Dia kemudian memberi ruang untuk dokter itu saat memeriksa keadaan putranya. Dokter itu mengeluarkan alat pengukur suhu tubuh sebelum meletakkan pada ketiak Erdo. Dia mendesah setelah itu ketika melihat angka pada alat pengukur suhu itu. Mengamati ekpresi cemberut dokter Eva, Fiona bertanya dengan cemas, “Dokter, ada apa?” “Suhunya 38 derjat. Suhu tubuhnya tidak stabil. Biarkan dia istirahat selama proses penyembuhan dia.” Ucap dokter itu. “Baik, dokter.” Fiona mengangguk. “Terkait dengan resep yang saya berikan kemarin. Silahkan dilanjutkan perawatannya. Jika keadaannya masih lemah dan obatnya sudah habis, Anda bisa menghubungi saya.” Fiona mengangguk. “Terima kasih, Dokter.” Dokter itu tersenyum, “Sama-sama.” Fiona menatap Neneknya saat dia berkata dengan lembut, “Nenek, aku a

