Bunda Kori menceritkan sesingkat - singkatnya pertemuan Venya dnegan bunda Kori pertama kali di panti asuhan ini. Saat itu, panti asuhan ini tidak sebesar ini. Tidak seluas ini dan juga tidak selengkap sekarang. Walaupun sekarang juga tidak selengka itu tapi masih mending daripada tahun - tahun ke belakang.
Bunda Kori menyebutkan jika Venya disimpan persis di pintu panti asuhan yang lama. Tidak menangis dan dalam keadaan anteng. Bunda Kori bahkan sampai tidak menyadari ada bayi di sana. Venya ketahuan ada di sana karena ada seeorang yang datang berkunjung dan menemukan Venya terlebih dahulu.
Wanita yang datang berkunjung itu adalah orang yang tidak hadir di pertemuan hari ini untuk membahas apa yang akan dilakukan oleh mereka kepada bayi ini. Dikarenakan sakit seperri yang sudah disebutkan. Kemudian, bunda Kori terkaget dengan apa yang di bawa oleh temannya itu. Lantas dia segera menggendong bayi yang mana adalah Venya ini. Lalu dia diselimuti dan di tepuk - tepuk punggung, di gelitiki telapak kakinya danmenangislaj bayi itu walaupun sebentar. Kemudian bunda Kori duduk berdua bersama temannya tadi dan mendiskusikan apa yang akan mereka lakukan kepada bayi ini. Sedangkan panti asuhan jauh dari kata layak untuk merawat bayi.
Di dalam appnti asuhan ini baru empat orang anak yang di rawat dan di besarkan di sini. Bunda Kori baru memulainya. Dan dia belum siap di uji oleh seorang bayi merah yang bahkan tidak memiliki apapun untuk dipakaikan kepada anak bayi tersebut selain selimut bertuliskan kata Venya di depannya. Maka daei itu, nama Venya seakan dibuat khusus untuknya. Untuk bayi itu.
Venya terdiam ketika mendengar cerita tentang dirinya yang bahkan tidak pernah Venya tanyakan. Bukan tidak perduli. Tapi, takut sekali. Venyabtakut. Dia takut tidak bisa menerima cerita itu atau bahkan menolak untuk ingat lagi. Venya mengepalkan tangannya yang ada di atas paha malam itu.
Masih terduduk dengan orang - orang yang berbeda pendapat. Venya menyadari jika dirinya mungkin memiliki nasip yang berbeda jika tidak ada kebaikan hati seorang bunda Kori. Lagi, Venya merasa dilema untuk meninggalkan panti asuhan ini. Venya yang dibuat dilema itu kini merasa bahwa dirinyabtidak pantas hanya untuk mengejar xita - citanya Venya merelakan banyak kenangan dan meninggalkan orang - orang yang menyayanginya. Namun, lagi - lagi Venya di gelapkan dengan yang namanya 'terganggu' di sini. Banyak yang menganggunya untuk mengejar cita - cita.
Selain cerita yang baru saja di ceritakan oleh bunda Kori yang bisa saja membuat Venyaa ingin terus tinggal di sini karena merasa bahwa Venya harus membayar hutang budinya kepada Bunda Kori, ada begitu banyak kenangan yang bahkan mungkin tidak seburuk itu di panti asuhan ini. Namun, tetap saja. Venya mau tidak mau harus memikirkannya lagi.
Venya tidak bisa berkembang jika terus meberus di sini. Seakan di sini adalah penjara menurut Venya karena tuntutan kedisiplinan yangbkuat, Venya juga merasa bahwa dirinya benar - venar membutuhkan waktunya sendiri. Privasi sendiri dan juga kehidupannya sendiri juga.
"Bagiamana selanjutnya?" Gemma membuka suaranya bertanya pada bunda Kori, "kenapa bunda bisa memutuskan untuk menerima Venya walaupun keadaan bunda tidak memungkinkan merawat bayi pada sata itu?" Tanya Gemma memperjelas pertanyaan sebelumnya.
Bunda kori menatap Venya, dia benar - benar menatap Venya sangat dalam. Venyabtidak menatap balik bunda kori. Tatapannya menuju bawah. Dia tidak kuat atau bahkan tidak berani menatap bunda Kori karena takut sekali jika cerita bunda kori akan memaksanya untuk tetap tinggal di sini.
"Waktu itu memang sempat berfikir jika bayi ini harus dilaporkan kepada polisi karena ini adalah kasus yang langka pada saat itu. Kasus ini mungkin saja akan diperdalam dan bayi Venya waktubitu mungkin akan menemukan ibunya lagi." Kata bunda Kori masih menatap Venya sedih, "tapi tidak dilakukan karena bunda yakin, Venya adalah salah satu rizki terbaik u tuk panti asuhan ini." Kata bundanya lagi.
"Lantas, bunda menerima itu dengan baik dan merawat bayi itu dengan baik?" Tanya Gemma lagi.
Bunda kori mengangguk, "bunda sudah melakukannya sebaik mungkin."
*** *** ***
Sekarang Venya duduk di depan laptopnya. Sudah dua jam dan dia belum menulis apapun. Dia membiarkan layarnya menyorot wajahnya yang kini menatap laptopnya kosong. Dia tidak bida berfikir malam itu. Dia tidak bisa menerima dirinya sendiri. Dia membenci dirinya sendiri tanpa alasan.
Jika saja pada sata itu Venya diberikan kepada polisi, polisi akan menemukan ibunya dan Venya tidak akan berakhri di sini. Menunggu seseorang mengadopsinya. Meunggu seseorang menjemputnya. Dan itu tidak pernah terjadi di dalam diri Venya. Sampai sekarang, Venya tidak akan menunggu lagi. Dia sudah tidak pernah menemui pengunjung yang ingin memiliki anak. Dia sudah tidak perduli dan dia tetap berada di kamar. Menahan diri. Menahan iri. Dan juga menahan semua rasa sakit yang terus menerus terasa seperti menusuk dirinya setiap kali ada anak yang pergi dari panti asuhan karena di adopsi.
"Kenapa gue engga?" Ucap Venya bermonolog, "gue ga cacat secara fisik, kenapa ga ada yang milih gue sampai saat ini?" Lanjut Venya menatap dirinya melalui cermin di meja. "Gue juga ngerasa ga ada yang kurang dari diri gue." Ucao Venya lagi, "kenapa ga ada yang mau adopsi gue?" Tanya dirinya pada dirinya sendiri.
Walaupun sudah di cari, Venya benar - benar menemukan jalan buntu. Dia tidak menemui alasan kenapa dirinya tidak di adopsi. Yang Venya temukan saat ini adalah, 'kenapa Venya sangat terobsesi untuk di adopsi?'. Jawabannya hanya satu, Venya menginginkan keluarga yang sesungguhnya. Venya ingin merasakan bagaimana dia memanggil ibu, ayah ataupun kakak dan adik. Dia bensr - benwr ingib merasakan hal sederhana itu.
Venya juga ingin merasakan bagaimana rasanya diantar sekolah oleh ayah. Dijemput oleh ibu dan jslan - jalan di akhir pekan dengan keluarga. Namun, seksrang Venya sangat menyadari. Dia tidak ingin diadopsi, dia sudah memutuskan untuk berhenti berharap setelah mengetahui bahwa kehidupan di keluarga tidak semulus itu. Tidak sesederhana itu dan juga tidak semenakjubkan itu. Dia bensr - benar sudha mengetahui kehidupan keluarga seperti apa pada umumnya.
"Keluarga memang tidak selamanya indah." Kata Venya lagi. Mencoba menghibur dirinya sendiri. "Kau akan beruntung jika dipilih oleh keluarga yang mampu secara finansial, secara emosi dan secara simpati. Namun, kau akan merasa menyesal ketika mendapat kelyarga yang miskin emosi, miskin simpati dan juga miskin dari segi ekonomi." Hiburnya untuk dirinya sendiri.