02 | Keputusan Berat

1841 Words

"Arraya, Luthfi kecelakaan..." suara yang terdengar cepat dan juga terbesit khawatir itu langsung membuat seorang gadis yang sedang duduk tenang di kamarnya sontak menoleh dengan cepat. Maya, ibu kandung Arraya masuk ke dalam kamar Arraya dengan tangan bergetar memegang sebuah ponsel.

"Ap-apa?" balas Arraya panik. "Mamah jangan bercanda. Ini sama sekali nggak lucu."

"Apa Mamah terlihat sedang bercanda saat ini, Arraya?" Arraya tersentak takut mendengar suara Maya yang bergetar. Dari sorot matanya, kini Raya baru sadar jika mamah kandungnya memang sedang tidak bercanda.

"Keadaan Luthfi kritis sekarang, kita harus ke rumah sakit," lanjut Maya tak sabar.

Padahal baru satu jam yang lalu, Arraya dan Luthfi saling berbalas pesan. Lelaki itu katanya akan berkunjung ke rumah untuk melamar Arraya langsung mala mini.

Dengan kerudung hitam dan jaket yang melekat di tubuhnya, Arraya langsung ditarik tangannya untuk segera keluar dan menuju ke rumah sakit. Papahnya Arraya juga sudah siap dan berada di balik kemudi mobil. Mereka bertiga langsung pergi detik itu juga meninggalkan rumah.

Raya menautkan kedua tangannya dengan erat. Air matanya terus berderai jatuh karena mengkhawatirkan sosok lelaki yang kini ia tak tahu bagaimana kondisinya.

Sesampainya di rumah sakit, Arraya termangu menatap tubuh lelaki yang kini begitu lemah dengan banyaknya alat medis yang menancap di tubuhnya. Lelaki yang dengan mudahnya kembali melelehkan air mata gadis itu. Lelaki yang memiliki arti tersendiri dalam hidup Arraya.

Arraya menyentuh kaca ruang ICU, seolah ia menyentuh tubuh di dalam sana dan memastikan kalau tubuh itu dalam keadaan yang baik-baik saja. Ia meremas bajunya di bagian d**a, terasa begitu sesak dan pengap. Seperti sedang terkurung dalam ruang yang sempit dan gelap. Air matanya terus bercucuran dengan tangan yang terkepal menempel di kaca.

Arraya sungguh tak pernah menyangka, Luthfi akan mengalami hal menyedihkan seperti ini. Lelaki baik seperti Luthfi, Arraya selalu berharap lelaki itu akan senantiasa Allah lindungi. Arraya selalu berharap jika Luthfi akan mendapat kebahagiaan dunia akhirat dari Allah.

Hubungan Arraya dengan Luthfi memanglah berawal dari rekan kerja. Tapi lambat laun, hubungan mereka menjadi lebih dari sebatas rekan kerja. Luthfi mulai banyak masuk dalam kehidupan pribadi Raya yang terkesan pendiam dan tak banyak bergaul juga bicara.

Bagi Raya, Luthfi bukanlah lelaki biasa. Ia seperti lelaki sempurna yang tak memiliki cela negatif. Orangnya tampan, tinggi, dan sangat berwibawa. Umurnya yang berjarak tiga tahun dengan Raya membuat Raya memanggilnya dengan sebutan 'Mas' dan sangat menghormatinya.

Luthfi juga lelaki yang sabar dan paling mau mengerti Arraya. Lutfi selalu mau menunggu Raya yang masih egois dengan perasaannya sendiri. luthfi selalu sabar dengan cintanya yang sepihak selama 3 tahun dan juga mau bersabar menunggu Raya yang hatinya masih belum bisa beralih dari lelaki lain.

"Raya..."

Suara lirih wanita yang menyentuh bahu Raya, membuat gadis itu menoleh perlahan. Panggilan itu menghancurkan semua pikirannya tentang Luthfi beberapa detik lalu. Raya bergetar mendengar suara Bu Rosmayanti Yahya. Ibu kandung dari Luthfi yang paling tidak suka jika Raya memanggilnya dengan sebutan 'Tante'.

Arraya mengusap pipinya dari lelehan air mata. Raut wajah pilu Bu Ros ikut menyayat hatinya. Ikut teriris melihat tatapan sendu Bu Ros yang menatapnya begitu dalam. Jika ada sebuah kata yang bisa menggambarkan kata 'dalam' itu sendiri, maka perasaan sedih Bu Ros itu pastilah lebih besar dari perasaan Arraya sendiri.

"Dokter bilang, Luthfi mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi. Kepalanya mengalami pendarahan hebat. Dokter sudah berusaha untuk mengoperasinya, tapi hasilnya tetap belum bisa membantu Luthfi untuk pulih."

"Ya Allah... Mas Luthfi... " tangis Raya kembali pecah. Gadis itu langsung berhambur ke dalam pelukan Bu Ros. Bu Ros membalas erat pelukan Raya, perempuan yang ia idamkan akan menjadi menantunya.

Ya Allah... Tolong jangan saat ini. Aku belum sempat mengatakan kalimat yang begitu ingin Mas Luthfi dengar. Batin Raya meronta.

"Bagaimana jika nanti Luthfi tak bisa lagi membuka kedua matanya seperti kata dokter, Raya? Ibu benar-benar takut..."

Arraya sontak melepas pelukannya. Ia menggeleng cepat. Digenggamnya erat kedua tangan Bu Ros, menyadarkan wanita itu untuk tetap tenang, walaupun hati Raya sendiri pun tak bisa untuk tenang sedikitpun. "Ibu nggak boleh bicara seperti itu. Mas Luthfi pasti akan baik-baik saja. InsyaAllah.." dipeluknya kembali tubuh Ibu Ros.

Kini Raya semakin memahami, memang tak akan ada yang pernah mengerti perasaan seorang ibu jikalau mereka memang belum pernah menjadi seorang ibu.

"Code blue, code blue!"

"Code blue ruang ICU 2! Code blue ruang ICU 2!"

Seruan itu membuat Arraya dan Bu Ros kompak menoleh. Ada beberapa dokter dengan jubah putih dan juga beberapa perawat yang memakai baju biru berlari cepat ke ruang ICU Luthfi. Mereka melarang Bu Ros yang memaksa masuk untuk melihat kondisi anaknya.

Arraya membekap mulutnya rapat-rapat saat melihat ada seorang dokter yang sampai naik ke atas tubuh Luthfi untuk melakukan CPR. Beberapa kali alat defibrilator itu digunakan untuk memulihkan detak jantung Luthfi. Semuanya menangis, termasuk kedua orangtua kandung Arraya juga orangtua Luthfi yang tak bisa menepis rasa sedih mereka. Seakan mereka semua sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Takdir hidup dan mati manusia memang tidak pernah ada yang tahu. Dokter hanya dapat berusaha semaksimal mungkin, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan Tuhan. Tak akan ada yang mampu menandingi kuasa-Nya.

Luthfi akhirnya dinyatakan meninggal pada hari Selasa, tepat di jam 22:47 WIB. Kesedihan tak lagi dapat ditahan. Air mata meleleh dari masing-masing pipi keempat orang dewasa di sekitar Arraya. Keluarganya dan keluarga Luthfi memang sudah begitu dekat. Mereka berempat telah menjalin hubungan sahabat bahkan sebelum Raya dan Luthfi lahir ke dunia.

Dari semua orang di sana, Raya lah yang merasa paling berdosa. Raya lah yang paling merasa egois dan jahat. Raya lah yang paling merasa tidak tahu diri di sini. Raya merasa dirinyalah orang yang paling banyak menghadirkan rasa sakit untuk Luthfi. Raya merasa dirinyalah yang paling banyak membuat luka di hati Luthfi.

"Saya selalu bisa menunggu hati kamu terbuka untuk saya. Saya akan bersabar dan menunggu kamu."

Itu adalah kalimat yang selalu Luthfi katakan pada Raya. Seolah Luthfi memang tercipta memiliki hati seperti malaikat. Putih dan bersih. Raya sendiri tak pernah mengerti, mengapa Luthfi bisa begitu mencintai perempuan seperti dirinya? Raya tidak pernah merasa dirinya cantik, pintar, ia juga selalu merasa bahwa tak ada yang bisa dibanggakan dari dirinya. Berbeda dengan Luthfi yang menyandar gelar MBA Harvard University. Luthfi sangat pandai. Di umurnya yang menginjak 28 tahun, membuat Luthfi memiliki pemikiran yang matang dan dewasa.

"Hmmm... Saya pikir, alasan saya mencintai kamu adalah tentang semua yang ada di diri kamu. Saya suka pemikiran kamu. Saya suka cara kamu menjaga diri. Dan... yang membuat saya punya perasaan sama kamu adalah akhlak yang kamu miliki, Arraya. Kamu adalah perempuan yang saya butuhkan untuk menjadi istri dan ibu dari anak-anak saya kelak. Saya ingin membahagiakan kamu..."

Butuh berapa banyak ungkapan bagi Raya untuk menceritakan pada pelosok dunia jika Luthfi memang lelaki yang baik? Teramat baik, bahkan untuk perempuan seperti Raya yang tak pernah bisa melupakan cinta di masa lalu. Perjuangan Luthfi sejak memiliki perasaan dengan Raya secara diam-diam sampai akhirnya berani untuk mau melamar gadis itu di hadapan keluarga Raya dan keluarganya cukuplah panjang.

"Kamu harus bertanggungjawab atas perbuatan yang telah kamu lakukan!! Apa kamu tahu jika sebentar lagi anak saya akan menikah?!!"

Suara teriakan dari luar langsung membuat lamunan akan Luthfi runtuh. Raya, mamahnya, dan Bu Ros kompak menoleh ke sumber suara dan beranjak dari posisi untuk memeriksa keadaan. Ternyata ada papah kandung Arraya di sana yang sedang bersama Pak Tomo. Ada juga seorang pemuda yang kini sedang terduduk lesu dengan kemeja berlumuran darah di depan papah kandung Arraya dan juga Pak Tomo?

"Maaf... saya benar-benar minta maaf.. Saya dan tunangan saya sedang terlibat percekcokan kecil sampai akhirnya saya tak menyadari jika lampu jalan sudah berubah warna menjadi merah..." sesal pemuda itu masih dengan kepala menunduk dalam. Tak berani menatap ketiga orang dewasa di depannya.

"Maaf kamu bilang?! Apa dengan maaf kamu itu bisa mengembalikan keadaan anak saya seperti semula, hah!"

Suara tinggi dari Pak Tomo langsung ikut membuat Arraya terkejut. Baru kali ini Raya mendengar Pak Tomo bicara dengan suara kencang yang menggelegar. Pak Rahardian Utomo, atau biasa Raya menyebutnya dengan panggilan Pak Tomo, adalah pribadi yang baik dan juga santun.

Walaupun terbilang dalam keluarga yang kaya raya, mereka tetaplah rendah hati. Tutur bicaranya selalu sopan dan lembut. Tapi kini, mulutnya memang terbakar emosi, tapi entah kenapa jelas sekali terlihat sorot matanya bergetar takut. Arraya bisa mengerti perasaan Pak Tomo. Beliau pasti sangat terpukul melihat keadaan putra mereka saat ini.

"Pak, sabar..." ucap Bu Ros menenangkan Pak Tomo. Ia juga sama emosinya, sama marahnya, sama kesal, dan sama bencinya. Tapi apa itu bisa mengembalikan semuanya agar tidak terjadi?

"Ya Allah... Luthfi, anakku.." Pak Tomo langsung terduduk. Kedua kakinya tak lagi dapat menahan bobot tubuhnya. Semuanya hanya bisa kembali ikut terisak, termasuk Raya yang ikut menangis di belakang pemuda itu.

Sangat menyakitkan melihat pemuda itu masih bisa bernapas dalam keadaan tubuh yang utuh dan hidup di hadapannya, sedangkan Luthfi yang menjadi korban harus kehilangan nyawa.

"Maaf... saya benar-benar minta maaf." Pemuda itu semakin menunduk dalam. Dapat Raya lihat bahwa pemuda itu memang menyesal. Tapi apa boleh buat, Raya pun ikut marah padanya. Ini memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa, tapi karena ketidak hati-hatian pemuda itu, menyebabkan orang lain jadi terluka bahkan meninggal.

"Apa boleh buat, kamu harus membayar semua ini dengan menikahi calon menantu saya."

"Ap-apa?" tanya pemuda itu dengan nada tak percaya.

Kedua mata Raya sontak terangkat. Pandangan matanya yang buram karena air mata menjadi sedikit lebih jelas saat air matanya meleleh, lagi.

Apa maksud ucapan Pak Tomo barusan? Menikahi calon menantunya? Bukankah yang dimaksud calon menantu Pak Tomo adalah Arraya? Jadi maksudnya, Arraya akan dinikahkan dengan pemuda yang telah menabrak Luthfi? Begitu?

"Pak... tidak usah sampai seperti ini. Kita harus bisa ikhlas.." suara Adam mulai mengalihkan pandangan marah Pak Tomo dari pemuda itu.

"Tidak, Pak Adam. Kita tetap harus melanjutkan semuanya. Saya juga merasa bertanggungjawab dengan Arraya. Saya menyayangi Arraya dan sudah menganggapnya seperti anak kandung saya sendiri. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk Arraya. Kita tidak mungkin membiarkan Arraya menanggung semuanya seorang diri. Lamaran Luthfi untuk Arraya hanyalah bentuk formal, sedangkan persiapan pernikahan sudah kita lakukan dengan matang dan tidak mungkin untuk dibatalkan."

"Pak..." suara Arraya yang bergetar mencoba memanggil Pak Tomo agar mau menatapnya yang berdiri cukup jauh darinya. "Batalkan saja semuanya, karena Raya tidak akan menikah dengan siapa pun. Raya yakin, Mas Luthfi pun tidak menginginkan hal ini terjadi dengan begitu cepat..."

"Tidak, Arraya. Bapak sudah yakin dengan bulat akan keputusan Bapak. Kamu akan menikah dengan pemuda ini seminggu lagi sesuai dengan rencana awal pernikahan kamu dengan Luthfi."

Arraya hanya bisa menggelengkan kepala tak percaya. Mungkinkah hal seperti itu akan terjadi di dunia nyata?

"Arraya?"

Arraya mendengar pemuda itu menggumamkan ulang namanya. Pemuda itu langsung berdiri dan memutar tubuhnya dengan cepat.

Alis, bentuk mata, hidung, bibir, dan wajah itu dengan cepatnya Raya kenali. Matanya sontak membulat lebar. Jantungnya terasa berhenti berdetak beberapa detik. Kakinya refleks mundur beberapa langkah dari posisinya.

Kak Adnan????

Arraya masih belum mengerti. Apa yang sebenarnya sedang Tuhan rencakan untuknya?

Kenapa? Kenapa harus Kak Adnan? Kenapa harus Kak Adnan yang menjadi penyebab dari kecelakaan Mas Luthfi? Kenapa harus Kak Adnan yang saat ini menduduki kursi terdakwa dan harus menggantikan posisi Mas Luthfi untuk menikahiku?

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd