Begitu panggilan berakhir, tubuh ramping Resha langsung terduduk lemas di atas kursi. “Ya Allah, tolong lindungi si kembar di mana pun mereka berada,” gumamnya.
“Sha, kamu pulang saja dulu. Biar tenang,” bujuk Sabrina yang ikut cemas.
Untuk sejenak, Resha menatap pintu keluar Divisi Project, lalu ia pun menggeleng. “Nggak bisa sekarang, Sab. Barusan Mas Abhi mau jemput anak-anak. Semoga mereka mau sabar menunggu.”
“Mas Abhi teh memang baik banget, tapi apa kamu bisa tenang di sini?” tukas Sabrina.
“Mana bisa aku tenang, Sab? Tapi, aku juga nggak bisa pulang sekarang. CEO barunya sebentar lagi datang. Semua staf Divisi Project harus standby, ‘kan? Aku tunggu kabar dari Mas Abhi dulu.” Resha sudah menghela napas gusar sambil terus berdoa di dalam hati.
“Ya, semoga Mas Abhi bisa handle dan si kembar baik-baik saja,” timpal Sabrina prihatin.
“Aamiin,” sahut Resha lirih. Namun, jantungnya tetap berdegup kencang dengan perasaan kian kacau. Ia tahu, Rakha anak yang sabar, tetapi Rahiel … biasanya sang putri tidak suka menunggu terlalu lama.
***
Di sisi lain Kota Bandung, sepasang anak kembar berusia enam tahun lebih dibalut seragam taman kanak-kanak warna biru muda, tengah berjalan menyusuri trotoar dekat jalan raya. Tas ransel kecil itu menggantung pasrah di punggung mereka.
Yang laki-laki—Rakha Elvardhan—berjalan di depan dengan gurat wajah serius. Di belakangnya, sang adik kembar—Rahiel Elvarien—melompat-lompat kecil tanpa beban. Dua saudara kembar itu memang memiliki kepribadian yang jauh berbeda.
“Kak Rakha, restoran Ayah Abhi masih jauh nggak, sih? Aku udah lapar,” cicit Rahiel.
Mendengar pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya, Rakha sukses menghela napas frustrasi. “Kakak juga nggak tahu, Rahiel. Lagian, tadi kamu yang nggak sabaran nunggu Ayah Abhi jemput. Malah ajak Kakak pulang,” sahutnya datar.
Rahiel malah berhenti sambil mengusap perutnya. “Tuh, ‘kan. Cacingnya marah-marah lagi. Aku lapar banget, Kak. Bekal dari Mama udah habis. Botol minum juga kosong.”
Rakha pun menoleh dan ikut berhenti. “Jadi, kamu mau balik ke sekolah lagi atau ke restoran Ayah Abhi?”
“Ke restoran Ayah Abhi aja, deh. Kepingin cumi goreng,” sahut Rahiel sambil memanyunkan bibirnya.
Rakha berakhir memutar bola matanya. “Ya udah. Ayo jalan lagi,” ajaknya dingin, seperti biasa.
Kini, Rahiel pasrah saja kala digandeng kakak kembarnya. Sampai beberapa saat kemudian, sebuah Mercedes Benz hitam yang melintas di jalan raya itu tiba-tiba menepi dan berhenti tepat di dekat mereka. Satu sosok lelaki gagah nan tampan, dalam balutan jas hitam mahal, turun dengan cepat dari jok belakang.
Rahiel langsung berbinar sambil menangkup kedua pipi tembamnya. “Ya ampun, Om-nya tampan!”
Lelaki itu tersenyum tipis, lantas menyipitkan matanya sebelum bertanya, “Kenapa kalian jalan kaki di sini? Orang tua kalian di mana?”
Rahiel tersenyum lebar hingga gigi putih rapinya mengintip keluar. “Nyasar, Om.”
“Nyasar?” Lelaki itu sontak mengernyit.
Rakha langsung menimpali dengan datar, “Nggak nyasar. Kami cuma nggak tahu jalan pulang.”
Lelaki itu menarik tipis kedua sudut bibirnya. Nada bicara anak laki-laki itu dingin sekali. Sorot matanya juga sangat datar. Demi apa, lelaki itu merasa seperti sedang berkaca sekarang. “Hm, kalian kembar, ya? Kalau boleh Om tahu, nama kalian siapa?”
“Aku Rahiel, Om!” jawab Rahiel sambil mengerjap polos dengan mata hazel-nya.
Lelaki itu berakhir terperangah. Mata hazel gadis kecil itu mengingatkannya pada seseorang. “Oh, ya. Yang ini?” Ia beralih menoleh pada anak laki-laki di samping Rahiel.
“Rakha.” Jawaban itu menguar datar dari bibir tipisnya. Namun, tatapannya menusuk tepat pada mata lelaki asing tersebut. Lelaki itu pun balas menatapnya lekat. Ada sesuatu dalam sorot mata anak itu yang terasa familier.
“Lalu orang tua kalian di mana? Kenapa pulang sekolah jalan kaki begini?” Berondongnya kemudian.
Rakha pun menyahut datar, “Mama kami di kantor, kalau Papa … udah ke surga.”
Pribadi jangkung dalam penampilan eksekutif muda itu tampak terkesiap kecil. Ia terdiam beberapa detik, lalu kembali bertanya, “Apa kalian tahu alamat rumah kalian? Mau Om antar pulang?”
Alih-alih setuju, Rakha malah memicing semakin dingin. “Apa buktinya kalau Om orang baik dan bukan penculik.”
Detik itu juga lelaki itu terkekeh dan langsung berjongkok di depan Rakha, menyamakan tingginya. “Kamu memang anak cerdas, ya.” Ia usap lembut pucuk kepala Rakha, lantas merogoh dompet mahalnya dari balik saku jas, lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. “Ini KTP Om. Kamu pegang saja dulu kalau masih ragu. Nanti kalau Om—.”
“KTP asli atau palsu?” tukas Rakha penuh kecurigaan.
Lelaki itu sontak terbelalak. “Itu—.”
Namun, belum sempat ia menyahut, kartu identitasnya langsung disambar Rahiel.
Gadis mungil itu langsung mengeja namanya di sana. “Reyvan Putra Rajaswa. Oooh, namanya Om Reyvan, ya? Sama, ya, nama kita pakai ‘R’. Nama Mama juga pakai ‘R’. Iya kan, Kak Rakha?”
Rakha hanya balas mengangguk. Tak ayal lelaki itu semakin penasaran saja. “Siapa nama Mama kalian?” tanyanya dengan tatapan penuh arti.
“Nama Mama kami Re—.”
“Rakha! Rahiel!”
Suara tenor itu langsung menyentak indra pendengar ketiganya hingga serempak menoleh. Tampak seorang lelaki jangkung baru saja turun dari sedan silver-nya dan berlarian mendekat. Ia langsung berlutut di depan dua anak kembar tersebut.
“Ya ampun … Rakha, Rahiel. Ayah takut banget waktu guru kalian bilang kalian nggak ada di sekolah. Kenapa kalian nggak tunggu Ayah jemput, Nak?” Pertanyaan itu terlontar dengan nada cemas.
Rahiel pun menyahut dengan gurat wajah berubah sendu tiba-tiba, “Habisnya Rahiel lapar, Ayah. Makanya Rahiel ajak Kak Rakha langsung ke restoran Ayah. Rahiel pingin cumi goreng tepung yang Ayah masak semalam.”
Lelaki bernama Abhi itu mengembuskan napas beratnya, lalu mengusap pipi mochi Rahiel. “Ternyata lapar. Ya sudah, ayo ke restoran Ayah sekarang,” ajaknya.
“Yeay!” Rahiel langsung menarik tangan mungilnya dari genggaman sang kakak dan beralih menggamit lengan Abhi.
Sejenak, Abhi melirik lelaki berjas di depannya dan menguar tatapan waspada. Lantas, ia langsung menggandeng tangan Rakha, dan tanpa berkata sepatah kata pun bergegas membawa si kembar ke mobilnya.
Lelaki berjas hitam tadi terpaku beberapa sekon menatap sedan silver tersebut melaju pergi dari sana. Sampai asisten pribadinya turun dari jok kemudi dan berkata, “Tuan Muda, kita harus pergi sekarang. Tuan Muda Romy sudah menunggu di King Land Development.”
Saat itulah lelaki itu tersentak setelah menyadari sesuatu. “Okta, KTP saya dibawa anak kecil tadi!”
“Apa?”
***
Lobi utama King Land Development sore itu mendadak lebih ramai dari biasanya. Karpet merah kecil digelar dari pintu kaca utama sampai ke meja resepsionis.
Puluhan staf berdiri berjajar rapi di sisi kanan dan kiri, mengenakan pakaian kerja terbaik mereka. Para manajer divisi bahkan sudah berdiri di barisan paling depan dengan gurat wajah begitu tegang.
Mereka semua tengah menyambut sang CEO baru yang sudah tiba di sana. Semua serempak menahan napas kala mendengar derap langkah kaki tegap memasuki pintu kaca lobi yang terbuka lebar.
Tampaklah seorang lelaki tampan paripurna dengan style rambut koma, berpostur tinggi tegap, dan dibalut jas hitam mahal yang melekat sempurna pada tubuh atletisnya. Aura dingin itu langsung terasa, bahkan dari jarak beberapa meter.
Beberapa karyawan perempuan sudah saling menyikut seraya melempar bisikan sumbang.
“Ya Allah, ganteng banget. Lebih ganteng dari Pak Romy.”
“Serius ini CEO baru kita? Bikin betah kerja mah kalau gini.”
“Kalau diminta lembur pun aku bersedia, apalagi diminta jadi istrinya.” Itu suara si centil Amelia.
“Hust!” Namun, heels-nya langsung diinjak Sabrina hingga ia meringis.
Resha awalnya tidak terlalu memperhatikan. Sampai lelaki itu melangkah masuk semakin dekat dan langkahnya berhenti sebentar dengan mata elang menyapu ruangan.
Tatapan tajam itu bergerak dari satu barisan karyawan ke barisan lain, lalu berhenti tepat pada satu wajah perempuan berkerudung biru muda yang berdiri di barisan tengah. Resha.
Pada saat bersamaan, Resha mendongak dan menatap atasan barunya tersebut. Namun, detik itu, waktu seakan-akan berhenti. Jantung Resha langsung berdetak kurang ajar. Matanya sukses membelalak dengan lutut mulai terasa lemas.
Demi apa, lelaki tampan yang kini menjadi CEO baru perusahaan ini adalah seseorang yang pernah menjadi seluruh dunianya tujuh tahun lalu. Reyvan Putra Rajaswa.
To be continued ….