Setelah menyelesaikan sarapan yang telah dipersiapkan pihak hotel, Arrash dan Sofie memilih untuk langsung pulang ke kediaman mendiang orang tua Arrash. Di dalam mobil, keheningan terasa pekat. Tak ada percakapan yang terjalin di antara keduanya, hanya lantunan musik dari radio yang mengisi ruang mobil itu. Beberapa menit kemudian, mobil yang dikendarai Arrash membelok ke sebuah rumah mewah. Seketika, jantung Sofie berdebar kencang. Gelisah dan takut tiba-tiba menyergap dirinya. Ia masih mengingat jelas kenangan buruk yang tersimpan di rumah itu. Masa-masa pahit saat ia dan Arrash tinggal serumah namun nyaris tak pernah bertegur sapa. Yang paling menakutkan adalah bayangan kematiannya sendiri, saat ia ditembak oleh Arrash di tempat yang sama. Sofie meremas jemarinya sendiri di atas pan

