Mbah Suro masih penasaran pada pria yang mengeluarkan aura keemasan. Itu sebabnya dia belum bertindak nyata. karena dia ingin tahu sampai dimana batas kemampuan pria itu dan mengapa dia bisa mengeluarkan aura itu. Namun pagi ini ada sesuatu yang membuatnya kesal. “Maaf, Mbah. Kami membatalkan permintaan ritual itu. Biarlah roh Menik tentram. Jangan diganggu lagi,” pinta Pak Juno. “Bagaimanapun dia adalah anak kami. Kami ingin memberinya ketenangan untuk jiwanya di sana,” timpal Bu Marni dengan mata berkaca-kaca. Wajah Mbah Suro berubah suram. Dia tahu persis seperti apa watak manusia-manusia di depannya. Mereka itu serakah! Bahkan mereka rela mengorbankan darah dagingnya sendiri demi kesejahteraan mereka. Mengapa sekarang mereka berpura-pura seolah anaknya adalah yang paling penting di

