Tidak peduli apapun yang menentang

705 Words
lama gue terdiam, gue mencoba menenang kan diri dan mengatur nafas, setelah merasa ok, gue membuka pintu denqan pelan. pemandangan yang membuat hati gue teriris. dimas tertidur lemah di atas ranjang tangan nya di infus, sementara buk ani menata makanan di lemari di samping ranjang, mereka tidak menyadari kehadiran gue. indra gue menyapu seluruh ruangan dan mata gue berhenti ketika melihat begitu banyak obat-obatan di atas nakas samping tempat tidur. "kamu sakit apa sih dim" batin gue. perlahan-lahan gue mendekati dimas, sontak buk ani sadar dan melihat ke belakang sangat jelas ekspresi keterkejutan di wajah buk ani. gue mengisyaratkan buk ani diam agar dimas tidak bangun. gue menggandeng tangan buk ani menjauh "maaf saya mengikuti ibuk tadi, saya kerumah untuk mencari dimas tapi melihat ibuk keluar dengan tergesa-gesa saya jadi mengikuti buk ani, sebenar nya dimas sakit apa buk? kenapa tidak mengabari saya? " ucap gue setengah berbisik "Hmmm itu, hanya kecapean non" ucap buk ani seraya menunduk seakan menyembunyikan sesuatu. "jika saya tidak mengikuti ibuk, mungkin saya tidak akan tahu" buk ani hanya diam tanpa ingin memberitahu apapun "ibuk istirahat saja di rumah biar saya jaga dimas" lanjut gue "tapi non, kalau dimas tau non disini nanti... " "gak papa buk, saya ingin menjaga dimas" pinta gue. akhirnya buk ani setuju dan memutuskan untuk pulang. ***** gue duduk di atas kursi di samping dimas, wajah nya terlihat kurus, gue menggenggam tangan nya. tidak ada reaksi apapun dia tertidur sangat nyenyak. tak terasa air mata gue menetes lagi, gak tega melihat orang yang gue sayangi menderita seperti ini. entah berapa lama gue tertidur, gue merasakan ada tangan yang mengusap lembut kepala gue. susah payah gue membuka mata dengan samar terlihat dimas tersenyum ke arah gue "dimas.. " tangis gue pecah "kenapa kamu gak bilang, kenapa kamu sembunyiin dari aku" ucap gue sambil menangis "Kayla.. sudah, aku gak papa" ucap nya lemah sambil berusaha menghapus air mata gue. "kalo aku gak ngikutin buk ani aku gak bakalan tau kamu di sini" ucap gue sambil terus menangis "aku gak mau kamu khawatir, aku baik-baik saja hanya kecapekan" ucap dimas berusaha kuat "kamu bohong, mana ada orang kecapean dengan obat sebanyak itu" ucap gue sambil menunjuk setumpuk obat-obatan "itu hanya vitamin, aku sudah sembuh besok juga sudah boleh pulang" "benarkah?" ucap gue memastikan "ya" sangat jelas dia berpura-pura kuat "ke depan nya tolong apapun yang terjadi dengan kamu aku berharap aku orang yang duluan tahu, aku gak bakalan merasa di repotin atau kamu takut aku khawatir aku lebih khawatir tiba-tiba kamu gak ada kabar" "iya, sekarang kamu tenang ya" ucap dimas "janji dulu" pinta gue "kayla, aku lapar" dengan wajah memelas gue gak tau kenapa seperti nya dia mengalihkan topik pembicaraan. tapi ya sudah lah mungkin dia benar-benar lapar, qdengan sigap gue mengambil makanan di samping nakas, dan menyuapkan nya. ***** "dim, akhir pekan besok gak sabar deh pengen liburan" gue berusaha mencairkan suasana "oh iya, aku sampai lupa" dimas berusaha mengingat "makanya kamu makan yang banyak, biar cepet sembuh jadi kita bisa pergi bareng" sambil terus gue suapin. "Mmm.. Kayla kemaren papi kami ke apartemen ada apa? "tanya dimas " ohh.. itu hmm cuma datang berkunjung" jujur gue risih ngebahas masalah ini "papi kamu menentang hubungan kita ya? " tanya dimas dengan hati-hati. degggg gue gak tau mau jawab apa, karena jelas orang tua gue menentang hubungan gue sama dimas "kenapa kamu bicara begitu" "yah, terlihat sangat jelas kemaren papi kamu gak suka melihat aku, mungkin karena kita beda kelas" ucap dimas nanar "dim, aku gak peduli mami papi aku suka atau gak sama kamu, yang pasti aku bakalan selalu ada di samping kamu, gak peduli aku di coret dari kartu keluarga, masa bodoh dengan warisan aku cuma butuh kamu, please kedepan nya jangan bahas ini dan jangan ragukan cinta aku ke kamu" ucap gue setengah terisak menahan tangis karena membayangkan gue bakal di pisahkan dengan dimas oleh orang tua gue sendiri. dimas menggenggam tangan gue, dan membawa gue kepelukan nya dan semakin jadi lah air mata gue tumpah tak terbendung "maaf kan aku Kayla" ucap nya berat tertahan "untuk semuanya" lanjut nya. gue gak mengerti apa maksud karena gue larut dalam pelukan nya. dalam hati gue hanya ingin bersama dia selamanya tanpa ada yang memisahkan kita
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD