“Kenapa tiba-tiba?” tanya Devan.
“Karena aku baru menginginkannya,” sahut Elsa.
Devan masih menatap Elsa. Berusaha menebak apa yang sedang dipikirkan perempuan itu sampai tiba-tiba ingin bekerja seperti ini.
“Uang dari aku kurang?” tanya Devan.
Mungkin Devan harus menambah satu kartu lagi khusus untuk Elsa gunakan sendiri. Meskipun dirinya sudah pernah menawarkan uang bulanan sampai tiga digit kepada Elsa namun ditolak. Perempuan itu hanya menghabiskan dua digit. Tidak banyak belanja untuk diri sendiri.
“Bukan.”
Devan masih tidak paham.
“Kalau begitu kenapa?” tanya Devan.
“Aku kan sudah bilang karena aku baru ingin, Van.”
“And then tell me the reason.”
Alasannya adalah pertemuan Elsa dengan ibunya. Akan tetapi ia tidak bisa mengatakan hal itu kepada Devan. Tidak bisa. Wanita itu adalah luka paling dalam di hati Elsa. Jauh melebihi penderitaan yang harus Elsa jalani di masa muda untuk melunasi hutang ayahnya.
“Tidak ada alasan apapun. Aku hanya ingin saja.”
Elsa mengalihkan pandangan.
“Kamu mau bekerja apa?”
“Bekerja kantoran. Tapi yang jelas bukan di perusahaan milik keluarga kamu. Aku mau berjuang sendiri tanpa bantuan apapun dari kamu dan tanpa memanfaatkan nama keluarga besar kamu.”
Devan terdiam. Kalau begitu maka waktu dari Elsa akan sangat tersita. Setidaknya kalau perempuan itu bekerja di perusahaan keluarga, Devan bisa memilihkan posisi yang cukup fleksibel. Yang membuat Elsa menjadi tidak begitu sibuk.
“Kalau begitu aku tidak setuju.”
Elsa langsung menoleh ke Devan. Menatap lelaki itu tidak percaya.
“Aku nggak pernah minta banyak hal dari kamu, Van. Aku cuma minta bekerja.”
“Dan aku tidak setuju, Elsa.”
Melihat ekspresi kekecewaan di wajah Elsa, Devan pun merapatkan posisinya. Ia memegang pundak perempuan itu.
“Sayang, dengar.”
Devan akan mengutarakan pemikirannya dan berharap Elsa mau mengerti.
Perempuan itu tidak mau jujur mengenai alasannya, jadi Devan tidak bisa membiarkan itu. Selain itu Devan juga punya alasan lain.
“Kita sudah sepakat tentang ini. Kamu sendiri juga yang setuju untuk tidak bekerja. Aku tidak paham kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran. Pasti ada sesuatu tapi kamu nggak mau kasih tahu aku.”
Elsa tercekat.
“Dan aku yakin ini keputusan impulsif. Apapun itu pemicunya. Aku ingin kamu pikirkan lagi secara baik-baik.”
Elsa menghela napasnya. Berusaha menahan emosi. Ia sudah kesal sejak Devan tidak setuju.
“Aku tidak sepenuhnya melarang kamu bekerja, Elsa. Tapi timing sekarang sangat kurang tepat.”
Elsa masih menatap ke arah lain namun ia tetap mendengarkan.
“Sayang lihat aku,” panggil Devan lembut. Meminta Elsa mau menatap matanya karena saat ini Devan sedang benar-benar bicara dengan serius.
“Rendra masih kecil. Begitu juga Andra. Mereka masih butuh perhatian dari kamu sepenuhnya. Aku sudah sibuk bekerja selama ini dan kehilangan momen membersamai mereka dalam pertumbuhan. Itu adalah waktu yang tidak pernah bisa aku beli, Sayang. Dan aku nggak mau mereka juga merasakan ketidakhadiran kamu karena sibuk bekerja. Cukup aku saja yang hanya punya sedikit waktu bersama mereka, Sayang.”
Mata Elsa berkaca-kaca.
“Tapi … “
Andra sudah cukup besar. Lagi pula Elsa akan mencari pekerjaan yang tidak terlalu sibuk. Apa saja, asal bukan perusahaan dari keluarga Widjaja. Elsa ingin membuktikan bahwa ia juga bisa bekerja tanpa privelegenya sebagai menantu keluarga Widjaja.
“Tolong dipikirkan lagi. Pembicaraan ini kita tutup.”
***
“Iya. Saya akan ke Bali untuk menemui beliau. Kamu tolong handle yang di Jakarta dulu. Kalau lancar maka nanti sore saya kembali. Tapi kalau tidak … “
Devan membuka laci tempat dasi-dasinya tersimpan. Ia mengambil asal dari sana.
“Mungkin besok baru kembali. Saya akan pastikan dapat dana secepatnya,” imbuh Devan.
Investor yang menarik dana secara tiba-tiba itu sedang berada di Bali. Dan Devan yang ingin bicara secara langsung pun harus datang kesana.
“Iya. Baik. Terima kasih.”
Panggilan telepon itu Devan akhiri. Kepalanya sudah pusing sejak semalam memikirkan cara untuk mengatasi masalah ini. Proyeknya tidak boleh gagal. Karena akan sangat memengaruhi kepercayaan klien di masa mendatang.
Ini bahkan masih terlalu pagi tapi Devan sudah mulai sakit kepala. Lelaki itu keluar dari walking closet dan kemudian mengambil tas kerjanya. Bergegas keluar kamar untuk menuju meja makan. Tempat Elsa berada.
Perempuan itu sedang memastikan Rendra sarapan dengan baik. Bersamaan dengan itu Andra menangis entah karena apa. Tadinya Devan ingin meminta tolong Elsa memakaikan dasi, namun perempuan itu nampak sedang kerepotan.
“Elsa. Aku tidak sarapan ya. Harus berangkat sekarang.”
Karena Devan harus segera tiba di bandara.
Perempuan itu menggendong Andra terlebih dahulu kemudian menoleh.
“Bekel kamu lagi disiapin.”
“Maaf sepertinya tidak keburu.”
Devan mengecup pipi Elsa dengan cepat. Lalu mengusap kepala Andra. Anak itu masih saja menangis. Lalu Devan dengan cepat menghampiri Rendra yang duduk di kursi sambil menyuap makanan ke mulutnya.
“Papa berangkat duluan ya,” ucap Devan mengecup pipi Rendra, mengusap kepalanya kemudian berlalu.
Elsa tidak bicara apapun karena ia fokus menenangkan Andra yang sedang rewel.
Begitu Devan sampai mobil, ia minta agar supirnya itu mengendara dengan cepat. Devan lantas mencoba memasang dasinya sendiri.
***
Erisca menyeruput kopinya dengan santai sambil mendengar informasi yang Mona berikan. Ia tersenyum saat tahu Devan ke Bali hari ini.
“Kasihan sekali. Padahal beberapa hari lalu terburu-buru pulang ke Jakarta dan sekarang harus kemari lagi.”
Erisca kemudian menatap kuku tangannya. Sepertinya ia harus berganti nail art sekarang. Warnanya kurang cocok untuk hari ini.
“Jadi berapa uang yang harus aku keluarkan agar investor itu tidak terbujuk negosiasi dengan Devan?” tanya Erisca.
Mona meletakkan tabletnya di meja Erisca. Menunjukkan berapa pengeluaran lagi yang harus Erisca bayar hanya untuk menjegal semua proyek Devan.
“Dia minta harga lebih karena mengkhianati hubungan dengan Widjaja Corp yang sudah terjalin sejak lama.”
Erisca pun terkekeh.
“Padahal sudah aku janjikan dia masa depan cerah dengan berpartner bersama Martheaven.”
Erisca kemudian tersenyum melihat nominal yang harus ia bayar.
“Manusia memang selalu serakah. Tapi tidak apa. Keserakahan yang bisa diatasi dengan semua uangku.”
Erisca mengembalikan tablet tersebut kepada Mona.
“Bayarkan saja. Minta dia beritahu kapan aku bisa keluar untuk nemenui Devan.”
Erisca kembali menatap kukunya.
“Menurutmu warna apa yang harus aku pakai, Mona?”
“Merah sangat cocok dengan Ibu,” sahut Mona.
“Karena aku akan sangat seksi begitu dipadukan dengan merah?” tanya Erisca seraya menatap Mona.
Perempuan itu mengangguk. Erisca kemudian menjentikkan jari.
“Good. Kalau begitu siapkan warna merah terbaik yang bisa aku pakai. Devan pasti lelah bolak balik Jakarta Bali. Dia harus menjadi segar begitu melihatku.”
“Baik, Bu.”
Mona sudah bersiap melangkah pergi.
“Ah tunggu, Mona.”
“Iya, Bu?”
Mona langsung sigap berbalik.
“Aku harus mengganti nail art juga. Aku harus sesempurna mungkin saat menemui Devan. Mengerti?”