PERTEMUAN PARA IBU

2336 Words
Lilia berpengangan pada tepian besi di balkonnya sembari menatap ke arah langit. Memikirkan kembali pembicaraannya dengan Mikha waktu itu, Lilia tidak menyangka dengan cepat Mikha menghubunginya kembali beberapa hari kemudian. Tujuan Mikha menghubunginya secepat itu sangat jelas bagi Lilia, yaitu untuk meminta tolong pada Lilia agar menghubungi Karina dan meminta kesediaan sepupunya itu untuk bertemu serta menentukan waktu yang pas bagi mereka bertiga untuk bertemu. Permintaan Lilia diterima oleh Karina dengan cepat dan akhirnya besok mereka bertiga akan bertemu untuk membicarakan kejadian dua puluh tahun yang lalu itu. Lilia memang tau sebagian fakta tentang kejadian itu, tetapi tidak semuanya, karena saat bercerai dengan Michael, Lilia memutuskan untuk tidak bertanya-tanya tentang kejadian tersebut. Tidak ada gunanya, menurut Lilia, karena walau pun kebenarannya Lilia ketahui, itu tetap tidak akan bisa menyelamatkan pernikahannya dengan Michael. Hampir dua tahun bersama, membuat Lilia menyadari bahwa Michael bisa sangat keras kepala kalau dia sudah menyakini suatu hal. Maka dari itu, hanya pembicaraan dari dirinya dan tanpa bukti yang kuat, tidak akan mengubah pendapat Michael yang menyakini bahwa semuanya adalah salah orang-orang yang terlibat kecuali adiknya, Mikha. Esok hari pun tiba dengan cepat. Sekarang Lilia sedang bersiap pergi untuk bertemu dengan Karina dan Mikha di sebuah restoran yang berada dalam sebuah mall di daerah Tangerang. Lilia sengaja memilih restoran itu karena restoran itu berada cukup jauh dari tempat tinggal Mikha dan juga Karina. Lilia yang telah bernampilan rapi pun segera berangkat dengan mobil berwarna maroon miliknya dan melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang ke mall yang ditujunya. Sesampainya di restoran, langsung saja Lilia meminta tempat cukup tertutup dan tidak banyak orang yang berlalu-lalang agar memungkinkan mereka berbicara dengan lebih nyaman dan leluasa. Pelayan restoran itu segera membawa Lilia menuju ujung restoran terdalam di mana tidak banyak orang memperhatikan meja tersebut. Pelayan restoran mempersilahkan Lilia duduk dan memberikannya sebuah menu, lalu beberapa buku menu lainnya diletakkan di samping Lilia dan di depannya. Lilia membuka menu tersebut langsung ke bagian minuman, kemudian memesan es jeruk. “Nanti kalau teman-teman saya sudah datang, kami akan memesan menu lainnya. Terima kasih,” ucap Lilia. “Baik, Bu. Kalau begitu silahkan tekan tanda bell pada tablet itu jika anda butuh memanggil kami atau ingin memesan,” pelayan itu menujuk tablet android yang berada di sebelah kiri Lilia dan segera berlalu pergi. Lilia tidak perlu menunggu kedatangan orang-orang yang ditunggunya terlalu lama, karena sepuluh menit kemudian keduanya datang berbarengan. "Kalian bertemu di depan?” tanya Lilia pada mereka. “Iya, Kak Lila,” jawab Karina. “Aku sengaja menunggunya di depan,” jawab Mikha yang membuat Karina terkejut. Lalu Mikha pun memilih duduk di samping Lilia, sedangkan Karina duduk di depan Lilia. “Jadi, apa yang mau dibicarakan?” tanya Karina. Lilia melirik Mikha, matanya mengisyaratkan pertanyaan. Mikha yang tau apa yang ingin Lilia tanyakan, langsung mengangguk. Melihat Mikha mengangguk, Lilia pun mengatakan pada Karina kalau sebaiknya mereka makan siang terlebih dahulu. Karena pembicaraan yang akan mereka bicarakan nanti sangatlah panjang dan bisa menguras emosi. Tidak baik bagi Karina untuk pulang dalam keadaan emosi dan belum makan siang, seandainya nanti Karina terlampau marah pada mereka dan memilih pergi dari sini. Makan siang ini terasa sedikit mencekam, karena tidak ada satu orang pun dari mereka yang berbicara, bahkan untuk sekedar basa-basi. Bahkan menurut Lilia, makanan yang di makannya terasa pahit di lidahnya. Padahal seharusnya inilah makanan favoritnya di restoran ini. Tanpa kata mereka bertiga makan dengan cepat. Lilia menyelesaikan makan siangnya, dan dengan segera meneguk habis jus jeruk pesanannya. “Jadi, apa yang ingin kalian bicarakan?” tanya Karina dengan tidak sabar. Karina mendahului Lilia untuk memulai pembicaraan ini, membuat Lilia sedikit bernafas lega karena akhirnya keheningan yang tidak mengenakkan ini berakhir. “Kamu pasti sudah tau siapa aku. Walau begitu, sebelum kita mulai membicarakan masalah Jason dan Daniella, aku akan menceritakan semuanya dari awal. Awal dari segala masalah ini dari sudut pandangku, karena akulah yang paling tau kejadian itu.” Karina mengangguk tanpa berkata apapun. Mikha yang menganggap itu tanda persetujuan, langsung mulai berbicara. Mikha memulai ceritanya dari awal pertemuannya dengan Ray yang ternyata saat itu dia meminta bantuan Mikha untuk menjebak Albert. Inti dari rencana itu adalah membuat Karina menjauhi Albert, yang ketahuan berselingkuh, dan memutuskan kembali pada Ray. Mikha memberikan sedikit penjelasan kepada Karina alasan dia menyetujui membantu Ray melaksanakan rencananya. “Dari luar Ray memang terlihat supel, ceria, dan tidak memiliki beban apa-apa. Tetapi kalau kamu sudah mengenalnya dalam sama seperti kami, kamu akan tau bahwa sebenarnya Ray lebih sensitif dari terlihat. Karena Uncle Ran sangat ingin Ray bekerja di perusahaan keluarga kami, maka sejak kecil beliau bersikap sangat keras pada Ray terutama pada pendidikannya. Sedikit kesalahan saja, Ray akan langsung masuk ke ruangan hukuman yang tidak ada cahaya. Aku tau itu karena aku sering mengunjungi Ray di sana. Daddy aku juga keras pada kak Michael, tetapi tidak sekeras Uncle Ran pada Ray.” “Sejak bertemu kamu, topik pembicaraan kami berubah. Ray tidak lagi terlalu sering membicarakan mengenai Uncle Ran atau perihal kuliahnya dan nilai-nilainya, yang sering dibicarakannya adalah kamu. Karena itu aku jadi mengetahui kalau Ray sangat menikmati saat-saat kalian bersama dan mulai sedikit lebih berani bersikap di depan Uncle Ran. Tentu saja hukuman tidak terelakkan saat nilai-nilai semesteran sudah keluar dan mendapati nilai-nilainya tidak sempurna, tetapi Ray terlihat lebih santai, tidak terlalu ketakutan lagi.” “Kamu tau? Ray itu dituntut harus mendapat nilai A untuk setiap mata kuliah dengan harapan keras bahwa Ray bisa lulus lebih awal dan mulai membantu ayahnya di perusahaan. Tentu saja karena jurusan yang Ray pilih berbeda jauh dari yang Uncle Ran inginkan, pastinya Ray harus belajar lagi di jurusan yang sesuai untuk bisa mulai bekerja di perusahaan.” Mikha melanjutkan ceritanya dengan bagaimana dia membantu Ray melaksanakan rencananya, menjelaskan secara rinci bagaimana rencananya terlaksana, dan apa yang terjadi kemudian. Termasuk bagaimana ketika Mikha mengetahui dirinya hamil dan bagaimana reaksi Michael ketika mengetahui kehamilan. “Hal pertama yang kak Michael lakukan adalah membawa aku keluar negeri dengan alasan pindah kuliah ke luar negeri. Mommy dan Daddy sebelumnya tidak pernah ikut campur urusan kuliah,karena kak Michael yang selama inilah yang selalu mengurusi keperluanku termasuk soal kuliah. Mereka jadi tidak banyak bertanya ketika tiba-tiba Kak Michael memindahkan aku ke luar negeri. Sejujurnya aku lega, karena setidaknya ada satu hal yang bisa aku syukuri saat itu.” “Aku tidak tau apa yang kak Michael lakukan setelahnya, barulah setelah Jason berusia dua tahun aku tau bahwa kak Michael telah menikah dengan kak Lila dan akan berencana menceraikannya. Dari situ aku menyadari apa yang kak Michael lakukan. Kak Michael pastilah ingin membalaskan dendam kepada kalian semua. Maka aku mulai mencari tau tentang keadaan Ray, lalu mulai mencari tau tentang kalian. Semua itu sangat sulit aku lakukan, karena orang-orang yang bekerja pada kak Michael ada di mana-mana. Untungnya aku bisa bertemu dengan kak Lila. Dan kamu tau setelahnya, kak Lila diceraikan dan pindah ke luar negeri. Aku pun diam-diam berhubungan dengan kak Lila, menyampaikan kabar soal Aaron yang aku ketahui pada kak Lila.” “Hanya itu yang aku ketahui,” Mikha menyelesaikan kalimatnya lalu menghela nafas panjang. Entah mengapa dia sedikit merasa lega, mungkin karena sedikit beban di hatinya sudah terangkat. “Kamu menceritakan ini padaku karena?” “Aku hanya ingin kamu tau keselurahan kejadiannya dari aku dan bukan dari orang lain.” “Kata kamu tadi, kamu mencari tau tentang Ray. Bagaimana keadaannya saat itu?” “Ah, itu..." Mikha mendadak terdiam. Mikha sedikit terkejut karena pertanyaan Karina yang tidak terduga, dia bingung harus menjawabnya atau tidak. “Aku tidak boleh mengetahuinya?” “Bukan itu, Karina. Aku pikir kamu sudah tau. Kak Michael membuat Ray masuk ke rumah sakit jiwa,” Mikha mendesah muram, “aku pikir itu bukan pilihan buruk." "Kenapa kamu berpikir begitu?" "Karena memang obsesi Ray padamu sampai ingin memilikimu dengan cara apa pun waktu itu sudah sampai pada tahap yang bahkan orang lain pun tidak bisa mentolerir perbuatannya lagi.” “Tapi kamu tidak setuju?” “Entahlah aku sejujurnya bingung, bahkan sampai saat ini aku merasa kak Michael sudah keterlaluan sampai memasukkan Ray ke rumah sakit jiwa. Tetapi di sisi lain, aku mengerti bahwa jalan lain itu sulit ditempuh. Rumah sakit jiwa adalah tempat teraman untuk Ray dan untuk keluarga kalian, Karina. Aku hanya kasihan pada orangtua Ray.” “Terjadi sesuatu pada mereka?” “Aunty sakit-sakitan sejak saat itu. Aku pikir karena beliau sangat terguncang karena Ray mendadak masuk rumah sakit jiwa. Uncle sendiri terlihat baik-baik saja, tetapi aku tau dia juga sangat sedih anak laki-laki tunggalnya masuk rumah sakit jiwa. Bagaimana pun kerasnya sikap uncle pada Ray, aku tau dia sangat menyayanginya dan hanya ingin yang terbaik untuk Ray.” “Klise sekali ucapanmu.” “Bukankah semua orangtua seperti itu? Yah, Aku mengakui kalau cara uncle Ran mendidik anak itu salah dan tidak baik.” “Tentu saja salah dan sangat tidak baik!” Mikha tersenyum kecil. “Aku sudah tau kalau Jason itu juga putra Albert,” Kata Karina setelah beberapa detik tidak ada yang melanjutkan berbicara. “Apa?” tanya Mikha dan Lilia berbarengan, mereka sangat terkejut. “Bagaimana bisa?” tanya Lilia lagi. “Entah kenapa melihat kak Lilia terdengar berbeda sewaktu membicarakan Jason, jadi aku menyelidiki latar belakang Jason dengan bantuan sekertaris Albert. Maafkan aku kalau tindakanku tidak sopan.” “Tidak, seharusnya aku yang meminta maaf. Maafkan aku sudah membuat keluarga kalian jadi seperti ini,” Ucap Mikha lirih. Karina menghela nafas panjang, “Jangan terlalu memikirkannya lagi, itu sudah kejadian yang sudah berlalu.” “Tetapi bekasnya masih ada,” lagi-lagi Mikha berucap lirih. Karina menggelengkan kepalanya, tanda bahwa dia tidak ingin membahas hal itu lagi. Keheningan pun kembali tercipta karena Karina dan Lilia tidak tau harus membicarakan apa lagi. Namun, Lilia tiba-tiba teringat satu hal, “Mikha, aku pikir yang kamu ingin bukan hanya itu kan?” Lilia ingat waktu itu Mikha pernah berkata bahwa selain membicarakan masa lalu mereka, ada satu hal lagi yang ingin Mikha bicarakan dengan Lilia dan Karina. Lilia tidak tau hal apa itu karena Mikha tidak mau membicarakannya sama sekali dan dengan tegas mengatakan bahwa dia akan mengatakannya saat mereka bertemu nanti. Karena itulah Lilia melupakan satu hal tersebut dan tidak membicarakannya lagi pada Mikha sewaktu mereka bertelepon atau saat mereka bertukar surat. Mikha yang paham apa maksud pertanyaan Lilia pun mengangguk. “Apa yang kamu inginkan?” tanya Lilia lagi, memancing Mikha untuk segera mulai mengatakannya. “Meluruskan semuanya. Hal itu termasuk membicarakan semuanya dengan kak Michael.” Mendengar perkataan Mikha, Karina mendongak cepat dan menatap Mikha tajam, “apa kamu tau apa yang telah kakakmu perbuat pada kak Lila?” “Aku tau.” “Kalau begitu kenapa kamu menyarankan hal itu?” tanya Karina tidak percaya. “Kalau ada aku dan Karina, bukankah dia tidak akan mendengarkan sama sekali?” Lilia menyela mereka dengan bertanya seraya menatap Mikha dengan pandangan ragu. “Karena itu, kak Lila, Karina, kita harus mengumpulkan sebanyak mungkin bukti yang nyata.” “Aku tidak mengerti, Mikha,” ucap Lila, mengerjapkan kedua matanya cepat. “Aku juga tidak mengerti. Apa sih maksud kamu?” tanya Karina dengan raut wajah yang terlihat kesal karena dia juga tidak mengerti maksud perkataan Mikha. “Sebelum aku mengatakannya, aku merasa mungkin ada baiknya kamu membawa Albert ke sini. Dia butuh mendengarkan tentang ini.” “Apa kamu berencana membawa Albert dalam rencana ini dan membuatnya bertemu Michael? Itu ide yang buruk! Kalau ada Albert, bisa-bisa kakakmu mengusir kami sebelum kami berbicara!” Karina cemberut. “Tenanglah dulu. Kalau mau melaksanakan rencanaku, ada baiknya Albert juga mendengarkan dan terlibat. Karena hanya dia yang cukup kuat untuk berhadapan dengan kakakku tanpa terintimidasi. Kamu tau maksudku.” Karina menghela nafas. Karina merasa tidak nyaman membawa Albert ke sini, tetapi kalau mereka ingin mengkonfrontasi Michael mungkin memang ada baiknya Albert terlibat dalam hal ini, “Baiklah, aku akan kirimkan pesan ke Albert sekarang juga.” “Aku akan pesan makanan ringan lagi supaya kita bisa lebih lama di sini,” usul Lilia lalu keluar dari ruangan untuk memesan makanan langsung ke kasir. “Jadi kamu benar-benar yakin tentang ini? Maksud aku, berbicara dengan kakakmu?” Mikha mengangguk kuat, dia merasa sangat yakin bahwa ini satu-satunya cara menghentikan balas dendam kakaknya sekaligus memberitahukan semua yang terjadi di masa lalu pada orang-orang yang terlibat. “Kakakmu tidak mungkin setuju untuk datang bertemu kami.” “Aku akan memikirkan caranya. Kalian tinggal datang saja.” “Sebenarnya aku tidak terlalu memperdulikan kakakmu, karena kami baik-baik saja selama ini. Badai besar pun tidak bisa menghalangi kami,” ucap Karina percaya diri. “Aku tau selama ini kalian baik-baik saja. Karena diam-diam aku pun ikut membantu sedikit,” Mikha terkekeh pelan, “aku juga ingin kak Michael bisa lepas dari semua ini." "Bukannya selama ini Michael baik-baik saja bersama Aaron?" tanya Lilia begitu ia selesai memesan. "Itu memang benar, Kak Lila. Tapi selama dua puluh tahun ini dia terlalu terpaku pada balas dendam sehingga melupakan apa yang penting.” “Apa yang penting?” “Perasaannya.” “Perasaannya?” Menggeser duduknya hingga dia nyaman berhadapan muka dengan Lilia, Mikha pun menjawab, “Benar.” “Aku benar-benar tidak mengerti maksud kamu, Mikha.” “Jangan terlalu memikirkan itu sekarang. Karena kalian sudah setuju, mari kita selesaikan pembicaraan ini dengan Albert terlebih dahulu baru setelahnya kita akan bicarakan bagaimana.” “Berbicara dengan Michael nanti maksud kamu? Mikha, aku pikir itu tidak perlu. Kamu tau aku tidak ingin terlibat lagi dengan Michael.” “Kak Lila, please. Untuk satu kali ini saja aku mohon padamu, bantu Kak Michael untuk melepaskan dendamnya. Itu tidak berguna baginya, karena pada dasarnya ini bukanlah kesalahan kalian.” Lilia tidak menjawab, tetapi Mikha tidak menyerah. Mata Mikha menatap Lila penuh harap. Lilia yang bingung harus mengatakan apa, memilih menatap Karina, Karina pun balas menatap Lilia. Mereka berdua tetap dalam kondisi saling menatap selama beberapa detik. Setelahnya Karina mengangguk, mengiyakan permintaan Mikha atas nama dirinya dan Lilia. Karina pikir bagaimana pun semua ini harus diakhiri. “Terima kasih, Kak Lila!” ucap Mikha tulus seraya mengenggam kedua tangan Lilia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD