Chapter 5

1115 Words
Devan gagal. Usahanya untuk bernegosiasi tidak membuahkan hasil. Bahkan meski investor tersebut sudah cukup lama akrab dengan keluarga Widjaja. Entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Akan tetapi Devan sudah mengusahakan yang terbaik. Lelaki itu kemudian segera menelpon Adit. Memberitahu hasilnya. “Saya gagal. Maaf, Adit. Sepertinya kita harus mulai cari investor lain yang lebih berpotensi. Baik, terima kasih.” Devan kemudian meletakkan ponsel di atas meja dan menyandarkan tubuh di kursi. Memejamkan mata sejenak sambil memikirkan bagaimana mencari uang untuk proyek yang berjalan. Widjaja corp tentunya punya cukup uang. Akan tetapi tidak bisa sembarang Devan likuidasi. Apalagi juga biasanya setiap proyek sejenis begini selalu memanfaatkan modal dari investor. “Devan?” Suara itu membuat Devan langsung membuka matanya. Ia terkejut melihat perempuan itu disini. “Erisca?” “Aku duduk disini ya.” Devan bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menolak. “Aku tadi tidak sengaja mendengar kamu bicara melalui telepon. Kamu sedang cari investor?” Devan pun hanya diam. Ditatapnya Erisca dengan lekat. Devan tahu dan sangat sadar kalau Erisca ini cantik. Akan tetapi tetap saja pesonanya tidak bisa menandingi Elsa. Sekarang perempuan itu mengenakan pakaian berwarna merah yang membuatnya terlihat seksi. Seksi memang tapi mata Devan jadi sakit melihatnya karena terlalu mencolok. “Iya. Investor kami mendadak menarik dana.” “Kenapa begitu? Bukannya seharusnya tidak bisa? Kan ada perjanjian.” Itu juga kelalaian Devan karena ada celah. Akibat terlalu akrab karena sudah biasa bekerja sama bertahun-tahun. Sebuah pelajaran juga bagi Devan. “Ada kesalahan dan celah.” Erisca pun mulai memainkan rambutnya yang terurai. Melingkarkannya ke tangan dan pura-pura berpikir. “Kamu butuh dana berapa? Martheaven punya arus kas yang bagus dan dana yang banyak. Aku bisa atur untuk pendanaannya.” Ponsel Devan di atas meja yang berdering itu membuat Devan langsung dengan mudah mengalihkan perhatiannya dari Erisca. Ia kemudian mohon izin untuk mengangkat telepon sejenak. Erisca pun mengangguk. Begitu Devan bangkit dari duduknya dan menjauh, Erisca langsung berdecak. “Siapa yang berani mengganggu waktuku?” gumam Erisca. Erisca kemudian menatap ke dadanya. Belahannya itu dirasa kurang rendah. Ia pun menurunkannya sedikit. Devan harus melihatnya dan harus terpaku menatap kesana. Itu kesukaan banyak lelaki kan? Dan Erisca berani bertaruh Devan yang normal pasti sejak tadi menahan diri semenjak melihatnya. Jemari Erisca diketukkan ke meja karena tidak sabaran. Ia menatap punggung lebar Devan. Lelaki itu entah menerima telepon dari siapa sampai cukup lama. Sebenarnya tidak selama itu juga, Erisca saja yang tidak bisa bersabar. Pandangan Erisca pun kemudian menatap punggung itu lekat. Devano Widjaja itu, kenapa bisa terlihat begitu menggoda padahal hanya berdiri tegak saja. Erisca ingin memeluk punggung itu. Ia jadi semakin tidak sabar. Devan pun membalikkan tubuhnya. Kemudian segera kembali ke tempat duduk. Erisca memberikan senyumannya. “Jadi bagaimana?” tanya Erisca. “Terima kasih untuk tawaranmu, Erisca. Kebetulan aku baru dapat investor tadi. Akan tetapi. Kalau kau juga ingin berinvestasi. Kita bisa membicarakannya.” Erisca pun tersenyum. Meski ini tidak sesuai ekspetasi Erisca, yang penting Devan mau masuk perangkapnya saja dulu. Erisca akan pastikan dirinya mencari tahu siapa yang membantu Devan itu. Ia hanya perlu menyingkirkannya jadi Devan hanya akan bergantung padanya. “Baiklah. Bagaimana kalau membicarakannya di tempat lain?” “Tempat lain?” tanya Devan mengernyitkan kening. “Kenapa tidak disini saja?” tawar Devan. *** Elsa merintih kesakitan kala jarinya itu tergores pisau. Ini juga salahnya karena melamun saat mengiris. Sekarang jemarinya itu berdarah. Dengan cepat Elsa menuju wastafel untuk membersihkan jemarinya dari darah yang keluar. Seharian ini Elsa tidak bisa fokus karena ia terus memikirkan mengenai ucapan Devan semalam. Bahkan jauh di lubuk hati Elsa yang paling dalam, sejak awal ia sebenarnya tidak setuju dengan semua kesepakatan itu. Ia sudah merasa cukup menyesal sejak mengandung Andra. Bukan hanya karena Regard masih sangat kecil kala itu. Akan tetapi juga sebenarnya karena rencana yang Elsa siapkan jadi harus tertunda lagi. Elsa sudah berniat mengatakannya kepada Devan kala itu. Bahwa jika Regard sudah sedikit besar maka Elsa ingin bekerja. Jadi mereka cukup punya anak satu saja dulu. Siapa sangka Elsa cepat hamil anak kedua. Ia tidak boleh menyalahkan rejeki yang diberikan kepadanya. Akan tetapi sungguh Elsa sudah memandam itu sendirian selama ini. Ia baru memiliki cita-cita saat Devan membantunya melunasi hutang. Begitu semua hutangnya lunas, Elsa baru bisa memikirkan masa depannya. Setelah selama ini Elsa bahkan tidak berani bermimpi apapun karena yang diinginkannya hanya sebatas bisa tetap hidup dan melunasi hutang. “Ya ampun, Ibu!” Asisten rumah tangganya itu membuat Elsa terkejut dan lamunannya buyar. Keran air di wastafel dimatikan dan jemari Elsa kemudian disentuh. Elsa tidak sadar kalau ia telah membuang-buang air karena melamun. “Sini Ibu diobati dulu.” Elsa hanya menurut. Saat ini ia sedang tidak ingin memikirkan apapun. “Anak-anak dimana, Mbak?” tanya Elsa saat dirinya sudah duduk di kursi. Sementara Citra mengambil kotak P3K. “Masih pada nonton TV. Saya mau ambil buah di kulkas. Ibu sehabis ini temani anak-anak saja. Biar saya yang lanjut masak, Bu.” *** Suara tawa Rendra dan Andra yang sedang bermain itu menjadi satu-satunya yang meramaikan ruangan ini. Elsa juga ada disini namun ia hanya diam memperhatikan. Devan pergi ke Bali untuk urusan pekerjaan. Entah apa yang membuatnya kembali kesana padahal baru kembali kemarin. Lelaki itu tadi mengirim pesan bahwa akan pulang lebih lama dari yang direncanakan. Elsa tidak membalasnya. Ia masih cukup kecewa dengan ucapan lelaki itu. “Mama, mama.” Andra tahu-tahu berlari ke arahnya untuk bersembunyi dari Rendra yang mengejar. Elsa pun memegangi Andra agar anak itu tidak terjatuh. Andra terlalu aktif kalau sudah bermain lari-larian begini. Citra akhirnya masuk ke ruang bermain. “Mbak tolong jaga sebentar ya.” Elsa kemudian menatap Andra dan Rendra. “Sama Mbak Citra dulu. Mama mau ke kamar dulu.” Untungnya Andra dan Rendra manut saja. Elsa kemudian segera keluar dari ruang bermain dan lantas menuju kamar. Ia membuka lemari dan mengambil laptopnya dari sana. Laptop yang menjadi teman berjuangnya. Sudah lama sekali Elsa tidak menyalakan laptop itu. Bahkan bisa dibilang Elsa sudah tidak pernah menyentuh laptop lagi begitu hamil Rendra. Berharap laptop itu masih bisa menyala dan untungnya masih bisa. Elsa pun terkekeh begitu mendengar suara mesin laptop begitu menyala. Suaranya sangat bising. Elsa kemudian menyentuh keyboardnya. Rindu sekali saat jemarinya bergerak di atas keyboard dengan cepat agar bisa menyelesaikan tujuannya mengetik. Laptop itu lama sekali menyalanya. Jadi Elsa putuskan untuk mengambil ponsel. Ternyata ada begitu banyak panggilan tidak terjawab dari Devan. Lelaki itu juga mengirim pesan. Kata Mbak Citra kamu terluka Marah? Setidaknya tolong angkat telepon Panggilan telepon itu kembali masuk dari Devan. Elsa menghela napasnya. Ia mengangkat telepon dari Devan itu. “Sayang.” Ucapan lembut dari Devan itu membuat air mata Elsa jatuh begitu saja. “Kamu marah?” tanya Devan kemudian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD