Daniella kembali ke rumahnya tepat sebelum makan malam. Maka dari itu hal yang pertama Daniella lakukan ketika sampai ke rumah adalah mandi lalu menemani kedua orangtuanya makan malam. Hari ini lagi-lagi kakak laki-lakinya absen dari acara makan malam bersama yang biasa mereka lakukan setiap hari sebisa mungkin. Daniella yang sudah menduga ini pun diam-diam tersenyum sinis dan merasa ketenangan ini tidak akan bertahan lama. Pasti akan datang lagi saat-saat Daniel terpuruk karena ulah Irene. Daniella paham kalau orang-orang seperti Irene yang kembali hanya saat butuh pastilah akan kembali menjadi sumber segala masalah.
Seperti disetujui tak kasat mata, kedua orangtuanya pun tidak berkata apa-apa mengenai absennya Daniel saat makan malam. Daniella yang kebingungan dengan ketenangan kedua orangtuanya pun tidak tahan untuk tidak bertanya, “apa kalian tidak akan bertanya ke mana bang Daniel pergi?”
“Papa sudah tau dari Yuri.”
Daniella terbatuk-batuk begitu mendengar jawaban papanya. Karina dengan sigap menyerahkan segelas air mineral pada Daniell yang Daniella teguk penuh terima kasiht
“Apa yang om Yuri katakan pada papa?” Tanya Daniella sedikit kesal. Pasalnya Yuri sudah berjanji padanya untuk tidak mengatakan apapun tentang pencarian itu pada Albert.
“Cukup banyak.”
Jawaban itu membuat Daniella menghela nafas panjang.
“Kenapa kamu membantunya, Daniella?” tanya Albert menatap puterinya dengan pandangan heran.
“Papa tau bagaimana Daniel bisa berubah menjadi pemaksa kadang-kadang. Lagipula aku tidak tega dengan tampang sedihnya itu.”
Kali ini giliran Albert yang menghela nafas panjang. Albert pun paham kalau puterinya terkadang tidak bisa menolak permintaan kakak laki-lakinya. Kedua anaknya saling menyayangi dan tentu saja itu hal bagus, tapi tidak untuk hal ini. Daniella sangat akrab dengan sahabatnya bahkan sampai mengenal keluarga masing-masing. Apa yang akan Albert katakan pada orangtua Christine kalau mereka tau putera sulungnya sudah mempermainkan puteri mereka? Masalah puteranya ini benar-benar membuat kepala Albert sakit seperti tertusuk ribuan jarum.
“Aku sudah membicarakan ini dengan Christine. Dia tidak baik-baik saja, tetapi papa tenang saja, kan ada kami berdua yang selalu menemani Christine.”
“Kami mengerti, Daniella sayang. Kita lanjutkan makan malamnya dulu baru berbicara lagi kalau memang perlu,” Karina mengelus pelan rambut Daniella.
“Tenanglah, Daniella. Papa akan membicarakan hal ini dengan kakakmu. Sesekali anak itu memang perlu dihajar!” tegas Albert tak terbantahkan.
“Albert!” Karina terkejut sekali melihat Albert marah sampai ingin menghajar puteranya.
“Aku sudah selesai!” Albert bangkit berdiri dan berlalu pergi dengan cepat. Kedua wanita cantik yang ditinggalkan hanya bisa menghela nafas.
“Apa Bang Daniel akan baik-baik saja?”
Karina menggelengkan kepalanya. “Mama tidak bisa melakukan apa-apa kalau Papa bersikap tegas karena memang Daniel sudah keterlaluan. Sepertinya kakakmu itu lupa bagaimana keadaannya dulu saat berpisah dengan Irene, seberapa lama kita perlu menyakinkan Daniel bahwa semuanya akan baik-baik saja pada akhirnya. Kalau Papamu bisa menyadarkan Daniel, bukankah itu bagus?”
Setelah makan malam, Daniella kembali ke kamarnya. Mengerjakan tugas-tugas kuliahnya lalu belajar untuk ujian tengah semester yang diakan dilaksanakan dua minggu lagi. Walau dia tidak sepintar kakak laki-lakinya itu dan tidak bisa membuat kedua orangtuanya bangga dengan menjadi juara kelas, Daniella tetap selalu berusaha keras dalam pelajarannya karena tidak ingin mengecewakan kedua orangtuanya. Daniella berpikir, menjadi anak perempuan yang baik dan penurut, mendapatkan nilai yang cukup baik serta lulus kuliah tepat waktu sudah merupakan hadiah yang sangat bagus untuk kedua orangtuanya.
TOK TOK TOK!
“Masuk!” ucap Daniella tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
“Daniella,” panggil Karina pelan sambil menepuk pundak Daniella.
“Ada apa mama ke kamarku malam-malam begini?”
“Mama menganggu ya?”
“Tidak, Mama, aku hanya sedang mengulang bahan kuliah untuk persiapan ujian saja.”
“Apa jalan-jalan kamu tadi menyenangkan?”
Daniella mengangguk, “Menyenangkan kok, sudah lama tidak melakukan itu dengan mereka.”
“Baguslah. Oh iya, Daniella, apa kamu sekarang bisa berbicara dengan Mama?”
“Bukannya kita sedang berbicara sekarang, Mama?"
"Bukan begitu, maksud Mama membicarakan hal lain secara serius."
"Ada apa?”
“Mama sudah membicarakan ini dengan papamu dan mama memilih membicarakan satu hal ini berdua dengan kamu saja.”
“Serius banget sih Mama ini.”
“Ini memang hal serius, Daniella!”
“Hm, baiklah. Ada apa?”
“Sebelumnya Mama ingin bertanya satu hal. Kamu menyukai Jason?”
“Hah?”
“Jawab saja pertanyaan Mama, Daniella.”
“Tentu tidak, Mama. Aku hanya menganggap Kak Jason sebagai teman sekaligus senior saja. Ya walaupun awalnya keberadaannya sedikit membuat aku kesal, tetapi Kak Jason bukan orang yang jahat kok.”
Karina mendesah lega. “Syukurlah kalau begitu.”
“Memangnya apa hubungannya itu dengan apa yang akan mama katakan padaku?”
“Mama sudah pernah cerita sebelumnya kan kalau kakakmu memiliki papa yang berbeda dengan kamu? Lalu setelah berpisah dari papa kandung Daniel, Mama dekat dengan papa kamu sampai pada akhirnya kami menikah.”
Daniella mengangguk.
“Ada banyak hal yang terjadi setelah itu. Mama tidak menceritakan detailnya sekarang, tapi...“ Karina terdiam sejenak, “mama hanya bisa mengatakan Jason adalah saudara tiri kamu."
"Maksudnya?"
"Jason adalah anak kandung papa kamu dengan adik dari suami Aunty Lila.”
“Apa?”
***
Seumur hidupnya baru kali ini Daniella sangat amat terkejut dengan sesuatu yang dikatakan Karina padanya. Ditambah lagi hal kemarin bukanlah hal yang biasa dibicarakan oleh seorang anak dengan seorang ibu. Lagipula apa-apaan itu, tiba-tiba Daniella jadi punya seorang saudara lagi? Saudara tiri pula. Daniella memijat kepalanya yang mendadak pening karena teringat pembicaraan kemarin.
Daniella berpikir mengenai sikap Jason dari awal bertemu hingga terakhir bertemu di rumahnya kemarin, sepertinya pemuda itu sama tidak taunya dengan dirinya tentang hal ini. Tetapi sekarang apakah Jason sudah tau kalau mereka adalah saudara tiri?
“Kenapa kamu?” tanya Maria begitu dia duduk di sebelah Daniella.
Daniella menggelengkan kepalanya.
“Benar tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa,” Daniella menghela nafas.
Daniella merasa tidak mungkin dia menceritakan hal ini pada sahabatnya. Keluarganya sungguh kacau. Bukankah sudah cukup dengan kenyataan bahwa Daniel bukannya kakak seibu dan seayahnya, sekarang ditambah dengan kenyataan bahwa dia memiliki seorang saudara tiri lagi? Parahnya lagi, saudara tirinya itu ternyata adalah seniornya yang paling menyebalkan seantero fakultas, yaitu Jason Evans?
“Kamu tidak terlihat tidak baik-baik saja, tetapi kalau kamu tidak ingin mengatakannya ya tidak apa-apa. Aku tidak akan bertanya lagi.”
“Terima kasih, Maria.”
Ketika Christine datang dia pun melihat Daniella dengan pandangan bingung, tapi melihat isyarat dari Maria yang mengatakan ‘jangan katakan apa-apa’ maka tidak ada lagi yang bisa Christine lakukan selain diam dan menyimak materi perkuliahan. Selesai kelas mereka bertiga menuju kantin seperti biasa untuk makan siang bersama. Daniella yang sedang memilih menu makan siangnya tidak sengaja melihat Jason sedang memesan jus buah di stand yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Daniella?” Jason menyapanya ketika Daniella sedang melamun memikirkan pembicaraannya dengan mamanya semalam.
Daniella langsung tersadar dan bergegas pergi menuju meja di mana Maria duduk menunggu. Daniella mengambil tas ranselnya dan melampirkannya ke pundak kanannya, “aku pulang dulu, aku ada urusan!”
Tanpa menunggu jawaban Maria, Daniella berlari menuju pintu kantin dan berbelok ke arah lift yang menuju lantai atas parkiran mobil di kampusnya. Jason yang melihat Daniella berlari keluar mengejarnya, tetapi tidak berhasil karena Daniella sudah keburu masuk ke dalam lift. Jason kembali ke tempat Maria duduk dan bertanya, “ada apa dengannya?”
“Aku tidak tau. Sejak di kelas dia sudah bersikap aneh,” Maria menggelengkan kepalanya.
Jawaban Maria membuat Jason semakin bingung dan cemas. Apa yang terjadi padanya?