Chapter 6

1700 Words
-Jangan pernah melupakan mimpi kita meskipun kita sudah memiliki pasangan, karena keduanya akan membuat hidup kita jadi lebih bergairah.-    Ketiga orang sahabat itu kini duduk bersama di sebuah bangku di tengah universitas mereka. Mereka mencari lowongan kerja bersama-sama. Apalagi yang harus dilakukan setelah kuliah selain bekerja? Kini mereka berkutat di hadapan laptop masing-masing sambil mencari lowongan kerja yang tersedia sambil menanyakan cerita Cassie selama di Surabaya beberapa hari yang lalu.     “Jadi akhirnya kau ditinggalkan begitu saja oleh pria yang menangis itu?” tanya Ning Fang sambil matanya terus memperhatikan laptopnya. Begitu juga Cassie yang mengangguk merespon pertanyaan Ning Fang.     “Lalu?” tanya Donna melanjutkan. Ia ingin mengetahui kisah Cassie selama di Surabaya beberapa hari yang lalu.     “Lalu? Ya aku minta Nico yang menjemput. Untunglah seminarnya sudah selesai dan ia meminta seorang panitia mengantarnya untuk menjemputku,” jawab Cassie sambil mengetik surat lamarannya.     Donna menghentikan aktivitasnya lalu mendekatkan wajahnya pada Cassie.     “Nico begitu baik padamu. Aku merasa mungkin dia punya rasa denganmu. Mengapa kau tidak berpacaran saja dengannya?” tanya Donna tiba-tiba.     “Hush! Sembarangan... Aku tidak mungkin pacaran dengan kakakku sendiri,” jawab Cassie sambil melengos.     “Tapi kalian kan tidak ada ikatan darah. Memangnya salah jika kau menjadi menantu keluarga Johnson? Toh, kalian akan tetap satu keluarga,” timpal Donna. Masuk akal juga pikir Cassie tapi entah mengapa ia tidak pernah memikirkan hal itu dan memang ia tidak memiliki rasa apapun pada Nico selain seorang adik kepada kakaknya.     “Ah, sudahlah. Aku tidak mungkin dengan Nico. Selamanya dia kakakku, tidak lebih. Titik.” Kedua sahabat Cassie langsung bungkam dan kembali berkutat dengan laptopnya.     “Hei, dengar… bagaimana dengan lowongan ini?” kata Ning Fang bersemangat dengan membalikkan laptopnya di hadapan kedua sahabatnya.     “Kau gila, Ning Fang! Mana ada akuntan yang menerima lulusan psikologi seperti kita? Bisa-bisa salah hitung semua. Kau tidak ingat bagaimana hasil tes matematika kita? Sudah seperti kebakaran dan kau masih bermimpi jadi akuntan?” kata Donna sambil menjendul kepala Ning Fang dengan tulunjuknya. Ning Fang mengerucutkan bibirnya.     “Dengan… dengar! Aku menemukan lowongan yang tepat untukku,” kata Cassie penuh semangat. Kedua sahabatnya langsung melongok ke depan laptop Cassie.     “Lowongan konsultan di biro jodoh AAA?” Donna dan Ning Fang membacanya bersamaan lalu menoleh kea rah Cassie. Cassie mengangguk sambil menunjukkan gigi putihnya.     “Cas, kau serius?” tanya Donna memastikan.     “Absolutely! Ini selangkah lagi untuk mencapai mimpiku,” jawab Cassie dengan yakin. Kedua sahabatnya memandang Cassie dengan kebingungan. Sementara yang dilihati hanya tersenyum sambil berimajinasi sudah bekerja di biro jodoh itu.     “Apa kau tidak salah dengan tempat pilihan kerjamu?” tanya Donna lagi.     “Kau tahu mengapa orang mau menggunakan jasa biro jodoh?”     “Karena mereka sulit menemukan pasangan mereka?” jawab Ning Fang.     “BINGO!!! Di sanalah tempat berkumpul orang-orang yang sulit mendapatkan cinta mereka. Dengan kata lain mereka adalah orang-orang yang kesepian dan mencari cinta mereka namun entah karena suatu hal mereka tidak mendapatkannya. Dan, oleh karena itu aku, CASSIDY EDWARD JOHSONS akan berdiri dan membantu mereka menemukan cinta mereka,” kata Cassie sambil berdiri di atas kursinya.     Suara lantang Cassie didengarkan oleh orang-orang lain di sekitar mereka. Mereka menghujami Cassie dengan tatapan menghakimi. Kedua sahabatnya sudah menunduk dan berusaha menutupi wajah mereka yang malu karena bersama dengan Cassie. Cassie yang merasa dipandangi aneh langsung turun dari kursinya dan menunduk malu.     Ketiganya langsung cekikikan bersama mengingat ulah memalukan Cassie. ***     Seminggu kemudian     “Saudari Cassidy Edward…” panggil salah satu staff seleksi karyawan di biro jodoh itu.     Cassie berjingkat kaget lalu mengikuti arah Langkah kaki wanita itu. Jantung Cassie berdebar dengan cepat, mungkin secepat lari Husein Bolt memutari lapangan olahraga di olimpiade. Cassie menarik nafas dan menghembuskannya berulang-ulang untuk menetralkan detak jantungnya. Ia masuk ke dalam sebuah ruangan dengan seorang pria paruh baya, berkacamata dan bewajah garang duduk di hadapannya.     Pria itu membuka-buka CV dan surat lamaran Cassie.     “Silakan duduk di sini, Nona Cassie,” kata staff wanita itu. Cassie mengangguk dan duduk di hadapan pria garang di depannya.     Di meja kayu itu terdapat sebuah papan nama bertuliskan ‘Edwin Koh – Principle’. Cassie menelan ludahnya membaca papan nama tersebut. Ia sekarang berhadapan dengan pimpinan tertinggi di biro jodoh itu. Pria itu berdeham dan membuat Cassie berjingkat.     “Kau yang bernama Cassidy Edward?” tanya Edwin to the point.     “I-Iya, Pak. Saya biasa dipanggil Cassie,” jawab Cassie terbata. Pria itu menyeringai. Cassie merinding. Pria itu lantas berdiri lalu menjulurkan tangannya ke depan Cassie. Cassie mendongak.     “Selamat, kamyuuu diterimaaaa….” Kata Edwin yang ternyata kemayu. Serentak seluruh karyawan dari luar sana tiba-tiba masuk dan membawa confetti dan meledakannya di dalam ruangan Edwin.     “SELAMAATTT DATANGGG!!!!” kata seluruh staff itu dengan gembiranya menyambut kehadiran Cassie.     Ia tidak menyangka bahwa ia langsung diterima di biro jodoh itu dan disambut dengan begitu hebohnya seperti ia sedang berulang tahun. Dan parahnya lagi, ia tidak menyangka jika sosok Edwin yang terlihat garang ternyata mirip seperti banci.     Cassie hanya tersenyum kecut dengan semua penyambutan yang meriah tersebut. Bahkan, ada beberapa orang yang menarik lengannya dan mengajaknya berjingkrak sambil berputar-putar. Cassie bingung lingkungan kerja macam apa ini? Mengapa ia harus bertemu dengan kumpulan aneh semacam ini? Apakah ia memang salah memilih tempat kerja? Ya, apapun itu mungkin ini awal yang menyenangkan bagi perjalanan karir Cassie, ah tidak,… lebih tepatnya perjalanan mimpi Cassie.     “SUDAH CUKUP PENYAMBUTANNYA TEMAN-TEMAN….” Kata Edwin membuyarkan semua keributan di ruangannya. Tiba-tiba mereka keluar bersamaan dan meninggalkan Cassie kembali bersama Edwin di dalam sana. Suasana jadi tegang kembali. Edwin duduk dengan anggunnya di kursi kebanggaannya. Cassie hanya mengernyitkan dahi dengan semua kondisi itu.     “Jadi, Cassie… Tugas kamu di sini sudah tahu?”     ‘Baru juga aku dipanggil untuk ineterview, sudah ditanya tugas. Mana aku tahu?’ batin Cassie.     “Belum, Pak,” jawab Cassie sambil menggeleng.     “Hmm… baiklah. Jadi begini… tugasmu itu… bla… bla… bla” Edwin menyebutkan semua tugas-tugas Cassie dengan sekali nafas dan ia menyebutkannya dengan cepat seperti layaknya kaset rusak. Cassie yang kebingungan tidak dapat menghentikan cerocos pria ini. Hingga akhirnya dia berhenti lalu mengambil nafas.     “Kau paham?" tanya Edwin memastikan.     “A-anu, Pak. Eng… boleh diulang?” kata Cassie sambil meringis.     Edwin memukul jidatnya sendiri.     “Hadeh… intinya tugasmu adalah membantu para klien untuk menemukan pasangan yang sesuai dengan kriteria dan karakternya. Itu saja. Paham?” kata Edwin dengan gaya kemayunya.     “Oh… paham, Pak!”     “Oke, besok kamu akan mulai kerja. Hari ini staff saya akan menunjukkan prosedur kerjanya.” Edwin memanggil wanita yang tadi mengantar Cassie dan wanita itu langsung mengantar Cassie untuk mempelajari kerjanya. ***     Malam harinya keluarga Johnson makan malam bersama. Lagi-lagi Steward hanya memiliki 1 hari libur sebelum esok dia dan Jollyn akan kembali berkeliling ke negara lain untuk menjadi pembicara seminar. Ia tidak ingin melewatkan makan malam bersama keluarga kecilnya setiap ada kesempatan berkumpul. Waktu seperti ini tidak akan pernah terulang lagi dan ia tidak mau menyesalinya.     “Bagaimana interview’nya, Cass?” tanya Nico sambil mengiris daging steak di piringnya.     “Aku diterima dan besok aku akan memulai kerjaku,” kata Cassie sambil memasukkan potongan daging steak ke mulutnya.     “Kau kerja di mana?” tanya Steward. Ia merasa putrinya tidak memberitahukan hal ini padanya.   “Biro Jodoh AAA.” Jawaban Cassie membuat Steward tersedak. Putri angkatnya ini memberikan jawaban yang tidak terduga. Jollyn mengambilkan air minum untuk Steward dan mengelus-elus punggungnya.     “Astaga, Cassie! Lagi-lagi kau selalu membuat kami terkejut. Papa pikir kau akan bekerja di sebuah badan psikologi atau mungkin bekerja di rumah sakit sebagai psikolog. Tapi ternyata yang kau pilih biro jodoh? Papa tidak habis pikir,” jawab Steward dengan nada bingungnya.     “Papa, percaya sama Cassie kalau ini pilihan Cassie sendiri. Aku sengaja memilih bekerja di biro jodoh untuk mendekatkanku pada mimpiku, bertemu dengan mereka yang membutuhkan kasih sayang dan membantu mereka berjuang mendapatkan cinta mereka,” sahut Cassie dengan mata berbinarnya. Steward dan Jollyn hanya bisa saling berpandangan lalu menggelengkan kepalanya. Sepertinya mereka harus punya tingkat kesabaran level dewa menghadapi Cassie yang selalu memberikan kejutan.     “Ah, iya… Papa, Mama, dan Nico, selagi kalian ada di sini aku juga ingin mengatakan sesuatu.”     “Katakanlah,” kata Steward memberi izin.     “Aku ingin hidup mandiri. Aku ingin tinggal di apartemenku sendiri dan aku ingin berjuang dengan usahaku sendiri. Aku harap kali ini aku tidak dihalangi oleh siapapun karena Cassie yang ada di hadapan kalian ini bukanlah anak kecil lagi. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa mandiri. Boleh kan?” tanya Cassie sambil mengedip-ngedipkan matanya dan memasang wajah sok imutnya.     “Untuk yang ini, Papa setuju. Tinggallah di apartemen DEF yang baru Papa beli.  Semuanya perabotannya sudah siap dan tinggal huni. Besok Nico akan membantumu berkemas,” kata Steward mengizinkan. Cassie menghambur dan memeluk Steward dari belakang dan menghujaminya dengan ciuman di pipi berulang kali.     Cassie yang mengaku sudah dewasa tetaplah Cassie yang kekanak-kanakan. Dan, gadis itu kini akan tinggal terpisah dari mereka dan pasti mereka akan merindukan saat-saat seperti ini.     Seminggu telah berlalu dan Cassie sudah tinggal dalam apartemen barunya sejak tiga hari yang lalu. Apartemennya ternyata sangat dekat dengan tempat ia bekerja. Steward membeli apartemen itu sejak tahun lalu dan sebenarnya itu memang dipersiapkan untuk Cassie. Keluarga Johnson memang adalah orang terdidik, mereka sudah merencanakan semuanya dengan matang. Termasuk masalah kemandirian kedua anaknya. Mereka sudah menyiapkan agar kedua anaknya harus bisa hidup mandiri dan membelikan apartemen sendiri adalah cara untuk melatih mereka mandiri.     Nicolas sebenarnya juga memiliki apartemennya sendiri namun ia tidak tempati karena lokasi rumah sakit tempat ia bekerja lebih dekat dengan apartemen keluarga Johnson. Ia memilih tinggal di rumah keluarganya demi efisiensi waktu.     Seminggu sudah Cassie bekerja di biro jodoh. Ia sudah mulai terbiasa dengan setiap prosedur kerja di kantornya. Ia hanya perlu menerima klien yang menghubunginya, melakukan serangkaian tes psikologi dan tes lain untuk memastikan potensi dan karakter klien, lalu menyodorkan beberapa pilihan sosok lawan jenis yang profilnya diperkirakan cocok dengan si klien. Tapi ternyata pekerjaan itu tidak mudah.     Meskipun sudah dilakukan serangkaian tes untuk mencocokkan profil antara klien dan calon pasangannya, namun tetap saja banyak di antara klien itu yang gagal untuk berpasangan. Entah karena apa, mereka juga tidak mengetahuinya. Bahkan terkadang para konsultan di biro jodoh harus memberikan layanan ekstra dengan mempersiapkan acara kencan romantis untuk para klien. Namun mungkin benar apa kata orang bahwa jodoh di tangan Tuhan, tidak ada yang bisa menyatukan seseorang dengan orang lain jika memang itu bukan takdir Tuhan.     Kini masalah itu sedang diperbincangkan dalam ruang rapat di biro jodoh. Hasil kerja mereka di bawah rata-rata dan mereka sudah kehabisan ide untuk inovasi. Seluruh tim terlihat lesu dengan apa yang dipaparkan oleh Edwin. Mereka terlihat berpikir, termasuk Cassie.     “Bagaimana, Tim? Kita sudah kehilangan kepercayaan dari para klien. Bagaimana kita bisa memperbaiki reputasi kita kalau begini? Ih… sebal…” kata Edwin lagi-lagi dengan gaya kemayunya.     Otak Cassie mencetuskan ide yang cemerlang dan ini mungkin saatnya ia mewujudkan mimpinya. Ia mengacungkan tangannya dan langsung terlihat oleh Edwin.     “Pak, kita perlu membuka kelas cinta!” ***  A/N: And the journey begins... Tap 'love' untuk dukung mimpi Cassie dan follow Author untuk makin semangat bikin ceritanya. Semoga suka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD