Chapter 14

1469 Words
    -Perasaan cinta memang buta. Ia tidak memikirkan latar belakang budaya atau apapun. Ia hinggap begitu saja pada pemiliknya. Tinggal apakah pemiliknya akan memutuskan mengikuti rasa itu atau tidak.-       Donna mengusap peluhnya dengan tissue. Seharian ini ia menyebarkan brosur di sudut Chinatown. Berharap ada orang-orang yang menyambut brosurnya. Ia meminum sebotol jus jeruk yang dibelinya beberapa saat yang lalu sambil duduk menghadap sebuah minimarket.     Tak berapa lama ada seorang pria Cina berusia 30 tahunan yang keluar dari minimarket itu dan di belakangnya ada seorang wanita paruh baya yang memukulinya dengan tangannya.     “DASAR ANAK DURHAKA! KAU ITU HARUSNYA MENIKAHI GADIS ITU? BUKANNYA MALAH MEMUTUSKANNYA. BODOH! ANAK BODOH!” Ibu itu terus memukuli putranya. Pria itu meringkuk sambil berusaha menampik tangan Ibunya yang akan memukulnya.     “Ma…wanita itu boros. Mama tahu berapa banyak uangku yang dipakai untuk berbelanja?”     “MAMA TIDAK PEDULI! KAU HARUS MENIKAH TAHUN INI JUGA!”     Mereka berkejar-kejaran di balik tiang minimarket layaknya film India. Sang Ibu berusaha memukul anaknya tapi sang putra itu terus menghindar. Hingga akhirnya sang Ibu berhenti dan mengatur nafasnya yang tersengal. Pria itu juga melakukan hal yang sama. Dia membungkukkan badan sambil memegang lututnya dan mengatur nafasnya.     “Mama sudah tidak tahan denganmu, Peter! Mama sudah terlalu sering mendengarkan ocehan para tetua karena kau tidak kunjung menikah. Mama ingin tahun ini juga kau membawa seorang gadis dan melamarnya. Tidak ada bantahan!”     “Ma, wanita itu boros! Setiap kali berkencan mereka menuntutku yang membayarnya. Belum lagi jika merengek meminta dibelikan sesuatu. Aku tidak mau menikah! Bisa jatuh miskin aku!”     Mendengar bantahan putranya, Ibu itu mengambil sandalnya lalu melemparkannya pada si anak.     “Mama tidak mau tahu! Jangan pulang ke rumah sebelum membawa gandengan. Titik!”     Ibu itu meninggalkan putranya dengan jalan tertatih karena sandal sebelahnya masih tertinggal di sana. Menyadari jalannya yang pincang, ia kembali lalu mengambil sandalnya di hadapan putranya. Ia menatap sinis lalu memukulkan sandal itu lagi ke lengan putranya. Pria itu hanya bisa berteriak, “Aw!”     Donna hanya menyaksikan adegan kekerasan itu dengan sedikit tersenyum. Adegan konyol yang pernah ia lihat antara Ibu dan anak. Tapi, mungkin ini kesempatan baik jika ia menawarkan kelasnya pada pria Cina itu. Ia berdiri dari tempat duduknya dan mendatangi pria yang masih tersengal-sengal itu.      “Aku mendengar semua omelan Ibumu tadi. Mau kutawarkan bantuan?” tanya Donna mendahului.     Pria itu menyugar rambutnya ke belakang lalu merapikan kemejanya yang menekuk dan menatap Donna dengan garang.     “Tak perlu pedulikan aku! Aku tidak akan menikah atau bahkan berkencan dengan wanita manapun. Apalagi denganmu!” pria itu berpikir Donna menawarkan bantuan sebagai pacar atau istri bayaran dan sebagainya. Donna berdecih.     “Kau pikir kau ini pria tampan, tajir dan idaman semua wanita hingga bantuan yang mereka mau tawarkan adalah menjadi pacar atau istri sewaanmu? BODOH!” balas Donna.     Pria itu menoleh kea rah Donna dan memandangnya tajam.     “Hei Nona! Berani-beraninya kau mengatakan aku bodoh. Kau…” PLOK! Donna menempelkan brosurnya di wajah pria itu. Pria itu menghentikan ucapannya dan menarik brosur di wajahnya.     “Aku menawarkanmu kelas ini, Pria bodoh!” kata Donna sambil menyilangkan tangannya di depan d**a.     “Kelas Cinta???” tanya pria itu begitu membaca judul brosur yang di tangannya lalu menatap Donna.     Donna memandang pria itu dengan tatapan kesalnya.     “Iya benar,” jawabnya sinis.     “Apakah kelas ini gratis?”     “Gratis karena ini angkatan pertama,” jawab Donna dengan suara melunak. Mata pria itu langsung berbinar mendengar kata gratis. Gratis adalah kata – kata terbaik, terindah dan paling luar biasa baginya.     “Dan dari sini kau akan mendapatkan pasangan?” tanyanya lagi.     “Bisa jadi. Kau akan diajarkan bagaimana caranya agar kau bisa mendapatkan pasangan.”     “Baiklah! Aku mendaftar.” Donna menyunggingkan senyumnya. ***     Ning Fang membagikan brosurnya kepada setiap orang yang lewat di hadapannya. Mungkin ini sudah 1000 orang lebih yang ia hadapi dan tak ada satupun yang tertarik mengambil brosur itu. Ia melepas kacamatanya dan mengusap sudut matanya yang berpeluh. Ia hanya menghela nafas.     Ia dan Donna memang sengaja membagi tugasnya kali ini. Ia di Little India dan Donna di Chinatown. Lokasi mereka cukup berdekatan agar jika ada apa-apa mereka bisa langsung bertemu. Ning Fang memijit bahunya sejenak sambil duduk di bawah pohon. Ia berdiri di persimpangan jalan antara Chinatown dan Little India. Perbedaan dua wilayah ini cukup ketara. Di bagian Chinatown terdapat berbagai bangunan dengan arsitektur Cina yang kental. Ditambah di sepanjang jalan dipasangi lampion-lampion yang digantung. Sementara di sisi Little India, tentu saja terdapat kuil-kuil Dewa Hindu di sana. Belum lagi aroma rempah yang menguar di sekitarnya.     Setelah duduk sejenak ia memutuskan untuk berjalan ke lokasi Donna. Ia rasa sudah cukup perjuangannya kali ini. Ia akan melanjutkan lagi esok. Di tengah jalan ia melihat sebuah pemandangan yang tidak biasa di lokasi itu. Ada seorang India yang ikut bersenam Taichi di dalam lapangan sebuah apartemen.     Bayangkan saja bagaimana anehnya pemandangan itu. Pria India itu bahkan terlihat lebih gemulai dibandingkan dengan barisan orang Cina lain yang bersenam. Ning Fang tersenyum geli melihat pria itu.     Sesekali pria itu mendapatkan tatapan heran dari orang di sekitarnya. Namun, wajahnya mungkin sudah terlalu kebal dengan itu. Ia tidak mempedulikan semuanya dan tetap mengayunkan tangan dan kakinya mengikuti irama. Ning Fang berhenti sejenak dan menikmati pemandangan yang menghibur itu.     Bagaikan anak itik hitam yang tersasar di antara barisan bangau, mungkin seperti itu pemandangan yang ia lihat. Begitu konyol. Ia terus mengamati apa yang terjadi di lapangan itu.     “Konyol juga pria India itu? Aku baru menemukan ada seorang India menyukai budaya Cina,” katanya sambil menahan tawa. Kali ini ia melihat saking bersemangatnya si pria India itu bergerak, pada saat Gerakan mengangkat kaki, ia tidak sengaja menendang p****t kakek tua di sebelahnya. Kakek itu melotot dan pria India itu meminta maaf dengan menggelengkan kepalanya layaknya aktor film India yang pernah ditonton Ning Fang.     Mereka lalu melanjutkan senam Taichi’nya hingga seluruh rangkaian Gerakan itu selesai. Rasa ingin tahu Ning Fang begitu besar terhadap pria India itu. Ia mendekat ke arah lapangan, bermaksud menggali untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Di saat ia berjalan mendekat, pria India itu kini berhadapan dengan dua orang wanita Cina dengan tangannyaa berkacak pinggang.     “Jangan dekati anakku lagi! Kau dan kami berasal dari dunia yang berbeda. Kau harus sadar akan hal itu!” kata seorang wanita dengan galaknya. Wanita itu tidak terima karena si pria India ini ternyata menyukaai anaknya. Bukannya mau diskriminasi ras, namun perbedaan budaya yang begitu jauh akan membuat kedua belah pihak akan merasa disulitkan. Dan, wanita ini tidak ingin putrinya menderita hanya karena tidak bisa menyesuaikan dengan budaya India.     Pria itu mengatupkan tangannya dan menggelengkan kepalanya.     “Kumohon, Nyonya. Aku mencintai putrimu. Sungguh. Aku bahkan sudah belajar bahasa Mandarin. Coba dengar ini. Ni Hao Ma? Wo Shi Raju,” kata pria itu memamerkan hasil belajarnya.     “Aku terkesan dengan usahamu, Raju. Tapi mohon maaf kami dan keluarga besar kami tidak bisa menerimamu.” Raju menunduk sedih. Ia mengalungkan handuknya di leher lalu dengan menunduk lemas ia berjalan keluar lapangan.     Ning Fang memperhatikan Raju dari tadi. Ada juga manusia unik seperti pria ini di dunia, pikirnya. Kasihan juga si Raju. Ia teringat mungkin Raju adalah target yang tepat untuk menjadi peserta kelas Cassie. Ia menghadang langkah Raju.     “Hei kau!” Raju menoleh ke arah Ning Fang lalu menunjuk dirinya sendiri.     “Iya kau.” Raju mendekat kea rah Ning Fang.     “Ada yang bisa kubantu?” tanya Raju. Pria itu sebenarnya pria yang ramah. Wajahnya manis khas orang India. Lesung pipi menghias senyumannya.     “Hmmm… aku ingin menawarkanmu kelas ini,” kata Ning Fang sambil menyodorkan lembaran yang ia pegang. Raju membacanya dengan seksama lalu mengernyitkan dahinya menghadap Ning Fang dan menunggu penjelasan.     “Aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraanmu dengan dua orang nyonya tadi. Mungkin kau membutuhkan bantuan untuk mendapatkan gadis yang kau idamkan itu,” kata Ning Fang.     “Entahlah. Aku mungkin harus berhenti dengan obsesiku kali ini.”     “Obsesi?” Raju menggelengkan kepalanya. Ning Fang ikut menirukan yang Raju lakukan.     “Maksudmu?” tanya Ning Fang.     “Aku terobsesi untuk memperbaiki keturunan,”jawab Raju sambil menerawang.     “Memperbaiki keturunan. Maksudmu?”     “Ya, dengan mencari gadis berkulit putih, mungkin dari Korea atau Jepang atau Cina untuk menjadi pasanganku.”     Ning Fang tertawa dengan pernyataan konyol Raju. Bisa-bisanya pria ini memiliki pemikiran sekonyol itu,     “Hei, mengapa kau tertawa? Aku serius,” kata Raju dengan nada tidak terima. Ning Fang tetap saja tertawa sambil memegangi perutnya yang sakit karena kata-kata Raju. Ia tertawa hingga ia sadar mungkin ia sudah menghina harga diri Raju. Ia mengontrol tawanya dan menenangkan diri.     “Sudah tertawanya? Kau membuat diriku terlihat konyol,” protes Raju. Ning Fang menghapus air mata tawanya.     “Baiklah… baiklah. Jelaskan padaku mengapa kau terobsesi dengan wanita berkulit putih?”     “Aku merasa diriku jelek. Kulitku gelap, dan bahkan ketika lampu dipadamkan aku tidak terlihat saking gelapnya.” Ning Fang kembali terbahak dengan ucapan Raju. Raju menyilangkan tangannya di depan d**a.     “Hah, percuma berbicara denganmu! Kurasa tidak seorangpun mau mengerti pemikiranku,” kata Raju marah dan pergi meninggalkan Ning Fang. Sadar akan kebodohannya, Ning Fang menghentikan tawanya dan mengejar Raju.     “Tunggu… tunggu! Oke… oke… aku minta maaf. Cara kau berbicara dan mimik wajahmu membuatku ingin tertawa. Tapi aku bisa memahamimu.”     Raju berkacak pinggang.     “Jadi apa maumu, Nona?”     “Kau sudah membaca isi brosur itu kan?” Raju mengangguk.     “Aku ingin mengajakmu untuk bergabung dalam kelas itu. Kami akan membantumu mendapatkan pasangan idamanmu. Kami akan mengajarimu cara mendapatkan seorang pasangan.”     Raju melirik brosur yang dibawanya dari tadi lalu menoleh kea rah Ning Fang.     “Kelasnya akan diadakan bulan depan dan gratis. Kau mau mendaftar?” kata Ning Fang sambil tersenyum. Raju berpikir sejenak.     “Tidak ada salahnya mencoba. Aku daftar!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD