Venya sudah membuat daftar apa saja yang akan di belinya untukntinggal di kosan barunya. Rencana Venya memang dia akan tinggal di kosan sebelah kamar milik Gemma. Dia menyewa tepat di sebelah kamar Gemma akrena jika dia lapar atau mau kemana bisa minta bantuan Gemma atau beli bersama Gemma.
Setelah berdebat dengan Gemma yang pada akhirnya dimenangkan oleh venya yang keukeuh pada oendiriannya dimana dirinya ingin sekali tinggal sendiri tanpa bantuan Gemma dalam hal tempat tinggal. Pada awalnya memang Gemma memaksa untuk Venya agar tinggal dinkosan Gemma yang memang jarang di pakai. Tapi Venya tidak enak karena kamarnya nanti akan menjadi kamar Gemma dan juga Venya bebarrngan. Walaupun tidak sampai tidur bareng. Hanya bergantian untuk tidur saja.
Gemma yang memaksa entah kenapa harus mengalah untuk Venya agar Venya juga bisa keluar dari oanti asuhan dan bebas bermain dengannya. Bermain dalam artian jalan - jalan ke sana dan ke mari. Venya juga ajdi punya banyak waktununtuk Gemma. Pada intinya, jika Venya bekerja atau emngetik, mungkin Gemma akan ada di belakang Venya. Tidak menganggu. Hanya menemani. Dan Venya tidak tahu nantinya perlakuan Gemma akan menganggu atau malah memotivasi tulisan untuk ceritanya Venya.
Pada intinya, semuanya harus di coba dulu. Jika memang menurut Venyabhal yang Gemma rencanakan itu menganggu Venya dalam pekerjaannya, Venya mungkin akan berbicara dan juga bernegosiasi agar Gemma tidak melakukan itu lagi. Dimana Gemma juga mungkin akan mengerti. Pekerjaannya memang membutuhkan waktu sendiri tanpa ada oeang lain di belakangbataundi depan bahkan di samping.
Mungkin menurut sebagian orang, kerjaan 'menulis' itu mudah.
Iya.
Sangat mudah jika dilihat saja.
Namun, jika dijalani oleh seseorang mungkin akan menjadi lebih mudah lagi. Mudah dalam berujar.
Menulis memang mudah jika orang itu punya ilmu berlebih. Punyabotaknyang encer untuk mebuliskan kalimat - kalimat. Serangkaian kalimat menjadi suatu cerita mungkin mudah bagi sebagian orang dengan otak yang bahkan banyak dan oenuh ide di dalamnya. Tapi, terkadang, orang yang memiliki otak dan ide segudang di dalam otaknya juga akan ada waktu untuk stuck di situ.
Di titik dimana orang itu tidak bisa berfikir karena saking banyaknya ide di dalam otaknya. Saking banyaknyanjalan ceritabyang akan diukir. Semakin banyak tokoh yang dihidupkan di dalam imajinasinya. Maka dari itu, semuanya tergantung kepada sisi si penulis. Dia orang yang mudah beradaptasi dengan ceritanya atau bahkan menulis banyak cerita dengan susah payah untuk benar - benar menghidupkan tokohnya dalam cerita tersebut.
Yang pasti, jika orang yang berkata mudah dalam hal menulis pasti belum pernah merasakan yang namanya ide tidak lancar dan tokoh tidak hidup dalam cerita itu. Yang mana itu membuat orang yang membaca mungkin akan cepat bosan. Bisa ajdi salah satu ceeitabl yang Venya buat adalah salah satunya.
Ketika menulis hal yang tidak penting di dalam ceritanya, bisa jadi penulis sedang buntu dan tidak akan menulis yang penting. Yang masuk ke dalam ceritanya. Selanjutnya, ornag yang mengatakan mudah dalam menulis juga munkin tidak pernah merasakan bahwa menulis yang menghasilkan uang adalah salah satu tuntutan untuk sang penulis. Dimana penulis harus benar - benar menulis dan dimana penulis harus memenuhi kebutuhan pembacanya agar pembaca tidak kabur saat membaca ceritanya.
*** *** ***
"Venya, jika ada waktu kamu masuk kuliah ya?" Kata bunda Kori lagi.
Venya mengangguk di dalam diamnya. Dia sedang makan malam saat itu. Kebanyakan anak - anak panti asuhan sudah selesia dalam makannya. Tersisa beberapa ornag saja di meja makan saat itu. Termasuk bunda Kori dan juga Venya yang masih berusaha menghabiskan makanannya.
Sebenarnya malam itu, mood Venya tidak terlalu baik. Entah kenapa dia malah menginginkan untuk lebih lama tinggal di sini. Padahal minggu depan dia sudah harus pindah. Sesuai dengan apa yang sudah direncanakannha jauh - jauh hati. Venya merass jika dirinya cukup nyaman di sini malam itu. Maka dari itu, Venya dilema lagi. Namun, pikiran yang mana Venya pikirkan saat itu adalah dirinya terlalu dituntut oleh bunda Kori untuk berkuliah padahal Venya sama sekali tidak menginginkannya.
Venya memiliki penghasilan sendiri dan mungkin akan mampu untuk membayar kuliahnya. Namun, Venya benar - benar belum membutuhkan dan belum ada waktu untuk kuliah. Dirinya masih menyukai dirinya yang seperti ini. Bebas dengan waktunya dan tentu saja bebas untuk bercerita.
Jika sudah kuliah, mungkin waktu untuk dirinya akan berkurang dan tidak ada wkatu lagi untuk mencarinuang dengan menulis karena mungkin waktunya akan terbagibdarinkuliah, kehidupan sehari - hari dan kerjaannya. Venya belum siap memnagi waktunya yang padatb itu.
"Bunda." Sahut Venya, "bunda beneran gapapa kannya aku tinggal?" Kata Venya pelan.
Dia memastikan sekali lagi bahwa tidaka akn terjadi hal - hal yang tidakndiinginkan jika dirinya pergi. Walaupun dirinyabtidakntahu apa guna dirinyabl itu dipanti asuhan ini. Tapi setidaknya, peran dia selama ini sungguh membantu panti asuhan ini. Setidaknya dengan uagnya jika bukan dirinya pribadi yang membantu.
Bunda Kori menatap Venya lembut. "Bunda sudah ikhlas kayaknya." Kata bunda kemudian duduk lagi di kursi di depan Venya. "Melihat kamu beberes di kamarmu, melihat baju - bajubyang sudah tidak tergantung lagi di tempatnya, dan melihat lemari bukumu sudha kosong, bunda sadar jika bunda benar - benar harus ikhlas kehilangan anak bunda yang sudah besar ini." Kata bunda kemudian memegang tangan Venya dan emmainkan jemarinya pelan.
"Aku ngerasa ga enak udah ngerepotin bunda di sini kemudian bisa - bisanhlya pergi gitu aja ketika sudah bisa ngehasilin uang dendiri." Kata Venya lagi.
Bunda kori menggeleng keras, "bunda tidak mengharapkan uangmu, nak." Kata bundanya tegas, "tapi mungkin bunda akan kehilangan sosok yang sering bantu bunda, sering ngobrol sama bunda masalah panti dan anak - anak, sering sekali mengjibur bunda." Kata bundanya lagi. "Mungkin bunda akan merasa kesepian setelah kamu pergi." Lanjutnya.
"Maaf bunda." Ucal Venya pelan.
Bunda kori kembali menggeleng, "gapapa, Venya. Kamu harus janji, kamu harus lebih sukses lagi ketika kamu sudsh keluar dari sini." Ucap bunda, "bunda oengen denger kabar baik aja dari kamu." Lanjutnya
Venya mengangguk pelan, "iya bunda." Ucap Venya dengan senyumannya. "Venya janji, ga akana da kabar buruk untum bunda di sini dari Venya." Ucao Venya menambahkan, "dan mungkin dari Gemma juga." Lanjutnya.
Bunda kori memang mengetahui bahwa Venya akan pindah bersama Gemma. Bukan tinggal barenh. Melainkan Gemma akan menjaga Venya ketika ada di dekatnya. Dan Venyabjuga meyakinkan bundanya untum tidak dan jangan khawatir. Gemma dan dirinya benar - benar akan emnjaga diri sebaik mungkin.
"Hati - hati ya, Venya."