“Mengapa dia belum sadar, Pakne? Bagaimana kita menjelaskan pada pengacara itu? Waktunya sudah dekat. Kalau Menik ndak muncul, harta warisannya akan dihibahkan pada yayasan sosial.” Bu Marni menatap gemas pada raga Menik yang terbaring di ranjang dengan selang-selang infus dan peralatan medis yang terhubung ke lengannya. “Sayang sekali, Bukne. Eman. Kita yang sudah merawat dan membesarkan Menik. Mengapa orang lain yang menikmati harta yang seharusnya menjadi milik Menik kita?” Bu Marni mengangguk dengan ekspresi wajah tak rela. Sama dengan suaminya, dia juga tak rela harta Menik jatuh pada yayasan sosial yang tak berperan sama sekali untuk membesarkan Menik. Tentu mereka lebih berhak daripada yayasan abal-abal yang tak jelas itu, kan? “Lantas kita harus bagaimana?” gumam Bu Marni bi

