Tiga hari sudah lebih dari cukup untuk dihabiskan bersama Erisca di Bali. Pembahasan mengenai kerja sama dan inventasi yang diberikan Martheaven akhirnya selesai. Tiga hari juga adalah waktu yang cukup untuk memberi jeda berpikir. Baik untuk Devan maupun untuk Elsa. Jadi begitu Devan tiba di rumah malam ini saat anak-anaknya sudah tertidur, ia akan langsung membicarakan mengenai keinginan Elsa tersebut.
“Kamu boleh bekerja,” ucap Devan.
Elsa langsung menatapnya untuk meneliti apakah Devan serius dengan ucapannya itu. Ekspresi lelaki itu memang cenderung datar bahkan saat sedang tidak serius. Jadi Elsa tidak tahu apakah Devan serius atau tidak. Meski bisa dibilang lelaki itu tidak pernah bercanda bila sudah mengenai pembicaraan seperti ini.
“Aku cuma minta kamu cari pekerjaan yang nggak terlalu menyita waktu kamu. Aku juga nggak akan memaksakan kamu untuk kerja di anak perusahaan Widjaja Corp.”
Apapun itu yang membuat Devan akhirnya memberikan izin, maka Elsa benar-benar berterima kasih. Mungkin juga karena Elsa mendiamkan lelaki itu. Merajuk dan perang dingin saat mereka LDR Jakarta Bali beberapa hari ini. Yang jelas Elsa kini merasa sangat senang.
“Thank you,” ucap Elsa sumringah.
Ia langsung lari ke pelukan Devan. Memeluknya erat. Entah kenapa jadi sangat antusias menjalani hari. Tidak sabar untuk segera dapat pekerjaan.
Tangan Devan pun melingkari pinggang perempuan itu. Ikut memeluknya erat. Merasa lega karena akhirnya bisa melihat Elsa tersenyum lagi.
“Tapi beneran ya jangan nyari kerjaan yang bikin sibuk banget. Aku udah sibuk. Nggak mau kamu juga sibuk.”
Elsa mengangguk dalam pelukan lelaki itu. Hingga tahu-tahu tubuhnya sudah mendarat di kasur dengan tubuh Devan berada di atasnya. Lelaki itu kemudian mengecup bibir Elsa. Sangat rindu. Dengan segala permasalahan yang terjadi di kantor serta sempat diabaikan oleh lelaki itu, Devan ingin mereka lebih intim sekarang.
“I miss you and i want you.”
Begitu bibirnya mencecapi cekuk leher Elsa, Elsa langsung menghentikannya.
“Maaf tapi aku lagi dapet,” ucap Elsa yang langsung membuat Devan berdecak sebal.
***
Langkah Erisca terhenti begitu ia melihat wanita itu duduk di sofa ruang tamu. Sepertinya menunggu kedatangannya.
“Manis sekali. Menungguku hingga pulang,” ucap Erisca seraya tersenyum mencemooh.
Perempuan itu melanjutkan langkahnya dan kemudian melewati ibu tirinya begitu saja. Ah tepatnya Erisca tidak pernah menganggapnya sebagai ibu bahkan meski ibu tiri sekali pun.
“Sayang sekali itu tetap tidak akan menjadikanmu ibu yang layak.”
Erisca berlalu. Seharusnya ia tidak pulang kesini tadi. Siapa yang menduga wanita itu akan datang kesini, ke vila tempat Erisca tinggal selama di Bali. Erisca tinggal tunjuk tempat mana yang ia inginkan agar tidak perlu satu atap dengan wanita sialan itu. Masalahnya ia sudah terlalu lelah untuk berpindah tempat. Lagi pula jika ada yang harus pergi maka wanita itu yang seharusnya pergi dari ini.
“Apa menjadikan Devan milikmu, cukup untuk menjadikanku ibu yang layak?”
Langkah Erisca seketika terhenti. Ia membalikkan tubuh dan menatap wanita itu.
“Jangan menganggap dirimu paling berjasa, b***h. Kau bahkan tidak berbuat banyak.”
Dengan kondisi hubungan seperti ini, meminta bantuan wanita itu sama saja dengan mendeklarasikan bahwa Erisca membutuhkannya dalam hidup ini. Mau bagaimana lagi. Siapa sangka wanita sialan yang kini berstatus sebagai ibu tirinya itu adalah mertuanya Devan. Lebih tepatnya tidak ada yang tahu wanita sialan itu adalah mertuanya Devan.
“Sesuai janjimu. Jika Devan bercerai, maka kau akan berikan yang aku inginkan.”
Erisca tertawa.
“Baiklah. Mari kita lihat seberapa bisa kau membuat Devan jadi milikku. Saat itu terjadi maka aku akan dengan senang hati berlutut dan menganggapmu sebagai ibuku, bitch.”
Erisca kemudian melenggang pergi.
“Baguslah. Setidaknya kau berguna juga selain mengeruk harta ayahku,” pekik Erisca sambil melangkah.
***
“Happy banget kayaknya,” celetuk Devan sambil menyerahkan dasinya agar dipasangkan oleh Elsa.
Sejak pagi perempuan itu sudah bersenandung riang. Pertanda kalau kondisi hatinya sedang benar-benar bahagia pagi ini.
“Aku mau coba ngelamar kerja today.”
Devan pun hanya senyum saja. Ia menatap ekspresi sumringah yang ada di wajah istrinya itu.
Satu sisi ia sebenarnya masih merasa kurang setuju dengan keputusan Elsa. Akan tetapi sisi lain, dirinya berusaha membiarkan Elsa menjalani yang diinginkannya. Lagi pula Elsa tidak pernah banyak meminta selama ini. Mungkin Elsa hanya sedang jenuh dengan kesehariannya.
“Kalo kamu butuh bantuan, bilang aja.”
Elsa menggeleng dengan pandangan yang masih fokus pada dasinya Devan.
“Enggak. Aku mau usaha sendiri.”
Setidaknya Elsa punya portofolio hasil bekerja freelance dulu. Jadi itu yang akan diandalkan saat melamar nanti.
“Oke. Kalau berubah pikiran, kabarin aja.”
Jemari Elsa pun menepuk pundak Devan begitu dasinya selesai dipasang.
“Udah. Aku mau liat anak-anak.”
***
Pagi ini Devan sempatkan sarapan bersama. Rendra sudah rapi dengan seragamnya dan Andra yang untungnya pagi ini cukup tenang sambil meminum susunya. Sementara Elsa yang hawa riangnya masih kentara lewat senandung, sedang mengambilkan makanan untuk Rendra.
“Hari ini aku anter Rendra. Kamu di rumah aja,” ucap Devan.
Elsa tidak protes dan hanya menganggukkan kepalanya.
Pandangan Devan kemudian tertuju pada Rendra.
“Papa yang anter ya,” ucapnya sambil menoel pundak anak sulungnya itu. Rendra menganggukkan kepala sambil mengangkat ibu jarinya.
Pandangan Devan kembali fokus ke Elsa. Ah, pagi yang hangat begini terasa semakin menyenangkan karena melihat senyuman bertengger di wajah perempuan itu.
***
“Yap. Seperti yang gue bilang, udah deal sama Martheaven.”
Devan tahu kalau ia terkesan tamak dan memanfaatkan kakak iparnya sendiri. Oke, Devan akui masih aneh rasanya menganggap Bram sebagai kakak ipar. Akan tetapi itulah kenyataannya.
Bram yang memberi bantuan dana darurat. Akan tetapi berhubung ada penawaran fantastis dari Martheaven jadi Devan terima saja. Dana dari Bram tentu saja ia tolak meski awalnya ia sangat berterima kasih.
“Ya udah deh kalo gitu. Kabarin aja pokoknya mah kalo butuh bantuan lagi. Pasti abang bantu.”
Abang? Devan selalu kesal setiap mendengar itu. Akan tetapi ia tidak bisa melakukan apapun selain mengabaikannya. Karena semakin Devan menunjukkan bahwa dirinya kesal mendengar sebutan itu, maka akan semakin sering Bram menyebutnya.
“Thank you. Tapi gue butuh bantuan lagi. Untuk yang satu ini bisa ketemu?” tanya Devan.
“Wow. Kalo kangen mah bilang aja, adikku.”
“Gue serius, Bram.”
“Oke, oke. Tentang apa emangnya? Kayaknya serius banget.”
Devan tidak bisa bilang sekarang karena ia merasa lebih baik langsung saja mengatakannya nanti saat bertemu. Akan tetapi yang jelas untuk satu ini, Devan hanya bisa minta tolong kepada Bram.
“Nanti gue kasih tau setelah ketemu,” sahut Devan.