Untuk sekedar pergi kungkin Venya bisa dengan berani keluar sekarang juga dari oanti asuhan ini. Namun, ijin dan juga hatinya masih belum siap. Dia harus mempersiapkan diri dengan segala kemungkinan jika dirinya akan sendiri di sana. Di sisi lain, Venya juga ingin emndapatkan apa yang tidak ia dapat di sini. Dia ingin emndapatkan beberapa kesempatan lain. Emndapatkan beberap kemungkinan nesar yang akan membuatnya semakin besar. Entahnitu poppularitas atau bahkan pprivasinya sendiri.
Kembali lahi kepada privasinyang sekarang sedang Venya kejar. Dia memang belum emndapatkan hak privasinya sendiri sampai hari ini. Dia tidak merasa bahwa dirinya mendapatkan itu di sini. Kemungkinan besarnya, dia harus keluar dari sini untuk emndapatkan itu. Jika memikirkan lagi ke dalam bentuk privasi yang ingin ia dapatkan, Venya akan dengan berani melangkah ekluar dari ini. Melangkah pergi dan juga tidak akan menengok ke belakang.
Bukannya tidak tahu sopan santun dan tidka tahu malu, dibesarkan di sini tapi pergi begitu saja. Namun, jika ia melihat lagi ke belakang, mungkin langkahnya akan menjadi sangat berat. Melihat orang - orang yang mungkin akan di tinggalkan. Walaupun Venya bisa ekmbali ke sini beberapa kali atau bahkan tiap hari, tapi setidaknya, dia sudah lepas dari sini dan mungkin dia akan samgat jarsmg main ke sini karena kerjaan dan juga tuntutan pekerjaannya yang mengharuskan dia untuk fokus dan mengupload minimal 1 bab perhari. Dan itu saja sudah sulit jika hari - hari Venya dipenuhi dengan suara bising atau bahkan gangguan darinluar. Apalagi jika handphonenya yang dipakai untuk pekerjaan bunda Kori yang lain.
Belum terbahas, bunda Kori punya minat di penjualan online kue kering. Hanpdhone yang dipakai adalah handphone milik Venya. Dulu sekali, Bunda Kori tidak ingin belajar handphone apalagi smartphone. Dimana dia tidak ingin kecanduan handphone katanya. Namun, sekarang sudah berbeda. Apa - apa jika tidak online mungkin kurang maju dan tidak selaku secarabobline. Maka dari itu, terpaksa bunda Kori juga diajarkan beberapa menu aplikasi yang dimana dirinya bisa berinteriksi dan memamahi juga mengetahui pesanan yang sampai dan pesanan yang harus dibuat olehnya. Sekarang, bunda Kori sudah memegang hanpdhonenya sendiri. Tidak lagi memakai handphone milik Venya. Dan venya bersyukur akan hal itu.
"Bunda." Panggil Venya pelan ketika melihat bundanya sedang bersiap - siap untuk membuat adonan kue keringnya.
Sebenarnya, bunda Kori berniat untuk mencarinpegawai. Entahbitubuntuk mengurus panti atau bahkan membantinya membuat kue kering untuk eosanan orang - orang. Namun, sampai sekarang belum ada yang cocok untuk menemani bunda Kori di sini. Tidak ad ayang cocok bukan berarti tidak pernah ada yang melamar. Hanya saja, bunda Kori tidak sreg dengan orang - orang sebelumnya. Samlai saat ini hanya stauborang yang cocok selain guru yang mengajar anak - anak di oanti asuhan ini.
Maria. Umut tiga puluh lima tahun dan bersedia membantu bunda Kori di sini. Selain dia juga anak yang oernah tinggal di panti asuhan, dia juga sangatbulet dalam bebersih hal - hal kecil. Dia pandai memasak dan juga pandai mengambil hati bunda Kori. Mungkin yang terakhir itu yang terpenting.
"Kenapa, venya?" Tanya bunda ketika berbalik dan emnyiapkan beberapa mangkuk di depan venya sekarang.
Posisi Venya sekrang ada di meja makan yang kemarin sempat dijadikan ruang rapat untuk sang bayi. Dan pada akhirnya, bayi itu diterima di sini. Dengan persetujuan bahwa Maria yang akan merawat bayibitu sampai bayi bisa makan dan bisa berjalan. Selebihnya, bunda Kori akan mengurus segala sesuatunya. Mulai dari s**u dan lain - lain. Uang sumbangan dan uang yang selalu Venya berikan pada bunda Kori juga mencukupi segala - galanya. Bunda Kori hanya tinggak mengurus, menghemat dan juga mengaturnya agar cukup untuk rentang waktu yanh panjang.
"Mengenai aku pergi dari sini, Bun." Ucap Venya ragu. Dia melihat bunda Kori menjeda gerakannya yang sedang mengadoni beberapa adonan kue untuk kue keringnya. Lalu bergerak lagi dan Venya menelan ludahnya dan memutuskan untuk melanjutkan perkataannya walaupun ada sedikut keraguan di diri Venya. "Boleh ga? Aku perlu ijin bunda dulu." Sahut Venya lagi setelah pikirannya berkecamuk dan tentu saja sangat berantakan.
Bunda kori kini menatap Venya, "memang bunda ini wali kamu, Venya. Tapi, kamu sudah di atas tujuh belas tahun, mungkin saatnya bunda melepas kamiu." Kata bunda kori setelah menarik nafas, "bunda juga sudah pasrah akan kamu, venya. Jadi, kamu boleh memilih jalan kamu sendiri." Kata bundanya lagi.
Jujur saja, Venya snagat - sangat tidak enak ketika bunda kori mengatakan 'pasrah' pada kalimatnya barusan. Namun, mungkin itu adalah salah satu tamparan yang musti diterima Venya sebelum keluar dan tidaka akan ada lagi sosok bundanya di sekitarnya nanti. Bunda kori mungkin tidak bisa terlupakan, namun, tetap saja perpisahan seperti ini membuat Venyabingin melupakannya secepatnya.
"Bunda kasih ijin ga buat aku?" Tanya Venya lagi emmastikan bahwa dirinya sudha mendapatkan lampunhijau untuk dirinyankeluar dari sana. Keluar dari panti asuhan yang sudah merawatnya.
Bunda kori mengangguk, "iya. Bunda ijinin tapi dengan satu syarat." Kata bunda kori kemudian.
Venya sudah bisa menebak apa syaratnyaa. Kalaiu tidak 'jangan nakal' ya mungkin 'jaga driri'. Bunda kori adalah type orangbyang seperti itu. Bijak dan tegas.
"Syarat apa Bun?" Tanya Venya pura - pura ridak tahu apa yang mungkin bisa saja menjadi syarat daei seorang bunda Kori. Walaupun dalam hati Venya sudah bisa menebak apa yang akan di katakan oleh bunda Kori.
Buns akori menarik nafasnya. Tangannyanyang tadi belewpotan dengan adonan kue kini sudah bersih karena mencuci tangannya sebelum Venya bertanya. Lalu, bunda kori duduk di sebelah Venya. Dia menatap Venya dalam dan memegang pundak Venya dan meremasnya pelan.
"Jangan pernah ingin mencaeintahu siapa ibumu, siapa ayahmu dan keluarga aslimu." Kata bunda korinyang snagat berbeda jauh dari pemikiran Venya tadi.
Jika boleh jujur, selama.Venya di sini, dia ridak pernah bertamya apa yang membuat Venya berakhir di sini kepada bunda kori. Venya juga tidak pernah bertanya pada diri Venya sendiri kenapa dirinya berakhir di sini. Venya juga tidak pernah berfikir untuk mencari siapa yang tega menyimpannya di sini. Venya tidak pernah berfikir untuk mencari siapa dan mengapa.
Yang selama ini venya tahu adalah dirinya ada di sini adalah takdir. Dia ditakdirkan untuk tidak memiliki orang tua. Tidak punya keluarha selain orang - orang di panti asuhan. Dia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Hiburna untuk dirinya sendiri adalah bahwa ornag yang menyimoan venya dinsini adalah ornag yang sudah kelebihan anak atau bahkan kekurangan ekonomi sehingga tidak mamlu membesarkan venya. Sehingga venya harus di buang.
"Dan jangan sekalipun penasaran kenapa kamu ada di sini. Jangan pernah bertanya bagaimana dan kenapa."
Sebenarnya perkataan bunda Venya itu membuat Venya penasaran kenapa dengan perkataan itu. Namun untuk sekaranh, venyanhanya bisa mengangguk tanpa bertanya lagi. Setifmdaknya, rasa oenasaran venya mungkin akan bisa di varinya nanti. Setelah bunfa kori tidak memeprhatikannya.