Menemukan Bukti Kecurangan

1086 Words
Mas Bambang menepuk lembut pundakku, lalu ia tersenyum. “Gunakan saja kekuasaan yang Mas berikan. Semoga saja kamu bisa membungkam mereka yang menyakiti kamu,” ujar Mas Bambang. “Terima kasih, Mas.” Aku kembali membantu Mas Bambang ke kamarnya. Aku pun mencoba memejamkan mata walau di kepala ini penuh dengan ide untuk menjatuhkan Mas Wiji juga membungkam mulut Rianti. Aku kembali membuka ponsel lalu melihat sosial media Rianti. Lihat saja, kamu tidak akan bisa pamer dengan apa yang akan di berikan oleh Mas Wiji. Aku pastikan semua kebahagiaan akan hilang dari hidup kamu, Ri. Seperti apa yang kamu lakukan pada rumah tangga aku. Semuanya seperti mimpi, hidupku berubah total. Dari istri Mas Wiji, lalu tiba-tiba badai datang membuat aku dan Arman hidup di jalanan. Namun, Tuhan sayang pada kami dengan mempertemukan aku dengan Mas Bambang. Walau jalan yang aku ambil ini entah benar atau tidak. Lagi pula, bukan hanya Mas Wiji saja yang akan membuat kepala ini sakit. Akan tetapi, anak-anak Mas Bambang pun akan membuat kepala ini sakit. Kucoba kembali memejamkan mata untuk bisa terbangun dengan segar esok hari. *** Aku datang pagi-pagi sekali untuk memeriksa beberapa berkas. Terutama, untuk mengaudit pekerjaan Mas Wiji. Pria itu kembali mendekati aku, entah apa yang ada di otaknya kali ini. Dia datang dengan senyum dan seolah-olah tak merasa bersalah dengan perselingkuhannya dengan Rianti. Mas Wiji menghampiriku dengan membawa sebuah minuman di tangannya. “Aku buatkan teh hangat, mungkin kamu belum sempat sarapan karena terlalu sibuk dengan suami kamu yang sakit-sakitan itu,” ujarnya lancang. “Tolong jangan pernah mengatakan hal itu. Walau suamiku sedang tidak sehat, tapi setidaknya dia lebih baik dari kamu,” ujar Raisa. “Sa, kamu itu cantik. Jangan buang-buang waktu kamu bersama pria itu. Nikmati hidup, lagi pula aku masih mau kok kalau kamu mengajak aku kembali rujuk. Demi anak kita, Arman,” tutur Wiji. Aku tersenyum miris mendengar apa yang di tuturkan Mas Wiji. Pria itu sangat tidak tahu malu dengan apa yang selama ini dia perbuat. Kini, ia masih bisa mengatakan demi kebaikan anak kami. Dulu ke mana saja dia, bukannya pria ini yang dengan tega mengusir kami. Enak saja saat aku berubah cantik dan kaya raya, seenaknya mengajak rujuk. “Arman sudah tidak butuh ayah seperti kamu. Cepat ke luar dari ruanganku atau kamu mau aku buat sengsara,” ancamku. “Sa, dengarkan aku sekali lagi. Kita bisa merencanakan ini dengan baik, harta Pak Bambang bisa membuat kita hidup bahagia.” “Lalu, setelah itu bagaimana dengan Rianti?” “Aku bisa menceraikan dia. Mudah saja, bukan?” “Aku tidak mau dengar lagu ucapan kamu. Silakan kamu keluar dari sini atau kupanggil satpam!” titahku. Mas Wiji beranjak dari tempatnya, ia pun tak mau berdiam diri karena akan membuat dirinya malu. Kuusap wajah ini dengan telapak tangan, rasanya aku muak berhadapan dengan mantan suami yang seperti Mas Wiji. Aku ingin dia merasakan apa yang aku rasakan. Dia pikir, bisa membuat aku berkhianat pada Mas Bambang seperti dia mengkhianati diri ini. *** Aku kembali memeriksa data tentang anggaran yang dananya begitu besar itu. Kutelusuri semua berkas yang berhubungan dengan anggaran besar yang begitu saja ada di laporan keuangan. Kuteliti lagi, tapi aku membutuhkan beberapa staff auditor. Kuhubungi Arfian untuk datang ke ruangan. Tidak lama pria muda itu datang. “Jangan panggil saya Nyonya. Ibu saja,” pintaku karena dia kemarin memanggilku Nyonya. ”Iya, Bu.” “Tolong telepon auditor yang biasa mengurusi laporan keuangan. Tolong datang hari ini, bisa?” tanyaku memastikan. “Sebentar saya telepon.” Aku menunggu beberapa saat Arfian menelepon. Aku menggeleng saja, kenapa Mas Wiji seberani itu dalam bertindak. Berengsek sekali dia membuat aku menahan uang belanja dengan irit. Sementara, uang gaji sebesar itu dia gunakan sendiri. “Bu, mereka akan datang siang ini. Ada yang bisa saya bantu lagi?” tanyanya. “Tidak, kamu bisa kembali.” “Bu, boleh saya bertanya?” Sepertinya aku melihat hal yang tidak mengenakkan. Apa yang akan ditanyakan Arfian? Benar dugaanku, ia menanyakan hal pribadi. Jujur saja aku tidak suka jika ada yang bertanya tentang pernikahanku. “Ibu masih muda, apa tidak berniat menikah dengan pria muda?” Pertanyaan Arfian membuat aku tertawa miris. “Untuk apa mencari pria muda kalau hidup susah? Jaman sekarang, uang adalah segalanya.” Aku puas membuat Arfian tidak berkutik. Benar bukan, menikah dengan Mas Wiji, hidupku susah. Setelah diselingkuhi, aku semakin menderita. Kini, saat Mas Bambang menawarkan diri sebagai suamiku, mengapa harus menolak? Tujuanku bukan harta, tapi aku ingin hidup layak. Membuat anakku keluar dari penderitaannya. Dan, membuat Mas Wiji, merasa menyesal telah meninggalkanku. “Fian,” panggilku lagi. “Iya, Bu.” “Jangan sekali lagi bertanya hal pribadi. Karena aku tidak segan membuatmu mengundurkan diri.” Sengaja aku mengancam tegas agar pria muda itu tak banyak bicara dan bertanya hal pribadi. Wajahnya semakin pucat mendengar penuturanku. Biar saja dia kapok aku hanya ingin bekerja dengan profesional di sini. “Maafkan, saya.” “Ok, kembali ke ruanganmu.” *** Auditor telah memanggil akuntan di kantor sekaligus team mereka. Termaksud Mas Wiji, yang bertanggung jawab sebagai manajer keuangan. Mereka semua terduduk lesu saat aku menginterogasi mereka. Salah satu dari mereka bilang, hanya mengikuti perintah. Ck! Sama saja, jika mereka dapat uang dan menikmati hasilnya. Mas Wiji sengaja aku panggil ke ruanganku. Ayah dari anakku ini masih santai setelah semuanya terbukti. Namun, aku tahu dia pasti sangat cemas. “Ada apa kamu mendatangkan auditor saat belum waktunya kantor ini di audit?” tanya Mas Wiji. “Aku pemimpin di sini, bebas melakukan apa yang aku inginkan. Termaksud mengaudit keuangan perusahaan ini. Bahkan, menendang kamu dari sini.” “Sombong sekali kumu, kamu pikir kau hebat?” “Memang aku hebat, buktinya aku berada di atas kamu. Jangan lupa, dunia berputar. Jangan harap kamu bisa selamat dari masalah ini.” Mas Wiji tertawa sinis, ia seperti menyepelekan aku. Kita lihat, Mas, aku atau kamu yang akan hancur “Aku bisa saja membawa kasus ini ke kantor polisi, tapi, aku masih berbaik hati padamu. Mulai hari ini, kamu kembali menjadi bawahan. Staff biasa, tanpa embel-embel jabatan.” Aku menatap bengis pria yang telah menduakan cintaku. Mas Wiji menggebrak meja dengan keras. Wajahnya memerah, entah apa yang ia pikirkan sekarang. “Kamu enggak bisa seenaknya menurunkan jabatan aku!” “Kenapa tidak, apa kamu mau aku buat langsung ke penjara?” “Awas kamu, Sa!” “Kamu mengancam aku? Aku enggak takut, Mas. Kamu harus merasakan saat aku terluntang lantung di jalan. Aku masih berbaik hati, tidak membuat kamu langsung menjadi gembel!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD