Daniella menatap kosong panitia yang berbicara dengannya sejak tadi. Debaran jantungnya yang menggila membuatnya kehilangan fokus. Dalam hatinya Daniella mengumandangkan sumpah serapah karena Jonathan berhasil membuatnya khawatir akan kesehatan jantungnya sendiri. “Daniella!” panggilan dengan suara cukup keras itu membuat Daniella tersadar. “Hah?” “Kok malah hah sih? Itu ditanyain sama kakak panitia!” tegur Christine gemas. “Ah, maaf! Sepertinya aku terlalu lelah sehabis bertanding,” Daniella beralasan. Kakak panitia itu tersenyum maklum lalu kembali menjelaskan tentang pertandingan berikutnya pada Daniella. Sepuluh menit kemudian mereka bertiga keluar dari ruangan. Daniella melihat Jonathan masih setia menunggunya di lobby. Pria muda itu bersandar pada dinding di dekat lift sambil me

