Chapter 11

1225 Words
    -Terkadang pertemuan kita dengan pasangan kita tidaklah dengan cara dan situasi yang dramatis.-      Nico mengemas barang-barangnya. Ia sedikit menekan kopernya untuk membuat barang-barangnya masuk sempurna di dalam. Cassie datang dan membawakan dua cangkir teh hangat untuk Nico dan untuk dirinya sendiri. Cassie memberikan cangkir untuk Nico lalu duduk di pinggir ranjang Nico.     “Sudah selesai packing-nya?”     “Yah, as you can see,” jawab Nico sambil menyeruput teh hangatnya. Ia mengerutkan dahinya untuk mengingat barang apa yang masih belum sempat ia bawa.     “Nico, terima kasih menemaniku selama di sini. Aku mungkin tidak tahu apa jadinya aku tanpa kehadiranmu di sini. Setidaknya, aku merasa tidak sendirian,” kata Cassie tulus. Nico memandangnya lalu tersenyum.     “Sudah berapa kali aku mengatakannya padamu bahwa aku akan selalu berada di sisimu bukan?” Nico mengacak-acak rambut Cassie. Cassie menyisir rambutnya yang acak-acak dengan jarinya lalu mengambil sesuatu dari kantong jaketnya.     “Ini… hadiah terima kasihku untukmu,” kata Cassie sambil mengeluarkan sebuah coklat barang dari kantongnya.     Nico memandang Cassie dengan bingung. Cassie menggerakkan coklatnya dan memberi tanda agar Nico mengambilnya.     “Coklat?”     “Iya, aku tahu kau suka dengan coklat ini bukan?” Nico mengambil coklat itu dari tangan Cassie lalu segera membuka bungkusnya dan mematahkannya sekeping dan memberikannya pada Cassie. Lalu mematahkannya lagi dan memakannya sendiri.     “Dari mana kau tahu?”     “Terakhir kali ketika kita di Surabaya, aku melihatmu membawa pulang coklat ini sekotak lebih. Benar kan?” Cassie memasukkan kepingan coklat itu ke mulutnya.     “Tapi aku tidak membeli itu sendiri. Itu untuk oleh-oleh teman-teman di rumah sakit. Aku hanya mengambilnya satu untuk diriku dan sisanya kubagikan. Tidak mungkin aku makan sebanyak itu. Bisa-bisa diabetes mendadak,” kata Nico dengan sedikit bergurau. Cassie tersenyum.     “Oh ya, aku sudah membelikan tiketmu untuk seminggu lagi. Cukup kan?” Cassie mengangguk. Satu minggu cukup baginya untuk menenangkan diri di Surabaya. Setidaknya, ia ingin menetralkan perasaannya sebelum kembali menjadi dirinya sendiri.     Cassie kini mengantar Nico ke bandara dengan taxi online. Nico memeluk Cassie sebagai tanda perpisahannya.     “Ingat, jangan berbuat yang aneh-aneh. Kabari aku saat kau kembali ke Singapura.”     “Siap, Cik Gu!” kata Cassie sambil memberikan hormat pada Nico. Nico masuk ke dalam bandara dan Cassie mengamati punggung kakak angkatnya itu hingga menghilang di balik pintu kaca.     Cassie menghela nafasnya yang berat. Ia teringat dengan kedua sahabatnya yang sekarang sedang menggantikan posisinya di sana. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Ning Fang. Ia berjalan sambil menjepit ponselnya menyeberangi jalan di bandara. Ia harus keluar dari bandara untuk mendapatkan taxi online.     “Hei bagaimana kabar di sana?” tanya Cassie.     “Yah, sudah tiga hari ini kami masih belum mendapat murid. Tapi kemarin cukup banyak yang bertanya-tanya tentang proyek kita,” kata Ning Fang.     “Wow, baguslah kalau begitu. Lalu apa ada hal yang sudah terjadi lainnya?”     Belum sempat Ning Fang menjawab, sebuah motor dengan kecepatan super cepat lewat di dekat Cassie. Cassie sempat terhenti karena kaget motor itu lewat. Tak berapa lama motor lain dengan kecepatan yang sama lewat. Ia melangkahkan kakinya ke depan tanpa menengok kanan kiri dan…     BRUKKK!!!     Cassie terjerembab dan tak sadarkan diri. Orang-orang berkerumun di sekitarnya dan salah satunya menghubungi ambulance. ***   Selang infus terpasang di tangan gadis itu. Kakinya digips sebelah dan beberapa perban menempel di pergelangan tangan dan lengannya. Beruntunglah kecelakaan itu tidak membuatnya gegar otak atau menghantam organ vitalnya. Ia hanya mengalami retak tulang di kakinya dan beberapa lecet dan memar di tubuhnya.     Bola mata cantik gadis itu mulai bergerak-gerak. Perlahan kelopak matanya terbuka dan ia berusaha mengatur cahaya yang masuk ke dalam matanya. Ia memandang sekilas.     "Di mana aku?"     Ia memastikan keberadaan dirinya dan akhirnya menyadari dirinya ada di dalam rumah sakit sekarang. Ia melihat sekujur tubuhnya yang terasa nyeri lalu membanting tubuhnya kembali ke atas ranjang.         Ia menarik tombol di samping ranjangnya memanggil perawat.      “Ah, tidak! Sialnya aku!!!” katanya sambil membanting badannya kembali ke kasur.     Perawat dan seorang dokter datang. Mereka mengecek kondisi Cassie.     “Kondisimu sudah membaik. Tinggal tunggu masa pemulihan. Beruntunglah tabrakan itu tidak melukaimu terlalu parah. Hanya membuat sedikit keretakan pada tulang kakimu dan sebentar lagi akan membaik. Untuk sementara, kau harus menggunakan kursi roda,” jelas dokter itu.     Cassie mengangguk.     “Oh ya, apakah ada keluarga yang bisa kami hubungi untuk mengurus administrasi Anda?” tanya seorang perawat yang membawa clipboard.     “Keluargaku semuanya ada di Singapura. Aku sendirian di sini karena nenekku baru saja meninggal.”      “Ah, maafkan saya."     “Tak apa. Untuk administrasinya nanti akan saya urus sendiri," kata Cassie.      Perawat dan dokter itu keluar meninggalkan Cassie.     Sesaat setelah kedua orang itu keluar, ponsel Cassie berbunyi. Itu Donna. Cassie mengangkat telepon itu dan langsung menjauhkannya dari telinga Cassie karena Donna tiba-tiba berteriak.     “CASSIIEEEE, Kau tidak apa? Kau baik-baik saja? Ada apa? Kau membuat kami khawatir. Kami mendengar bunyi keras seperti tabrakan sebuah kendaraan sebelum panggilan itu terputus. Aku meneleponmu beberapa kali namun tak ada jawaban darimu. Aku cemas, tahu?"  omel Donna.     “Hei, aku tidak apa-apa. Hanya kecelakaan ringan,” kata Cassie menggampangkan.     “Yang namanya kecelakaan bukan hal yang sepele, Cassie. Aku akan mencari tiket pesawat ke sana bersama Ning Fang.”     “Eits, tunggu! Untuk apa? Aku baik-baik saja. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”     “TIDAK, aku mau datang!” teriak Donna. Ning Fang di sebelahnya merebut ponsel Donna.     “Sudah, jangan dengarkan dia. Kalau kau baik-baik saja itu bagus. Cepat sembuh!” kata Ning Fang.     “Kalian jangan kuatirkan aku oke? Eh, jangan bicara apapun pada Nico. Aku tidak ingin merepotkannya lagi. Setelah semuanya baiik-baik saja, aku akan kembali ke Singapura. Oke?”     Panggilan itu berlanjut dengan cerita panjang lebar dan kekuatiran kedua sahabat Cassie tentang dirinya. Kini panggilan itu akhirnya berakhir. Sejenak Cassie menyadari bahwa dirinya dikelilingi orang-orang yang peduli padanya. Lihat saja kedua sahabatnya yang sudah mencemaskannya. Namun, ia adalah pribadi yang mandiri. Ia tidak boleh cengeng. Ia pasti bisa mengurus semuanya sendiri.     Cassie menoleh ke sekeliling kamarnya. Sepi. Kamar itu hanya dihuni oleh dirinya seorang. Siapa yang memesankan kamar ini? Pikirnya. Mengapa ia tidak dipindah ke kelas bawah saja agar lebih ramai dengan orang. Kalau begini, ia merasa kesepian.     “Baiklah. Aku akan berjalan-jalan saja agar tidak bosan.” Cassie menekan tombol di sisi ranjangnya sekali lagi. Tak lama seorang perawat datang dengan membawakan kursi roda untuknya.     “Suster, saya mau jalan-jalan.” ***     Cassie mendorong kursi rodanya sendiri. Perawat tadi sudah menawarkan bantuannya untuk mendorong kursi roda Cassie, namun ia tolak. Dasar gadis keras kepala! Ia berusaha mandiri di saat ia membutuhkan pertolongan. Tapi itulah Cassie. Ia ingin menjadi gadis yang mandiri. Ia tidak mau bergantung pada orang lain.     Cassie menjalankan kursi rodanya di area taman rumah sakit. Ia memandang langit berbintang di atas sana sejenak. Hari sudah malam ternyata dan ia menikmati bintang-bintang di atas sana yang begitu indah. Puas memandang langit, ia melanjutkan perjalanannya. Mungkin mencoba membeli snack di kafetaria sepertinya ide yang bagus.     Di tengah perjuangannya berjalan menuju kafetaria, ia melihat sosok pria yang terduduk dan menangis di tengah taman. Ia merasa pernah melihat pria itu. Ia menghentikan kursi rodanya dan ia baru ingat. Pria itu adalah pria yang sama yang mengacuhkannya saat ia bertanya arah waktu itu. Dan, ia kembali menangis. Entah mengapa Cassie ingin mendekati pria itu. Mungkin ia bisa membantunya, bagaimanapun juga tangisan adalah ekspresi sakit hati bukan? Dan, di dalam kamus Cassie tidak boleh ada orang sedih yang tidak berhak dihibur. Ini saatnya Cassie beraksi.     Cassie menghentikan kursi rodanya persis di depan pria itu. Pria itu mendongak.     Dengan senyumannya, Cassie mencoba menyapa pria itu.     “Kau pasti sedang patah hati ya?”     “Apa urusannya denganmu?” tanya pria itu.     “Hmm… yah aku hanya tidak suka melihat orang tenggelam dalam kesedihannya. Dan, kalau kulihat sepertinya kau… memang sedang patah hati,” tebak Cassie.     “Sini… sini… cerita sama Tante,” kata Cassie dengan lagak percaya dirinya. Pria itu tersenyum. *** A/n: Cassie ketemu sama siapa ya? Kalau kalian sudah baca The Fragile Woman, kalian pasti tahu siapa pria itu. Jangan lupa tap 'love' dan follow Author ya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD