Impoten Atau Penyuka Sesama Jenis

1213 Words
Begitu pintu kamar mandi tertutup rapat, Sofie menghela napas panjang. “Dia masih sama…,” bisiknya lirih. Tatapannya kosong, penuh resah. “Kenapa setiap kali melihat bagian dalam tubuhku dia selalu bersikap seperti itu? Dulu pun sama saja. Padahal, kami sudah menikah. Bukankah wajar kalau suami istri saling melihat tubuh, bahkan… melakukan lebih dari itu? Apa dia benar-benar membenciku? Atau merasa jijik denganku?” Mendadak mata Sofie membesar. Pikiran yang tak pernah ia bayangkan di kehidupan pertamanya, tiba-tiba muncul. “Jangan-jangan, Arrash itu impoten? Atau penyuka sesama jenis?” Refleks, ia menutup mulutnya sendiri, kaget oleh alur pikirannya yang kelewat jauh. Namun, detik berikutnya ia justru terkekeh pelan. “Tidak mungkin Arrash impoten. Dia terlihat sehat, gagah, dan kuat.” Tapi kemudian, Sofie kembali terdiam. Ingatannya berputar, menyusun potongan-potongan kehidupan pertamanya. “Tunggu… dulu aku juga tak pernah melihatnya dekat dengan wanita lain. Hubungan kami sebagai suami istri sangat buruk, bukankah seharusnya dia punya wanita lain yang ia sukai?” gumamnya, kali ini dengan alis berkerut. Saking bingungnya, Sofie berguling-guling di atas ranjang, lalu menatap kosong ke langit-langit kamar. “Fix… Arrash mungkin saja penyuka sesama jenis,” ujarnya mantap, seolah menemukan kesimpulan besar. Namun, rasa penasaran mengalahkan semua prasangka. Sofie akhirnya duduk di tepi ranjang, kedua tangannya terlipat di pangkuan. Dalam hati ia mengaku, di kehidupan sebelumnya ia tak pernah berpikir sejauh ini. Tapi sekarang, di kesempatan keduanya, ia merasa harus lebih memahami Arrash. “Baiklah, aku akan menanyakannya langsung. Mungkin itu alasan dia selalu menolak, alasan dia tak pernah bisa menyukaiku. Bisa jadi, dia memang jijik tidur seranjang dengan seorang wanita.” Sofie menunduk, lalu mengangkat wajahnya dengan tekad. Ia memutuskan untuk menunggu. Menunggu Arrash keluar dari kamar mandi, agar kebenaran bisa terungkap. Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Arrash keluar dengan rambut dan wajah setengah basah, namun langkahnya terhenti ketika melihat Sofie menatap lurus ke arahnya. Matanya sedikit melotot. “Kenapa kau belum tidur?” tanyanya dingin. “Ada yang ingin kutanyakan,” jawab Sofie mantap. Arrash memperhatikan seksama sosok Sofie, memperhatikan pakaian Sofie yang kini sudah kembali rapi. Ia berdehem sebelum bicara lagi. “Tanya apa?” nadanya datar. Sofie menepuk sisi ranjang di sebelahnya. “Duduklah di sini, Rash.” Arrash langsung mengerutkan dahi. “Kenapa aku harus duduk di sampingmu?” bantahnya. Sofie mendengus kesal. “Aku tahu kau tidak menyukaiku, Rash! Tapi bukankah waktu kecil kita cukup dekat? Kalau kau tidak mau menganggap ku istri, tidak masalah. Anggap saja aku temanmu. Duduk di samping teman itu kan tidak ada salahnya.” Arrash memutar bola matanya, lalu memalingkan wajah. “Tidak ada teman yang membuka baju di depan temannya!” serunya ketus. Sofie terperangah, lalu tiba-tiba terbahak. “Astaga, Rash! Kau masih membahas itu? Kita ini suami istri, lagipula, ini malam pertama kita. Bukankah sudah seharusnya saling melihat tubuh satu sama lain?” godanya sambil tersenyum nakal. Wajah Arrash memerah, membuat Sofie semakin gemas ingin menggodanya. Dalam hati, ia menyesal kenapa di kehidupan pertamanya dulu ia tidak pernah berani menggoda Arrash seperti ini. “Aku tidak mau!” potong Arrash dengan nada keras. “Sudah berapa kali harus kukatakan? Aku tidak ingin menganggap mu istriku. Dan kau pun jangan sekali-kali menganggap ku suamimu!” Sofie menarik napas panjang, mencoba menahan diri. “Baiklah. Justru itu yang ingin ku bicarakan.” Ia menepuk ranjang lagi sambil tersenyum tipis. “Duduklah. Aku tidak akan menerkam mu kok.” kekehnya. Arrash hanya menyeringai dingin. "Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kalau aku tidak bisa menahan diri, mungkin malam ini aku akan menjadikanmu milikku sepenuhnya. Tapi tidak, aku tidak akan menyeret mu dalam kesialanku." Ia akhirnya memilih tetap berdiri, menjaga jarak. Sofie menghela napas, kali ini benar-benar menyerah. “Baiklah, aku akan menanyakannya sekarang.” Ia menatap Arrash dalam. “Ini pertanyaan pribadi dan sensitif, Rash. Aku tahu kau selalu menghindar dariku. Bukannya aku mau menyombongkan diri, tapi, aku cantik, tubuhku terawat. Normalnya, laki-laki manapun pasti mudah tergoda, bahkan meski ia tidak mencintai wanitanya. Tapi kau...kau malah terlihat jijik setiap kali aku mendekat. Jadi, yang ingin kutanyakan-” Sofie sempat berdehem, suaranya merendah penuh keraguan. “Apakah sebenarnya, kau itu impoten? Atau penyuka sesama jenis?” Mata Arrash langsung membesar. Tubuhnya menegang, seolah baru saja dilempar bara api. Tuduhan Sofie barusan bagai tamparan keras yang menohok harga dirinya. “Apa?” suaranya rendah, nyaris seperti geraman. “Apa yang baru saja kau katakan, Sofie?” “Aku tanya, kau ini, impoten? Atau penyuka sesama jenis?” Sofie mengulang, kali ini dengan wajah serius. “Sial!” pekik Arrash, suaranya menggema memenuhi kamar. Sofie refleks menelan ludah. Ia sempat terkejut dengan ekspresi suaminya yang murka, namun buru-buru mencoba menutupi kegugupannya dengan senyum canggung. “A-aku hanya menebak saja. Kau selalu menghindar dariku, jadi aku pikir…” “Aku normal! Semuanya normal!” potong Arrash tegas, matanya berkilat. Dalam hati, ia mendengus. "Impoten? Dia bahkan tidak tahu kalau barusan aku menenangkan si kecil yang hampir berontak di balik celana ini." Sofie menunduk, menghela napas panjang. “Aku tidak bermaksud menyinggung mu. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau selalu menjauh dariku, Rash? Bukankah seorang suami, meski tidak cinta, tetap punya naluri seorang pria pada istrinya? Tapi kau, selalu menolak mentah-mentah. Jadi, kalau memang kau salah satu dari itu, kau tak perlu berbohong. Aku bisa memahami kok karena kita kan memang terpaksa menikah.” Ia terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. Mata Arrash makin membara. Tiba-tiba ia melangkah cepat, lalu menekan tubuh Sofie hingga terjatuh ke ranjang. Kedua tangannya mengurung Sofie di sisi kanan kiri tubuhnya. “Arrash!” Sofie terbelalak, napasnya tercekat. Tali lingerienya kembali melorot , memperlihatkan belahan d**a yang sejak tadi coba ia tutupi. Tatapan Arrash terhenti di sana. Nafasnya memburu, dan tubuhnya merespons tanpa bisa ia kendalikan. Ia sengaja menekan miliknya dibawa sanake paha Sofie, membuat wanita itu terdiam karena jelas merasakan sesuatu yang keras dan menegang. “Kau merasakannya, kan?” suaranya rendah, hampir seperti bisikan penuh ancaman. Sebuah seringai sinis tersungging di bibirnya. “Masih berani menyebutku impoten?” Sofie membelalakkan mata. Panas merambat ke wajahnya, jantungnya berdebar tak karuan. Ia mengangguk cepat, tergagap. “Y-ya, mungkin kau memang tidak impoten. Tapi…” ia menelan ludah, lalu nekat menatap lurus ke mata Arrash. “Bisa saja kau tetap penyuka sesama jenis, kan?” Ucapan itu membuat Arrash terdiam sepersekian detik. Tatapannya makin gelap, seolah menahan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar amarah. Dengan sengaja, ia menekan lagi miliknya kini bukan ke paha tapi bagian sensitif Sofie membuat wanita itu terlonjak kecil dan membeku di tempat. “Apa menurutmu-” Arrash mendekatkan wajahnya ke telinga Sofie, suara beratnya bergetar, "Penyuka sesama jenis bisa bereaksi seperti ini hanya karena bersentuhan dengan wanita?” Tatapannya menusuk, dingin sekaligus penuh bara. “Kalau aku benar penyuka sesama jenis, milikku tidak akan pernah tegang. Tidak akan pernah berdiri hanya karena menyentuhmu.” Sofie membelalakkan mata, wajahnya memanas. Ia jelas bisa merasakan bukti yang tidak terbantahkan dari tubuh Arrash. Jantungnya berdebar kacau, antara gugup, malu, sekaligus senang karena tuduhannya tidak benar. “A-Arrash…” suaranya nyaris tercekat. Arrash terkekeh dingin, namun tatapannya tidak berpaling sedikit pun dari Sofie. “Jadi, Sofie, berhenti membuat tuduhan konyol. Aku bukan impoten. Dan aku juga bukan penyuka sesama jenis.” Ia mencondongkan wajahnya semakin dekat, hingga helaan napas hangatnya menyapu wajah Sofie. “Bukti paling jelasnya, sedang kau rasakan sekarang.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD