Tubuh Sofie menegang. Dulu di kehidupan pertama, Selama lima tahun pernikahannya, ia tak pernah melihat wajah Arrash semerah itu. Selama ini, yang ia kenal hanyalah raut datar dan dingin, seakan pria itu tak memiliki gairah ataupun emosi. Namun kali ini, sesuatu berbeda. Pipinya memerah, napasnya tersendat, dan tatapannya tak lagi setenang biasanya.
Sofie merasakan debaran aneh di dadanya. Ia tahu benar, dalam kehidupan pertamanya, Arrash tak pernah menyentuhnya. Bahkan tubuh sang suami selalu tertutup rapat, seolah ada tembok tinggi di antara mereka. Namun kini, di balik celana tipis yang dikenakan Arrash, Sofie merasakan sesuatu yang jelas membuat hatinya bergetar sekaligus melahirkan ide licik.
“Ini kesempatan emas. Kalau aku tetap bercerai nanti, setidaknya aku tidak pergi dalam keadaan masih perawan,” batinnya.
Dengan keberanian yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya, Sofie melingkarkan tangannya di leher Arrash, menariknya mendekat hingga jarak wajah mereka hampir lenyap.
“A-apa yang kau lakukan!” suara Arrash pecah, penuh kegugupan yang jarang ia tunjukkan.
Sofie tersenyum tipis, penuh tantangan. “Kalau cuma kata-kata, aku belum bisa percaya. Aku harus merasakan langsung buktinya.”
Tubuh Arrash kaku, sorot matanya tak bisa menyembunyikan betapa ia sebenarnya goyah. Ia berusaha bangkit, tapi Sofie justru melingkarkan kakinya ke pinggang Arrash, membuat pria itu tak berkutik.
“Hentikan, Sofie!” bentaknya, meski suaranya terdengar lebih seperti permohonan.
Namun Sofie semakin erat menahannya. Provokasi keluar begitu saja dari bibirnya. “Sudah sejauh ini kau masih saja tak tergoda. Jelas sekali kalau kau memang lebih suka dengan sesama jenis.”
Tatapan Arrash membesar. “Jadi kau masih berpikir begitu?!”
Sofie mengangguk mantap. “Ya. Buktikan kalau aku salah.”
Arrash terdiam, menggigit bibirnya seolah menahan sesuatu yang sudah di ambang batas. Napasnya terengah, tubuhnya bergetar menahan ledakan yang sulit ia kendalikan. “Sial, Sofie… kau benar-benar-”
Dalam satu gerakan, Arrash mengangkat tubuh Sofie, Ia terpaksa menggendong Sofie, nalurinya semakin tak tertahan apalagi ia merasakan b****g Sofie yang terus menyentuh miliknya yang keras dan tegang di bawah sana.
Arrash pun akhirnya menurunkan Sofie ke ranjang. Sorot matanya kini jauh berbeda, bukan lagi dingin, melainkan tajam, penuh bara.
“Baiklah,” desisnya. “Kau sendiri yang menantang ku.”
Dengan gerakan cepat, Arrash mulai melepaskan kemeja putih tipis yang melekat di tubuhnya. Kancing demi kancing terbuka, memperlihatkan otot-otot yang selama ini tersembunyi. Dadanya bidang, kulitnya putih bersih, dan perutnya terbentuk rapi seperti ukiran yang memikat.
Sofie menelan ludah, matanya tak berkedip. Begitu lama ia hidup bersama pria ini, tapi baru kali ini ia menyadari sesuatu, Arrash bukan hanya pria dingin yang penuh rahasia tapi dia juga sosok yang memancarkan pesona yang berbahaya.
Setelah membuka kemeja, Arrash juga menurunkan celananya.
Kini hanya tersisa celana dalam hitam yang membalut tubuh pria itu.
Lagi-lagi Sofie tertegun. Sama seperti bagian tubuh atas Arrash, bagian bawahnya pun tak kalah menggoda. Arrash memiliki paha dan betis yang kokoh terutama bagian yang menonjol di balik celana dalamnya.
"Ya Tuhan... Besar sekali." gumam Sofie.
Dulu ia ingat jelas bentuk tubuh Andreas. Sepupu Arrash yang menjadi selingkuhannya. Tubuh Arrash sama sekali tidak bisa di bandingkan dengan tubuh Andreas yang terbilang kurus dan tidak berotot.
Namun, tanpa Sofie sadari. Kata-kata yang keluar dari mulutnya barusan semakin membuat Arrash terprovokasi. "Astaga! Kau benar-benar tidak ada takutnya ya!" pekik Arrash merasakan gelora dalam dirinya semakin membara.
Tatapan Arrash jatuh pada Sofie, gaun tidurnya yang tipis, kainnya yang tembus cahaya, serta garis lembut kaki jenjang yang tanpa sadar sedikit tersingkap. Pandangan itu membuat bara di dadanya makin menyala.
“Berhenti memprovokasiku,” desisnya, tapi langkahnya justru mendekat.
Sofie tersenyum samar, berusaha menutupi debaran yang mengguncang jantungnya. “Tidak usah banyak bicara, buktikanlah sekarang juga!” ucapnya, lirih namun menusuk.
Arrash langsung mendekap tubuh Sofie. Ia merengkuh istrinya erat, lalu menempelkan bibirnya pada bibir Sofie. Kecupan yang awalnya canggung dan terbilang tak berpengalaman itu perlahan berubah menjadi lumatan-lumatan dalam yang membuat Sofie terbuai.
“Buka mulutmu, Sofie,” ucap Arrash rendah.
Tenggelam dalam kelembutan sang suami, Sofie menurut tanpa perlawanan.
Di ruangan yang sunyi, suara kecupan mereka terdengar jelas, berpadu dengan desah napas yang saling berkejaran.
“Eeumm… aku tidak bisa bernapas, Rash!” keluh Sofie di sela-sela ciuman.
Arrash akhirnya melepaskan pagutannya, menatapnya dengan senyum menyudut.
“Tadi kau begitu menantang ku. Sekarang malah terlihat ciut,” sindirnya.
“Si-siapa yang ciut…” Sofie cepat-cepat menyangkal, wajahnya memerah. “Aku hanya kesulitan bernapas karena kau mencium ku terlalu lama.”
Arrash menyeringai tipis. Jemarinya mulai menyusuri paha Sofie dengan hati-hati. Lalu menurunkan celana dalam Sofie perlahan-lahan.
Jantung Sofie berdegup kencang. Pertama kalinya ia melihat Arrash benar-benar tenggelam dalam hasrat.
Pria yang selalu terlihat terorganisir itu mulai melakukan sesuatu yang nakal.
Napas Sofie tercekat. Begitu celana dalamnya turun ia merasakan jemari Arrash mulai bermain di bagian kewanitaannya.
"Arrash... Jangan disana dulu!" Bisik Sofie. Suaranya bergetar.
Arrash terhenti, menatapnya bingung. Raut wajahnya menunjukkan sedikit rasa malu, seolah ia baru saja melakukan sebuah kesalahan. “Apa maksudmu?” gumamnya ragu.
Sofie meraih tangan Arrash lalu menuntunnya lebih ke atas, menaruhnya di dadanya. “Mulai dari sini dulu. Kau benar-benar tidak punya pengalaman, ya?” ucapnya sambil menatap geli, meski matanya berkilat.
Mata Arrash membola. Namun tubuhnya bergetar hebat apalagi ia merasakan dengan jelas gundukan kenyal milik Sofie yang tak di lapisi bra itu.
“K-kau bicara seolah sudah berpengalaman,” suaranya parau, penuh kecurigaan. “Apa kau pernah melakukan hal ini dengan pria lain?” Tatapannya mendadak sendu, seakan ada rasa kecewa yang ia tahan.
Sofie tercekat. Ingatannya melayang pada kehidupan pertamanya. Dulu ia memang sering melakukan hubungan intim dengan Andreas. Namun di kehidupan keduanya ini, hal itu belum pernah terjadi.
Ia cepat-cepat menggeleng. “Mana mungkin aku sudah melakukannya? Kau tahu sendiri betapa tegasnya Papa. Dia bahkan melarang ku dekat dengan pria lain, karena katanya aku sudah menjadi milikmu.”
Tatapan Arrash sedikit melembut, meski sorot matanya masih dihantui keraguan.
“Aku tidak berbohong! Aku juga baru pertama kali melakukan ini. Hanya saja…” sambung Sofie menunduk sedikit, wajahnya memerah. “Aku sering menonton film dewasa, dan biasanya para lelaki memulainya dari bibir, lalu leher, d**a dan terakhir baru ke bawah sana. Itu urutan yang benar, bukan?” jelasnya polos.
Arrash terbelalak, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tawanya lepas, nyaring, dan sama sekali berbeda dari sosok dingin yang selalu ia tunjukkan.
“Sial! Kupikir kau cuma gadis kaya yang terkurung di istana megah yang tidak tahu apa-apa! Ternyata kau malah lebih pintar dariku,” ujarnya masih sambil terkekeh, suaranya hangat.
Sofie menatapnya dengan mata melebar. Dadanya terasa hangat melihat pemandangan itu. Baru kali ini ia melihat Arrash tertawa selebar itu.
Namun Sofie langsung mengernyitkan dahi, bibirnya manyun. “Kau sebenarnya sedang mengejekku atau memujiku?” tanyanya, ikut mencairkan suasana.
Arrash menyeringai, tatapannya nakal. “Tentu saja aku memujimu! Hanya saja…” Ia mendekatkan wajahnya, menurunkan suaranya seolah sedang menggoda. “Apa yang akan dipikirkan Om Fariz dan Tante Wina kalau tahu putri kesayangan mereka ternyata suka menonton film dewasa?” sindirnya tersenyum licik.