Wajah Sofie memerah, menahan malu. Ada rasa takut bercampur gugup, seakan kebiasaan buruknya menonton film dewasa benar-benar sudah terbaca jelas oleh Arrash. Ia hanya bisa menundukkan kepala, meski posisi tubuhnya di atas ranjang tetap saja terlihat begitu menggoda. Mata Arrash tak bisa lepas dari tubuh Sofie yang begitu menggiurkan. Lingerie tipis transparan itu benar-benar menguji kejantanannya. Hanya saja ia sadar kalau dia tak boleh melangkah lebih jauh dari ini karena hanya akan menyakiti Sofie di masa yang mendatang. Dengan helaan napas berat, Arrash akhirnya memilih untuk memunguti kemeja dan celana yang berserakan di lantai marmer. Ia mengenakannya kembali, tepat di hadapan Sofie. Mata Sofie membulat, tak percaya. “Loh… kenapa kau pakai baju lagi?” tanyanya polos, namun penu

