Bab 37: RAHASIA

1161 Words
Pagi itu Venya bangun dari tidurnya dengan keringat yang mengucur dari tubuhnya. Venya bermimpi hal yang sebenarnya sudah lama menghilang dari kehidupan nyatanya. Venya belum bercerita pada Gemma tentang satu hal, dimana cerita ini adalah hal yang cukup dalam dan juga kelam untuk Venya. Gedoran pintu membuat Venya terperanjat kaget. "Ven!" Panggil orang diluar sana. Venya dengan Cepat membuka pintu yang tadi di gedor kuat oleh sang lelaki yang sekurung menatapnya. Venya yang ditatap tersenyum kecil. "Kenapa, bem?" tanya Venya pelan. Gemma beringsut memeluk Venya. Setidaknya jika Venya menolak pelukan Gemma yang satu ini, mungkin Gemma akan mengartikan jika Venya baik - balk saja. Tapi, setelah beberapa saat Gemma memeluk Venya, dia tidak merasakan apapun. Venya hanya diam menerima pelukan dari Gemma pagi itu. Hal itu yang membuat Gemma merasa jika Venya sedang tidak baik - baik saja. Venya tidak merespon pelukan yang diberikan untuknya. Venya hanya diam. Tidak membalas aku menolak. Rasanya, Gemma ingin menanyakan hal apa yang membuat Venya menjadi seperti ini. Tentu saja hal ini membuat Gemma merasa khawatir akan Venya yang berubah drastis. Padahal, semalam Venya dan Gemma bercanda. Tertawa dna juga banyak mengobrol. Venya bahkan banyak bercerita tentang panti asuhan dan tidak ada yang membuat Venya sedih selain dia rindu pada bunda Kori dan juga amsakannya. Maka dari itu, rencananya hari ini, Gemma dan Venya akan datang ke panti asuhan untuk temu kangen. Venya juga merasa nahwa dirinya harus lulang membawa beberapa oleh - oleh untuk anak - anak panti. Sudah lama sekali rasanya meninggalkan panti dengan semua barang dan juga tidak saling sapa dengan anak - anak di sana. Terutama bunda Kori. Walaupun Venya bercerita pada Gemma bahwa Venya dan Bunda Kori sering sekali bertikar pesan dan jika Venya tidak sibuk, dia menelepon bunda Kori. Bertemu dan nertatap muka lewat layar. Venya juga bercerita jika dia tidak hanya merjndukan panti asuhan, dia juga merindukan bagaimana ramainya makan bersama dan juga mengantri toilet bersama - sama. Itu mereupakan hal yang perlu di rindukan dari panti asuhan. Terutama untuk Venya. Venya melangkah mundur. Gemma melepaskan pelukannya yang mungkin tidak berarti apa - apa untuk Venya. "Lo- l" kata Venya tersendat karena tenggorokannya kering. "Kenapa bisa di sini?" Tanua Venya. Jika saja suasananya bisa di ajak bercanda, mungkin Gemma akan mengatakan pada Venya, 'ya kali. Mikir dong, gue ads di sebelah lo make nanya lagi kenapa bisa di sini.' tapi perkataan itu hanya sampai di tenggorokannya saja. Tidak sampai keluar dsri mulutnya. Gemma sendiri memang datang karena suara teriakan Venya. "Lo teriak." Kata Gemma pelan. Suasananya agak canggung. Entah kenapa, Gemma merasa bersalah sudah memeluk Venya tanpa ijin. Walaupun tidak di perdulikan, tapi rasanya aneh. Seperti cinta tidak terbalaskan. Selanjutnya, Venya menarik gelas di mejanya dsn meminum sisa air di sana, "kenceng banget?" Tanya Venya. Gemma merasa jika ini bukan pertama kalinya untuk Venya berteriak seperti itu karena di lihat dsei Venya yang biasa saja menanggapi bahwa Gemma mendengar teriakannya dari luar kamarnya. Benar. Gemma sedang ads di luar kamarnya dan mendengar Venya berteriak. Jika kalian bertanya sedang apa Gemma ada di luar kamar sepaginitu adalah, dia sering sekali bangun dini hari dan tidak bisa tidur lagi. Maka dsei itu, ia keluar kamar, menyulut rokok dan menghisapnya beberapa batang samapi kantuk biasanya menjumpainya lagi. Gemma sendiri memang punya kebiasaan seperti itu sejak dia sering sekali keluar masuk klub malam. Dimana dirinya terkadang ridak tidur sampa pahi. Mungkin karena itu Gemma jadi memiliki kebiasaan seperti itu. Pola tidurnya menjadi kacau dan itu susah sekali untuk di perbaiki. Untuk menjawab pertanyaan daeri Venya barusan, Gemma mengangguk, "lumayan." Kata Gemma. "Tapi ga sampe warga kosan kudu ngumpul di kamar lo sih." Kata Gemma lalu terkekeh kecil berusaha mencairkan suasana yang sedikit dingin di sekitar mereka. Venya mengangguk, "sori, gue jadi ganggu lo ya?" Tanya Venya. Sekaramg Gemma menggeleng keras. "Ga, engga sama sekali." Kata Gemma, "gue kebetulan aja lagi buka pintu karena ngeroko di dalam kamar dan butuh udara segar." Bohonh Gemma. Tidak mungkin, kan, seorang Gemma mengatakan jika dirinya punya pola tidur yang kurang baik stau bisa dikatakan sangatlah kacau untuk tahun ini. Gemma juga malu jika harus emngatakan alasan tidurnya tidak normal adalah dia yang selalu masuk dan keluar klub malam sampai mabuk. Padahal, Venya sendiri sudsh memergokinya mabuk. Venya kembali mengangguk, "ya udah. Lo mau lanjut tidur ga?" Tanya Venya untuk Gemma. Apakah ini adalah kata - kata pengusiran yang sedikit halus? "Engga sampai lo cerita." Kata Gemma. Bahkan Gemma sendiri ikut kaget kenala kata - kata itu bisa keluar dengan indahnya dari mulutnya yang terkadang tidak sopan itu. Gemma menatap Venya yang menatapnya lesu. "Gue belum siap buat cerita." Kata Venya. Gemma memgangguk pelan kali ini. Rasanya seperti di tolak cinta. Kemudian dia melangkah keluar, "kalo gitu, gue tidur lagi deh." Kata Gemma lalu mulai meraih knop pintu kamar Venya untuk menutupnya. "Gem." Kata Venya pelan memanggilnya. Gemma menatap Venya yang sedang emnatap Gemma. "Gue mau cerita satu hal." Kata Venya. Dengan sigap, Gemma masuk lagi ke dalam dan duduk bersila di atas ranjang milik Venya. Venya yang melihat itu hanya terkekeh pelan. Rasanya, Gemma bisa menghiburnya untuk cerita yang satu ini. "Boleh, tempat dan waktu di persilahkan." Kata Gemma pelan sambil menepuk - nepuk ranjang Venya di sebelahnya. Bermaksud untuk membuat Venya duduk di sana. Venya yang mengerti kini duduk di sana. Di sebelah Gemma namun Venya berbalik. Dia menjadi menatap Gemma. Mereka saling tatap - tatapan. "Lo ngerasa ga kalo gue ga suka skin ship walaupun sama lo yang notabenenya adalah pacar gue?" Tanya Venya pda Gemma. Sekarang, Gemma diam. Tentu saja Gemma tahu itu. Dia bahkan ingin bertanya kenapa dan apanyang membuat Venya tidak bisa skin ship dengannya. Padahal sudsh menjadi pacar dan skin ship dimana pegangan tangan, pelukan atau bahkan ciuman adalah hal yang wajar sekarang. Gemma hanya mengangguk tanpa mengatakan apaapun dan menunggu kelanjutan dari Venya. Venya membalas anggukan dari Gemma. "Gue pernah dileccehkan karena meremehkan yang namanya skin ship." Kata Venya menunduk malu. Gemma terkejut dengan hal itu, "kapan, Ven?" Tanya Gemma pelan dan lembut sambil memegang tangan Venya. "Sebelum masuk tahun ke dua sekolah menengah atas." Kata Venya pelan. "Sama siapa?" Tanya Gemma lagi. Sekarang Gemma merasa emosi. Venya menatap Gemma, "lo ga usah tau siapa. Yang penting intinya saja." Kata Venya kini menggenggam erat tangan Gemma. "Intinya, gue berharap lo ngerti kenapa gue menolak dan sering sekali menolak skin ship sama lo." Kata Venya lagi. Gemma sekarang menegerti, "tapi lo ga kenapa - napa?" Tanya Gemma "Ga apa - apa." Kata Venya pelan. "Lo serius?" Tanya Gemma penasaran. Venya mengangguk, "serius." Kata Venya lagi. Selanjutnya Gemma menggenggam tangan Venya lebih erat. "Lo bisa cerita sama gue kalau kenapa - napa. Gue mungkin bisa bantu lo. Gue bakal bantu sebisa gue. Dan kalo gue ga bisa bantu gue bakal cari bantuan lainnya." Kata Gemma pelan. Venya mengangguk pelan, "sori, Gem. Gue baru bisa cerita sekarang." Kata Venya, "gue takut lo jadi mandang gue sebelah mata dan gue takut lo ga suka lagi sama gue." Gemma memeluk Venya, "gue sayang lo."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD