Selesai solat subuh dan membaca al-quran, Arraya keluar dari kamarnya dengan masih memakai mukena miliknya. Hawa dingin mulai terasa. Pada pukul segini, rupanya asisten rumah tangga Adnan sudah terlihat sibuk berada di dapur. Arraya memilih mendekat untuk memperkenalkan dirinya.
"Permisi," sapa Arraya.
Wanita dengan perawakan tubuh besar itu lantas memutar tubuhnya dan langsung tersenyum menatap Arraya. "Selamat pagi, Non."
Arraya balas tersenyum kecil. "Selamat pagi juga, Bi. Perkenalkan nama saya Arraya." Gadis itu mengulurkan tangan kanannya untuk bisa berkenalan dengan asisten rumah tangga Adnan.
"Nama saya Ira, Non. Non bisa panggil saya Ira."
"Kalau gitu Bibi bisa panggil saya Raya. Mohon bantuannya selama saya tinggal di sini ya, Bi. Maafkan saya jika ke depannya saya akan merepotkan."
"Ora, Non. Bibi justru seneng kalau ada perempuan cantik yang menemani Bibi di rumah ini. Karena ada Non Raya, Bibi jadi punya teman."
Arraya tersenyum lebih lebar hingga kedua matanya menyipit. Ia bersyukur jika Adnan memiliki asisten rumah tangga yang baik dan begitu ramah. "Oh ya, apa Mas Adnan sudah bangun, Bi?"
Bi Ira melirik jam dinding lalu kembali menatap Arraya. "Belum, Non. Den Adnan biasanya bangun pukul 5.30 untuk siap-siap berangkat ke kantor."
"Tapi ini sudah subuh, Bi. Kalau bangun pukul 5.30, maka nanti solat subuhnya akan semakin terlambat."
"Mohon maaf jika Bibi lancang Non, tapi setahu Bibi, Den Adnan memang jarang solat karena sajadah dan sarungnya selalu ada di baris pakaian paling bawah. Mohon maaf jika Bibi lancang, Non." Bi Ira langsung menundukkan kepalanya. Ia menceritakan itu justru berharap Arraya bisa merubah Adnan menjadi lebih baik.
"Kalau gitu saya coba bangunkan ya, Bi."
"Eh, jangan, Non. Itu sudah sering Bibi lakukan dulu, tapi Den Adnan suka marah jika dibangunkan sebelum pukul 5.30."
Arraya menghela napas pelan. "Saya yang coba sekarang. Bibi lanjutkan saja masaknya," ujar Arraya dengan tersenyum kecil. Ia segera naik ke lantai atas untuk membangunkan Adnan agar bisa segera melaksanakan solat subuh.
"Mas Adnan!"
"Mas, bangun! Solat subuh!"
"Mas Adnan!!"
Arraya masih terus berusaha membangunkannya. Pintu kamarnya terkunci sehingga ia tidak bisa membangunkannya secara langsung. Arraya hanya bisa membangunkannya lewat ketukan pintu dan suara yang sedikit dikencangkan. Ini adalah kelima kalinya Arraya membangunkan suaminya.
"Mas! Mas Adnan!"
Karena tetap tak mau dibangunkan, akhirnya Arraya memutuskan untuk kembali ke bawah. Percobaan pertamanya hari ini mungkin gagal, tapi besok akan Arraya coba lagi. Ia tak akan menyerah sampai berhasil bisa membangunkan Adnan solat subuh lebih awal.
***
Adnan terbangun tepat pada pukul 5.30 pagi karena bunyi alarm ponselnya. Ia terduduk dengan menekan bagian kepalanya yang berdenyut. Sejak semalam rasa pusingnya tidak menghilang juga. Mungkin karena efek dari kepalanya yang terus-menerus memikirkan hal berat yang membuat Adnan jadi sakit dan kelelahan.
Setelah merasa sedikit baik, ia langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dengan gerakan yang sedikit lebih lamban, Adnan memakai kemeja dan celana hitamnya. Merapikan penampilannya hari ini. Kebetulan hari ini adalah hari yang penting karena ia harus melaksanakan dengan kliennya yang akan menyutikkan dananya hingga puluhan miliar. Tentu itu angka yang sangat besar sehingga Adnan harus memastikan penampilannya agar tidak mengecawakan.
Tepat ketika ia menginjakkan kakinya ke anak tangga terakhir, ia melihat Arraya yang sudah berada di meja makan dengan menyiapkan sebuah piring kosong, di mejanya, di tempatnya ia biasa duduk. Adnan melirikkan matanya pada Bi Ira dan beranggapan jika Bi Ira yang memberitahukan pada Arraya di mana tempat ia biasa duduk.
Tanpa berniat untuk sarapan atau sekadar duduk, Adnan terus melangkah maju begitu saja tanpa ada sapaan selamat pagi atau sapaan apa pun yang sebenarnya bisa ia lakukan.
"Mas Adnan!"
Adnan langsung berhenti dan menolehkan kepalanya. Menatap Arraya yang memanggil namanya. Menatap gadis itu, Adnan seolah dihadang dengan 2 perasaan yang bertolak belakang.
"Ada apa?" tanya Adnan karena Arraya yang tak kunjung membuka suara.
"Ayo sarapan dulu. Tadi aku dan Bibi buatkan sarapan kesukaan Mas. Ada teh hangat dan san-"
"Aku tidak akan sarapan hari ini," potong Adnan cepat. "Jadi silakan kamu sarapan berdua saja dengan Bibi."
"Kenapa tidak sarapan? Ini masih pukul 6.30, Mas Adnan masih punya waktu untuk sarapan sebentar."
"Aku sudah tidak punya waktu."
"Kalau gitu mau dibawakan pakai tempat makan saja?"
Adnan menatap lurus ke arah mata Arraya. Ia memilih melangkah maju tepat ke depan wajah Arraya. Ditatapnya lekat-lekat manik mata hitam yang terlihat bersih milik Arraya hingga ia bisa melihat pantulan wajahnya sendiri.
"Ku mohon, sudah kukatakan, tidak perlu seperti ini, Ra. Sekali lagi aku mohon sama kamu, jangan pernah lagi kamu melakukan sesuatu seperti ini. Karena apa yang kita jalani sekarang, bukanlah pernikahan yang sesungguhnya."
Bola mata Arraya mendadak bergetar. Ia meremas gamisnya saat merasakan adanya kebencian yang tersirat dari setiap kata yang meluncur dari bibir Adnan.
"Jangan lakukan ini lagi, karena semua ini tidak ada gunanya."
Arraya melangkah mundur ke belakang. Menciptakan jarak pada Adnan. Sudah seharusnya Arraya juga tidak mengambil hati pada semua yang Adnan lakukan padanya. Karena nyatanya, mereka menikah hanya berdasarkan sebuah kesepakatan.
"Kalau begitu pergilah," ucap Arraya pada akhirnya.
"Dengan senang hati," balas Adnan yang langsung memutar tubuhnya dan melangkah pergi tanpa membalikkan tubuhnya lagi. Meninggalkan Arraya yang menatap kepergiannya dengan tatapan menyiratkan luka.
***
Adnan menutup pintu ruangannya dengan tidak santai. Menimbulkan bunyi yang cukup untuk membuat semua pasang mata menoleh dan memperhatikan gerak-geriknya.
Warna, sekretaris Adnan, hanya bisa menghela napas panjang sambil mengurut dadanya. Ia hanya harus bersiap menjadi pelampiasan amarah Adnan yang sudah memiliki mood tidak baik dari pagi tadi.
"Permisi."
Warna sedikit terkesiap kemudian menolehkan kepalanya. Belum hilang sepenuhnya rasa terkejutnya karena kelakuan Adnan, kini Fajar sudah berdiri di depan mejanya.
Warna sontak berdiri dan menundukkan kepalanya, sopan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
"Saya ingin bertemu dengan Adnan," jawab Fajar.
Warna berpikir sejenak. Adnan selalu mewanti-wanti dirinya jika Fajar ingin masuk ke ruangannya. "Baik, tunggu sebentar ya, Pak. Biar saya sampaikan pada Pak Adnan terlebih dahulu."
"Tidak perlu," potong Fajar saat Warna baru ingin meraih gagang telepon. "Saya langsung saja. Hanya 5 menit karena saya juga masih ada perlu dengan yang lain."
Pada akhirnya Warna hanya bisa mengangguk pasrah. Membiarkan ayah dan anak itu membicarakan sesuatu yang entah akan berakhir seperti apa. Karena pembicaraan mereka satu minggu yang lalu, mengakibatkan Fajar marah besar hingga meminta Warna untuk tidak menceritakan hal itu kepada karyawan yang lain.
"Sudah saya katakan jangan masuk ruangan sa-" kalimat Adnan langsung menggantung di udara saat ia melihat Fajar yang masuk ruangannya, bukan Warna.
"Apa kamu akan terus bersikap tidak profesional seperti ini hanya karena pernikahanmu kemarin?"
"Saya mohon maaf, tapi jika Bapak memang butuh bicara dengan saya silakan saat jam makan siang, karena saat ini saya sedang tidak bisa diganggu."
"Aaaa ...." Fajar membuka bibirnya, menatap Adnan dengan ekspresi geli. "Terlalu sibuk dan tidak bisa diganggu hingga kamu mengacaukan meeting dengan calon investormu tadi? Bagaimana bisa kamu melakukan itu, Adnan?"
"Aku bisa melakukan yang lebih parah dari ini kalau Papa masih terus memaksa aku melakukan hal yang tidak aku sukai."
Fajar tertawa rendah. Matanya berubah tajam pada Adnan. "Silakan lakukan jika kamu ingin mengecewakan seluruh keluarga besar Hunanta. Kamu bukan anak kecil lagi yang bisa merengek ketika apa yang kamu mau tidak sesuai dengan keinginanmu. Kamu punya tanggung jawab besar atas perusahaan ini."
Adnan mengeraskan rahangnya. Perdebatan seperti ini sudah begitu sering terjadi, dan tetap ia yang akhirnya harus mengalah dengan terpaksa.
"Bekerjalah dengan profesional dan nikmati pernikahanmu dengan istrimu. Jangan bertingkah gegabah dan membuat semua pihak pusing karena kelakuanmu."
Fajar memutar tubuhnya. Ia tak bisa lagi berlama-lama di hadapan Adnan yang sudah kesal setengah mati menatapnya. Sebelum ia membuka pintu ruang Adnan, Fajar berhenti. "Pertemuan untuk serah terima jabatanmu akan dilaksanakan sebentar lagi. Bersiaplah dan jangan kecewakan Papa," ujarnya yang langsung pergi dari ruang Adnan tanpa menoleh ke belakang lagi.
***
Arraya mematikan televisinya. Ia bosan karena hanya berdiam di rumah tanpa tahu harus melakukan apa. Apa pun yang ingin ia lakukan selalu dilarang oleh Bi Ira dengan alasan semua pekerjaan rumah adalah tanggung jawabnya.
Arraya menolehkan kepalanya. Melihat Bi Ira yang baru saja pergi masuk ke kamarnya untuk membawakan tumpukan pakaian miliknya yang baru saja selesai disetrika. Ia berdiri dan mendekati tempat Bi Ira menyetrika. Di sana masih tersisa satu tumpuk pakaian yang ia yakini adalah pakaian milik Adnan karena dipenuhi dengan kemeja dan celana panjang.
"Biar Bibi saja, Non. Non Raya istirahat saja." Arraya langsung menghela napas panjang saat Bi Ira mendapatinya mengangkat setumpuk pakaian milik Adnan.
"Dari kemarin saya sudah banyak istirahat, Bi. Saya bosan, tidak ada yang boleh saya lakukan untuk meringankan pekerjaan Bibi."
"Bibi tidak banyak pekerjaan, Non." Bi Ira berniat mengambil alih pakaian milik Adnan yang ada di kedua tangan Arraya.
"Ini biar aku saja yang bawa, Bi. Hanya disusun di lemarinya Kak Adnan, kan?"
Bi Ira menggeleng khawatir. "Biar Bibi saja, Non. Bibi mohon ...."
"Saya pastikan akan membawa pakaian ini dengan selamat dan rapi sampai di lemari, Bi. Saya pastikan saya tidak akan melakukan kesalahan hanya karena membawa setumpuk baju ke lantai atas."
"Tapi, Non ...."
"Sudahlah, Bibi istirahat sebentar dulu. Serahkan sisanya pada saya, ya?"
"Tapi, Non, pukul segini biasanya Den Adnan sudah akan sampai rumah."
Arraya melirik jam dinding dan menemukan waktu yang sudah menunjukkan pukul 5.30 sore. "Sepertinya tidak, Bi. Karena tadi pagi saya nggak sengaja dengar teleponnya, Ma Adnan ada agenda di kantor sampai jam 6 sore katanya."
Arraya akhirnya berhasil merayu Bi Ira untuk membantu sedikit pekerjaannya. Ia naik ke lantai atas dan membuka pintu kamar Adnan dengan perlahan. Untuk beberapa detik ia berdiri diam di ambang pintu sambil menatap seisi kamar Adnan. Ia melangkah perlahan untuk maju.
Terlihat sederhana namun tetap berkelas. Lemari bukunya yang terbuat dari kaca sama besarnya dengan lemari pakaian. Di meja kerjanya juga penuh dengan tumpukan buku.
Satu sampai tiga bagian dari atas lemari buku Adnan berisi buku non fiksi. Ada buku tentang manajemen, organisasi, hingga buku motivasi yang lain. Bagian keempat hingga kelima ditempati oleh seris komik Conan dan juga Naruto. Sedangkan bagian yang paling bawah berisi buku-buku dengan sambul gelap. Entahlah, mungkin buku itu adalah catatan pekerjaan Adnan.
Iris Arraya berhenti pada sebuah bingkai dengan ukuran A5. Foto yang sepertinya belum lama diambil. Adnan memakai setelan jas berwarna hitam dengan dasi berwarna biru. Walaupun fotonya hanya berdiri tegap dan tanpa senyum, tapi mampu mengundang bibir Arraya membentuk bulan sabit saat menatapnya. Adnan memang selalu menawan dan memesona.
Seakan ingat dengan pesan Bi Ira, Arraya langsung melanjutkan niatnya datang ke kamar Adnan. Begitu lemari pakaian 4 pintu itu terbuka, ia menatap isi lemari Adnan dengan decakan kagum. Isi lemarinya tertata rapi. Setengah lebih dari isi lemarinya adalah pakaian formal yang Adnan gunakan untuk bekerja. Kemejanya tersusun dari kanan adalah kemeja yang gelap, sedangkan bagian kiri adalah tempat untuk kemeja dengan warna terang. Untuk celana, hampir semuanya berwarna gelap.
"Sedang apa kamu di sini?"
Arraya berjingkat kaget saat mendengar suara bariton dari belakang tubuhnya. Ia memutar tubuhnya cepat dan seketika menelan saliva gugup karena mendapati Adnan dengan tatapan tajamnya.
"Oh ... ini ... Maaf kalau aku lancang, Mas. Aku hanya mau bantu Bi Ira untuk masukin tumpukan pakaian ini."
Adnan melangkah maju sambil menatap ekspresi yang tak nyaman untuk Arraya pandang. "Apa kamu sudah lupa pesanku?"
Arraya beranikan diri untuk membalas tatapan lurus mata Adnan. "Aku ke sini hanya untuk pindahin pakaian yang sudah disetrika Bi Ira ke lemari Mas Adnan. Apa itu salah?"
"Kenapa?" tanya Adnan.
"Kenapa?" ulang Arraya yang tak mengerti maksud Adnan bertanya.
"Kenapa kamu ambil bingkai foto itu?"
Arraya menurunkan pandangannya mengikuti arah pandang Adnan. Rupanya ia meletakkan bingkai foto milik Adnan yang tadi dilihatnya ke atas tumpukan pakaian Adnan di tangannya.
"Oh ... ini ... aku ...." Karena Adnan terlalu mendominasi percakapan mereka dengan tatapan dingin, Arraya jadi gugup sendiri untuk balas berbicara.
"Siapa tahu kamu penasaran akan sesuatu."
"Apa maksud Mas?" Arraya menatap Adnan bingung. Saat Arraya ingin bertanya lagi, Adnan malah melangkah semakin mendekat ke arahnya. Hampir saja Arraya berteriak saat merasakan gerakan tangan Adnan yang cepat merambat ke pipinyaa. Arraya bahkan sampai menahan kuat napasnya. Tangannya mencengkeram pakaian Adnan yang masih ada di pelukannya.
Arraya memejamkan matanya erat secara tiba-tiba. Saat deru napas Adnan kian memburu di wajahnya, Adnan mengatakan sesuatu yang membuat Arraya langsung membuka mata.
"Aku bahkan tidak bisa menciummu."
Wajah Arraya langsung memanas karena malu.
"Aku sudah mencobanya dan aku tidak bisa. Ralat, tidak akan pernah bisa." Tangan Adnan terlepas dari pipi Arraya. Wajahnya menjauh, juga tubuhnya. Adnan mencoba mengatur pernapasannya saat ini. Ia sama sekali tidak bermaksud memperlakukan Arraya seperti ini sejak kemarin.
"Ra ... aku menganggap kita sama-sama terluka karena pernikahan ini. Aku tidak ingin melukaimu lebih dari ini. Aku tahu kamu tidak mencintaiku, begitu pun aku. Maka dari itu, kita harus benar-benar menjaga diri. Sejak dulu, aku selalu menganggap kamu sebagai adik. Tidak pernah lebih. Bahkan untuk saat ini, aku tidak pernah dan tidak akan mencintaimu."
Arraya terdiam merenungi ucapan Adnan.
"Jika saja pertemuan kita setelah kelulusan bukan dalam pernikahan seperti ini, mungkin kita masih bisa berteman dengan baik, bukan? Sayangnya, takdir tak mengindahkannya."