Masa berlibur sekaligus bulan madu telah usai, Zavier dan Azel sudah pulang sabtu malam yang berarti sudah seminggu lalu. Keduanya tampak semakin lengket saja, bahkan Zavier tidak langsung kembali bekerja, ia lebih banyak menemani Azel, dari berangkat kuliah, pulang dan bermalas-malasan. Pagi ini, Azel tampak menggeliat pelan, kemudian tersenyum ketika merasakan sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Matanya terbuka dan senyumannya semakin lebar melihat cincin pernikahan mereka tersemat sempurna di jari manis sang suami. Azel memutar tubuhnya menghadap Zavier. Tampan. Ya, wajah tampan itulah yang membuat Azel terpikat untuk pertama kali, sampai akhirnya ia melihat betapa baiknya Zavier kepada Ibunya juga betapa sabarnya dia dengan tingkah Azel yang labil. Pria itu memberikan toleran

