
“Kau tidak sendirian, Cassie. Kami di sini,” kata Jollyn sambil kembali memeluk Cassie. Cassie menerima pelukan Jollyn dan ia tersenyum. Ia sudah bisa merelakan kepergian Grandma Nancy. Mungkin ini cara yang terbaik untuk mengakhiri penyakit menahun yang Nancy derita. Dokter mengatakan bahwa pengobatan apapun sudah tidak bisa menyembuhkan penyakit Alzheimer yang diderita Nancy. Dan, beginilah akhirnya. Nancy meninggal saat tidur malamnya saat itu. Tanpa mengalami rasa sakit, tanpa mengalami penderitaan.
Cassie mengambil bunga dan menaburkannya di gundukan tanah di hadapannya. Ia melepaskan kepergian Grandma Nancy dengan rela. Biarlah Nancy pergi dengan tenang. Ia menghela nafasnya dan menengadah ke langit seolah memberi tanda perpisahan antara dirinya dan Nancy.
Jollyn merangkul bahu Cassie. Keluarga Johnsons dan Cassie berjalan beriringan menjauh dari gundukan tanah itu. Sesampainya di depan mobil, Jollyn membalikkan badan Cassie dan menatapnya.
“Cassie, maafkan kami karena kami harus pergi lebih dulu. Kalau kau membutuhkan waktu lebih banyak untuk mengenang Nancy, tinggallah di sini lebih lama bersama Nico. Jangan bersedih lagi, okay?” kata Jollyn sambil mengelus pipi Cassie.
“Thank you, Ma!” Cassie memeluk Jollyn lalu berganti memeluk Steward sebelum keduanya masuk ke dalam mobil. Kini ia tinggal berdua dengan Nico di sana. Tiba-tiba suasana menjadi canggung.
“So, kita mau ke mana hari ini?” tanya Nico membuka keheningan dan menghentikan kecanggunggan.
“Aku ingin ke rumah Grandma. Mengemas barang-barangnya. Kau mau membantu?”
“Sure!”
***
Cassie membuka pintu kamar Nancy perlahan. Ia ingat saat terakhir ia berada di kamar ini, Nancy sedang akan beristirahat. Ia duduk di atas ranjang Nancy dan mengelus sepreinya. Ia mengambil foto yang dibingkai di atas nakas. Ia melihat foto Nancy bersama dengan ayah, ibu dan dirinya yang masih berusia 5 tahun saat itu. Perasaan sedih kembali menyeruak. Ia memeluk foto keluarganya sambil menangis.
Flashback on
Nancy duduk di sebuah kursi kayu dan membetulkan roknya yang kusut akibat memangku Cassie. Gadis itu senang duduk di pangkuan Grandmanya. Keluarga kecilnya baru saja datang dari Singapura untuk menjenguk Nancy. Mereka tinggal di Singapura karena ayah Cassie bekerja di sana.
“Cassie, jangan berlari – lari. Nanti kau terjatuh!” kata Cicilia sambil lari mengejar Cassie. Bukannya menyerah, Cassie malah bersembunyi di balik kursi Nancy.
“Grandma, sembunyikan aku!” kata Cassie sambil mengintip dari balik kursi Nancy. Nancy hanya bisa tertawa. Cicilia melihat Cassie yang bersembunyi di sana. Ia mengendap-endap dari samping lalu menangkap Cassie dengan tangannya.
Cassie tertawa sambil setengah berteriak. Mereka bertiga tertawa bersama.
“Sudah… sudah… ayo kita mengambil foto bersama!” kata ayah Cassie membuyarkan canda tawa mereka. Mereka langsung mengambil posisi terbaik dan kamera itu mengambil gambar mereka dalam hitungan ke 10.
Flashback end
Cassie terisak makin menjadi. Semua orang di dalam foto itu kini telah pergi. Ia merasa sendiri. Tak memiliki sanak saudara lagi. Meskipun keluarga Johnson sudah menganggapnya sebagai anak kandung mereka, tapi tetap tidak akan ada yang bisa menggantikan perasaan Cassie terhadap keluarga kandungnya. Mereka tetap akan selalu di hati Cassie.
Cassie memalingkan wajahnya ke arah luar jendela.
“Papa, Mama bagaimana kabar kalian? Sekarang kalian bertiga sudah bersama lagi. Cassie…. Cassiee kangen… hiks,” kata Cassie sambil menangis.
Nico masuk ke kamar Nancy tanpa mengetuk terlebih dahulu. Ia melihat Cassie yang rapuh. Selama ini ia hanya melihat Cassie yang tegar dan selalu bersemangat, namun kali ini ia melihat Cassie yang lemah dan rapuh. Ia berjalan mendekat kea rah Cassie. Cassie menyadari kehadiran Nico dan ia bergegas menghapus air matanya dan berdiri dari ranjang Nancy.
“Aku… akan membawa foto ini ke Singapura,” kata Cassie sambil membawa foto keluarganya seolah memahami apa yang ditanyakan oleh Nico.
Nico mengangguk.
“Mari kita makan, pizza’nya sudah sampai,” ajak Nico. Cassie mengangguk cepat dan berjalan mendahului Nico.
Cassie mengambil sepotong pizza berukuran besar itu dan menggigitnya dengan rakus seolah ia melupakan semua rasa sedihnya dan kembali menjadi Cassie yang periang. Cassie tersedak. Nico dengan sigap mengambilkan minum untuk Cassie.
“Pelan-pelan,” ucap Nico mengingatkan. Cassie meneguk air minumnya hingga separuh gelas.
“Besok aku harus kembali ke Singapura. Tadi aku dihubungi rumah sakit bahwa ada masalah di rumah sakit yang harus kutangani. Apa kau juga ingin ikut pulang?”
“Besok? Mendadak sekali?”
“Yah… kau tahu dokter adalah pekerjaan yang tidak mengenal jam kerja dan tidak mengenal cuti. Kapanpun pasien membutuhkan, kau harus selalu siap.”
“Oh…” kata Cassie hanya ber-oh ria sambil terus menggigit pizzanya.
“Jadi?”
“Jadi?” bukannya menjawab pertanyaan Nico, Cassie malah mengulang pertanyaannya.
“Kau akan ikut aku pulang atau tidak?” Nico mengulangi pertanyaannya.
“Hmm… kurasa aku ingin tinggal beberapa saat lagi di sini,” jawab Cassie.
***