82. Kita Pisah aja, ya?

1655 Words

Angin sore yang cukup kencang menerpa helaian rambut Azel, membuat gadis itu memeluk erat tubuhnya sendiri. Di teras rumah Nayna yang sederhana, berbahan kayu yang sudah mulai lapuk, Azel duduk di sebuah kursi sembari menatap dedaunan yang jatuh karena tertiup angin. Perasaannya jauh lebih tenang setelah menghabiskan waktu di sana, di rumah yang sederhana, dibandingkan dengan kediamannya yang mewah nan megah. "Kak Azel, ini ada pisang goreng. Ibu yang buat barusan." Ucap Rifky, adik Nayna yang berusia 15 Tahun. Ia menyimpan sepiring pisang goreng tersebut di meja samping kiri Azel, lalu duduk di kursi satunya lagi. "Makasih ya, Ky. Maaf udah ngeropotin Ibu sama kamu," Rifky menggelengkan kepala dengan keras, "Gak ngerepotin sama sekali, justru Kak Azel yang udah bantuin keluarga aku. Ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD