Chapter 15

1414 Words
-Kegagalan dalam sebuah relasi membuat kita belajar untuk terus memperbaiki diri.-     Brandon menghempaskan badannya ke sandaran kursi. Ia jengkel karena gadis di sebelahnya ini membuat dirinya seakan seperti orang d***u setelah kejadian yang dialaminya barusan. Bisa-bisanya ia malah membela Ibu yang tidak tahu aturan itu tadi? Bukankah kabin bagian atas kursinya adalah miliknya? Bisa-bisanya malah dia yang diminta mengalah. Sungguh tidak masuk akal bagi Brandon. Ia menyilangkan tangannya di depan d**a dan memalingkan wajahnya dari gadis itu.     Cassie mengeluarkan earphone dan ponselnya. Ia menyambungkan earphone’nya dan menikmati lagu yang mengalun dari sana tanpa mempedulikan pria menyebalkan di sampingnya sedang menunggu penjelasan darinya. Pesawat mereka akhirnya lepas landas. Ia menutup matanya sambil terus mendengarkan musiknya.     Sebuah kepala yang jatuh ke atas pundaknya tiba-tiba membuatnya kaget. Pria merepotkan di sampingnya ini terlelap. Kepala itu terasa berat dan Cassie berusaha mengangkat kepala itu dengan susah payah dan mengembalikan posisinya ke semula. Ia membenarkan bajunya yang kusut lalu mulai menikmati lagunya sambil memejamkan mata.     Lagi-lagi kepala laki-laki sialan itu bertengger di pundaknya. Kali ini ia merasakan ada sesuatu yang basah di atas pundaknya. ASTAGA! Pria itu meneteskan liurnya tanpa sadar. Cassie bergidik. Mimpi apa ia semalam, bertemu dengan pria menyebalkan seperti ini dan sekarang liurnya sudah merusak jaket kesayangannya.     Cassie meniup poninya. Ia mendorong kepala sialan itu namun tiba-tiba turbulensi datang. Brandon kaget dan membuka matanya dan melihat wajah Cassie persis di depan wajahnya dengan kedua telapak tangan Cassie memegangi kedua pipinya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia menatap bulatan mata besar Cassie dengan lekat.     “Hei, Tuan merepotkan sadarlah!” kata Cassie dengan nada datar namun terasa bahwa ia sebal.     Brandon berdeham lalu mengangkat kepalanya dan kembali ke posisi duduknya. Cassie memandang wajah pria menyebalkan itu dengan gemas. Ia tidak sadar akan apa yang sudah terjadi rupanya.     “Hei, Tuan Merepotkan. Lihat apa yang sudah kau perbuat selama kau tidur tadi?” kata Cassie sambil menunjuk bahu kanannya yang basah.     “Memangnya apa yang sudah terjadi? Air AC ini menetes di bahumu?” jawab Brandon dengan polosnya.     Cassie mendekatkan wajahnya ke wajah Brandon dan membuat pria itu memundurkan kepalanya hingga bersandar tegak di kursinya.     “Gara-gara ulahmu, jaket kesayanganku sekarang ternoda. Tahu?” Cassie menyipitkan matanya dan memasang tampang garang.     “A… Aku… mana tahu… namanya juga tidur.” Cassie menatap nyalang Brandon lalu mengeluarkan dua jarinya dan menggerakkannya ke arah matanya lalu ke arah mata Brandon.     “Harusnya yang dibehel itu bukan gigimu, tapi bibirmu supaya terus menutup dan tidak berliur. Tahu? Menjijikkan,” gerutu Cassie. Ia mengambil majalah pesawat di hadapannya lalu mengalihkan perhatiannya pada gambar-gambar indah di dalam majalah itu daripada menatap sebal pria di sampingnya ini.     Brandon mengigit jari tangannya. Ternyata, wanita cerewet di sampingnya ini lebih menyeramkan dibanding Ibunya.     Brandon merasa sudut bibirnya terasa lengket. Ia menjilat pinggiran bibirnya. Tapi sepertinya rasa lengket itu masih terasa. Ia mengambil ponselnya dan menyalakan kamera depannya. ALAMAK! Sudut bibirnya memang ada bekas liur dan membuat ujung bibirnya berwarna putih. Oh, betapa malunya Brandon! Jika bisa wajah dipindah, mungkin saat ini ia akan meletakkan wajahnya di bawah dengkulnya. Dan, Cassie menjadi penampungan aliran liurnya. Haduhhh… malunya.     Ia berniat mencuci mukanya yang ternyata menjijikkan itu di toilet. Ia berdiri namun langkahnya terhalang karena kaki Cassie yang digips berselonjor di hadapannya. Cassie memandang Brandon dengan garangnya. Nyali Brandon jadi ciut.     “A…aku mau ke toilet,” katanya ragu-ragu. Ia takut Cassie marah. Cassie menggerakkan kepalanya memberi tanda ia mempersilakan Brandon lewat. Brandon yang takut berusaha agar kakinya tidak menyentuh kaki Cassie yang terluka. Ia melangkah dan     “ADUHHH!!! Kau menendang kakiku!” jerit Cassie. Seluruh isi pesawat menoleh ke arah kedua orang itu. Brandon menoleh kanan dan kiri meminta maaf atas apa yang terjadi. Sungguh ia tidak sengaja. Cassie menatap marah pada pria ini. Namun sebelum ia mengeluarkan segala sumpah serapahnya, Brandon sudah lari terbirit-b***t ke toilet. Takut Cassie memakinya. ***     Dua jam lebih perjalanan itu berlangsung. Pesawat mereka akhirnya mendarat di Singapura.     Cassie bernafas dengan lega. Akhirnya ia akan berpisah dengan pria merepotkan di sampingnya ini. Semoga ia tidak akan bertemu dengan pria ini lagi.     “Kau tidak akan tinggal di Singapura bukan?” tanya Cassie memastikan. Ia hanya tidak ingin menemukan wajah pria itu berkeliaran di kota yang sama dengannya.     “Tentu tidak! Aku akan ke Thailand. Aku hanya transit di Singapura.”     “Bagus! Dengan begitu aku tidak perlu bertemu denganmu lagi,” kata Cassie sambil tersenyum penuh kemenangan.     Seorang pramugari datang dan menjemput Cassie untuk turun lebih dulu. Pramugari itu membantu menurunkan tas ransel Cassie dari kabin. Cassie menoleh ke arah Brandon.     “Selamat tinggal!” katanya dengan penuh sorak sorai kemenangan lalu berjalan mengikuti pramugari yang menuntunnya.     Selepas kepergian Cassie, Brandon menggerutu.     “Dia sendiri yang menawarkan bantuan sekarang dia sendiri yang menginginkan aku tidak menemuinya lagi.”     Sekarang giliran Brandon yang turun dari pesawat. Penumpang ternyata cukup tertib mengikuti arahan pramugari untuk keluar satu per satu. Brandon mengambil tasnya lalu berjalan mengikuti arah hingga ke dalam bandara.     Ia mengeluarkan ponselnya dan menyambungkannya dengan Wifi bandara. Ia melakukan kewajibannya yang pertama. Mengabari orangtuanya. Seberapapun usaha mandiri Brandon, tetap saja ia tidak akan bisa melepaskan kebiasaan untuk menghubungi orangtuanya lebih dulu. Mungkin sudah menjadi refleks dalam dirinya.     “Mi, aku sudah sampai di Changi.”     “Syukurlah. Penerbangan berikutnya jam berapa?”     “4 jam lagi, Mi.”     Baru saja Elizabeth menanggapi tapi mata Brandon menatap layar televisi di hadapannya. Kini ia baru saja mendapatkan berita bahwa pemerintah Thailand menutup aksesnya dari para turis yang ingin berkunjung karena terjadi kerusuhan di negaranya.     “Mi, Thailand di-lock down­ karena kerusuhan. Aduh, aku harus apa ini? Ah, rencanaku gagal!”     “APA??? Lock down???Bran, kau harus pulang segera! Saat ini juga. Sudah tidak ada tempatmu untuk pergi. Sekarang pulang! Mami sudah kangen padamu.”     Menyadari lagi-lagi Ibunya mengultimatum dan tidak membiarkan dia belajar mandiri, membuat Brandon kesal.     “Mi, Brandon tidak mau pulang. Brandon mau tinggal di Singapura ini saja. Titik.” Brandon memutus sambungan terakhirnya lalu mematikan ponselnya. Ia mau mencoba mengatur hidupnya sendiri.     Ia mondar-mandir dan berusaha berpikir apa yang harus ia lakukan sekarang.     “Oke, langkah pertama. Memastikan berita itu benar adanya.” Ia melangkahkan kakinya menuju counter maskapai penerbangan selanjutnya dan benar saja banyak orang berdesakan meminta pertanggung jawaban maskapai.     Kaki Brandon melemas. Apa yang harus ia lakukan kalau begitu. Ia tidak bisa melanjutkan perjalannya ke negara lain. Ponselnya berbunyi lagi. Tanpa memandang siapa yang menghubunginya, ia mengangkat telepon itu. Ibunya lagi yang menelepon. Rupanya Elizabeth menyesal telah membuat ultimatum pada putranya padahal ia sendiri yang mengatakan bahwa ia siap membiarkan Brandon hidup mandiri.     “Brand, kalau memang keputusanmu begitu. Tinggallah di apartemen Papa di sana. Semuanya sudah tersedia dan kau bisa menempatinya. Mami tahu mungkin kau merasa akan bergantung lagi, tapi bagaimanapun sebagai orangtua, kami tidak bisa membiarkanmu terlantar.”     Seakan mendapatkan jawaban, Brandon mengesampiingkan semua keinginan mandirinya saat ini. Baiklah, untuk kali ini saja, ia akan terpaksa bergantung pada orangtuanya. Lagipula ia butuh tempat tinggal. Dan tempat terbaik sekaligus paling hemat karena tidak mengeluarkan biaya sewa, ya apartemen milik keluarganya bukan? Anggap saja ia ditolong kali ini. Iya, kali ini. Lain waktu, ia akan menghadapinya sendiri.     “Baiklah, malam ini aku tinggal di sana. Berikan aku nomer telepon penjaganya.”     Brandon mencatat nomer telepon yang disebutkan Elizabeth. Lalu setelah menutup teleponnya, ia menghubungi penjaga apartemen itu. Lagi-lagi jawaban tak terduga yang ia terima.     “Mohon maaf, Pak. Saya sedang pulang kampung ke Indonesia. Mertua saya sakit. Tiga hari lagi saya akan kembali,” kata penjaga itu.       Brandon sebenarnya ingin marah tapi ia harus tahu diri. Orang yang mengalami kemalangan harusnya ia bisa maklumi bukan? Sudahlah, ia mengalah. Ia juga tidak mau dianggap majikan yang kejam.     “Baiklah. Aku akan tinggal di hotel sementara waktu.” Brandon menutup sambungan teleponnya dan menghela nafas.     Ternyata memulai hidup mandiri begitu melelahkan. Belum apa-apa, ia harus diperhadapkan dengan situasi - situasi yang menegangkan dan tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya. Setiap kesulitan yang muncul biasanya selalu diselesaikan kedua orangtuanya dengan baik tanpa perlu berdiskusi dengannya. Dan sekarang ia harus menghadapinya sendiri. Jujur hingga tahap ini ia menyadari ternyata dirinya belum siap untuk mandiri. Tapi, apa salahnya mencoba? Setidaknya melangkahkan kaki di negara lain dan hidup sendiri adalah sebuah langkah awal yang bagus untuk memulai kemandiriannya bukan?     Brandon membeli sepotong roti isi dan memakannya karena perutnya terasa lapar setelah kejadian menegangkan itu.     “Apa yang harus kulakukan selama dua bulan di sini?” Ia mengunyah sandwich’nya hingga tak bersisa.     Ia bermaksud mengambil sapu tangan dari saku blazernya. Ia menyentuh lembaran kertas yang cukup tebal. Ia mengeluarkan brosur itu dan teringat bahwa brosur itu diberikan oleh si Nona Cerewet saat ia di rumah sakit. Ia menyimpannya di dalam blazer yang saat ini ia pakai. Blazer yang sama, yang ia pakai saat pertunangannya dengan Celline.     Ia mengeluarkan brosur itu, mengamati dan membaca lagi semua tulisan di brosur itu.     KELAS CINTA CASSIE     HADIR UNTUK:     1.    MENGAJARKAN LANGKAH-LANGKAH PRAKTIS UNTUK MEMPERSIAPKANMU BERTEMU DENGAN CINTAMU     2.    MEMBANTU MEMPERBAIKI DIRIMU DAN MENGEMBANGKAN HAL TERBAIK DARIMU     3.    MENGAJARIMU TEKNIK PENDEKATAN YANG TEPAT SASARAN     TERTARIK? HUBUNGI XXXXXXXX     Brandon menatap brosur itu dalam-dalam.     “Apa sebaiknya aku ikut kelas ini saja?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD