Chapter 3

1189 Words
“Isu korupsi ini mulai didengar oleh beberapa klien, Pak. Bahkan meski kita dapat kucuran dana dari proyek Bali untuk mengganti kerugian proyek di Sumatera, tetap saja tidak memuaskan beberapa klien.” Devan membaca laporan yang diberikan Adit—sekretarisnya— sambil mendengar dengan baik informasi yang diberikan. “Masalahnya adalah penarikan dana sepihak oleh investor proyek di Kalimantan.” Devan langsung mendongak. “Penarikan? Proyeknya sudah mulai berjalan.” “Isu ini menjadi sentimen negatif di kalangan investor. Beberapa klien juga mulai mempertanyakan kredibilitas kita. Selain itu..” Adit merasa ragu untuk melanjutkan perkataanya. “Apa, Adit?” “Klien dari Jepang membatalkan rencana kerja sama mendatang, Pak.” Devan berdecak sebal. Proyek di Jepang itu cukup besar dan ia sudah berhasil mengambil hati klien saat pitching meeting. Dengan pembatalan itu, entah berapa banyak kerugian Devan. “Kenapa investor menarik dana bahkan sebelum bicara dengan saya, Adit?” “Kami juga tidak tahu mengenai itu, Pak. Investor berdalih proyeksi keuntungan tidak memungkinkan karena kasus di Sumatera. Selain itu keterlambatan progress juga dijadikan alasan. Mereka kehilangan kepercayaan kepada kita. ” “Ini Widjaja Corp, Adit. Bisa-bisanya mereka meragukan kita,” ucap Devan. Devan berusaha mengingat apakah ada celah dalam perjanjiannya sehingga investor bisa menarik dana sepihak secara tiba-tiba. Devan menghela napasnya. “Berapa dana yang kita butuhkan?” “Untuk proyek di Kalimantan, kita butuh setidaknya 28 milyar.” Devan kemudian menatap Adit. “Surplus dana dari Bali apa ada yang tersisa?” “Semuanya sudah dialokasikan untuk ganti rugi dan menutupi deficit proyek di Sumatera, Pak.” Devan menganggukkan kepala. “Kalau begitu saya akan bicara dulu dengan investor yang menarik dana tersebut. Pastikan saja proyek di Sumatera berjalan dengan lancar.” *** Elsa terpaku di depan laptopnya. Ia menonton begitu banyak video Airin yang tersebar di media sosial. Wanita itu benar-benar mengagumkan. Elsa menontonnya sambil mencuci piring. Sebenarnya Elsa sudah mendengarkan speech Airin sejak tadi dirinya memasak untuk makan malam. Sementara Elsa sibuk di dapur sendirian, anak-anak sedang bermain basket di halaman belakang. Tentu dengan suster yang menemani. ‘Jadilah perempuan yang mandiri, berpendidikan, berkarakter. Yang mandiri secara pemikiran. Berkarakter kuat dan berpendidikan tinggi. Yang tidak bergantung kepada laki-laki. Karena lelaki bisa pergi, tapi pendidikan dan karakter akan tetap tertanam dalam diri.’ Elsa menghela napasnya saat mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan Airin dalam video itu. Wanita itu sudah berusia lebih dari 30 tahun. Anak-anaknya cerdas dan berprestasi. Suaminya juga pebisnis sukses. Rumah tangga mereka terlihat begitu harmonis. Kehidupan Airin benar-benar kehidupan yang didambakan oleh banyak orang. Wanita itu juga sering membagikan video tentang edukasi finansial. Benar-benar mengagumkan. Ucapan ibunya itu seketika kembali terlintas. Berhasil membuat Elsa termenung. ‘Kamu pikir, kita bisa bertemu di level circle seperti ini karena apa? Ya karena kamu menantu keluarga Widjaja, Elsa. Satu-satunya yang membuat kamu spesial adalah karena kamu menikah dengan Devano Widjaja.’ Karena lamunannya itu, Elsa kehilangan fokus dan ia pun menjatuhkan piring ke wastafel. Pecah dan Elsa buru-buru membereskannya dengan hati-hati. Air mata Elsa kemudian menetes. Bahkan setelah bertahun-tahun kepergian wanita itu, rasa sakit yang ditimbulkannya bukannya menghilang namun bertambah seiring waktu. *** Devan pulang larut malam hari ini. Ia tahu anak-anaknya sudah tidur. Dirinya hanya membuka pintu kamar menyalakan lampu sebentar. Meski ingin mencium mereka, Devan menahannya. Ia baru datang dari luar dan tidak ingin mendekati sang anak sebelum mandi. Jadi Devan hanya mampir sebentar supaya bisa melihat anak-anaknya itu. Ia kemudian menuju kamar. “Kamu belum tidur?” tanya Devan. Elsa yang sedang membaca buku pun menoleh. “Belum. Aku nunggu kamu pulang.” “Maaf ya, Sayang. Aku lembur tadi.” Elsa mengangguk. Ia meletakkan bukunya di atas nakas. Menatap Devan yang saat ini sedang meletakkan tas dan kemudian memasuki walk in closet. Elsa pun bangkit dari duduknya dan ikut masuk kesana. Membantu Devan mengambilkan piyama tidurnya meski lelaki itu sebenarnya bisa sendiri. “Makan malam tadi masih. Mau aku angetin nggak?” “Nggak usah, Sa. Makasih. Aku enggak laper kok.” Elsa kemudian mengangguk. “Kamu tidur aja. Seharusnya nggak perlu nungguin aku.” Devan sudah memberi kabar tadi bahwa ia akan pulang lebih malam karena lembur. Elsa juga tahu dengan baik bahwa Devan akan lebih senang kalau Elsa tidak begadang hanya untuk menunggunya. Akan tetapi ada hal yang ingin Elsa bicarakan. Jadi ia sengaja menunggu Devan. “Aku mau bicara sesuatu.” Devan sudah mengambil handuk dan pergerakannya terhenti. Ia menatap Elsa. “Tentang apa?” “Nanti aja. Kamu mandi dulu sana.” Devan mengangguk dan lantas bergegas mandi. Elsa kembali ke tempat tidur. Melanjutkan membaca buku. Terlihatnya bgeitu namun sebenarnya ia sedang berpikir bagaimana cara mengatakan keinginannya kepada Devan. Saat sedang berpikir, tiba-tiba terdengar suara ponsel. Itu milik Devan, artinya ada panggilan. Elsa mengabaikannya hingga suara telepon itu berhenti. Lagi pula Devan sedang mandi dan menjawab telepon itu bukankah hak Elsa. Ia tetap menghormati privasi Devan. Tidak lama kemudian suara itu kembali terdengar, pertanda panggilan masuk. Elsa bangkit kembali dari posisinya dan mengambil ponsel itu. Menuju ke kamar mandi dan mengetuk pintu. “Van ada yang nelpon.: Sepertinya ini penting karena yang menelpon adalah sekretarisnya, Adit. Elsa sebenarnya berusaha menjaga privasi Devan dengan tidak lancang melihat ponsel lelaki itu. Berhubung panggilan itu masuk berkali-kali jadi Elsa pikir panggilan itu cukup darurat. Pintu kamar mandi terbuka begitu saja. Menampakkan Devan dengan kondisi tubuh tanpa sehelai benang pun. Tubuh polos lelaki itu penuh dengan sabun yang sepertinya belum selesai dibilas. Elsa reflek memalingkan muka. Tidak ada yang salah memang. Apalagi mereka suami istri. Hanya saja terlalu terpampang jelas dan Devan nampak tidak ada malunya sedikit pun. “Kenapa? Mau ikut mandi?” tanya lelaki itu. Sepertinya Devan hanya mendengar ketukan pintu karena tadi sedang berada di bawah shower. “Adit nelpon,” ucap Elsa sambil mengangkat ponsel milik Devan. Ia masih tetap memalingkan wajah. “Oh. Terima kasih.” Begitu ponsel diambil dari tangan Elsa, Elsa pun menuju sofa depan televisi untuk duduk disana. Setelah menunggu dengan sabar, akhirnya Devan duduk di sebelah Elsa. “Maaf ya, Sa. Tadi jadi agak lama di kamar mandi karena ngobrol sama Adit.” Elsa menganggukkan kepalanya. Merasa tidak masalah. Bahkan meski ia sudah mulai mengantuk, ini adalah risikonya sejak awal saat ia bersikeras dengan keputusan bicara hari ini kepada Devan. “Kamu mau bicara tentang apa, Sa? Rendra? Andra?” Elsa menggeleng. Ia bahkan baru sadar bahwa selama ini mereka lebih sering membicarakan mengenai anak. Elsa tidak pernah membicarakan tentang dirinya sendiri. Paling-paling hanya aktivitas yang itu-itu saja. “Aku …” Elsa menunduk sejenak. Dulu ia dan Devan sudah sepakat bahwa Elsa akan fokus mengurus anak saja. Saat itu, Elsa setuju karena kondisinya memang menuntut demikian. Ia masih beradaptasi menjadi seorang ibu saat Rendra lahir. Juga beradaptasi menjadi bagian keluarga Widjaja. Lalu disaat Rendra bahkan belum berusia satu setengah tahun, Elsa hamil. Ia kemudian menjalankan peran ibu beranak dua saat Andra lahir. Tidak ada waktu untuk memikirkan keinginannya. Bahkan sekecil apapun itu. Lalu sekarang semua keinginan terpendam itu muncul begitu saja. Tidak terbendung dan Elsa ingin melakukannya. Ia merasa sudah melakukan perannya dengan baik selama ini. Jadi Elsa, ingin mendapatkan yang ia inginkan. Mimpi yang ingin ia perjuangkan. “Aku ingin bekerja, Van.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD