Chapter 17

1479 Words
 -Kita tidak pernah bisa memaksa seseorang merasakan atau bahkan melepas cintanya karena mencintai atau tidak adalah keputusannya seorang.-       Pintu apartemen Cassie diketuk dari luar. Gadis itu segera mencuci tangannya lalu mengelap dengan kain dan bergegas membuka pintu tanpa melepas apron yang dikenakannya. Ia tahu bahwa yang datang pasti Nico. Setelah ia mengetahui bahwa sponsor proyeknya adalah Nico, ia mengundang Nico makan malam sebagai ucapan terima kasihnya.     Nico sudah berdiri dengaan gagahnya di depan sana sambil sebelah tangannya membawa sebuah kotak beirisi cake favorit Cassie dan tangan yang lain dimasukkan ke dalam kantong celananya. Wanita manapun akan terpesona melihat pose Nico yang terlihat begitu keren. Wajahnya sudah tampan, tingginya 180 cm dan jangan lupakan matanya yang tajam. Namun sayangnya pria itu tidak berniat untuk menjalin hubungan dengan wanita manapun. Ia hanya menunjukkan kepeduliannya hanya pada keluarga dan lebih-lebih pada Cassie seorang.     Nico mengangkat kotak kue itu ke hadapan wajah Cassie dengan tersenyum lalu memberikan cake itu padanya.     “Wah… Madame Sugar! Nico memang the best!” puji Cassie sambil mengacungkan jempolnya pada Nico. Nico mengacak-acak rambut Cassie sambil tersenyum. Cassie melongokkan kepalanya dan menatap isinya dari bagian kotak yang transparan.     “Japanese Cheese Cake! Melihatnya saja lidahku sudah bergoyang.”     “Nico gitu lho!” kata Nico membanggakan dirinya. Ia sangat tahu apa yang disukai Cassie. Segalanya tentang Cassie ia sangat memahaminya. Bahkan toko kue yang belakangan ini menjadi favorit Cassie pun ia tahu.     Cassie membalas ucapan membanggakan diri Nico itu dengan senyuman manisnya lalu mempersilakannya untuk masuk. Cassie berjalan menuju meja makan dan meletakkan kotak cake itu di atas meja lalu Cassie kembali berkutat di area kompor untuk memastikan masakannya siap.     “Ada yang perlu dibantu?” ujar Nico yang sekarang sudah berdiri di samping Cassie sambil menekuk lengan kemejanya hingga ke siku. Saking dekatnya posisi mereka, nafas Nico terasa di sekitar cuping Cassie. Cassie menyadari betapa dekatnya posisi mereka itu lalu mengambil selangkah menjauh dari tubuh Nico.     “Kau duduk saja di sana. Sebentar lagi makanannya siap,” kata Cassie sambil berkutat dengan penggorengannya. Ia membolak-balik potongan salmon itu hingga matang lalu mengatur hidangan itu di atas piring.     Nico beranjak menuju lemari es dan mengeluarkan beberapa kaleng minuman dingin dari sana. Ia membuka satu dan menenggaknya habis. Udara panas Singapura membuat kerongkongannya lebih cepat kering dari biasanya. Cassie datang dengan membawa dua piring hidangan Salmon dan meletakkannya di atas meja.     “Tadaaaa… Masakan spesial ala Cassie sudah siap. Grilled Salmon with Cassie’s special sauce,” katanya dengan antusias. Nico hanya tersenyum melihat ekspresi wajah Cassie.     “Kelihatannya enak,” puji Nico.     “Kau harus coba. Kusebut ini masterpiece. Aku memanggang salmonnya dengan sempurna,” kata Cassie dengan bergaya ala Chef professional. Nico terkekeh geli melihatnya.     Cassie melepas apronnya lalu mengambil duduk di samping Nico. Jujur dalam kondisi sedekat ini jantung Nico berdebar lebih kencang dari biasanya. Kehadiran Cassie di sampingnya seperti membuatnya terserang serangan jantung mendadak. Jantungnya tidak mau berkompromi dan terus memacu sangat cepat.     Cassie memotong salmonnya seiris lalu menyuapkannya pada Nico. Nico merasa terkejut dengan apa yang dilakukan Cassie. Cassie menggerak-gerakkan garpunya agar Nico mau menerimanya. Nico memakan suapan dari Cassie. Wajahnya terasa panas dan sepertinya sekarang sudah bersemu merah karenanya.      “Bagaimana rasanya? Enak?”     Nico terus mengunyah sambil merasakan setiap sisi potongan salmon itu.     “Ini enak. Bumbunya benar-benar merasuk hingga ke bagian terdalam.”     “Jelas, Cassie gitu lho!” kata Cassie sambil menepuk dadanya menyombongkan diri.     “Bagaimana kakimu? Sudah bisa melompat lagi?” kata Nico sambil mengiris salmon di hadapannya.     Cassie menggerak-gerakkan kakinya.     “Jelas sudah donk. Ini berkat dokter pribadiku, Nicolas Johnson! Kakiku sekarang bahkan terasa lebih ringan dan kurasa aku bisa terbang setiap kali melangkah.” Nico tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala karena ucapan Cassie.     “Nico, aku ingin bertanya serius.”     Nico memandang Cassie.     “Tanyalah.”     “Hmmm… Mengapa kau tidak mengatakan kalau kau menjadi sponsor proyekku?” Nico berhenti mengunyah. Ia mengambil minumannya dan meneguknya sebelum menjawab.     “Kalau aku mengatakannya, apakah kau akan menerima bantuanku? Dan, jika kau tidak menerima bantuanku bukankah mimpimu tidak akan terwujud?”     Cassie terdiam. Nico benar-benar ingin membuatnya mampu menggapai mimpinya. Mungkin jika diibaratkan saat ini mereka seperti panjat pinang. Cassie berada di atas bahu Nico dan Nico terus mendorongnya hingga ke puncak untuk menggapai mimpinya.     “Mengapa kau melakukan itu? Aku bisa mencari sponsorku sendiri dan kau tahu itu,” protes Cassie. Nico meletakkan alat makannya dan memandang Cassie dengan serius.     “Nilai yang kami butuhkan begitu besar bahkan itu memakan hampir 80% tabunganmu. Bagaimana dengan masa depanmu jika kau membuang uangmu untuk menjadi sponsorku?”     “Aku hanya tidak ingin kau melepas mimpimu. Masa bodoh dengan masa depanku, bagiku yang terpenting adalah… kau.”     Jantung Cassie berhenti berdetak. Apakah ini artinya dugaannya memang benar bahwa Nico memiliki rasa padanya? Tidak… tidak boleh terjadi. Saudara tetaplah saudara sampai kapanpun. Nico tidak boleh memiliki perasaan padanya. Cassie terdiam sejenak karena ucapan Nico.     Nico sendiri juga merasa melakukan hal yang bodoh. Ia mengungkapkan perasaannya walau tidak secara langsung. Ia melanjutkan makannya tanpa mempedulikan tatapan terkejut Cassie.     DEG!     Cassie menghela nafasnya lalu ia mengambil ponselnya. Ia membuka situs biro jodohnya, mencari-cari sesuatu di sana. Ia membuka arsip-arsipnya dan mencari beberapa profil wanita yang menjadi klien biro jodohnya. Ia menunjukkan foto salah satu klien wanita pada Nico. Nico menoleh dan memandang layar ponsel Cassie.     “Bagaimana dengan wanita ini? Cantik ya?” tanya Cassie dengan maksud untuk mengenalkan Nico pada wanita-wanita pilihan itu. Tapi Nico nampaknya tidak tertarik. Ia terus mengunyah makanannya.     “Kau tidak tertarik ya?” Bibir Cassie mengerucut lalu mencari-cari sosok lain di ponselnya.     “Yang ini kau pasti suka. Ia juga seorang dokter. Dokter kecantikan. Wah… lihat kulit wajahnya begitu kencang, pasti karena rajin perawatan. Dan profil pendidikannya… wow dia lulusan luar negeri bahkan mendapat banyak penghargaan.”     Cassie menyodorkan gambar wanita kedua. Nico tidak melirik ponsel Cassie sama sekali. Ia menyilangkan alat makannya lalu mengelap mulutnya dan berjalan ke dapur untuk mencuci piringnya sendiri.     Merasa diacuhkan, Cassie mencebikkan mulutnya. Ia memotong dengan kasar dan menikmati hidangannya sendiri hingga tandas. Nico mencuci tangannya lalu menghempaskan pantatnya di atas sofa.     “Jika kau memanggilku ke sini hanya untuk mengenalkanku pada wanita-wanita itu, lebih baik aku pulang. Aku tidak pernah tertarik dengan mereka.”     Cassie membanting alat makannya lalu dengan geram berdiri di hadapan Nico.     “Beginikah perlakuanmu pada orang yang mau berterima kasih padamu?”     Nico memandang Cassie dengan tajam.     “Kau sebut itu berterima kasih?” tanya Nico ketus.     “Iya. Aku ingin mengenalkanmu pada wanita yang terbaik. Aku ingin kau bisa bersama dengan wanita yang kau sukai.”     “CASSIE!” Nico sekarang berdiri di hadapan Cassie. Ia memegang bahu Cassie.     “Cukup semua usahamu menjodohkan aku dengan wanita manapun. Di hatiku sudah ada seseorang dan selamanya tidak akan terganti.” Nico menghela nafasnya lalu menatap Cassie dalam-dalam.     “Tolonglah! Jangan paksa aku untuk menggantikan sosok di hatiku ini dengan wanita manapun. Oke?” Nico mengatakan kalimatnya dengan nada yang mulai melembut.     “Meskipun wanita itu hanya menganggapmu sebagaai Kakak. Kau tidak akan melepaskannya?” tanya Cassie dan membuat Nico terdiam. Ia melepaskan tangannya dari atas bahu Cassie.     Cassie sadar dan tahu bahwa Nico memang menyukainya dari sejak lama. Perhatian dan kepedulian yang Nico berikan sudah menjadi bukti nyata bahwa pria itu mencintai Cassie. Bahkan hingga kini, orang yang bisa melihat senyuman dan tawa Nico mungkin hanya Cassie. Kepadanyalah, Nico bisa selepas ini.     Nico memandang Cassie lagi.     “Aku tidak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun.” ***     Cassie hanya diam. Perasaan aneh muncul di dalam benaknya. Mengapa Nico membuatnya menjadi merasa bersalah karena ia tidak akan pernah membalas cinta pria itu?     Pria itu memilih lebih baik melajang daripada harus meninggalkan perasaannya walau ia tahu cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia siap dengan konsekuensinya. Ia siap dengan semua rasa sakit yang akan ia terima nantinya. Ia hanya tidak ingin menggeser posisi Cassie di hatinya sampai kapanpun.     Cassie memandang Nico dengan mata yang berkaca-kaca. Ia ingin menangis karena ia merasa bersalah pada pria ini. Ia memberikan harapan yang palsu dan ia menyesalinya.     “Nico, aku mau tanya satu hal lagi dan jawab aku dengan jujur.” Cassie mengatakan itu dengan tenggorokan yang terasa hampir tercekat.     “Apa kau mencintaiku?” Suasana itu diliputi keheningan. Nico hanya terdiam. Ia memalingkan wajahnya.     Tidak terima dengan respon Nico, Cassie berjalan ke hadapan Nico lagi.     “Jawab, Nic! Apa kau mencintaiku?” Sebutir air mata leleh di wajah Cassie. Nico tetap bungkam.     “Kau diam berarti kuanggap… dugaanku memang benar.” Air mata Cassie menetes. Ia makin merasa bersalah mengetahui perasaan Nico. Ia berpaling dan beranjak tapi tangan Nico menarik gadis itu. Nico membawa gadis itu ke dalam pelukannya.     “Aku mencintaimu, Cass! Aku mencintaimu.”   A/N: Nah lho! Enaknya diterima apa nggak ya? Hmm… Jangan lupa klik Love trus info ke temen-temen kalian supaya Love dan baca cerita ini juga ya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD