Chapter 8

1328 Words
- Mereka yang mau menjadi kekasihmu hanya untuk mendapatkan kepuasan seksual tidak akan pernah memberikan ketulusan padamu.-           Ning Fang dan Donna mengelap peluh keringat dari wajahnya. Mereka menghempaskan diri mereka ke atas sebuah bangku di sebuah taman. Mereka sudah berkeliling ke 10 perusahaan untuk mengantarkan proposal sponsor bagi kelas Cassie, namun semuanya gagal. Semua perusahaan menganggap kelas Cassie itu konyol. Mereka tidak ingin berinvestasi pada sebuah proyek yang tidak berprospek seperti proyek Cassie.     Mereka bertiga berjanji akan bertemu bersama di taman itu setelah mengantarkan proposal sponsorship. Kali ini mereka tinggal menunggu Cassie datang. Tak berapa lama, batang hidung Cassie terlihat dari seberang jalan. Ia melangkah dengan yakin dan begitu melihat kedua sahabatnya ia melambai girang dari jauh.     Cassie berjalan kegirangan dan melompat-lompat kea rah kedua sahabatnya. Mungkin ini pertanda hal    baik. Mungkin Cassie sudah menemukan sponsor pikir mereka.     “Aku punya kabar baik!”     “Kau sudah menemukan sponsor?”     “Hmmm…belum sepenuhnya sih, tapi proposalku diterima!”     Ketiganya berteriak kegirangan. Sudah 10 hari ini mereka berkeliling seluruh Singapura hanya untuk mencari sponsor namun kerja keras mereka seperti menjaring angin. Tak ada satupun proposal mereka yang diterima. Lagi-lagi pihak sponsor mengatakan kelas itu kelas yang bodoh dan tidak berprospek. Tapi Cassie tidak menyerah. Ia yakin di luar sana pasti ada setidaknya 1 orang yang mau menjadi sponsor dan ia mendapatkan peluang itu tadi.     “Jadi kapan sponsor itu bisa menandatangani kontraknya?” tanya Ning Fang.     “Hmmm… aku tinggal menunggu panggilan dari direksinya saja. Mereka akan memberikan kabar paling cepat besok.”     “Bagus!” kata Donna bersemangat. ***     Cassie sudah berada di dalam apartemennya. Hari ini Nico berkunjung ke apartemen Cassie. Ia berdalih ingin meminjam kamar mandi karena ia ingin membersihkan diri setelah melakukan operasi besar hari ini. Padahal sebenarnya ia bisa mandi di kamar mandi khusus di rumah sakit itu, tapi ia sengaja mencari alasan untuk bisa bersama dengan Cassie.     Nico keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang d**a dan menghanduki rambutnya yang basah. Cassie sedang sibuk menyiapkan makan malam sederhana di dapur. Ia membuat spaghetti bolognaise favoritnya dan Nico.     “Hmm…. Baunya harum sekali!” kata Nico sambil duduk di kursi meja makan sambil mengeringkan rambutnya yang basah.     Cassie kembali dari dapur dan membawa dua piring spaghetti ke atas meja makan.     “Spaghetti Bolognaise ala Cassie sudah siap!” katanya dengan semangat.     Nico langsung mengambil garpu dan menikmati hidangan lezat itu.     “Hmm… eennnakkkk” kata Nico sambil mengunyah makanannya.     “Tentu saja, Cassie gitu lho!” kata Cassie sambil menepuk sebelah pundaknya sendiri.     Drrtt… drrrrtttt     Ponsel Cassie berbunyi. Ia segera mengangkat teleponnya menjauh dari meja makan.     “APA??? BENARKAH??? Baik, saya akan ke sana besok. Terima kasih… Terima kasih!” Cassie bersorak kegirangan lalu memeluk Nico dengan erat hingga Nico tersedak.     “Ada apa? Apa yang membuatmu bahagia?”     “AKU MENDAPAT SPONSOR!!!! YEAYYYYY!!!!”     “Selamat ya…. Ngomong-ngomong mengapa mendapat sponsor saja kau bisa sebahagia itu?”     Cassie duduk di kursi seberang Nico dan ia terus mengembangkan senyumnya.     “Karena mendapatkan sponsor itu susaahhhh sekaliii…. Dan aku bersyukur akhirnya Tuhan mendengarkan doaku dan melihat kerja keras kami bertiga!” Cassie menggarpu spaghetti’nya dan memakannya dengan rakus.     “Untuk apa sponsor itu?”     “Jadi begini, proyek yang aku ceritakan kemarin itu ternyata tidak bisa didanai penuh oleh kantor karena kami sedang mengalami kesulitan finansial. Jadilah pimpinan memintaku untuk mencari sponsor. Aku, Donna dan Ning Fang mencari sponsor ke sana kemari selama berhari-hari. Kau bisa membayangkan bagaimana lelahnya kami? Dan hari ini Tuhan berbaik hati padaku,” ujar Cassie sambil terus mempertahankan senyumnya. Nico menikmati senyuman Cassie yang manis. Ia terdiam dan memandangi Cassie sejenak.     “Aku bahagia!!!” Nico ikut tersenyum lalu berdiri dari tempat duduknya dan mengacak-acak rambut Cassie. Ia kembali duduk.     “Mengapa kau tidak meminta bantuanku jika ternyata kau harus mengalami kesulitan seperti ini?”     Cassie terdiam sejenak dan memandang Nico.     “Aku… tidak ingin merepotkanmu,” jawabnya singkat.     “Aku sudah berjanji padamu bahwa aku akan selalu mendukungmu, Cassie. Jangan pernah sungkan untuk menceritakan masalahmu padaku. Aku selalu ada untukmu,” kata Nico dengan tatapan seriusnya.     “Aku tahu kok,” jawab Cassie sambil tersenyum dan menyipitkan matanya hingga terlihat seperti sebuah garis.     “Baguslah kalau begitu,” jawab Nico datar sambil melanjutkan makannya. ***     Cassie sudah duduk di ruang tunggu sejak 30 menit yang lalu. Kakinya terus bergerak-gerak karena ia gugup. Ia akan bertemu dengan pimpinan perusahaan yang bersedia memberikannya sponsor. Ia membolak-balik proposal yang ia buat dan mencoba untuk mengingat apa saja yang akan dipresentasikannya pada pimpinan perusahaan itu.     Pintu di hadapannya terbuka, seorang wanita dengan rok di bawah lutut keluar sambil menangis. Kancing baju bagian atasnya terbuka. Ia berlari melewati Cassie. Cassie melihat pemandangan itu dengan kebingungan. Pria berambut cepak, berbadan tegap dan tampan keluar dari ruangan itu lalu memanggil Cassie masuk.Pria itu memandangi Cassie dari ujung kepala hingga ujung kaki lalu menyunggingkan smirk smile-nya. Ia lalu berjalan menuju ke mejanya.     “Wahh… aku tidak menyangka jika pimpinan perusahaan ini begitu tampan,” kata Cassie pada dirinya sendiri, tentu saja dengan suara yang sekecil mungkin agar tidak didengarkan oleh pria itu.     Pria itu sudah duduk kembali ke mejanya. Ia berhadapan dengan Cassie.     “Jadi kau yang bernama Cassidy Edwards?”     “Benar, Pak.”     “Baiklah. Aku tidak ingin basa-basi lagi denganmu,” pria itu menjeda ucapannya sejenak, “Aku bersedia mendanai proyekmu dengan satu syarat.”     Cassie meneguk ludahnya.     “Kau tidur denganku malam ini,” kata pria itu sambil menyeringai.         Mata Cassie seketika membulat lebar. Ia berdiri.     “Maaf, Pak. Lebih baik saya tidak mendapatkan sponsor daripada harus meladeni p****************g seperti Anda! Permisi,” kata Cassie dengan tegas dan ia berbalik badan untuk keluar.     Tangannya dicekal oleh pria itu.     “Kau mau ke mana? Bukankah kau yang memohon padaku waktu itu untuk mendanai proyek konyolmu? Dan aku menawarkan bantuan yang kau butuhkan dengan sebuah syarat sederhana tapi kau tidak mau?” Pria itu menarik tangan Cassie hingga badan gadis itu membentur d**a bidangnya.     “Itu syarat yang mudah bukan? Toh banyak gadis yang bersedia melakukannya denganku,” kata pria itu di cuping kanan Cassie membuat bulu kuduknya berdiri.     “Hanya 1 malam dan semua yang kau butuhkan jadi milikmu. Bahkan, jika jumlahnya kurang kau bisa memintanya lagi. Kurang baik apa aku?” Tangan pria itu sudah memeluk Cassie dari belakang. Cassie bergidik tapi ia sudah tidak tahan dengan pria m***m ini. Ia membalikkan badannya lalu tersenyum.     Pria itu memajukan bibirnya untuk mencium Cassie. Cassie menutup matanya lalu menarik mundur kepalanya dan membenturkan kepalanya pada pria itu. Pria itu mengerang kesakitan dan melepaskan tubuh Cassie.     “Berani-beraninya kau!” Pria itu memegangi dahinya yang nyeri akibat benturan kepala Cassie. Cassie menyeringai.     “Pukulan itu pantas untuk pria kurang ajar seperti Anda! Lebih baik aku mengemis di jalanan daripada mengais uang dari seorang b******k macam Anda,” Cassie berjalan cepat dan keluar dari ruangan itu dengan cepat. Sekuat tenaga ia menahan air matanya dan berjalan keluar. Sesampainya di luar ia tak tahan lagi untuk meneteskan air matanya. Ia merasa dilecehkan.     Ia berjalan gontai dan duduk di taman perusahaan itu. Ia menengadah ke langit sambil memikirkan apa yang baru saja terjadi.     “Mengapa jalan menggapai mimpi itu tidak mudah?”     Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat tanggal hari itu. Tinggal 3 hari lagi batas waktu yang diberikan oleh kantornya. Jika ia tidak mendapatkan sponsor dalam tiga hari maka semua impiannya akan kandas. Cassie menghela nafasnya.     Drrttt…. Drrtttt     Ponsel Cassie berbunyi. Ia mengangkat ponselnya dan ternyata itu panggilan video dari Donna.     “Hei bagaimana tanda tangan kontraknya?” tanya Donna dan di sampingnya ada Ning Fang.     Cassie menghela nafas berat.     “Kau tahu aku membatalkan kontrak sponsor itu. Dia ternyata pria yang kurang ajar yang mencari untung dari wanita yang memelas meminta bantuannya,” kata Cassie dengan nada marahnya.     “Tunggu…. Tunggu… apa maksudmu?” tanya Ning Fang ingin mengetahui lebih jauh.     “Bayangkan saja, dia mengatakan padaku bahwa dia akan tanda tangan kontrak itu asal aku mau tidur dengannya malam ini.”     “WHATTT????” kata Donna dan Ning Fang serentak.     “Yeah! And as you see… I refused it. Saatnya kita kembali bekerja keras lagi.”     Kedua sahabatnya itu ikut menghela nafas panjang.     “Bagaimana caranya kita bisa mendapatkan sponsor hanya dalam 3 hari?” tanya Ning Fang. Ia sungguh sudah tidak bisa berpikir. Waktu yang mereka miliki sangat terbatas dan hingga hari ini tidak ada satu orangpun yang mau menjadi sponsor mereka.     “Aha! Aku punya ide. Bagaimana kalau kau meminta bantuan Nico saja?” usul Donna.     “Aku setuju! Bukankah dia berjanji akan selalu mendukungmu dan semua mimpimu di saat semua orang tidak membantumu?” kata Ning Fang mengingatkan. Donna mengangguk setuju.     “Tidak… tidak bisa!” tolak Cassie. Kedua sahabatnya hanya bisa mengeluh.     “Aku tidak ingin melibatkan keluargaku. Ini masalahku dan aku berjanji untuk belajar mandiri dan tidak bergantung pada mereka lagi.”     “Lantas katakan pada kami, apa rencanamu?” tanya Donna.  A/n: Apa rencana Cassie? Tap Love dan Follow Author ya...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD