Sebenarnya tidak masalah jika Venya yang membayarkan apa yang ia makan dan juga Venya sendiri yang mengajak Gemma untuk makan di sini. Hanya saja, menjadi kebiasaan seorang Gemma adalah dimana dirinya selalu dan terlalu sering tidak membawa dompetnya ketika jalan bersama Venya.
Bukan Venya mengharapkan lebih. Bukan Venya berharap bahwa Gemma akan selalu membayarkannya makanan untuknya. Apalagi, makanan itu adalah yang Venya inginkan. Hanya saja, jika mereka jalan berdua, selalu Venya yang bayar dan tentu saja Venya tidak keberatan karena dirinya berfikir bahwa uang masih bisa dicari.
Gemma adalah sosok yang sulit di cari menurut Venya. Kenapa? Karena sangat jarang ada yang ingin berdekatan dengan Venya setelah tahu fakta bahwa Venya adalah salah satu anggota di panti asuhan. Tidak memiliki orang tua, dan katanya tidak akan ada masa depan yang cerah. Maka daei itu, Venya ingin mempertahankan Gemma di sisinya.
Untuk hal uanh, memang bisa saja di cari. Tapi untuk masalah hati seseorang, Venya tidak bisa mencari lagi selain Gemma. Entah kenapa dirinya ingin terus bersama Gemma walaupun terkadang Gemma seperti itu. Gemma yang selalu tidak membawa dompet, Gemma yang hampir sering meninggalkannya ketika jalan bersama dan Gemma yang kadang tidak bisa dihubungi.
Venya sendiri hanya bisa sabar dan percaya saja pada Gemma. Apapun yang dilakukan oleh Gemma dan apapun yang Gemma sedang lakukan kepadanya. Pada intinya, Gemma merupakan sosok yang Venya ingin pertahankan. Setidaknya, untuk saat ini.
"Jadi, rencana lo yang keluar dari oanri asuhan belum dapet titik terangnya?" Tanya Gemma ketika dia menghentikan mobilnya di parkiran restoran cepat saji yang baru saja ia kelilingi untuk memesan drive thrunya.
Gemma dan Venya sudah selesai memesan dan menerima barang juga makanan untuk anak - anak panti asuhan. Namun, Venya meminta Gemma untuk berhenti dulu di parkiran dan memakan makanan yang sebelumnya ia oesan untuk dirinya dan juga Gemma di restoran yang pertama. Selain lapar, Venya belum mau pulang ke panti cepat - cepat. Pdahal kerjaannya menunggu. Tapi pikirannya masih stuck dan tidak bisa dijalankan. Kalimat demi kalimat sudah ia ketikkan sebelumnya, namun, tetap saja tidak sepenuhnya ide itu mengalir keluar secara lancar. Maka dari itu, Venya membutuhkan inspirasi. Dan inspirasinya bisa di cari ketika perut kenyang dan tentu saja keluar dari daerah kamarnya.
Jalan seperti ini adalah salah satu hal yang sangat membantu Venya mencari inspirasi dan tentu saja bisa membuat dirinya lebih segar dan membuka kepalanya lebih jauh lagi.
Venya mengangguk sebelum menjawab pertanyaan dari Gemma. Tangannya membuka burger untuk Gemma dan untuk dirinya sendiri, "belum. Masih dilema soalnya belum dapet tempat tinggal juga." Kata Venya, "perthitungan perbulannya juga belum dihitung benar - benar." Kata Venya lagi.
Gemma sekarang yang menganggukkan kepalanya, "lo bisa tinggal di kosan gue deket kampus." Kata Gemma.
Sekarang Venya menghentikan kunyahan di mulutnya, "kosan?"
Lagi, Gemma mengangguk pelan, "iya. Gue ada kosan dekat kampus. Kalo pulang malem gue biaanya pulang ke kosan daripada ke rimah." Kata Gemma lagi, "udah lama kosong sih. Soalnya gue ga oernah balik - balik ke kosan juga." Kata Gemma menambahkan.
Venya diam, "perbulan mnya bayar kosan berapa?" Tanya Venya sedikit ragu - ragu. Taoi setidaknya, Venya bisa memperhitungkan bahwa dirinya harus mengeluarkan uang berapa untuk sebulan hidupnya di luar. Belum makan dan minum juga tambahan yang lainnya.
"Dulu ibu kosannya ngasih harga ke gue sekitar 1 jutaan." Kata Gemma, "menurut gue worth it aja, apalagi ada dapur dan kamar mandi di dalem kamar." Kata Gemma kemudian menelan sisa makanan di mulutnya, "ga oerlu bayar listrik sama air lagi. Lo tinggal masuk dan bayar perbulannya." Ucap Gemma menambahkan lagi.
Venya mengangguk, "gue coba pertimbangkan ya. Nanti paling kalo jadi gue kabarin lo." Kata Venya.
*** *** ***
"Bun, Gemma mau pulang." Kata Venya ketika Gemma sudah lama ada di ruang tamu panti asuhan dengan anak - anak yang sedang makan makanan yang di beli oleh Venya.
Bunda Kori datang dari arah dapur menuju ke sumber suara Venya tadi yang setengah berteriak. Kebiasaan memang, Gemma pulang harus ada ijin dari bunda dulu. Jika tidak, Gemma bisa celaka katanya. Gaada restu dari orang tua.
"Iya, hati - hati ya, Nak." Kata bunda kemudian menerima salam dari Gemma dan mengantar Gemma keluar dari panti bersama Venya yang mengikutinya dari belakang. "Jangan malu - malu sering main ke sini ya." Ucap bunda Kori kepada Gemma yang sudah membuka pintu mobilnya.
Selanjutnya, Gemma mengangguk pelan sambil tersenyum menyamlmpaikan keramahan yang bahkan terlihat sangat alami. Gemma memiliki semuanya. Ramah, baik dan tentu saja pengertian. Bagaimana cara Venya bisa leas dari orang dengan kepribadian baik seperti itu. Jeleknya sudah dibicarakan dari awal tadi. Namun, Venya tidak perduli.
Seorang gemma banyak baiknya dsripada buruknya untuk saat ini. Dan mudah - mudahan ke depannya akan tetap seperti itu dan harus seperti itu agar Venya lebih yakin lagi bahwa Gemma adalah hal yang benar - benar harus dipertahankan. Venya tidak ingin pertahanan seperti ini sia - sia seperti itu saja. Maka dari itu, Venya lebih sering bersama Gemma agarbtahu bagaimana sifat asli dari Gemma akibat sering sekali berduaan. Kebiasaan baru mungkin akan muncul ketika mereka makin sering berduaan dan tahu satu sama lain. Maka dari itu, Venya sedang mencari dan mengukirnya sendiri walaupun secara tidak terang - terangan.
Setelah melihat mobil Gemma menghilang di tikungan jalan, Bunda Kori dan juga Venya kembali masuk ke dalam panti. Mereka berdua beriringan dengan diselingi obrolan - obrolan kecil yang membuat mereka saling bertukar tawa. Selanjutnya Venya ijin untuk masuk kamar karena ada pekerjaan yang harus Venya lakukan. Setidaknya, itu alasan yang bagus untuk menghindari pertanyaan yang tidak diinginkan dari bunda kori untuk dirinya.
Kemudian setelah menutup pintu kamarnya, Venya menghela nafas berat. Pikirannya kembali berfikir bahwa dirinya memang harus pergi dari sini. Bukan karena Venya tidak menyukai dan tidak betah di sini atau bahkan benci berada di sini. Tapi Venya ingin memiliki privasinya sendiri. Dia tidak bisa terus menerus mengikuti jadwal panti. Ada jam malam dan makan bersama. Padahal Venya sedang lancar - lancarnya menulis cerita dan di suruh makan itu menganggu. Idenya seketika hilang dan susah lagi untuk di dapat. Jika sendiri, mungkin Venya bisa makan setidaknya ketika Venya lapar. Atau bahkan setidaknya Venya nanti makan sendiri tanpa harus menghancurkan ide yang sedang lancar di otaknya.