“Terima kasih!” Daniella berseru senang saat menerima boneka beruang berukuran cukup besar sebagai hadiah dari menukarkan tiket yang diperoleh dari bermain lebih dari berpuluh-puluh kali permainan yang ada di area bermain ini.
Jonathan yang melihat raut wajah Daniella kembali ceria juga ikut tersenyum.
“Wah, kamu tersenyum?” goda Leandro tiba-tiba, membuat senyum Jonathan luntur dan malah menatap pria bule itu dengan tatapan tajam.
“Peace!”
“Ini sudah mulai larut, kamu mau pulang?” tanya Jonathan pada Daniella, mengabaikan sepenuhnya keberadaan Leandro.
“Aku mau beli kue dulu sebelum pulang."
"Di mana?"
"Di toko yang di sana.”
“Kalau begitu ayo pergi, tinggalkan saja si bodoh ini sendirian di sini.”
“Keterlaluan sekali kamu!” keluh Leandro membuat Daniella terkikik mendengarnya. Daniella pun mengulurkan tangannya yang tidak memegang boneka beruang pada Leandro dan mengajaknya menemaninya pergi ke toko kue.
“Daniella baik, tidak seperti kamu!” Leandro menyambut uluran tangan Daniella sambil menoleh ke belakang, memeletkan lidahnya keluar untuk mengejek Jonathan.
“Kekanak-kanakan sekali,” desah Jonathan lalu berjalan mengikuti kedua orang itu ke toko kue yang dituju.
Daniella memilih kue dan roti yang diinginkannya, menaruhnya ke baki lalu mengantri di kasir. Sementara itu, dia pria muda yang tampan itu berdiri dekat dengannya, memperhatikan setiap gerak-gerik Daniella. Karena paras mereka yang tampan, mereka tentunya menarik perhatian banyak orang. Hanya diam pun sudah bisa membuat orang-orang melirik dan terkesima. Daniella menyadari itu ketika berjalan ke arah mereka berdua dan berpikir, orang tampan memang memberikan efek berbeda.
“Sudah?” tanya Jonathan.
Daniella mengangguk.
“Kami akan mengantarkan kamu sampai ke rumah,” putus Jonathan sepihak, tidak menerima penolakan. Membuat Leandro cemberut dan menggerutu panjang-pendek ketika mendengarkan ucapan sahabatnya itu.
Lagi-lagi Daniella terkikik melihat ekspresi Leandro sebal seperti itu, "Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Lagipula rumahku tidak jauh dari sini, hanya butuh berkendara melewati beberapa blok saja.”
Mata Jonathan menyipit tidak suka mendengar penolakan Daniella, “Sudah larut, tidak aman bagi perempuan berkendara sendirian.”
“Kamu berlebihan deh, teman. Daniella kan sudah bilang kalau rumahnya hanya berjarak beberapa blok saja dari sini, tidak mungkin juga terjadi sesuatu bukan?” protes Leandro kesal.
“Tapi...“
“Aku benar-benar tidak apa-apa pulang sendirian. Kalau kalian masih khawatir, bagaiaman jika nanti akan aku hubungi kalian sesampainya aku di rumah?” usul Daniella untuk menenangkan kekhawatiran Jonathan yang berlebihan.
“Baiklah,” sahut Jonathan.
Leandro tersenyum lega. Pasalnya ketika mengikuti mobil yang dikendarai Jonathan tadi dia sedikit kebingungan, karena Leandro belum tau benar jalan-jalan di Jakarta, jadi kalau tertinggal sedikit dia akan merasa panik sekali.
Daniella tersenyum ketika akhirnya kedua pria di hadapannya ini menyetujui usulnya. Sebenarnya alasan Daniella bersikeras pulang sendirian bukan karena Daniella sudah biasa pulang sendirian selarut ini tetapi lebih karena tidak mau orang rumahnya bertanya-tanya soal orang yang mengantarnya pulang.
“Kalau begitu ayo kita pulang,” ajak Leandro dengan senyum leganya yang masih terpampang di wajah tampannya.
***
Daniella sedang menaruh sepatunya di rak sepatu dekat pintu masuk ketika melihat kakak laki-lakinya bergerak diam-diam menuju kamar orangtua mereka yang sekarang terletak di lantai satu ini. Daniella mengerutkan dahinya, merasa sedikit heran dengan kelakuan Daniel. Dengan cepat Daniella menaruh sepatunya, mengenakkan sendal rumah lalu mengikuti Daniel pelan-pelan dan diam-diam hingga tepat berada di belakang kakak laki-lakinya itu. Pintu kamar orangtuanya sedikit terbuka jadi mereka berdua bisa mendengar dengan jelas orangtuanya yang sedang berbicara di dalam kamar.
“Kamu mau benar-benar mau bertemu dengannya? Apa tidak apa-apa, Karina?”
Terdengar suara desahan berat disusul dengan suara Karina, “Tidak apa-apa, Albert.”
“Aku tidak yakin kamu ingin mendengar semua itu.”
“Aku harus mendengarkannya secara jelas dan lengkap, Albert. Bagaimana pun nantinya kita harus menjelaskan pada Daniel dan Daniella tentang ini. Aku sudah pernah menceritakan pada Daniella soal Daniel dan Jason walau hanya sepintas, kalau aku ingin menceritakan pada menjelaskan sepenuhnya pada kedua anak kita, aku sendiri harus tau cerita yang sebenarnya di balik semua ini. Bahkan kalau itu menyakiti hatiku.”
“Sayang...“
Daniella mundur perlahan seraya memperhatikan Daniel supaya dia tidak ketahuan sedang ikutan mencuri dengar pembicaraan orangtua mereka. Daniella sendiri sudah paham apa maksud mamanya ketika beliau menyebutkan nama Jason, pasti ini perihal kenyataan Jason adalah saudara tiri mereka dan Daniella merasa kakak laki-lakinya belum tau tentang ini. Karena itu, demi menghindari Daniel yang bertanya-tanya, lebih baik Daniella kembali ke kamarnya sekarang.
Secepat yang Daniella bisa dengan langkah yang Daniella usahakan tidak terdengar, Daniella menuju kamarnya lalu menutup pintu kamarnya. Daniella bersandar pada pintu kamarnya, sedikit terengah dan berdebar-debar.
Tiba-tiba Daniella teringat pada janjinya dengan Jonathan dan Leandro, ia mengetikan pesan singkat kepada dua pria muda tampan itu bahwa dia sudah sampai di rumah dengan selamat. Melihat pesannya sudah terkirim, Daniella kemudian melempar ponselnya asal ke atas meja belajarnya. Kemudian Daniella duduk di ujung tempat tidurnya, Daniella menghela nafas. Ini adalah hal yang tidak terelekkan. Kakak laki-lakinya memang harus tau tentang ini karena ini jelas sangat berkaitan dengannya. Daniella berusaha keras memikirkan reaksi Daniel ketika dia tau bahwa mereka memiliki ayah yang berbeda, tetapi tidak ada satu pun dari pemikiran itu yang berakhir baik.
Daniella mendesah berat, bagaimana pun memang hal ini bukanlah hal yang mudah di terima, karena itu sulit sekali membayangkan reaksi Daniel akan bagus. Bahkan kalau benar itu terjadi, mereka semua pasti akan tercengang dan menganggap Daniel membohongi dirinya sendiri dengan mengatakan semua ini tidak nyata.
Ponselnya yang berbunyi membuatnya kembali ke kenyataan, Daniella mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dan memeriksanya. Ternyata Jonathan membalas pesannya.
"Syukurlah kalau kamu sudah di rumah."
Pesan yang singkat, padat, dan jelas itu membuat Daniella tersenyum. Tipikal Jonathan sekali, pikirnya. Daniella mengingat sikap Jonathan tadi yang seperti berlebihan mengenai keselamatannya, membuat Daniella teringat papanya. Albert selalu berlebihan soal keselamatan Daniella ketika berpergian, terutama dengan kendaraan beroda empat. Karena itulah Daniella baru mulai belajar mengendarai kendaraan roda empat itu ketika sudah duduk di bangku kuliah, padahal teman-temannya yang lain sudah mulai belajar mengendarai mobil di tahun terakhir di SMA.
Karena tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan malam-malam begini, maka Daniella memutuskan untuk mandi berendam dengan wewangian yang baru saja dibelinya secara online. Bathing oil yang semerbak memancarkan wangi jasmine itu membuat Daniella seketika merasa tenang dan nyaman. Seusai mandi Daniella memakai piyama kesayangannya, mengambil sprei baru dari kotak yang berada di dasar lemari pakaiannya yang cukup besar ini, lalu mulai memasangkan sprei bermotif daun ini ke tempat tidurnya.
TOK TOK TOK!!
“Masuk!” sahut Daniella seraya merapikan tempat tidurnya yang baru saja dia pasangkan seprai baru.
Wajah Karina terlihat dari balik pintu. Daniella yang cukup terkejut melihat mamanya datang ke kamarnya dan tanpa sadar berkata, “kenapa mama ke sini?”
“Kenapa mama tidak boleh datang ke kamarmu?”
Daniella tersenyum kikuk, “Bukan begitu maksud aku, Mama.”
Karina menghela nafas lalu duduk di tempat tidur Daniella dan menatap putrinya itu, “Sepertinya lusa mama akan bicara pada kakakmu mengenai ayahnya dan saudara tiri kalian.”
Daniella refleks menatap Karina dengan wajah menganga sangking terkejutnya ia.
“Mama sudah bicarakan ini dengan papamu dan beliau setuju,“ Karina mendesah, “intinya adalah mungkin saja setelah pembicaraan itu, Daniel akan bersikap sulit, jadi mama minta tolong kamu bisa memaklumi sikap kakakmu untuk beberapa waktu, Daniella.”
Daniella mengangguk, “Aku mengerti, mama.”
“Terima kasih atas pengertian kamu, sayang. Kalau begitu mama keluar dulu, kamu juga cepatlah pergi beristirahat. Besok masih ada ujian bukan?”
Daniella mengangguk, “Selamat malam, Mama.”
“Selamat malam, sayang.”
***
Sebelum pergi ke kamar Daniella, di kamarnya Karina sempat mengirimkan sebuah pesan kepada Lilia yang berisikan bahwa Albert sudah menyetujui dirinya bertemu dengan Mikha. Ketika Karina kembali ke kamarnya, Karina menemukan Lilia sudah membalas pesannya tadi. Karina mengambil ponselnya, duduk bersandar ke tepian atas tempat tidur, lalu dia membaca pesan balasan dari Lilia.
"Baiklah, Karina. Aku akan memberitahu Mikha kalau kita bisa bertemu lusa."
Karina meletakkan ponselnya ke atas nakas di samping tempat tidurnya dan menatap Albert yang sedang duduk bersandar ke tepian atas tempat tidur dan membaca berkas-berkas pekerjaannya, “Aku akan menemuinya dua hari lagi bersama kak Lila.”
Albert melepaskan pandangannya dari tumpukan berkas-berkas lalu menatap Karina dalam. Beberapa detik kemudian Albert baru menjawab Karina, “Aku akan mengantar kamu.”
“Tapi jangan menunggu kami, kurasa kami akan berbicara cukup lama.”
“Aku tau, Karina.”