Chapter 13

1490 Words
- Terkadang cara terbaik untuk mengobati patah hati adalah pergi menjauh.-      Brandon menggeret koper berukuran besar keluar dari mobil keluarganya. Elizabeth tak henti-hentinya menangisi putranya yang akan pergi hari ini. Brandon sudah memutuskan untuk melakukan solo travelling untuk menenangkan dirinya. Mungkin ini cara yang terbaik untuk kembali menata hidupnya, mengevaluasi diri dan memberikan waktu bagi dirinya untuk melupakan semua tentang Celline. Perjalanannya kali ini mungkin yang pertama kali ia lakukan. Selama ini ia tidak pernah hidup sendirian, ia selalu dikontrol dan dibantu oleh orangtua yang memanjakannya. Kini ia mengambil keputusan, ia ingin menata hidupnya sendiri.         Martin dan Elizabeth mengantar Brandon hingga ke depan pintu masuk bandara. Tangisan Elizabeth makin menjadi ketika putra semata wayangnya itu sudah mengucapkan selamat tinggal. Ia memeluk putranya dengan erat. Ia merasa kehilangan karena selama ini ia yang menjaganya, mengaturkan semuanya untuk Brandon.     “Mi, Brandon pergi dulu ya… Mami dan Papi jaga kesehatan ya!” kata Brandon sambil terisak. Martin hanya mengangguk dan menepuk-nepuk bahu Brandon. Elizabeth tak ingin melepas pelukannya dari Brandon.     “Sudahlah, Eliz. Ini sudah waktunya Brandon untuk berangkat,” kata Martin untuk mengurai pelukan Elizabeth. Dengan tak rela hati, Elizabeth melepaskan pelukannya sambil menangis.     “Begitu sampai jangan lupa telepon Mami dan Papi. Oke?” Brandon mengangguk lalu mengusap air mata Elizabeth dan air matanya sendiri.     Mereka berpisah di sana. Elizabeth mengikuti arah Brandon hingga putranya masuk ke dalam bandara. Martin lalu mengajaknya pulang.     Suasana pemeriksaan bagasi begitu ramai. Ada rombongan tur yang akan berangkat hari itu. Mereka berdesak-desakan. Seseorang menyenggol Brandon hingga pria itu tersandung. Ia menoleh mencari siapa yang tidak punya aturan dan main dorong seenaknya. Sudut matanya menangkap sosok wanita dengan kruk yang ia lihat di rumah sakit yang sekarang sedang kesulitan meletakkan bagasinya ke dalam mesin pemeriksaan. Gadis itu menoleh dan melihat Brandon.     “KAUU???” kata mereka bersamaan.     Brandon berdiri dan menghampiri gadis itu lalu memasukkan kopernya ke dalam mesin dan membantu gadis itu memasukkan kopernya.     “Kebetulan sekali kau di sini?” sapa Cassie. Ia kembali ke Singapura hari ini. Izin cutinya berakhir hari ini dan ia harus pulang ke Singaapura. Untunglah dokter mengizinkan ia kembali karena kondisi retak di kakinya sudah mulai pulih. Ia hanya perlu menunggu beberapa hari lagi sebelum gips di kakinya dilepas. Ia akan melepaskan gips di Singapura saja.     “Yah, kebetulan sekali. Kau akan kembali ke Singapura?” tanya Brandon sambil mencengir kuda. Cassie bergidik ngeri, melihat pria itu lebih mirip kuda daripada manusia.     “Hei, hentikan cengiran konyolmu itu.” Brandon kembali menutup mulutnya lalu membenarkan kacamata bundarnya yang agak melorot.     “Kau belum jawab pertanyaanku,” gerutu Brandon sambil mengambil kopernya yang sudah selesai diperiksa.     “Iya, aku akan kembali hari ini.”     “Bagaimana kakimu?” Brandon bertanya sambil membantu Cassie menurunkan kopernya yang juga besar itu dari mesin pemeriksaan.     “Thanks. Dokter bilang beberapa hari lagi gipsnya bisa dilepas. Aku akan meminta Kakakku saja yang melakukannya.” Kini mereka berjalan bersama menuju counter check in untuk memasukkan bagasinya. Brandon membantu membawakan koper Cassie.     “Kau sendiri? Kau mau ke mana?” tanya Cassie balik pada Brandon.     “Aku? Aku mau keliling dunia.” Cassie tertawa. Jawaban Brandon seperti anak kecil.     “Kenapa kau tertawa? Memangnya lucu? Sebagai informasi aku sudah mengantongi tiket ke berbagai belahan dunia. Ini buktinya!” kata Brandon seperti anak kecil sambil menunjukkan semua tiket pesawat yang di-booking’nya dari travel online.     “Baiklah… aku percaya. Aku percaya! Oke, aku pergi ke ruang tunggu dulu. Sudah waktunya boarding. Sampai jumpa….” Pamit Cassie sambil berjalan meninggalkan Brandon.     “Tunggu. Bagaimana dia bisa tahu waktunya boarding? Apa dia sudah mendapatkan tiket pesawatnya? Bagaimana caranya?” tanya Brandon pada dirinya sendiri. Ia memang tidak pernah tahu tentang online check in karena selama ini ia tidak pernah melakukan itu sendiri. Bahkan tiketnya hari ini dibelikan oleh Elizabeth. Jelas, ia tidak tahu menahu. Ia harus belajar.     “Hei, Gadis Cerewet!!! Heiiii!!!” ia berteriak tanpa mempedulikan tatapan mata dari semua orang yang mendengar teriakannya. Merasa suara itu tidak asing, Cassie ikut menoleh. Ia melihat Brandon menggerak-gerakkan tangannya di udara untuk memanggilnya. Cassie berhenti dan Brandon berlari ke arahnya.     “Dia memanggilku apa? Gadis cerewet??? Astaga!”     Ketika Brandon sampai di depannya, Cassie menatap Brandon tajam.     “Kau memanggilku apa? Gadis cerewet????” kata Cassie dengan marah.     Brandon terengah.     “Maafkan aku. Tapi itu tidak penting, sekarang ajari aku bagaimana caranya aku bisa mendapatkan tiket pesawatku,” kata Brandon sambil berusaha mengatur nafasnya.     “Apa kau bilang? Mengajarimu mendapatkan tiket? Astaga aku tidak percaya ini. Anak kecil saja tahu bagaimana caranya. Memangnya ini pertama kalinya kau pergi naik pesawat?”     “Tidak. Tapi aku tidak pernah tahu caranya?” jawab Brandon sambil mencengir kuda. Cassie mengatupkan kedua bibir Brandon yang mencengir dengan tangannya.     “Hentikan cengiran kudamu yang sangat tidak indah itu lalu berikan ponselmu,” kata Cassie lalu merebut ponsel Brandon. Ia membawanya ke mesin pencetak tiket dan memproses hingga tiket Brandon tercetak lalu memberikan tiket itu pada Brandon.     “Ini! Sudah, aku pergi dulu. Aku tidak ingin terlambat masuk di pesawat,” kata Cassie sambil menjauh.     “Terima kasih, Gadis Cerewet!” kata Brandon sambil melambaikan tiket yang dijepitnya di dalam paspornya. Ia melihat tiket pesawatnya dan ia mencari gerbang keberangkatannya. Ia naik ke lantai 2 bandara dan mencari-cari ruangan tunggunya. Ia telah sampai di ruang tunggunya. Untunglah ia tidak terlambat. Ia melihat sosok Cassie lagi di sana. Menunggu di ruang tunggu yang sama dengannya.     Cassie yang mengeluarkan air minumnya melihat Brandon dengan kaget hingga tersedak air minumnya sendiri. Brandon berjalan dengan cepat.     BRUKKK!!! Ia tersandung sepatunya sendiri. Tali sepatu ketsnya lepas dan sepatunya terlepas selangkah di belakangnya.     Cassie menutup matanya melihat Brandon yang jatuh.     ‘Astaga! Pria ini bagaimana bisa dia seceroboh itu?’     Brandon mengambil sepatunya yang terlepas lalu berjalan dan duduk di sebelah Cassie. Cassie menggeser tempat duduknya menjauh dari Brandon. Sungguh ia ingin berpura-pura tidak mengenali pria itu. Sungguh memalukan.     Brandon sibuk memasukkan kakinya ke dalam sepatu. Ia berusaha menali sepatunya tapi berulang kali ia mencoba, talinya kembali terurai. Ia mencoba lagi namun terurai lagi. Ia mendengus sebal. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat tayangan video mengikat tali sepatu dan mencobanya. Lagi-lagi talinya terurai sempurna.     Cassie tertawa kecil melihat wajah bingung Brandon. Di dalam hatinya ingin mengejek Brandon yang kalah dengan anak kecil tapi ia tidak tega. Ia ingat bahwa ia tidak boleh seperti itu pada setiap orang di sekitarnya. Bagaimanapun kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik kehidupannya bukan?     Brandon melihat Cassie yang tertawa. Cassie mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Brandon berdeham.     “Apa aku boleh minta tolong untuk mengikatkan sepatuku?” Brandon meminta tolong sambil menyengir lagi. Cassie lalu memberikan tanda agar Brandon menutup mulutnya. Brandon menurut bagaikan sapi. Cassie menghela nafas panjang lalu menggeser duduknya mendekat ke Brandon.     Ia mengangkak kaki Brandon dan diletakkan di atas pahanya. Lalu ia mengikat tali sepatu Brandon. Ia mengangkat kaki yang satu lagi dan menyimpulkan talinya yang juga hampir lepas lalu meletakkan kaki pria itu kembali ke tanah.     Cassie menatap tajam ke arah Brandon yang menunjukkan wajah culunnya.     “Hei, kau ini lelaki macam apa? Mengapa mengikat tali sepatu saja kau tak bisa, huh?” kata Cassie ketus.     “Selama ini Mamiku yang memakaikan sepatuku,” jawab Brandon lirih sambil menunduk. Cassie tertawa kecut.     “Hahaha… dasar Pria Merepotkan!” Ia lalu beranjak pergi karena pramugari memanggil nomer penerbangannya. Brandon ikut kaget dan berdiri lalu hendak berbaris di belakang Cassie. Tapi belum sempat ia berjajar di belakang Cassie, orang lain menyerobot antriannya hingga ia berdiri paling akhir dan Cassie masuk lebih dahulu karena jalur khusus orang sakit dibukakan oleh penjaga gerbang. Ia kehilangan sosok Cassie. ***     Brandon masuk ke dalam pesawat. Ia menengok kanan kiri untuk mencari tempat duduknya.     “Nomer tempat duduk Anda, Pak?” tanya pramugari memastikan nomer kursi Brandon. Brandon menunjukkan tiketnya pada pramugari itu lalu ia berjalan mengikuti arah yang ditunjukkan pramugari itu.     Brandon terus berjalan hingga ia menemukan tempat duduknya. Sebelum duduk, ia mengangkat tas ranselnya dan memasukkannya ke dalam kabin atas. Sepertinya kabin di atas tempat duduknya itu penuh. Ia mendorong-dorong ranselnya tapi tidak bisa masuk setengah. Ia terus mendorong hingga seseorang di seberang kursinya marah.     “Hei, anak muda! Jangan disesal-sesalkan begitu. Kau merusak oleh-olehku, tahu?” gerutu Ibu tua itu.     “Tapi ini tempat saya, Bu. Mengapa Anda tidak letakkan barang Ibu di kabin atas Ibu saja?” gerutu Brandon. Ibu itu memasang tampang garangnya. Anak ini tidak tahu sopan santun, pikirnya. Ibu itu lantas berdiri dari kursinya dengan tampang tidak terima ia mengambil oleh-olehnya dengan kasar. Tiba-tiba seseorang berdiri dari tempat duduk yang sederet dengan Brandon lalu mengambil paksa ransel Brandon dan memasukkannya di kabin depan tanpa Brandon sempat melihat wajah orang itu.     “Ibu, jangan turuti apa kata pria ini. Tempat oleh-oleh Ibu tetap di kabin ini karena Ibu sudah lebih memasukkannya di sini.”     Ibu itu tersenyum tapi tidak dengan Brandon. Ia menoleh dan memandang nyalang orang itu. “KAU LAGI????” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD