khawatir

569 Words
Di dalam mobil dengan pria yang begitu dingin, suasana yang tidak membuat gue nyaman. sepanjang perjalan sangat hening. gue sibuk dengan ponsel gue, karena dari kemaren dimas tidak bisa di hubungi. gue bosan dan inisiatif membuka percakapan. "om, sudah berapa lama kenal dengan papi"? tanya gue. " what? om?? " ucap nya gue lihat alis nya mengernyit dan aura nya sangat tidak bersahabat "ya, om! usia kita sangat beda jauh, gak mungkin lo gue kan, aku masih tahu sopan santun om" terang gue. wajah nya semakin tak bersahabat. "panggil aku mas! " ucap dingin dan tegas terkesan memerintah "aku gak mau" ucap gue menolak Tiba-tiba mobil di rem secara mendadak membuat gue terkejut, jantung gue seakan ingin melompat, belum sempat gue mengambil nafas, tiba-tiba. bagas mendekat, "kamu bilang sekali lagi" ucap nya dengan suara rendah penuh penekanan. jarak nya dengan gue amat sangat dekat, dengan posisi gue terpojok di dalam mobil, dan badan nya seperti sedang menghimpit badan gue, dapat gue cium aroma mint dari mulut nya. "ap..apa yang kamu lakukan om" ucap gue tercekat tanpa aba-aba, dia melumat kasar mulut gue. gue seperti orang linglung yang pasrah, dengan pikiran yang kosong karena serangan mendadak. beberapa detik kemudian. "kedepan nya, jika kamu berani manggil om, saya akan memberi kamu pelajaran lagi" ucap nya sambil berbisik di telinga gue dengan suara rendah dan tertahan. gue masih seperti orang linglung yang bengong kehabisan kata-kata. "apa kamu masih betah berdiam disini" ucap nya menyadarkan gue. ternyata telah sampai di depan apartemen gue. "b******k! " gue keluar dan membanting pintu nya dengan keras. ***** di dalam apartemen gue membayangkan apa yang barusan terjadi sambil memegang bibir gue yang bengkak. dia pikir dia siapa berani mengancam gue, gue pastikan kedepan nya tidak akan berjumpa lagi dengan nya. berani sekali dia mencuri ciuman gue. hari sudah mulai gelap, dimas masih belum ada kabar, gue sudah mengirim pesan tapi tak kunjung di balas. perasaan gue gak enak, gue mengambil kunci mobil dan memutuskan ke rumah buk ani. 1 jam perjalan karena macet parah pukul 8 akhir nya gue sampai di depan rumah buk ani. ketika gue hendak turun, gue melihat buk ani keluar rumah sendiri dengan membawa rantang. dan sudah di tunggu oleh seseorang dengan sepeda motor. gue mengurungkan niat untuk turun dan memilih mengikuti mereka. gue juga gak tau kenapa gue menjadi penguntit saat ini. dan saat sepeda motor berhenti di depan rumah sakit terbesar di kota ini. dan buk ani turun dengan tergesa. siapa yang sakit? batin gue karena setahu gue buk ani hanya tinggal berdua dengan dimas. "Jangan-jangan dimas? " kekhawatiran mulai menguasai gue, gue turun dan mengikuti buk ani diam-diam masuk ke dalam rumah sakit, tapi gue terlambat sosok itu tiba-tiba hilang. gue berusaha tenang dan pergi ke resepsionis untuk bertanya " maaf Sus, apa ada pasien bernama dimas yang masuk sekitar satu atau dua hari yang lalu? " ucap gue. mengingat terakhir kali bertemu dan berkomunikasi waktu kelulusan. "tunggu sebentar ya mbak saya cek dulu" ucap suster nya dengan ramah. "oh, benar mbak kemaren pasien bernama dimas masuk, sekarang di rawat di kamar melati no 16" "terimakasih Sus" gue dengan cepat melangkah kan kaki mencari kamar melati no 16. "kamu sakit apa sih dim, kenapa gak ada yang kasih tau aku" batin gue sepanjang perjalanan pikiran gue berkecamuk, perasaan gak menentu tanpa sadar air mata gue mengalir begitu saja. gue takut sampai langkah gue berhenti di depan kamar melati no 16.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD