Waktu seakan-akan berlari. Tujuh tahun telah berlalu sejak Resha pergi membawa luka yang tak pernah terobati. Pagi itu, suasana di lantai tiga gedung King Land Development—sebuah perusahaan properti yang dikenal cukup besar di Bandung—tidak sesibuk biasanya.
Deretan kubikel di Divisi Project yang pada hari kerja biasa dipenuhi bunyi ketikan keyboard dan suara diskusi tentang site plan, perizinan, atau jadwal pembangunan, hari ini yang terdengar justru bisik-bisik sumbang yang berusaha ditahan agar tidak terlalu mencolok. Hanya satu karyawan yang tampak terdiam. Siapa lagi kalau bukan Resha.
“Eh, kalian sudah dengar belum?” cicit seorang karyawan perempuan sambil mencondongkan tubuhnya melewati sekat kubikel—Amelia, si biang gosip.
“Dengar apa, sih?” sahut yang lain, kepalang penasaran.
“Hari ini, kabarnya kita kedatangan CEO baru, Guys!” ungkap Amelia girang, nyaris melompat dengan heels-nya.
Kalimat itu langsung memancing beberapa kepala muncul dari balik partisi. “Serius? Jadi, Pak Romy benar-benar diganti?”
“Iyalah. Katanya, CEO barunya dari kantor pusat Jakarta langsung yang turun tangan, lho,” tambah Amelia dengan tatapan berbinar.
Mendengar nama Kota Jakarta, membuat Resha langsung mendongak dari kubikelnya. Sudah tujuh tahun ia meninggalkan kota besar itu, pergi jauh dari seseorang yang pernah sangat berarti baginya.
“Kenapa teh tiba-tiba diganti?” Sabrina, karyawan yang paling dekat dengan Resha, langsung menyeletuk.
“Katanya mau restrukturisasi anak perusahaan. Eh, tapi yang paling penting bukan itu, lho, Guys. Katanya … CEO barunya itu ganteng banget!” Amelia memekik heboh.
Tak ayal mulutnya langsung dibekap Sabrina. “Jangan teriak-teriak atuh, Mel. Entar Pak Dimaz dengar.”
Karyawan lain langsung tergelak kecil. “Ah, kamu mah tiap ada bos baru selalu bilang ganteng,” timpal yang lain, membuat Resha tersenyum seraya menggelengkan kepala. Sudah tidak heran dengan temannya itu.
Amelia sontak menepis tangan Sabrina, lalu kembali bersuara. “Ini beda! Temanku di HRD pusat yang bilang sendiri. CEO baru kita ini orangnya tinggi, gagah, tampan paripurna, karismatik juga. Meskipun kayak kulkas sepuluh pintu, sih.” Amelia terkekeh anggun sambil menutup mulutnya.
Sabrina sukses memicing. “Hm … boleh juga tuh bos baru. Terus statusnya teh gimana?”
“Tenang atuh, dia masih single.” Amelia mengedipkan sebelah matanya.
“Wah!” Beberapa staf perempuan pun ikut berbinar.
“Sebentar, aku bayangin dulu kalau dia lewat sini, terus dia lihat aku, dan langsung jatuh cinta. Gimana, dong?” Si centil Amelia kian heboh saja.
Sabrina sukses berdecih. “Tolong sadar diri, Bestie. Jangan malu-maluin divisi kita!”
Gelak kecil kembali pecah di antara mereka. Namun, di kubikelnya, Resha sama sekali tidak tertarik dengan percakapan itu. Perempuan cantik berkerudung biru muda senada blazer-nya tersebut hanya duduk diam di kursinya.
Jemari lentiknya masih bergerak cepat di atas keyboard laptop. Matanya tengah fokus pada gambar site plan yang terbuka di layar.
“Sha ….” Tiba-tiba Sabrina mendekat dan mengetuk sekat kubikelnya, sengaja.
Resha pun mendongak dengan kening berkerut. “Ya?”
Sahabat dekatnya itu sudah menyembulkan wajah dari balik sekat kubikelnya. “Hei, kerja melulu. Heran, deh. Kamu dengar nggak, Sha? CEO baru kita teh datang hari ini. Menggantikan Pak Romy.”
Resha mengangguk singkat. “Iya, aku sudah dengar, kok.”
Sabrina langsung mendengkus. “Kamu itu, ya. Dunia runtuh pun tetap fokus kerja. Please, sesekali have fun, Sha.”
Resha hanya tersenyum tipis. “Deadline tender-nya minggu depan, Sab. Aku harus selesaikan proposalnya.”
“Kamu teh kerajinan, padahal Pak Dimaz belum datang. Jangan terlalu di-forsil. Ini bos baru, Sha!”
Resha kembali mengulas senyum dan tetap fokus menatap layar. “Bos lama atau bos baru sama saja. Pekerjaan tetap harus selesai. Ini sudah jadi tanggung jawab kita sebagai karyawan.”
Sabrina sontak memutar bola matanya. Nyaris setiap hari ia mendengar ceramah Resha yang memang begitu bijak. “Kamu benar-benar penggila kerja.”
Resha tidak menyahut lagi. Namun, Sabrina tahu. Ada alasan di balik semua itu. Dua tahun terakhir sejak Resha bekerja di King Land Development, perempuan itu hampir tidak pernah pulang tepat waktu.
Lembur adalah rutinitasnya. Pekerjaan selalu selesai paling cepat. Karena itu pula, Resha hampir setiap bulan terpilih sebagai “karyawan teladan”.
Semua orang mengira ia hanya ambisius. Hanya Sabrina yang tahu kebenarannya. Resha tidak bekerja sekeras ini demi karier, tetapi demi dua anak kembarnya yang menunggunya pulang setiap hari. Dua anak kesayangannya yang tidak pernah Resha ceritakan kepada siapa pun di kantor ini, kecuali pada sahabatnya Sabrina.
Amelia tiba-tiba bertepuk tangan ke atas untuk menarik atensi semua karyawan. “CEO baru katanya datang tepat jam tiga sore nanti. Jadi, persiapkan diri kalian untuk menyambutnya di lobi, Guys!” serunya.
Resha hanya mengangguk kecil, seperti teman-temannya yang lain. Demi apa, ia tidak tertarik sedikit pun. Kini, di tengah fokusnya pada layar laptop, tiba-tiba ponselnya bergetar signifikan di atas meja kubikel.
Perempuan berusia 26 tahun itu langsung melirik layar. Nama yang muncul membuat kening putih mulusnya kembali berkerut. Ibunya menelepon. Ia bergegas mengangkatnya. “Assalamualaikum. Iya, Bu?”
Suara ibunya di seberang sana terdengar cemas. “Waalaikumsalam, Sha. Rakha dan Rahiel belum pulang dari sekolah, Nak. Ini sudah telat setengah jam dari waktu jemputan. Guru mereka sampai menelepon Ibu. Tidak biasanya Nak Abhi telat menjemput mereka. Ibu hubungi Nak Abhi pun tidak tersambung. Jadi, siapa yang jemput anak-anak hari ini? Ibu khawatir.”
Detik itu, jantung Resha seperti menggelinding jatuh dari tempatnya. Ia pun refleks bangkit dari kursi. “Apa? Mas Abhi belum jemput mereka, Bu?”
“Lho, kamu juga tidak tahu, Sha? Ibu kira kamu yang jemput hari ini.”
Resha sudah memijat keningnya karena gusar. “Nggak, Bu. Hari ini Mas Abhi yang jemput. Tadi malam katanya begitu, kok. Sebentar, Sha hubungi Mas Abhi dulu, ya.”
“Iya. Segera kabari Ibu kalau ada kabar terbaru. Ibu matikan dulu. Wassalamualaikum.”
“Iya, Bu. Waalaikumsalam.” Resha menutup panggilan dengan tangan gemetar.
“Kenapa, Sha?” tanya Sabrina menyadari raut wajah Resha berubah tak tenang.
“Kata Ibu, anak-anak belum pulang sekolah.”
Sepasang mata cokelat Sabrina sukses terbelalak. Iya refleks menutup mulutnya. “Ya Allah, si kembar.”
Resha pun langsung menghubungi satu kontak yang ia simpan dengan nama “Mas Abhi”. Awalnya, ia nyaris putus asa karena dua kali panggilannya tak dijawab. Namun, ia sangat bersyukur panggilan ketiganya langsung dijawab lelaki itu di seberang sana.
“Assalamualaikum, Sha.” Suara Abhi terdengar terengah-engah.
“Waalaikumsalam, Mas Abhi. Mas sudah jemput Rakha dan Rahiel?” todong Resha tidak mau basa-basi.
“Ya ampun, Sha … maaf, aku lupa!” pekik Abhi panik.
“Astaghfirullah, Mas—.”
“Maaf, Sha. Siang ini restoranku penuh pengunjung! Karyawanku kewalahan sampai aku harus turun tangan langsung. Maaf ….”
Resha memejamkan matanya menahan panik. Ia mencoba memaklumi meski tak bisa tenang mengingat putra-putri kembarnya. “Kalau Mas Abhi masih sibuk, nggak apa-apa. Biar aku yang jemput—.”
“Jangan, Sha. Kamu masih jam kerja, ‘kan? Biar aku yang ke sekolah sekarang.”
To be continued ....