-Cinta itu berarti mendukung semua mimpinya dalam segala situasi.-
“Pak, kita perlu membuka kelas cinta!” kata Cassie sambil menggebrak meja. Seisi ruangan berjingkat kaget.
“Hmm… Coba ceritakan idemu!” tanya Edwin.
“Begini Pak, kita tahu bahwa membuat orang jatuh cinta itu memang tidak mudah. Sehebat apapun kencan yang kita buatkan untuk klien belum tentu mampu membuat klien itu mendapatkan pasangannya. Mungkin masalahnya adalah kita tidak mempersiapkan prosesnya. Kita ingin mereka bisa berpasangan dalam jangka waktu yang singkat. Nah kalau memang benar analisanya, maka dengan membuat kelas cintalah kita bisa membantu mereka mempersiapkannya,” kata Cassie penuh dengan pemikiran.
Edwin menggosok dagunya sambil berpikir. Seluruh anggota tim yang lain ikut memikirkan apa yang dikatakan Cassie.
“Hmmm… idemu memang bagus tapi aku sanksi, siapa yang mau menjadi muridnya? Siapa juga yang mau menghabiskan waktu untuk belajar sesuatu yang abstrak seperti jatuh cinta? Masyarakat sesibuk Singapura ini sepertinya tidak memiliki waktu untuk mengurus hal remeh seperti itu,” kata Edwin dengan sedikit pesimis pada ide Cassie.
Senyum di wajah Cassie berubah jadi serius.
“Aku rasa… pasti ada. Ada banyak orang yang putus asa pada cinta mereka. Aku menjumpai banyak pria dan wanita yang seperti itu di saat aku kuliah dulu. Mereka mencariku untuk meminta bantuan agar mereka bisa mendapatkan cinta mereka karena mereka tidak tahu harus berbuat apa.”
Edwin menggosok dagunya, sedikit meragukan ucapan Cassie.
“Kau sudah sering menolong pasangan dari sejak kuliah?” tanya Rissa, seorang rekan kerja Cassie.
Cassie mengangguk.
“Sungguh. Kalian bisa cek di kampusku dulu. Bahkan aku mendapat julukan Sang Guru Cinta,” jawab Cassie dengan percaya diri.
Seketika seisi ruangan terbahak mendengar penuturan Cassie yang terkesan tidak masuk akal. Bagaimana bisa gadis yang muda belia seperti Cassie, bahkan belum memiliki pasangan, bisa menjadi pakar cinta? Ilmu dari mana yang ia pakai?
“Cassie…Cassie… Aku ingin bertanya satu hal, apakah kau sudah punya kekasih?” tanya Edwin langsung.
“Belum,” jawab Cassie sambil menunduk.
“Sudah pernah pacaran?”
“Be-belum,” jawab Cassie lirih.
Seisi ruangan menertawakan Cassie lagi.
“Bagaimana bisa kau disebut Guru Cinta sementara kau sendiri belum berhasil mendapatkan cinta? Konyol.. sungguh konyol!” sahut Edwin.
“Ta-tapi aku yakin ide ini bisa berhasil, Pak. Berikan aku kesempatan untuk mencobanya.”
Edwin menopang dagu dengan gaya kemayunya lalu memandang tajam pada Cassie.
“Aku menantangmu untuk membuktikannya. Kau kuizinkan untuk membuka kelas cinta, tapi seluruh persiapannya kau yang akan mengurusnya. Am I clear?”
Cassie langsung menyambut apa yang dikatakan Edwin dengan anggukan kepala antusias. Jelas senang karena ini adalah mimpinya. Dan, sekarang bak gayung bersambut semuanya akan menjadi nyata.
Cassie kembali ke meja kerjanya. Ia berkutat dengan laptop tipisnya dan membuat corat-coret konsep kelas cinta yang ia pikirkan.
“Sepertinya aku butuh tim,” katanya lalu mengambil ponsel dan menghubungi sahabat-sahabatnya.
“Aku membutuhkan bantuan kalian.”
Kini ketiga sahabat itu sudah duduk di sebuah café di dekat kantor Cassie. Ning Fang menyeruput kopinya.
“Jadi kau ingin kami terlibat dalam proyek ini?” tanya Donna.
“Yep!”
“Kau ingin kami bekerja membantumu persiapan dalam proyek ini?"
“Yep!”
“Dan, kau mau kami menjadi pendamping peserta dalam kelas konyol yang kau buat itu?”
“Yep! Siapa tahu kalian juga bisa menemukan pasangan dari kelas kami bukan?”
Donna menghempaskan punggungnya kembali ke kursi. Ning Fang daritadi hanya diam dan mengamati.
“Cas, cobaan macam apa lagi yang kau berikan pada kami. Ini proyek yang konyol, Cas! Dan kau tahu itu. Mana ada orang yang mau ikut kursus cinta hanya untuk mendapatkan pasangan? Hellooo… ini Singapura! Negara dengan orang-orang paling sibuk yang pernah ada,” kata Donna mengomentari ide Cassie.
“Tapi kupikir tidak ada salahnya mencoba,” kata Ning Fang tiba-tiba.
“Bukankah negara ini juga pecinta inovasi? Kupikir tidak ada salahnya untuk mencoba. Dan, lagi bukankah ini arti sebuah persahabatan? Di manapun, kapanpun dan bagaimanapun akan saling menopang?” lanjutnya.
Cassie memeluk Ning Fang tiba-tiba.
“Kau sahabat terbaikku!!!” Donna hanya bisa menghela nafas panjang lalu ikut memeluk sahabat-sahabatnya.
Setelah adegan pelukan itu selesai, mereka kembali memasang wajah serius.
“Jadi, darimana kita mulai?” tanya Donna.
Mereka berkutat menyusun proposal dan menghitung perincian anggaran. Cassie menyiapkan semuanya bahkan hingga detil kurikulum yang akan dibahas. Ia menyiapkan semua dan siap mempresentasikannya. Ia yakin idenya ini akan menjadi inovasi terhebat abad ini.
***
“Cassidy Edward, ayo maju ke depan dan ceritakan mimpimu di hadapan teman-temanmu!”
Cassie kecil maju dengan gambar di tangannya. Ia berdiri dengan percaya dirinya di depan kelas sambil membuka perlahan gulungan kertas yang dibawanya. Ada sebuah gambar sekolah dengan emblem hati di atasnya dan ada gambar seorang wanita mirip seorang guru di depannya.
“Wah, ceritakan gambarmu Cassie!” perintah gurunya.
“Cassie bercita-cita ingin membangun sekolah cinta.” Teman-temannya menertawakan apa yang Cassie ucapkan. Gurunya juga ikut tersenyum karena ide konyol dari anak polos ini.
“Mengapa kau ingin membuat sekolah cinta, Cassie?”
“Aku ingin semua orang bisa merasakan cinta. Aku ingin membantu menemani setiap mereka agar mereka merasa dicintai.”
Riuh tawa murid-murid kecil itu menggema di seisi ruangan. Namun sang guru itu terkagum dengan ucapan Cassie. Impiannya begitu besar walau ia masih kecil. Guru itu berjalan dan berjongkok di depan Cassie.
“Cassie, mimpimu itu bagus sekali. Apapun kata orang, meskipun kau akan ditertawakan, jangan pernah padamkan mimpimu. Kejarlah dan wujudkan mimpimu dan jadilah teladan bagi yang lain,” kata guru itu pada Cassie.
Cassie terbangun dari mimpinya. Mimpi tentang masa kecilnya dan bagaimana mimpinya mulai dipupuk sejak itu. Hari sudah pagi dan ini tandanya ia siap untuk memulai langkahnya mendekati mimpinya.
Ia bergegas menuju kantornya. Ia mengenakan pakaian terbaiknya, mengikat rambutnya ekor kuda lalu memasukkan laptopnya ke dalam tas kerjanya dan keluar dari kamarnya. Nico sudah duduk di depan meja makan sambil membaca koran. Hari ini Nico berjanji akan menemani Cassie ke kantor karena ia juga ada panggilan operasi di rumah sakit lain di dekat kantor Cassie. Ia datang pagi-pagi dan masuk ke apartemen Cassie dengan kunci cadangan yang diberikan Cassie padanya saat pindahan.
Cassie melihat wajah serius Nico. Ia mencium pipi Nico dengan cepat membuat pria itu menoleh ke arahnya.
“Kau serius sekali, Nic! Tidak bisakah kau menunjukkan senyuman di wajahmu setiap hari?” kata Cassie sambil mengoleskan selai di atas rotinya.
“Mengapa aku harus tersenyum kalau memang tidak ada hal yang perlu kusenyumi?”
Cassie mencebikkan bibirnya.
“Kau rapi sekali hari ini? Baru kali ini aku bisa melihatmu dengan penampilan serapi ini.”
Cassie menoleh kea rah pakaiannya lalu balik tersenyum menatap Nico.
“Hari ini aku akan mempresentasikan mimpiku. Kau tahu, Nic? AKu dipercaya untuk membentuk kelas cinta,” kata Cassie antusias.
“Oh, lalu?” jawab Nico selalu dengan nada datarnya.
“Lalu? Hmm… kurasa ini memang jalan Tuhan untuk aku bisa meraih mimpiku. Bagus sekali bukan?”
“Oh… selamat ya!” kata Nico lagi sambil terus memperhatikan koran di depannya.
“Ah, Nico! Kau ini… mengapa sih tidak bisa ikut senang dengan pencapaian adikmu ini?”
Nico menurunkan korannya dan menatap Cassie sejenak lalu tersenyum dan mengeluarkan jempolnya. Tak lama setelah itu, ia menutup wajahnya dengan koran lagi. Cassie gemas dengan Nico. Ia langsung memiting kepala Nico dan mengacak-acaknya. Nico tertawa sambil meminta ampun agar Cassie melepaskannya.
“Sudah, ayo kita ke kantor. Nanti terlambat!”
Nico mengantar Cassie hari ini dengan mobilnya. Saat Cassie beranjak turun dari mobil, Nico mencekal tangannya.
“Kalau kau butuh apa-apa untuk mengerjakan mimpi besarmu itu, jangan segan untuk memberitahuku. Kau tahu aku akan selalu mendukung mimpimu kan?” Cassie tersenyum dan mengangguk lalu berjalan keluar ke arah kantornya sambil melambaikan tangan pada Nico.
Flash back on
Pesta ulang tahun anak itu diadakan dengan sangat meriah. Ada banyak teman – teman sebayanya diundang. Cassie kecil menggambar di atas meja belajarnya dan teman-temannya yang lain juga ikut menggambar. Seorang teman melongok dan melihat gambar Cassie.
“Kau menggambar apa, Cassie?”
“Aku menggambar sebuah sekolah. Sekolah yang mengajari orang untuk bisa saling menyayangi,” kata Cassie sambil mengambil crayon warna biru untuk mewarnai awan di gambarnya.
“Hahahah… itu mimpi yang bodoh! Weee Cassie bodoh!!!” Anak itu mengambil gambar Cassie lalu membawanya pergi. Cassie mengejar anak itu. Anak itu meninggikan tangannya hingga Cassie tidak bisa menggapainya. Ia berjongkok dan menangis. Anak it uterus mengolok-olok mimpi Cassie sambil meninggikan gambar Cassie.
Nico datang menghampiri anak itu lalu merebut kembali gambar Cassie dari tangan anak itu. Anak itu menatap Nico dengan marah.
“Hei, kau! Siapa kau berani ikut campur urusanku?” kata anak itu garang. Nico memasang tampang lebih garang.
“Kalau aku kakaknya, kau mau apa? Jangan pernah menertawakan mimpi seseorang. Pergi kau, jangan ganggu adikku lagi!” kata Nico lalu anak itu pergi. Nico berjongkok dan memeluk Cassie lalu memberikan gambar itu padanya.
Cassie mengusap air matanya dan memeluk Nico.
“Terima kasih, Nico!”
Nico mengangkat wajah Cassie dengan kedua telapak tangannya.
“Ingat! Apapun yang terjadi, siapapun yang mengolok-olokmu, jangan pernah berhenti bermimpi. Aku akan selalu mendukungmu,” kata Nico dengan lembut.
Flashback end
Nico kembali tersadar dari lamunannya. Ia teringat kejadian ketika Cassie berusia 7 tahun. Setahun setelah ia diadopsi keluarga Johnson. Dan sejak saat itu kehadiran Cassie memberikan warna bagi hidup Nico. Ia menyukai Cassie dari sejak mereka kecil. Seiring berjalannya waktu rasa yang tumbuh itu makin besar.
“Seandainya aku bisa mengungkapkan bahwa aku ingin selalu ada di sisimu dengan sejuta mimpi konyolmu. Tapi aku tak punya keberanian untuk mengungkapkannya. Mungkin ini yang bisa kulakukan, mendukungmu dalam diam,” kata Nico sambil mengamati gadis itu masuk ke dalam kantornya lalu melajukan mobilnya menuju tempat kerjanya.
***
Cassie mempresentasikan seluruh isi proposal dan rencana anggaran yang telah ia buat bersama dengan Donna dan Ning Fang. Seisi ruangan rapat terkesima dengan perencanaan matang yang Cassie buat.
“Dan, target pertama kelas ini adalah member premium kita,” kata Cassie menutup presentasinya. Edwin tiba-tiba mengangkat tangannya. Meskipun Edwin menunjukkan sisi kemayunya setiap saat namun pria itu sangat kritis. Ia mampu melihat segala kekurangan yang ada dikerjakan oleh timnya dan itu sebabnya ia didapuk sebagai pimpinan.
“Cas, sepertinya kau melakukan salah perhitungan. Aku tidak bilang bahwa kelasmu akan mendapatkan dukungan dari kantor secara penuh. Aku hanya menyetujui idemu tapi pendanaan operasional itu tanggung jawab penuhmu.”
“Ja… jadi kantor kita tidak memberikan dana untuk kelas ini?”
Edwin menghela nafas panjangnya.
“Prita, tunjukkan laporan keuangan kita yang terbaru,” perintah Edwin pada Prita, gadis India yang menjadi akuntan perusahaan. Prita mengotak-atik laptop di hadapannya sejenak lalu menampilkan semua laporan kondisi keuangan.
“Laporan yang kau lihat ini menunjukkan perusahaan kita sedang dalam masa defisit. Artinya, kita tidak bisa mengeluarkan dana sebanyak yang kau butuhkan. Jika dihitung dengan perhitunganmu, kami hanya bisa memberikan separuh saja. Sisanya, kau yang harus temukan cara mendapatkannya,” kata Edwin.
Mata Cassie terbelalak mendengar penjelasan Edwin. Apakah ini artinya ia harus mengubur mimpinya? Jelas tidak! Ia tidak boleh menyerah. Bagaimanapun ia harus tetap mengusahakan agar mimpinya menjadi nyata.
Cassie bergegas menghubungi kedua sahabatnya dan mengajaknya rapat mendadak selepas jam kantor.
“Guys, kita punya masalah serius! Kantorku kekurangan dana. Dan kita harus mencari donatur.”
“WHATT???”
“Tidak ada waktu untuk mengeluh. Kantorku memberikan batas waktu hingga akhir bulan ini jika kita tidak bisa menemukan donatur, maka habislah semua mimpikuuu….” Kata Cassie memelas.
“Baiklah kalau begitu dari mana kita akan memulai?” kata Ning Fang bersemangat sambil menarik lengan kemejanya ke atas.