"Huek ... huek ...." Moza berpegangan pada wastafel kamar mandi. Dia merasakan mual tak tertahankan. Bahkan gara-gara itu, dia yang tengah tidur nyenyak pun harus terbangun. Moza merasa kepalanya berdenyut pusing. Tubuhnya terasa lemas karena mengeluarkan cairan. Dia sepertinya sedang sakit. Setelah hampir lima belas menit muntah-muntah, Moza akhirnya merasa sedikit tenang. Dia membasuh wajahnya dengan air dan terdiam sebentar. Setelah mulai reda, Moza melangkah kembali ke kamar. Dia menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Moza enggan melakukan apa-apa. Dia merasa lelah dan lemas. Moza menarik selimut dan menutupi sebagian tubuhnya. Untunglah dia sendiri di sini. Tidak ada Darren. Entah mengapa, Moza masih merasa kesal dengan lelaki itu. Padahal Darren hanya diam. Dia merasa sangat jengke

