Lagu romantis yang berkisah tentang seorang pria yang tidak menyerah mengerjar cintanya mengalun lembut dari radio saat Jason sedang mengendarai mobil menuju apartemennya. Jason teringat kejadian beberapa hari yang lalu. Kunjungan ke tempat Lilia yang sekarang tinggal bersama saudara sepupunya seharusnya menjadi kunjungan yang menyenangkan. Tadinya niat Jason mengajak Daniella bersamanya adalah untuk mengenalkan Daniella sebagai pacarnya kepada Lilia. Yang terjadi malahan membuat Jason tidak bisa melaksanakan niatnya itu. Bisa-bisanya Lilia malah melempar bom yang menyakitkan tepat di depan wajahnya.
Tepat seperti lagu itu, sebenarnya Jason sangat ingin untuk tidak menyerah begitu saja. Tetapi kenyataan bahwa mereka adalah sepupu itu adalah hal yang tidak bisa diabaikan. Tentu saja banyak orang tau bahwa pernikahan antara saudara itu tidak diperbolehkan, karena anak-anak yang lahir dari pasangan tersebut bisa saja memiliki kelainan sejak lahir. Penghalang cinta Jason terlalu besar.
Yang membuat Jason semakin pusing adalah sikap Daniella yang seakan menghindarinya. Jason merasa bingung sekaligus cemas akan perubahan sikap Daniella yang mendadak. Mau tak mau Jason jadi berpikir mungkinkah Daniella sudah tau kenyataan bahwa mereka adalah saudara tiri dan jadi membencinya?
Bagaimana pun, sepengetahuan Jason, semua masalah ini berawal dari Ray, pamannya yang paling muda yang sangat jarang ditemuinya. Karena perasaan cinta yang begitu besar terhadap mama Daniella di masa lalu, Ray jadi berbuat kesalahan, dan tragisnya itu melibatkan Mikha. Sehingga terjadilah kekacauan ini, mereka menjadi saudara tiri. Jadi wajar saja kalau Daniella membencinya setelah tau kenyataan bahwa mereka adalah saudara tiri.
Dering ponsel yang membahana mengalihkan Jason dari pikiran-pikirannya yang sudah mulai berantakan seperti benang kusut. Ada yang menelponnya. Tulisan ‘Uncle Michael’ tertera pada layar ponselnya. Jason menekan tombol gagang telepon berwarna hijau dan tak lama suara pamannya pun terdengar dari ujung yang lain.
"Jason, kamu sedang ada di mana sekarang?"
"Aku sedang dalam perjalanan pulang ke apartemen, Uncle Michael. Ada apa mencariku?"
"Kamu tau ke mana Mommy kamu pergi?"
"Aku tidak tau, tapi aku pikir Mommy pasti bertemu dengan temannya kalau beliau tidak terlihat di rumah."
"Apa Mommy kamu sering seperti itu?"
"Keluar rumah untuk bertemu teman? Tidak, Uncle. Mommy hanya sesekali saja melakukannya, mommy lebih sering berada di rumah atau pergi ke kantornya."
"Hm, begitu. Sekarang Uncle sedang ada di apartemen kalian. Kira-kira kapan kamu sampai?"
"Mungkin lima belas menit lagi aku sampai di apartemen, Uncle."
"Baiklah. Kalau kamu suda sampai sekalian hubungi Mommy kamu dan suruh dia untuk cepat pulang. Uncle tidak bisa menghubunginya dan sebenarnya ada yang ingin Uncle bicarakan dengan Mommy kamu."
"Baiklah, Uncle Michael! Aku mengerti."
"Okay. See you, boy."
KLIK.
Jason menjadi was-was dengan kelakuan uncle-nya yang aneh itu. Kenapa mendadak uncle Mike ada di rumah kami? Bukankah seharusnya minggu depan uncle baru kembali lagi ke Jakarta? Apa jangan-jangan uncle sudah tau kalau aunty Lila ada di Jakarta sekarang? Ah, ini gawat!
Jason mempercepat laju mobilnya sampai-sampai kendaraan-kendaraannya di sekitarnya membunyikan klakson tanda protes. Tidak peduli dengan klakson yang memekakan telinga itu Jason malah menambah lagi kecepatan laju mobilnya. Hingga tak sampai sepuluh menit kemudian Jason tiba di gedung apartemennya.
Terparkirnya mobil mewah berwarna silver dekat dengan tempat mobilnya parkir menjadi bukti Michael sudah berada di gedung apartemennya. Kelihatannya Michael. Michael menyewa beberapa tempat parkir untuk mobilnya sendiri, mobil Mikha, dan mobil Jason parkir di gedung apartemen supaya tidak perlu repot-repot mencari tempat parkir yang kosong. Jason bersiul melihat mobil milik Michael, sepertinya Michael tau betul memilih mobil yang cocok untuknya, dan tentunya mobil ini sangat mencolok sekali untuk dikendarai di Indonesia karena termasuk kategori mobil mewah.
Jason keluar dari mobil dan memencet tombol pada kunci mobilnya agar mobilnya itu terkunci. Setelah memastikan mobilnya dalam keadaan terkunci dia pun melangkah masuk ke dalam gedung dan naik ke lantai dua puluh tujuh di mana apartemen tempat tinggal dirinya dan ibunya berada.
Jason membuka pintu apartemennya sepelan mungkin dan memperhatikan sekelilingnya. Michael tidak ada di ruang tamu, berarti yang tersisa hanya ruang kerja. Jason hafal betul kebiasaan Michael, jika ingin bicara sesuatu yang penting Michael tidak mau di tempat lain selain ruang tamu atau ruang kerja. Kalau tidak ada keduanya biasanya menggunakan ruangan yang di pakai untuk belajar atau bersantai. Benar saja, Michael berada di ruang tempatnya belajar, yang dibuat mirip ruang kerja Michael di rumah mereka di Amerika.
"Uncle," Jason menyapa pada pria paruh baya yang sedang duduk bersebelah dengan seorang wanita yang kelihatannya hanya lebih muda dari pamannya. Jason mengenali wanita muda itu, namanya Annabeth Linkins. Michael berhubungan dengannya setelah bercerai dengan Lilia. Hubungan mereka terlihat seperti hubungan tanpa ikatan, atau lebih seperti partner s*x mungkin? Entahlah, Jason tidak tau karena Jason tidak pernah melihat Michael membawa Annabeth untuk pergi ke acara perusahaan atau acara-acara penting lainnya. Menurut Jason bagus juga kalau Michael tidak punya hubungan lebih dengan wanita itu, karena Jason tidak pernah menyukai Annabeth, begitu pula ibunya.
"Jason, duduklah," Michael sambil menunjuk sofa kosong di depannya.
Jason pun duduk di sofa tersebut, "Ada apa, Uncle? Kenapa tidak memberitahukan kedatangan uncle terlebih dahulu pada kami? Kalau aku tau uncle akan datang pasti aku akan menjemput uncle di bandara."
"Kedatangan Uncle ke sini pun tidak masuk dalam rencana pekerjaan. Tadi begitu mendapat kabar kolega penting Uncle meninggal karena kecelakaan, Uncle langsung terbang ke Jakarta. Lagipula Uncle ada mobil di Jakarta, jadi tidak ada masalah."
"Lalu sekarang Uncle mau ke rumah duka?"
"Tidak, besok Uncle akan ke sana sekalian mengikuti acara pemakamannya. Kamu dan Mommy kamu juga harus ikut. Bersiap-siaplah!"
Walau tidak mengerti mengapa Jason harus ikut ke pemakaman besok tetapi dia hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah selesai berbicara, mereka bertiga keluar dari ruang kerja bersama-sama. Michael dan Annabeth kembali ke kamar yang memang sudah di siapkan kalau ada tamu. Jason juga kembali ke kamarnya sendiri. Di dalam kamar Jason menghembuskan napas lega. Kedatangan mendadak Michael tidak ada hubungan Lilia. Untung juga Michael tidak mengetahui kalau Jason sudah menemukan Lilia. Tapi Jason tidak tau apakah Michael mengetahui bahwa Lilia juga ada di Jakarta saat ini.
Jason berpikir karena masih ada waktu beberapa jam sebelum malam tiba jadi Jason memutuskan untuk mengerjakan tugas kuliahnya terlebih dahulu. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk menyelesaikan essay bahasa Inggris yang di tugaskan dosennya. Jason yang lahir dan besar di luar negeri sudah sangat menguasai bahasa Inggris. Mendadak terlintas sebuah nama di benaknya yang mungkin akan kesulitan mengerjakan essay bahasa Inggris ini, yaitu Daniella.
Padahal baru tadi Jason bertemu dengan Daniella, tapi Jason sudah merindukan Daniella. Ini sinting. Selama ini Jason berhubungan dengan banyak wanita, sengaja tidak ingin serius berhubungan, agar tidak berakhir seperti Michael dan Lilia yang akhirnya berpisah. Tetapi takdir justru mempermainkannya, Jason pun merasakan jatuh cinta. Parahnya Jason jatuh cinta pada saudara tirinya sendiri.
Berusaha berhenti memikirkan Daniella, Jason memutuskan untuk menyalakan komputernya dan bermain game online yang belakangan ini sedang tren. Jason bermain game dengan cukup serius hingga tidak memperhatikan bahwa malam sudah tiba. Suara jam berdentang yang berasal dari ruang tamunya membuat Jason tersadar bahwa sudah waktunya makan malam. Jason pun mengecek jam tangan yang masih di pakainya sejak tadi pagi dan jam tangannya sudah menunjukkan pukul lima sore. Sudah waktunya bersiap-siap untuk makan malam kalau begitu. Jason logout dari game, mematikan komputernya, bangkit dari kursi, merengangkan tubuhnya sejenak, lalu keluar dari kamarnya.
“Uncle, waktunya makan malam!” teriak Jason seraya berjalan menuju dapur.
***
Mikha kembali ke apartemen pukul delapan malam. Ketika melihat Michael menunggu di ruang tamu, dia jadi sedikit gugup, tetapi kegugupan itu hilang setelah melihat Annabeth melangkah masuk ke ruang tamu dari arah dapur. Annabeth membawa secangkir kopi hitam pekat yang asapnya masih mengepul pada Michael dan meletakkannya di hadapan pria berwajah datar itu tanpa kata. Michael menatap kopi itu lalu mengangguk pada Annabeth. Annabeth yang paham apa yang dimaksud oleh Michael langsung berdiri lalu kembali ke kamar tamu.
“Duduklah, Mikha.”
Dengan sedikit enggan Mikha duduk di sofa di hadapan Michael, “Kakak mendadak kembali ke Jakarta apakah ada masalah dengan perusahaan?”
“Tidak, aku hanya perlu menghadiri pemakaman kolega esok hari.”
Mikha mengangguk paham.
“Kamu tidak bertanya apa ada yang ingin aku bicarakan?”
“Aku sudah paham kalau kakak menyuruhku duduk berarti ada yang ingin kak Michael bicarakan denganku. Jadi, apa yang ingin kakak bicarakan denganku?”
“Sejak kembali ke Jakarta sepertinya kamu jadi sedikit sibuk, Mikha,” ada nada peringatan dalam suara Michael, membuat Mikha nyaris tidak bisa menahan dirinya untuk mendengus, karena Michael masih saja memperlakukan Mikha seperti anak kecil.
“Aku hanya bertemu beberapa teman lama.”
“Teman sekolah?”
“Iya bertemu dengan teman-teman saat sekolah menengah.”
“Aku kenal?”
“Astaga, jangan berlebihan begitu, kak! Aku kan bukan anak kecil lagi.”
Michael menghela nafas panjang, “Sebenarnya bukan itu yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Lantas apa yang ingin kak Michael tanyakan sebenarnya?”
“Apa kamu tau Lilia sudah tidak tinggal lagi di Amerika?”
Mikha sangat terkejut sehingga tanpa sadar dia menarik nafasnya tajam.
“Kamu sudah tau rupanya. Dan sepertinya kamu sudah tau tentang permasalahanku dengan Lilia. Sudah berapa lama kamu tau?”
Wajah Mikha semakin bertambah pucat, “A-apa maksud kakak?”
Michael memijit pangkal hidungnya. Ini tidak akan mudah.
“Ka-kalau sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, aku akan kembali ke kamar untuk berganti pakaian, kak.”
“Pergilah.”
Setelah mendapat izin itu Mikha segera mengambil langkah seribu menjauh dari kakak laki-lakinya itu, tapi alih-alih ke kamarnya, Mikha mengetuk kamar puteranya yang terletak di sisi lain.
“Siapa?”
“Jason, Mommy perlu bicara.”
“Masuklah, Mom.”
Mikha memastikan Michael tidak berada disekitar kamar Jason sebelum menutup pintu kamar puteranya itu dan menguncinya. Mikha menatap Jason dengan wajah pucat dan tatapan ngeri terpancar di matanya. “Jason, apa kamu mengatakan sesuatu tentang Aunty Lila pada Uncle Michael?”
“Hah? Tentu saja tidak, Mom. Aku kan tidak gila! Buat apa aku mengatakan itu pada Uncle Michael. Memangnya kenapa sih? Kenapa wajah Mommy sampai pucat begitu?”
“Uncle Mike tadi bertanya soal Aunty Lila pada mommy. Sepertinya Uncle sudah tau kalau Aunty Lila sudah tidak tinggal di Amerika.”
Jason memalingkan wajahnya menatap Mikha dan matanya membelalak lebar, “Mommy bercanda kan?”
“Buat apa Mommy bercanda tentang ini, Jason! Lalu bagaimana Uncle Michael tau tentang Aunty Lila? Apa Uncle Michael tau kalau Aunty Lila ada di Jakarta? Aduh, apa yang harus Mommy lakukan?!” tanya Mikha yang sedang berjalan mondar-mandir sambil sesekali menatap ke arah pintu dengan cemas.
Jason bangkit berdiri lalu menghampiri Mikha dan berusaha menenangkannya, “Tanyakan pada aunty Lila, Mom. Apa Aunty mendengar kabar tentang Uncle belakangan ini? Kalau uncle sudah tau keberadaan aunty Lila bukankah Uncle pastinya akan langsung menemui Aunty Lila, Mom?”
Mikha mengangguk. Benar seharusnya dia langsung melakukan itu, bukannya malah di sini dan membuat puteranya cemas, “Akan Mommy atasi ini.”