Setibanya di sekolah, aku langsung duduk. Sedangkan di sudut kelas semua orang mulai heboh karena Careline sebentar lagi akan berulang tahun. Sosok yang diidam-idamkan semua laki-laki di sekolah. Tak terkecuali aku. Matanya bulat, senyumnya manis, hidung yang mancung, kulit putih bersih dan satu hal lagi, parasnya berbanding lurus dengan sikapnya, dia perempuan yang easy going. Siapa laki-laki yang tak mau?
“Woi Andi.” Seseorang mengagetkanku dari belakang, ternyata David teman sebangkuku, “Kadomu sudah siap?” tanyanya memekik.
“Y-yah,” jawabku ragu-ragu.
David menepuk pundakku. Kemudian pergi, bergabung dengan gerombolannya, dia berada di hadapan Careline dengan posisi tubuh yang tidak ber-etika. Dua tulang duduknya bersandar di meja Careline. Dia betul-betul duduk di atasnya.
“Bagaimana Careline, aku akan melihatmu tampil cantik malam ini.” Careline memutar bola mata, “Berhenti menggodaku Dav.”
Aku masih duduk di bangkuku. Pikiranku melayang-layang. Hadiah apa yang disukai Careline, apakah jam, sepatu, tas, cincin, atau hal yang tentunya banyak dipilih perempuan seusianya. Aku menemukan ide, Bintang. Bukan Bintang yang akan kuberikan, tapi dia adalah sahabat terdekat Careline. Tentu dia tahu.
Bu Sinta guru Kimia kami datang. masuk perlahan diiringi orang-orang yang bertebaran berusaha kembali ke tempatnya masing-masing.
“Selamat pagi anak-anak!”
“Pagi bu.”
“Baiklah, sekarang buka buku kalian, halaman seratus dua puluh empat. Hari ini kita akan mempelajari materi tentang hidrolisis garam. Sebelum itu, ada yang mengetahui apa itu hidrolisis garam?”
Aku mengangkat tangan. “Hidrolisis garam merupakan reaksi penguraian garam dalam air membentuk ion positif dan ion negatif. Ion-ion tersebut akan bereaksi dengan air membentuk suatu asam dan basa asalnya. Jadi, dapat disimpulkan, bahwa hidrolisis garam ialah reaksi penguraian yang terjadi antara kation dan anion garam dengan air dalam suatu larutan. Kation dan anion yang dapat mengalami reaksi hidrolisis ialah kation dan anion garam yang termasuk elektrolit lemah. Sedangkan kation dan anion garam yang tidak terhidrolisis ialah kation dan anion garam yang termasuk elektrolit kuat….”
“Cukup Andi, ibu tidak akan menjelaskan apapun bila kamu menjelaskan semuanya.” Bu Sinta tertawa. Careline nampak tersenyum.
Ibu Sinta kemudian menjelaskan materi tentang hidrolisis garam lebih lanjut. Aku memperhatikannya dengan serius, kebetulan Kimia adalah mata pelajaran kesukaanku setelah bahasa Inggris. Sedangkan temanku yang lain, menggerutu, memainkan pulpen berharap bel tanda istirahat berbunyi.
Disaat jam istirahat tiba, semua orang berlarian ke kantin. Gara-gara David yang berteriak bahwa Careline akan mentraktir semua orang. Dengan langkah berat Careline meninggalkan Bintang sendirian. Hanya tersisa aku dan Bintang di kelas. Aku pergi menghampiri perempuan yang sedari tadi menatap kumpulan prangko, kebetulan Bintang adalah seorang filatelis (orang yang hobi mengoleksi prangko). Hobi yang begitu langka untuk generasi milenial seperti sekarang ini.
Aku berdiri dihadapan Bintang, dia menatapku tajam, “Kado untuk Careline?” tanya Bintang.
Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala. Suasana jadi begitu absurd. Bintang sudah tahu apa yang akan aku katakan, bukankah itu pertanda buruk. Banyak orang yang bertanya hal yang sama tentang Careline. Tentang kado yang akan diberikan.
“Setiap tahun selalu begini, intinya dia tidak menyukai barang-barang yang terlalu feminim. Oh iya, dan saranku jangan memberinya bunga, dia sangat alergi dengan itu.”
Apa yang dikatakan Bintang barusan? Dia tidak menyukai barang yang feminim. Jadi, aku harus memberinya tas gunung, sepatu bola, atau topi. Aku berpikir keras.
Sepulang sekolah, aku langsung menuju ke toko di sudut jalan ampera. Disana menjual beraneka ragam boneka. Aku memilih boneka berbentuk piano diantara jajaran boneka lainnya. Boneka yang begitu besar. Lagi pun, Careline sangat suka bermain piano. Pernah suatu hari aku menemuinya bermain piano di ruang seni. Dia sering memainkan nada “Appassionita” yang dimainkan oleh Beethoven tentang waktu dimana dia kehilangan pendengarannya. Nada yang begitu memikat.
Malam harinya, aku mengenakan kemeja berwarna putih dengan pita hitam diantara kerah baju. Ditambah celana jeans juga jam tangan di lengan. Malam ini, aku harus tampil sempurna dihadapan Careline. Semuanya sudah siap, tinggal ijin ke ayah bahwa aku akan pergi dan menghabiskan malam hingga ulang tahun Careline selesai, kira-kira pukul dua belas malam.
Aku menuruni tangga, kudapati banyak anggota keluarga disana, mereka tengah menonton acara gossip mingguan. Rumahku terbilang besar, terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga utama, dapur utama, sepuluh kamar, tempat gym, studio pribadi dan banyak lagi. mungkin bisa dibilang penthouse. Semuanya adalah hasil jerih payah kakekku. Pengusaha kaya yang terkenal di kota ini. setelah itu, kekuasaannya diturunkan kepada anak laki-laki satu-satunya, ayahku yang memiliki lima orang saudara perempuan. Dimana hanya dua orang saja diantara kelima saudaranya yang telah menikah. Dan salah satu yang sudah menikah, suaminya meninggal ketika anak kedua mereka masih berusia dua bulan dalam kandungan. Mereka adalah orang tua Roy dan adiknya Siska.
“Bi, mana ayah?” kataku pada keempat bibiku yang tengah tertawa dan matanya fokus tertuju pada Televisi.
“Paman sedang keluar kak!” Jawab Siska adik sepupuku.
“Oh iya, Bi aku keluar dulu, ada acara teman, mungkin larut malam aku baru tiba di rumah,” ujarku pada bibi Nuri yang tengah menyuapi Ando.
Bibi Nuri mengangguk. Menyuruhku berhati-hati.
“Aku juga akan menyusul keluar, mau mengerjakan laporan kuliah.” Roy menyusul, mengambil tasnya. Setiap malam dia selalu keluar dengan alasan yang mengada-ada menurutku.
Mesin bugati veronku mulai menyala. Hadiah pemberian ayah waktu ulang tahunku yang ketujuh belas. Lain halnya jika ke sekolah, aku ikut bersama ayah. Orang yang terkenal dengan sosok yang tidak suka menghambur-hamburkan uang.
Bersamaan dengan memanasnya mesin, Roy juga mulai menyalakan mesin motornya. Hanya saja, dia keluar lebih cepat. Seperti mengejar waktu.
Aku tiba di rumah Careline, sudah banyak orang berkumpul disana. Acara yang diadakan begitu meriah. Outdoor, di pinggir kolam yang begitu luas.
Aku berjalan gugup membawa kado di tanganku. Ukurannya membuatku malu. Ada rasa penyesalan yang terbesit dibenakku. Mengapa aku tidak memberikannya replika piano saja. Entah apa yang akan dikatakan orang-orang. Mudah-mudahan saja, Careline menyukainya.
Tiba dihadapan Careline rasa gugupku semakin menjadi-jadi. Kakiku gemetar, ditambah dinginnya cuaca malam ini.
“Ca-Careline terima kado dariku ini.” Careline tersenyum. Wajahnya begitu putih disertai lesung pipi yang menghiasinya. Malam ini dia betul-betul terlihat menawan dengan dress putihnya. Rambutnya yang berwarna kecokelatan digerai begitu saja.
Careline tersenyum “Kenapa jadi gugup begitu Andi?”
Aku dan Careline bertatapan lama. Tiba-tiba, terdengar suara heboh di sudut kolam.
“Tolong…” teriak seseorang dari sudut sana, “Tolong!”