Chapter 2

1151 Words
Weekday adalah hari yang cukup sibuk bagi Elsa. Bagaimana tidak. Ia tinggal di rumah itu tanpa bantuan asisten rumah tangga. Hanya ada satu suster yang membantu merawat Andra. Jadi semua urusan rumah adalah tanggung jawab Elsa. Ia tidak memiliki pekerjaan jadi semenjak pindah dari rumah mertua, keputusannya sudah bulat untuk mengurus rumah sendiri. Sejauh ini semuanya baik-baik saja. Elsa sudah terbiasa. Seperti hari ini. Ia menyiapkan sarapan dan memastikan Devan serta Rendra siap dengan baik untuk berangkat. Devan ke kantor sementara Rendra ke sekolah. Andra akan diurus oleh susternya jika sudah bangun. Ia kemudian pergi mengantar Rendra serta Devan. Mengantar Rendra lebih dahulu karena Devan juga berusaha untuk bisa mengantar Rendra jika sempat. Kadang Devan harus lebih cepat pergi ke kantor karena ada beberapa urusan. Kali ini, ia sempat untuk mengantar Rendra lebih dahulu. Begitu selesai mengantar Rendra, saatnya mengantar Devan ke kantor. Elsa membuka kaca jendela saat Devan sudah turun dari mobil. Lelaki itu kemudian melambaikan tangannya. “Selamat pagi, Ibu.” Security yang berjaga di depan pun menyapa Elsa begitu kaca jendela dibuka. Elsa tersenyum ramah dan mengucapkan selamat pagi. Kemudian supir mengendarai mobil itu meninggalkan pekarangan. Pandangan Elsa masih tertuju pada gedung itu, tempat Devan bekerja. Ia melihat beberapa karyawan melangkah memasuki kantor. Laki-laki dan perempuan. Perempuan itu kemudian menghela napasnya. *** Saat menjemput Rendra ke sekolah, Andra sedang tertidur. Jadi Elsa membiarkan Andra tetap di rumah bersama suster yang menjaganya. Berkat sesekali ikut mengantar atau menjemput Rendra, Andra nampaknya bersemangat untuk bersekolah. Meski masih kecil, keinginan itu terlihat jelas dari gerak-gerik Andra. “Eh ada Bu Elsa. Seneng loh bisa ketemu menantu keluarga Widjaja disini.” Elsa tidak kenal kali ini siapa yang menjemputnya. Biasanya Elsa menjemput tepat waktu namun kali ini sepertinya ia menjemput lebih awal. Sehingga Elsa terjebak bersama orang tua lainnya yang juga sedang menjemput sang anak. “Jemput anak juga, Bu?” tanya Elsa basa-basi. Ia tidak kenal namun dari penampilannya, sepertinya wanita ini lebih tua dari Elsa. “Iya dong. Oh kenalin. Saya Giska.” Wanita itu memberikan kartu namanya dan kemudian menjabat tangan Elsa. Elsa tersenyum hangat. “Saya tumben bisa jemput Gabriella kemari. Senang bisa bertemu Bu Elsa.” Elsa sempat membaca sekilas kartu nama wanita itu. Bekerja sebagai Managing Director pada perusahaan televisi swasta yang ternama di Indonesia. Pasti wanita itu cukup sibuk. Tidak heran kalau Elsa belum pernah melihatnya disini. “Saya juga senang bisa bertemu Bu Giska. Pantes rasanya belum pernah lihat tiap saya antar dan jemput kemari.” Giska sudah ingin menyahut namun sebuah panggilan telepon menginterupsi. “Maaf ya. Saya angkat telepon sebentar.” Elsa baru sadar dari pakaian wanita itu, terlihat jelas bahwa Giska memang bekerja. Wanita itu melangkah menjauh seiring dengan suaranya bicara dalam bahasa Inggris mulai memudar. Elsa kemudian menatap ke lingkungan sekitar. Di preschool ini, Elsa bertemu banyak orang hebat. Rata-rata adalah anak konglomerat. Jekas. Mengingat biaya yang harus dibayarkan agar sang anak mengenyam pendidikan disini tidaklah sedikit. Hanya saja Elsa jarang bertemu dengan orang tua saat menjemput. Kebanyakan dijemput oleh nanny mereka. Seolah orang tua mereka begitu sibuk karena bekerja. Teman akrab Rendra misalnya yang bernama Martin. Orang tuanya bekerja sebagai pebisnis jadi tidak pernah sempat mengantar jemput. Nannynya Martin lah yang selalu menemani. Tidak lama kemudian akhirnya anak-anak keluar. Elsa yang tadinya berniat menunggu hingga Giska selesai bicara vie telepon pun memutuskan untuk berpaling. Ia harus mencari Rendra di antara anak-anak yang baru saja keluar. “Rendra,” ucap Elsa seraya melambaikan tangannya saat melihat sang anak. Anaknya itu pun tersenyum sumringah dan kemudian segera menghampiri Elsa. Elsa segera berlutut dan kemudian memeluk putranya itu. “Happy banget sih,” ucap Elsa. “Laper, Mama.” “Ha, laper?” tanya Elsa seraya terkekeh. Perempuan itu kemudian mengecup pipi Rendra. “Yuk. Nanti mama masakin untuk Rendra.” *** Devan menatap Elsa sesekali selama acara seminar. Iat ahu fokus sebenarnya seharusnya kepada Airin yang saat ini sedang memberikan materi. Hanya saja semenjak Elsa begitu serius memperhatikan seminar ini, Devan ingin menatap raut wajah serius itu lebih lama. “Fokus, Van.” Devan pun tersenyum. Ternyata meski perhatian Elsa sepenuhnya kepada Airan di atas panggunga, perempuan itu tetap sadar bahwa Devan kini sedang menatapnya. “Serius banget sih,” ucap Devan. “Stt,” pinta Elsa seraya meletakkan telunjuknya di depan bibir. Ia juga menatap Devan. Kontak mata itu hanya beberapa detik sebelum kemudian Elsa kembali fokus menatap Airan. Selesai acara seminar, adalah saatnya untuk menjalin atau memperkuat relasi. Ada banyak yang berbincang. Termasuk Devan saat ini. Elsa hanya ikut serta sambil diperkenalkan oleh suaminya itu. Ada banyak kolega ternyata yang hadir. Airin sendiri adalah seorang pebisnis yang terkenal. Wanita itu dikenal sebagai womanpreneur yang bukan hanya memiliki track record bisnis sukses melainkan juga memberdayakan perempuan. Airin adalah definisi kehidupan wanita yang sempurna. Pendidikan, kekayaan, kecantikam, kesuksesan, dan segala pujian baik yang melekat padanya. Elsa memandang penuh kekaguman saat wanita itu datang memghampiri. “Malam, Devan. Terima kasih sudah datang ya.” Devan kenal baik dengan wanita itu. Itu sebabnya ia hadir disini. Vani juga seharusnya hadir jika saja sedang tidak ada perjalanan bisnis ke Singapura. “Mbak. Kenalin ini istri aku.” Elsa sudah sering mendengar mengenai Airin namun baru kali ini ia berkesempatan untuk bertemu perempuan itu. “Ah iya. Elsa. Cantik sekali. Terima kasih ya sudah datang.” Pembawaannya ramah dan hangat. Bahkan meski mereka belum pernah bertemu. Elsa tersenyum membalasnya. Perbincangan itu pun berlanjut. Elsa, masih dengan kekagumannya menatap dalam pada Airin. Wanita itu cantik, cerdas, dan berkarakter. Semua yang dimiliknya, adalah kehidupan sempurna yang Elsa idam-idamkan. A girl with mind, a woman with attitude and a lady with class. *** Selama perjalanan pulang dari acara seminar, tidak ada obrolan apapun antara Devan dengan Elsa. Itu karena saat ini Devan sedang fokus menatap ponselnya. Sepertinya ada masalah karena Devan menjadi begitu serius. Elsa juga memang sedang dalam mode tidak ingin bicara. Jadi kesibukan Devan itu menyelamatkannya kali ini. Tangan kanan lelaki itu menggenggam tangannya. Sementara tangan kiri memainkan ponsel. Menggenggam tangan di mobil saat perjalanan seperti ini, sudah biasa Devan lakukan. Katanya terasa menenangkan bila menggenggam tangan Elsa begini. Pandangan Elsa tertuju ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi yang ia lalui. Tempat yang tidak pernah Elsa kunjungi. Elsa selalu penasaran seperti apa rasanya bekerja di gedung tinggi seperti itu. Menatap citylight. Ia ingin tahu. Dan keinginannya yang sudah terpendam sejak lama, kini muncul ke permukaan. Semakin menggebu-gebu setelah melihat Airin malam ini. “Halo. Iya jadinya bagaimana?” Suara Devan mulai terdengar. Elsa menoleh. Lelaki itu sedang menelepon, membicarakan mengenai pekerjaan. Pemikiran yang mengusik Elsa selama beberapa hari ini kembali muncul. Ucapan ibunya beberapa hari lalu masih menggema dengan jelas. Membuat hatinya semakin sakit seiring berlalunya hari. Waktu tidak menyembuhkan apapun. Luka itu masih tetap ada. ‘Semua yang kamu pakai ini. Dari suami kamu kan? Memangnya kamu siapa tanpa dia? Kamu sama saja seperti Mama, Elsa. Perempuan yang tidak bisa apa-apa tanpa kekayaan suaminya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD