TENTANG DANIEL DAN IRENE

1672 Words
Daniella membiarkan kertas file bertebaran di meja belajarnya. Setelah mendapatkan pesan dari Maria yang menunjukkan foto kakak laki-lakinya duduk berdua di sebuah restoran bersama seorang wanita yang Daniella kenali sebagai Irene. Melihat foto itu, emosi Daniella langsung naik. Daniella langsung melupakan pemikiran kusutnya mengenai suara Jason yang terdengar aneh saat menelponnya kemarin malam. Sekarang pikiran Daniella dipenuhi kakak laki-lakinya yang menyebalkan dan mantan pacarnya yang sama menyebalkannya. Sudah Daniella duga bahwa kakak laki-lakinya itu kembali pada mantan pacarnya, tidak perlu punya indera keenam untuk mengetahui hal itu, lihat saja sikap aneh sahabatnya, Christine, beberapa hari ini. Kecurigaan Daniella terbukti benar. Bahkan sebelum Daniella bantuan datang dalam bentuk Jason, semesta terlebih dahulu membantunya mendapatkan sebuah bukti dalam bentuk Maria. Daniella mengepalkan tangan kanannya erat sampai memutih dan kulit tangannya tergores kuku cantiknya yang panjang. Tamat riyawat kamu, bang Daniel! Hanya dengan foto yang dikirimkan Maria ini, Daniella memutuskan untuk bicara mengenai hal ini kepada kedua orangtuanya. Daniella tidak perduli apa yang akan ayahnya lakukan ketika mengetahui hal ini nanti. Daniella pun membalas pesan Maria bukan ke kotak chat pribadi, tetapi ke chat group mereka, “ayo kita bertemu besok siang, guys.” Untungnya besok adalah hari minggu. Sepulang beribadah besok siang, Daniella memutuskan akan langsung pergi menemui kedua sahabatnya. Daniella langsung merapikan meja belajarnya, menyimpan kembali lembar kertas file yang berantakan ke dalam binder dan memasukkannya ke dalam tas kuliahnya. Tidak lupa Daniella memasukkan buku-buku lainnya yang berkaitan dengan mata kuliahnya besok. Setelah beres, Daniella mengambil ponselnya kembali dan berbaring diatas tempat tidurnya. Segera Daniella membuka chat group untuk mengecek apakah ada diantara mereka yang sudah membalas pesannya. Maria Dumais : Oke. Di mana? Christine Halim : Boleh. Di mana? Kalau belum ditentukan tempatnya, gimana kalau di La Gardenia Cafe? Daniella tersenyum lega. Untunglah kedua sahabatnya mengiyakan ajakannya. Daniella Danuar : Oke, La Gardenia Cafe jam 1 siang ya. Daniella melemparkan ponselnya asal dan berbaring menyamping memeluk guling. Disaat seperti ini dia butuh menenangkan dirinya dengan cara tidur siang. Makanya sembari menghitung domba di pikirannya, Daniella pun perlahan masuk ke alam mimpi. Keesokan harinya Daniella duduk termenung sembari mengaduk Matcha Frappe yang dipesannya dua puluh menit lalu. Belum ada tanda kedatangan kedua sahabatnya, mereka telat sepuluh menit dari jam yang dijanjikan. Membuat Daniella bertanya-tanya, apa mereka berdua pergi bersama? Kalau mau pergi bersama bukankah setidaknya katakan terlebih dahulu pada Daniella, karena siapa tau Daniella ingin ikut menjemput salah satu dari mereka di rumahnya. Tidak ada yang bertanya atau pun memberitahukan apa pun padanya, membuat Daniella merasa sedikit sedih karena dibiarkan sendirian. Tepukan dipundaknya membuat Daniella mendongak ke belakang. Terlihat Leandro tersenyum manis sembari memegang kopi hitam dingin di tangannya. Daniella yang kebingungan harus memanggil apa pada Leandro pun hanya tersenyum lalu mempersilahkan Leandro duduk di depannya. “Kamu menunggu seseorang?” tanya Leandro begitu duduk di kursinya. “Iya, aku janjian ketemuan sama sahabat-sahabat aku.” “Sahabat?” “Best friend? Pokoknya aku sudah kenal mereka sejak SMA dan kebetulan kami bertiga berkuliah di kampus yang sama.” “Best friend, ya? Baiklah, aku paham.” “Sendirian, Kak?” tanya Daniella. Daniella berharap jawaban pria muda tampan dihadapannya ini adalah iya.Tetapi tentu saja, harapan itu musnah begitu saja ketika mendengar jawaban Leandro. “Jonathan lagi pesan minuman. Ngomon-ngomong, sorry ya. Bahasa indonesia aku sedikit terbatas. Maklum baru satu tahun belajar. Aku masih asing dengan beberapa kata. Apalagi kalau anak-anak muda seperti kalian berbicara, eh apa istilahnya? Bahasa gaul?” Daniella tertawa, “Oke, aku mengerti. Aku akan pakai bahasa indonesia yang baik dan benar kalau begitu.” Jonathan yang sudah selesai memesan minuman pun duduk disebelah Leandro dan tentu saja menatap Daniella dengan tatapan kedua matanya yang tajam. Hal itu mengundang kritikan keras dari Leandro. Sambil menyikut Jonathan, Leandro berkata dengan pedasnya bahwa tatapan seperti itu tidak akan membuat seorang gadis suka padanya. Reaksi Jonathan sudah bisa ditebak, Jonathan hanya menatap Leandro sinis lalu melengos tidak perduli. “Kalau begitu sepertinya kami perlu pindah tempat,” Leandro mengerti maksud Daniella yang berkata dengan serius bahwa dia menunggu kedua temannya, berarti ada yang harus mereka bicarakan dan itu penting. Leandro tidak mau menjadi penganggu. Mendengarkan pembicaraan penting orang lain juga tidak baik. Jonathan mengerutkan dahinya, “Kenapa kita harus pindah? Bukankah di sini masih ada cukup tempat?” “Tempat duduk yang kosong juga masih banyak,” Leandro tersenyum jahil. “Hentikan senyuman anehmu itu. Apa pun yang ada di pikiran kamu, bukan itu!” “Memangnya aku berpikir apa?” Jonathan berdecak kesal. “Gadis kecil ini sedang ada urusan. Sebaiknya kita tidak duduk di sini hari ini,” Leandro bangkit dari duduknya, “lain kali kita makan bersama, okay?” “Okay.” “Ayo pindah tempat, Jonathan!” “Baiklah,” Jonathan menghela nafas panjang. Daniella mengerutkan dahinya heran melihat ekspresi Jonathan yang tidak biasa. Biasanya pria itu hanya memasang wajah datar yang cukup membuat Daniella merasa sedikit takut pada pria itu, tetapi kali ini Jonathan berekspresi, ekspresinya yang diperlihatkannya cukup aneh pula. Kenapa dia? Apa yang dipikirkannya? “Sampai bertemu lain kali, gadis kecil!” Leandro mengedipkan sebelah matanya lalu pergi menyeret Jonathan untuk duduk di tempat lain. “Iya, kak. Sampai jumpa lain waktu.” Tepat ketika kedua pria muda tampan itu pergi, Maria datang bersama Christine dan langsung duduk di hadapannya. Daniella yang terkaget-kaget melihat kedua sahabatnya langsung duduk begitu saja dan tidak menyapanya hanya bisa menatap tanpa berkata apa-apa. Apa mereka sedang marah padaku? “Kenapa malah diam begitu? Itu tadi siapa?” tanya Maria. “Apa?” “Malah apa lagi,” Christine berdecak. “Oh, sorry. Dua orang yang baru saja pergi itu adalah Leandro dan Jonathan.” Mata kedua sahabatnya terbelalak, “Serius?” Daniella mengangguk, “Dulu pernah ketemu mereka sekali di sini. Aku pernah cerita tentang itu bukan? Jadi enggak heran lah kalau aku ketemu mereka lagi di sini.” Keduanya menjawab dengan anggukan. “Terus kenapa kamu ngajak kita ketemuan?” tanya Christine kemudian. Daniella menatap Maria penuh arti. Sepertinya Maria belum memberitahukan apapun tentang foto itu pada Christine. Mengerti dengan maksud tatapan Daniella, Maria menggelengkan kepalanya. Daniella menghela nafas panjang. Mau tidak mau, mereka harus memulai pembicaraan tentang itu. “Kasih lihat fotonya ke dia, Maria.” “Okay!” sahut Maria. Dengan tatapan bingung, Christine menerima ponsel Maria. Dengan seksama gadis berambut hitam bergelombang itu melihat foto yang ada di ponsel Maria. Beberapa detik kemudian, tatapan Christine berubah menjadi sayu, “Aku sudah tau.” “Apa maksud kamu?” tanya Daniella dan Maria bersamaan dengan raut wajah terkejut. “Aku sudah tau kalau Daniel sekarang bersama wanita itu.” Ujar Christine tersenyum sedih. “Christine!” gumam Daniella yang juga turut merasakan kesedihan sahabatnya. “Sejak kapan kamu tau? Kenapa tidak mengatakan apa-apa? Kenapa kamu tidak menanyakan kebenarannya pada Daniella?” tanya Maria. “Sejak aku melihat mereka berdua dengan mata kepalaku sendiri, aku merasa tidak perlu banyak bertanya lagi pada siapa pun. Kalau kamu benar-benar melihat mereka, Mar, kamu pasti tau bagaimana sikap Daniel pada wanita itu. Sedikit berbeda dengan sikapnya ketika berada bersamaku kan?” Christine tertawa pahit. “Ini salahku. Seharusnya aku tidak mengiyakan permintaan bang Daniel untuk menyelidiki tentang Irene," gumam Daniella sedih. Maria dengan kasar memukul meja membuat perhatian beberapa orang terpaku pada mereka. Christine dan Daniella tersenyum kecil dan mengucapkan maaf kepada beberapa orang yang merasa terganggu. “Jauh sebelum ini, Daniel melihat Irene bersama seorang pria di sebuah mall. Aku tidak tau di mall mana. Yang jelas, karena Irene itulah kami sempat berdebat panjang. Namun, pada akhirnya aku menyetujui permintaannya untuk meminta bantuan om Yuri untuk menyelidiki tentang Irene. Maaf!” ucap Daniella pelan seraya menundukkan kepalanya. “Mall? Ah, aku tau sekarang. Jadi waktu itu dia sempat seperti orang kehilangan arah karena melihat wanita itu ya?” Christine lagi-lagi tertawa pahit. “Christine?” Daniella dan Maria menjadi bingung karena Christine bermonolog. Christine menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis, menenangkan kedua sahabatnya, “Aku tau apa yang kamu bicarakan, Daniella. Aku tau karena waktu itu aku pergi bersama Daniel. Ternyata Daniel bersikap seperti itu karena waktu itu dia melihat wanita itu. Semuanya jadi jelas sekarang.” Maria menepuk-nepuk pelan pundak Christine yang duduk di sebelahnya. “Jadi apa yang apa akan kamu lakukan?” tanya Daniella. “Aku akan melakukan apa yang harus aku lakukan sejak lama. Ini sudah tidak bisa dihindari. Aku akan mengakhiri semuanya. Hubungan seperti ini tidak sehat untukku. Aku pikir lebih baik membiarkan berbahagia dengan pilihannya itu.” “Maaf!” “Kok jadi kamu yang minta maaf sih?” Christine meraih tangan Daniella lalu menepuknya pelan seolah berkata ‘tenanglah, tidak apa-apa’ pada Daniella. “Bagaimana pun aku juga memiliki andil dalam hal ini. Kalau saja aku tidak menyetujui permintaannya, tidak akan terjadi apa-apa dengan hubungan kalian.” Christine menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Bahkan tanpa bantuan kamu, aku rasa Daniel bisa mencari tau hal itu sendirian. Dengan uangnya sendiri bahkan, kamu kan juga tau semasa kuliah S2 Daniel juga kerja sambil sebagai seorang asisten dosen di kampusnya. Walau gajinya tidak besar, tetapi aku rasa itu cukup buat menyewa seorang detektif kan? Ah, sudahlah. Lupakan saja tentang ini. Aku benar-benar tidak menyalahkan kamu, Daniella. Kalau ada yang harus disalahkan tentang hal ini ya sudah pasti adalah Daniel sendiri. Kamu mengerti?” Daniella mengangguk muram. “Kamu sudah mendengar kata Christine bukan? Jangan bermuram durja begitu!” Maria memarahi Daniella sambil bangkit berdiri. “Eh, Maria, mau ke mana kamu?” tanya Christine terkejut. “Keluar. Kita jalan mengelilingi mall sampai kaki kita pegal-pegal. Anggap saja refreshing. Ayo jalan kalian berdua!” perintah Maria sambil berjalan keluar dari cafe. Walau sedikit kebingungan, Daniella dan Christine berjalan mengikuti Maria yang berjalan cukup cepat keluar dari cafe. Sambil berjalan menuju pintu cafe, Daniella mengarahkan pandangannya ke meja tempat Leandro dan Jonathan duduk. Saat tau Daniella menatap mereka, Leandro mengedipkan matanya lalu menunjuk ponselnya sambil tersenyum. Daniella yang mengerti maksud Leandro bahwa nanti pria itu akan menghubunginya pun sedikit tersenyum seraya menundukkan kepalanya, menunjuk pintu keluar, lalu melambaikan tangan pada mereka berdua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD