Chapter 16

1426 Words
-Ketika jatuh cinta, kau akan berusaha melakukan apapun demi kebahagiaannya.-       Cassie bangun dari tempat tidurnya lalu mengambil kruk yang ada di sampingnya. Sudah tiga hari ia kembali di Singapura dan kondisi kakinya mulai membaik. Menurut jadwal, hari ini gips di kakinya bisa dilepas. Itu tandanya ia bisa bergerak lincah seperti biasanya.     Ia membersihkan dirinya lalu bersiap menuju ke rumah sakit. Kemarin Nico sudah berjanji bahwa dia sendiri yang akan melepaskan gips Cassie di rumah sakit.     Sejak kepulangannya waktu itu, Nico memintanya tinggal di apartemen keluarga Johnson. Ia yang merawat luka Cassie hingga sembuh. Cassie pasti akan mengalami kesulitan jika ia tinggal di apartemennya di saat seperti ini.     Awalnya Cassie menolak mati-matian karena ia tidak ingin merepotkan Nico lagi. Tapi Nico bersikeras dan adu argument itu dimenangkan oleh Nico bahkan saat Cassie terus membantah, ia menggunakan jurus pamungkasnya, meminta bantuan Steward untuk memaksa Cassie. Dan, cara jitu itu pasti tidak akan dibantah Cassie. Nico sadar mungkin caranya sedikit keterlaluan dan membuat Cassie seperti anak kecil. Tapi bagaimanapun ia adalah kakak sekaligus dokter pribadi Cassie. Ia ingin Cassie selalu sehat dan tidak ada secuilpun dalam dirinya yang koyak.     Pintu kamar Cassie diketuk. Ia yakin itu pasti Nico. Ia membukakan pintunya.     “Sudah siap?” Cassie mengangguk. Nico langsung mengambil tangan Cassie dan mengalungkannya di bahunya sambil tangan sebelahnya memegangi pinggul Cassie. Nico memapah Cassie keluar apartemen dan turun dengan lift. Ia membantu Cassie duduk di mobilnya dengan sangat hati-hati lalu menjalankan mobilnya membelah jalanan.     “Apa rencanamu setelah dari rumah sakit?” tanya Nico memecah keheningan.     “Jelas aku ingin kembali bekerja. Ada banyak yang harus kuurus karena sebentar lagi kelas perdanaku akan dimulai. Aku ingin memastikan semuanya berjalan dengan baik. Aku tak sabar lagi,” kata Cassie dengan antusias.     “Hari ini kau harus beristirahat di rumah. Setidaknya tunggulah 1-2 hari lagi untuk memastikan kakimu sudah bisa bergerak seperti sedia kala.” Cassie mengerucutkan bibirnya.     “Tidak! Aku mau kembali bekerja.” Nico memandang Cassie dengan kaget.     “Apa katamu?”     “Aku mau bekerja. Titik. Kau tidak tahu betapa bosannya aku di rumah seharian dan hanya bisa menonton televisi atau membaca buku. Kau tidak memperbolehkanku berjalan atau beraktivitas di rumah. Kau mengharuskan aku berbaring di ranjang dan itu menyebalkan!” gerutu Cassie.     “Tidak bisa. Kau tidak tahu bagaimana kondisi kakimu. Kau ingin retak kakimu muncul lagi? Semua yang kuminta itu demi kebaikanmu Cassie. Tidak bisakah kau paham itu?”     “Tapi, Nic…. Aku…”     “Tidak ada tapi-tapian, Cassie. Ini demi kesembuhanmu. Mengapa sih kau keras kepala sekali?”     “Mengapa juga kau perhatian sebegitu jauhnya padaku?”      Pertanyaan Cassie tadi membuat jantung Nico berhenti sepersekian detik. Ia meneguk ludahnya.     “Karena aku sayang padamu.”     Kata-kata yang Nico keluarkan barusan membuat perasaan Cassie campur aduk. Sepertinya ia salah bicara. Ia memilih untuk diam dan memperhatikan jalanan daripada harus bertatap muka dengan Nico. Sementara Nico? Jantungnya berdegup tak karuan, menyadari kata-kata itu terlontar spontan dari mulutnya.         Mereka menuju ke rumah sakit dengan diam bahkan hingga saat melepaskan gips pun mereka diam. Tidak seperti biasanya, kali ini keduanya seperti dua orang yang tidak saling mengenal. ***     Cassie kini sudah kembali ke apartemennya. Kakinya sudah mulai bisa beradaptasi dan berjalan seperti semula. Ia berterima kasih pada Nico yang dengan protektifnya menjaga hingga kondisi Cassie normal kembali, walau ia masih merasa canggung setiap Nico datang untuk mengontrol kondisi Cassie.     Cassie merasa hubungannya dengan Nico sudah tidak seperti dulu lagi sejak kata-kata itu terlontar dari mulut Nico. Ia selalu merasa canggung dan berusaha untuk jaga jarak dari Nico. Ia tidak ingin Nico terlibat lebih jauh dengan perasaannya. Ia tidak mau persaudaraan ini rusak dengan datangnya cinta di antara mereka.     Pernahkah Cassie memiliki perasaan pada Nico? Mungkin pernah. Segala yang Nico lakukan untuknya jelas membuat setiap wanita pasti akan takluk. Tapi ia berusaha agar tidak jatuh dalam pesona Nico. Ia berusaha membatasi dirinya dan bersikap layaknya adik pada kakaknya dan tidak lebih.     Pintu apartemen Cassie diketuk dan ia berjalan perlahan membukakan pintu. Saat pintu terbuka, dua sahabatnya datang dan memeluknya. Melepas rasa rindunya setelah sekian lama tidak bertemu dengan Cassie.     “Bagaimana kakimu? Tidak perlu amputasi kan?” tanya Donna spontan. Ning Fang langsung menoyor kepala Donna dari belakang. Memberi tanda humornya garing.     “Aku kangen kalian!!!” kata Cassie bersemangat. Mereka bertiga duduk di sofa sambil menikmati cemilan dan minuman dingin.     “Apa saja yang sudah terjadi selama di Surabaya? Kau belum menceritakan detilnya,” pancing Donna yang tingkat kekepoannya cukup tinggi.     “Hmm… ya seperti yang kalian tahu, aku kecelakaan. Kakiku patah.” Donna memutar matanya malas.     “Itu sudah tahu. Orang buta saja tahu kau patah kaki. Yang lain? Apa tidak ada hal yang menarik di sana?” telisik Donna.     “Eumm…. Aku bertemu dengan seorang pria yang unik.”     “Unik?” tanya Ning Fang sambil membetulkan kacamatanya yang melorot.     “Iya. Dia mungkin anak yang manja. Sifatnya seperti anak kecil. Bahkan, ia tidak bisa mengikat tali sepatunya sendiri.”     “Sungguh? Pria konyol macam apa dia itu?” kata Donna sambil memasukkan keripik kentang ke dalam mulutnya.     “Dan dia patah hati.”     “Hahaha… jelas saja dia patah hati. Aku sudah menduga tidak akan ada wanita yang suka dengan pria manja seperti itu. Pasti merepotkan,” komentar Donna. Ning Fang hanya diam.     “Justru itu poin pentingnya.”     “Maksudmu?” Ning Fang bersuara.     “Aku menawarinya untuk bergabung di kelas kita.”     “Maksudmu dia di Singapura?”     “Tidak sih. Ia sepertinya sedang solo travelling entah kemana, tapi jika memang ia ke Singapura. Aku yakin dia pasti akan ikut kelas kita. Ah, sudahlah. Bagaimana dengan kalian? Apa yang sudah terjadi di sini?”     “Kami mendapatkan siswa,” jawab Donna bersemangat diikuti sorakan dari Cassie.     “Dua orang sekaligus dalam satu hari.”     Cassie bersorak kegirangan.     “Bagus sekali! Kita tinggal cari 1 orang lagi.” Donna dan Ning Fang mengangguk senang. Mereka lalu menceritakan bagaimana mereka mendapatkan dua siswa ajaib itu pada Cassie. Cassie terbahak-bahak mendengar cerita mereka. Profil kedua siswa pertamanya itu ternyata begitu lucu. Bagaimana bisa pria India menyukai gadis Cina dan bagaimana bisa seorang pria begitu pelitnya hingga tidak ingin berkencan karena menganggap kencan itu membuang uang?     Ternyata kedua siswanya sama konyolnya dengan ide kelas cintanya. Ya, mungkin ini takdir Tuhan mengumpulkan semua hal konyol dalam satu waktu. Namun, kita tidak pernah tahu rencana Tuhan bukan? Mungkin dari hal yang konyol itulah muncul suatu hal yang malah menjadi terang bagi sekitarnya.     “Ah, baguslah! Tinggal selangkah lagi.” Donna menyeruput minumannya.     “Karena kelas kita akan diresmikan sebentar lagi, aku ingin berterima kasih pada donatur yang mendukung kita. Bolehkah aku meminta nomer teleponnya?”     UHUK! Donna terbatuk. Ning Fang buru-buru mengambilkan tissue untuk Donna.     “Eng… untuk apa kau meminta nomernya?” tanya Ning Fang hati -hati. Mereka berjanji untuk merahasiakan identitas donatur itu dari Cassie.     “Aku ingin mengajaknya makan malam sebagai ucapan terima kasih dan akan memberitahukan perkembangan kelas kita.” Flashback on     Waktu itu kedua sahabat Cassie pergi ke rumah sakit Nico tanpa sepengetahuan Cassie. Mereka berdua menunggu di ruang tunggu praktik Nico di rumah sakit. Setelah pasien yang terakhir, keduanya masuk ke dalam.     “Ada masalah apa kalian kemari?” tanya Nico dengan senyum ramahnya.     “Kami ingin meminta bantuan,” jawab Donna.     “Bantuan?”     “Iya, kau kan tahu kami sedang mencari sponsor untuk kelas Cassie. Kami sudah pergi keliling dan menyebar proposal tapi tak ada hasilnya. Kalau tidak ada sponsor yang mau mendanai, kelas ini akan ditutup,” jawab Donna. Nico menyandarkan badannya ke kursi dan menghela nafas. Ia tahu hal ini pasti terjadi dan lagi-lagi Cassie pasti tidak ingin merepotkannya. Meskipun ia tidak pernah merasa direpotkan jika untuk membantu Cassie.     “Kau mau jadi sponsor kami?” tanya Ning Fang hati-hati.     Nico mengeluarkan sesuatu di lacinya. Sebuah cek.     “Berapa yang kelas kalian butuhkan?” Ning Fang menyebutkan sejumlah nominal dan tanpa basa-basi Nico menuliskan nominal itu di dalam buku ceknya. Nominal itu begitu besar dan sejujurnya mereka berdua tidak yakin Nico bisa membantu seluruh kebutuhan mereka. Setidaknya, jika ia bisa memberikan separuh saja dari kebutuhan, keduanya bisa merasa sedikit lega.     Nico membubuhkan tanda tangannya di cek lalu memberikan cek itu kepada mereka. Mata keduanya terbelalak. Nico memberikan bantuan penuh.     “Kau serius?”     “Kalau aku tidak serius, untuk apa aku menuliskan nilai itu di sana?”     “Apa kau tidak jatuh miskin karena ini?”     “Hahahaha… ya aku bisa melakukan penghematan besar-besaran untuk kebutuhanku sendiri. Kalian tenang saja. Aku pasti akan tetap bisa hidup,” kata Nico sambil tersenyum. Air mata Donna dan Ning Fang hampir saja menetes. Nico memang bersedia mengorbankan apapun demi Cassie. Bahkan, ia sendiri rela untuk hidup sangat hemat agar kelas Cassie terwujud. Sungguh pengorbanan yang besar.     “Terima kasih, Nico. Terima kasih!” kata keduanya bebarengan.     “Tapi, aku minta tolong agar kalian tidak memberitahukan identitasku pada Cassie karena ia pasti tidak akan mau menerima bantuanku.”     Keduanya mengangguk. Flashback end       “Kau sungguh ingin menemuinya? Dia orang yang…”     “Sibuk. Iya sibuk sekali. Sampai-sampai waktu untuk bertemu dengannya dibatasi,” potong Donna. Ia mendelik kea rah Ning Fang memastikan gadis itu tidak memberitahukan identitas Nico pada Cassie. Karena Cassie pasti tidak akan mengampuni mereka. Ning Fang hanya mengangguk mengiyakan.     “Begitu ya? Sayang sekali. Ah, atau setidaknya berikan aku alamatnya. Aku ingin mengirimkan hadiah terima kasih untuknya.”     “Tidak bisa! Nico pasti tidak akan menyetujuinya.” Ups! Donna keceplosan. Ia menutup mulutnya menyadari ia sudah mengatakan identitas sponsor itu.     Mata Cassie terbelalak.     “NICO???” *** A/N: Kira-kira apa ya yang dilakukan Cassie? Malah benci sama Nico atau???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD