BAB 4 - USIL

1023 Words
"Punya anak gadis, kok kebiasaannya bangun siang. Tiap hari males-malesan terus. Memang harus di nikahkan biar gak males lagi." racau mama di pagi hari yang indah ini. Setiap pagi mama datang ke kamarku untuk membangunkanku sembari membuka gorden yang ada di kamar agar cahaya matahari di pagi hari masuk ke dalam kamarku. "Mam Tania gak mau nikah dulu, Tania masih pengen clubbing.." cicitku dengan keadaan mata yang masih terpejam. Bug.. Bug.. Bug.. Mama memukulku dengan bantal yang ada di ranjangku dengan keras sehingga membuatku langsung duduk dan melindungi tubuhku dengan bantalku. "Clubbing kamu bilang? Coba bilang sekali lagi!" kata mama tampak geram denganku. "Clubbing mam." jawabku tenang. Toh mama sendiri yang menyuruhku untuk mengatakannya sekali lagi. Mama kembali memukulku dengan bantal yang masih ada di genggamannya kesekian kalinya. "Mama jadi pengen cepat cepat nikahkan kamu kalau tingkah kamu aja sebandel ini. Mama yakin Alvin yang paling cocok sama kamu!" kata mama. "Mam! Tania itu masih 16 tahun. Mama yang benar aja sih mau nikahkan Tania sama guru gak jelas itu." elakku. memang apa bagusnya seorang guru matematika itu, mungkin dia hanya memiliki nilai plus pada wajahnya, selain itu gak ada bagus bagusnya. "Kamu bilang dia guru gak jelas. Sedangkan nak Alvin Darren itu lulusan s2 Stanford University, California dengan predikat terbaik. Dan kamu yang udah di keluarin dari banyak sekolah mending sekarang belajar yang baik sama Alvin." omel mama. Okay aku sudah mendengar hal ini keluar dari mulut mama sekitar 10 kali. Dia yang terus-terusan membanggakan Alvin di hadapanku. Dan aku sama sekali tidak peduli dengan hal itu. Mungkin ini termasuk sifat bawaan daripada seorang emak-emak yang suka membandingkan anaknya dengan anak tetangga atau anak orang lain. "Tania mau siap-siap sekolah. Mama kalau mau masih disini gak apa-apa." ucapku beranjak pergi meninggalkan mama. Aku pergi menuju ke kamar mandi dan bersiap untuk pergi kesekolah. Sembari berjalan menuju ke kamar mandi tak henti hentinya aku menghujat seorang Alvin Darren. "Memangnya apa bagusnya sih dia?" dumelku kesal. kenapa dia bisa semudah itu memenangkan hati mamaku. Pada intinya adalah yang saat ini ada di benakku, segala hal yang berhubungan dengan perjodohan merupakan pemaksaan dari orang tua. Lagipula kalau memang si Alvin Darren yang mamaku selalu puji-puji itu menerima perjodohan ini, aku rasa ada yang salah dengan otaknya. Dia bisa memilih banyak gadis yang lebih baik dariku, maksudku tidak denganku yang terlihat dari tampang luarnya dan pendidikanku pun tidak setara dengannya. Umur kami pasti juga terpaut cukup jauh. Intinya kalau Alvin menerima perjodohan ini, dapat di pastikan ada yang geser dengan otaknya yang selalu dibilang cerdas itu. -o0o- "Mam sarapannya sandwich lagi? Tania kan mau makan nasi mam. Gak kenyang kalau sandwich mam." protesku pada mama. Perutku ini berjiwa lokal sekali ya, gak bisa kenyang kalau belum bertemu dengan nasi. "Udah kamu makan itu. Kalau mau makan nasi bangun yang pagi siapin sendiri." jawab mama. "Yahh kok gitu sih mam.." protesku sekali lagi. "Udah buruan di makan.. Nak Alvin sudah tungguin kamu di depan." kata mama sembari menyeruput teh rosellanya dengan khidmat dan tenang. UHUK! Dengan gerak spontan sekali aku rasa roti yang tengah aku kunyah itu langsung tertelan tiba-tiba saat mama menyebutkan nama Alvin di hadapanku. Mau apa pak guru itu datang ke rumahku sepagi ini? padahal aku berniat untuk kabur dan tidak masuk ke sekolah, tapi kalau pak guru itu kemari untuk mengantarkan aku pergi ke sekolah, maka seluruh rencanaku akan terbuang sia-sia. "Kak Alvin ngapain mam disini pagi-pagi?" tanyaku pada mama. "Ya antarin kamu berangkat sekolah, kemaren tante Yunita yang suruh dia buat antar jemput kamu. Dan ternyata nak Alvin gak keberatan dan mau melakukan itu." ujar mama santai. "Maaam.. Kenapa gak bilang dulu sih sama Tania? Lagipula Tania gak perlu supir juga, kenapa harus dia yang antar jemput Tania sih. Terus gimana kalau Tania jadi bahan gosipan di sekolah kalau ternyata guru Tania itu supirnya Tan-" belum sempat aku menyelesaikan ocehanku, mama sudah membungkam mulutku dengan satu slice sandwich. "Bisa-bisaya anggap calon suami sendiri malah dibilang supir. Udah buruan kamu berangkat sana! Udah jam berapa ini." omel mama sembari berancang-ancang ingin mencubitku. Sebelum cubitan itu melayang ke lenganku, lebih baik aku  memilih untuk mengibarkan bendera putih pertanda menyerah dan kabur sejauh mungkin agar tidak terkena cubitan plus omelan khas dari mamaku. "Ya sudah. Tania berangkat dulu mam.. Jangan lupa nanti top up saldo ov* nya Tania oke?" ujarku seusai aku mencium punggung tangan mama kemudian mengibrit berlari ke depan. Sampai di ruang tamu aku langsung melihat Alvin yang duduk sofa sembari membaca koran harian terbaru yang selalu tersedia dibawah kolong meja ruang tamu. Idih lihat itu, udah kayak bapak-bapak aja. Alvin melepas kaca mata yang ia kenakan saat dia sadar dengan adanya kehadiranku. "Yuk berangkat." ajaknya. "Bapak sekarang jadi supir suka rela gue ya?" tanyaku usil. "Kamu bisa terlambat masuk ke kelas kalau tidak bergegas pergi." ucap Alvin dengan sopan. Aku menoleh ke sekitar tapi tidak mendapati siapapun kecuali aku dengan dirinya di ruang tamu yang berukuran cukup luas ini. "Bagus dong kalau terlambat. Jadi gue gak perlu ribet masuk ke sekolah lagi hehe." ujarku dengan santai. Au menjadi keheranan melihat kearahnya yang saat ini berbicara dengan gaya seformal itu saat ada di rumahku ini. Tapi saat dia ada di rumahnya, dengan se enaknya sendiri dia berbicara dengan gaya lo gue an dan terus berkata padaku kalau aku tidak boleh memanggilnya pak kalau diluar lingkungan sekolah, dan dia bilang sendiri kalau memintaku untuk memanggilnya kak. Menyusahkan sekali. "Tania Valerie.. Pergi sekarang yuk? Aku gak mau kamu di hukum karena terlambat." ujar Alvin dia hendak mengamit tanganku untuk di bawanya pergi masuk ke dalam mobilnya dan berangkat ke sekolah bersama dengannya. Ini gila! Hal yang sama sekali tidak pernah terbesit di pikiranku sedikitpun. Di jemput ke rumah dan berangkat ke sekolah bersama dengan guru sekolahku yang sekaligus dia adalah orang yang dijodohkan denganku. "Eh.. Eh. Itu tangan mau ngapain, gue bisa jalan sendiri. Jangan ngadi-ngadi ya lo!" ujarku padanya, saat dia berusaha mengenggam tanganku tanpa persetujuan dariku. "Tania! Masih belum berangkat juga? Jangan harap mama transfer uang saku kamu ya hari ini kalau sampai kamu terlambat." ancam mama, yang nongol di samping lemari yang ada di ruang tamu. "Kita udah mau berangkat kok tante." ujar Alvin, dia menggenggam tanganku dan menarikku secara sepihak. Aku tidak bisa meronta-ronta kalau disana ada mamaku yang tengah mengawasi pergerakanku. Dan pada akhirnya aku hanya bisa pasrah dan pergi dengan Alvin. Di pagi hari yang cerah ini aku mengawali hariku dengan memasang wajah masamku karena Alvin yang menghancurkan Moodku yang semulanya baik-baik saja. Lihat saja pembalasan dariku Alvin Darren! Nantikan saja. Aku akan buat kamu menyerah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD