Hari yang dinantikan oleh Venya kini ada di depan mata.
Besok.
Besok adalah hari dimana dirinya akan berangkat keluar dari panti asuhan ini. Dia akan meninggalkan panti. Rasanya seperti bohong. Tapi ketika melihat lagi barang - barang yang tadinyabtersusun rapi di lemari, kini sudah tidak ada di tempatnya. Kini sudah berpindah ke kardus yang akan di angkut besok.
Mata Vens berkeliling dikamarnya malam itu. Rasanya kosong. Tidak ada apa - apa di sana. Tidaj ada barang yangbterpajang selain laptopnya di meja kerja yang biasa ia pakai untuk mengetikkan ide dan inspirasi yang akan dikirim ke penerbit setiap babnya. Yang akan dibaca para penggemar onlinenya saat Venya menjadi Flora dan akan di bayar besoknya oleh aplikasi yang membayarmyabsetiap bulan ia kerja.
Latopnya masih menyala. Menayangkan dimana bab naru yang sudah di tulis Venyabsudah diupdate pukul sebelas tadi malam. Kini Venya terduduk di ranjangngnya yang bahkan Venya sendiri tidak menyangka bahwa ini adalah malam terakhir duduk dan tidur di ranjang itu.
Waktu meninjikkan pukul dua belas lebih datu menit.
Entah kenapa malam itu rasanya seperti hampa. Dia tidak akan mendengarkan lagi suara anak - anak panti yang bermain di luar kamarnya. Tidak mendengar lagi suara bunda Kori yang mengomel pada dirinya untuk menyuruhnya untuk tidur karena harus berangkat sekolah esok paginya. Dan mungkin tidak akan ada lagi yang membawakan s**u atau minuman bahkan makanan lagi ke kamarnya ketika ia penat dengan tulisan yang bahkan tidak kunjung selesai dan tidak lula di kirim ke penerbit. Rasanya hampa walaupun belum ia jalani dalam kurun sehari saja.
Rasanya ia akan pergi jauh dan akan peegi selama - lamanya. Bunda Kori sudha mewanti - wanti seorang Venya kemarin jika Venya akan selalu di terima di sini kapanpun ia pulang. Mau itu pulang dan yinggal lagi di sini atau bahkan pulang hanya melepas rindunya. Venya akan selalu di terima. Dan pintu panti asuhan itu akan selali terbuka untuk Venya.
Tidak terasa Venya meneteskan air matanya. Dia bahkan tidak pernah menangis. Dia terlihat baik - baik saja selama ini. Namun, hari ini, malam ini, rasanya berat sekali untuknya. Air matanya bahkan sampai keluar sendiri malam itu. Sampai - sampai Venya sendiri tidak bisa mengusaonya. Venya membiarkan air mata itu lolos begitu saja. Melewati pipi dan berakhir di tengah dagu sebelum akhirnya menetes ke lantai di bawahnya.
"Kok jadi cengeng gini sih." Kata Venya tersadar dan mengusap air matanya yang berada di dagu. "Rasanya baru kali ini gue nangis perkara hal yang seperti ini." Lanjutnya berbicara sendiri.
Benar.
Vemya benar - benar jarang sekali menangis. Venya menahan sebaik mungkin air mata untuk tetap berada di dalam matanya. Tidak keluar meskipun sakit yang ia alami secara batin dan juga fisik. Venya bisa menahannya dengan baik jika bersama orang - orang. Dia mungkin akan menangis seperti ini. Dia akan menangis ketika sendiri walaupun itu jarang sekali terjadi. Venya sendiri mungkin merasakan jika air matanya berkumpul di kepalanya sampai pada akhirnya kini keluar tanpa di minta dan tidak bisa di tahan. Venya sendiri sampai - sampai tertawa di dalam dirinya. Menertawakan bagaimana sikapnya akhir - akhir ini.
Benar - benar tertutup dan tidak terbuka seperti biasanya. Dia bahkan tidak emnceritakan hal - hal yang dia alami kepada bunda Kori dan Gemma. Dia hanya memikirkan bahwa nanti, jika dirinya hidup sendiri di luar sana, makan dirinya harus siap menerima apapun. Teemasuk tidak ada teman bicara dan tidak ada yang bisa di ajak berbicara. Walaupun ada Gemma di sebelah kamarnya, Gemma jugabtidak mungkin untuk terus berada di sisinya setiap waktu.
Terkadang, Venya menyadari betapa seringnya Gemma menghilang saat Venya butuh bantuan, saat Venya bahkan tidak ada teman berbicara. Gemma menghilang begitu saja tanpa ada hal yang di smapaikan terlebih dahulu. Idealnya, mungkin mengabari jika akan pergi kemana dan jika akan ada acara apa. Setidaknya, agar Venya tahu dimana keberadaan Gemma.
Tentang Gemma.
Venya belum bertanya mengenai foto yang waktu itu ia lihat. Dia akan berpura - pura tidak tahu dan akan menyimoannya unruk dirinya sendiri. Tidak akan terlebih dahulu dikeluarkan sebelum Gemma sendiri yang menjelaskan. Setidaknya, Venya tahu bahwa Gemma di luar sana begitu san bersikap seperti tidak ada apa - apa kepada Venya.
Jika ditanya kenapa Venya begitu ingin ada Gemma di sisinya dan tidak ingin Gemma pergi. Jawabannya hanya satu, karena Gemma adalah ornag yang bisa menerima dirinya apa adanya. Entah itu Venya yang berasal dari panti asuhan dna tidak memiliki orang tua dan kebanyakan oeang menganggapnya tidaj memiliki masa depan. Gemma melihat Venya mungkin dengan caranya sendiri. Tidak merasa keberatan selama mereka berdua bersama.
Venya hanya tidak ingin ia merusak apapun yang sedang terjadi saatbini dan Venya merasa akan menghancurkan segalanyabjika Venya bertanya tentang foto itu. Maka dari itu, Venya berusaha menahannya sebaik mungkin walaupun hati yangbianpunya merasakan sakit yang tidak sedikit.
Setidaknya, Gemma harus selalu menemaninyabdulu sekarang.
Untuk ke depannya, mungkin Venya akan emmikirkannya lagi.
Setelah sekuan lama bersama Gemma, Venyabtidak ada sedikitpun untuk terus tinggal di sisi Gemma. Hanyabuntuk sekarang saja. Dia membutuhkan Gemma untuk dirinya beetahan hiduo dari semua celaan orang terhadap Venya. Dia bertahan sejauh ini karena ada Gemma di sampingnya. Menguatkan dan teeus memotivasi keadaan yang dimiliki oleh Venya.
Venya sendiribtidak meras adirinya akan baik - baik saja kali ini. Dia sedang merasa bahwa hidupnyabtidak adil. Melihat orangbtua degan anaknya di acara wisuda kelulusan sekolah saja rasanya sesakit itu. Padahal Venya masih memiliki bunda Kori selaku orang tuanya saat ini. Tapi tetap saja, hatinya rasanya mencelos. Rasanya hampa dan rasanya sakit.
Dan detik ini, Venya bertanya untuk dirinya sendiri. "Kemana orang tua gue? Apa meraka baik - baik saja setelah mgebuang gue gitu aja? Ga nyari gue sekalipun? Atau bahkan melihat gue dari jauh?" Katanya bermonolog sendiri.
Pikirannya menjadi kemana - mana setelah mengingat foto yang Gemma kirimkan waktu itu untuk dirinya. Venya menangis lagi.
"Apa mereka bersenang - senang sata ngebuang gue?" Tanya Venya bermonolog lagi, "apa mereka hanya sekedar negnuat gue dan menjadikan gue kambing hitam untuk di salahkan dan di buang setelahnya?"
Rasa dan keinginan Venya mengobrak - abrik isi dus - dus di depannya besar namun lebih besar lagi akal sehatnya yang mungkin dirinya akan kelelehan sendiri jika mengobrak - abrik lagi barnag yang sudah ia susun sedemikian rupa agar mudah di baewa dan mudah untum membongkarnya nanti.
"Sialaaan sekali kau, Venya." Umoatnya untuk dirinya sendiri.