Venya baru saja sampai di kosannya. Dia sudah berads di luar seharian dan sekarang giliran dia ada di dalam kamarnya. Merenung dan memikirkan ide untuk bab - bab selanjutnya di cerita yang sedang ia kerjakan. Dua bulan lagi dia akan menyelesaikan kontrak dengan penerbitnya. Dan itu membuat Venya harus ngebut kejar setoran menamatkan satu buku ini.
Selama ini, penerbit yang sedang Venya kontrak ini baik. Tidak ada masalah apapun selain Venya uang sering kali dimarahi editor gara - gara telat menyerahkan setoran bab. Maka daribiti, Venya meminta waktu malam hari untuk menyerahkan naskahnya dan editor bisa memeeiksanya pagi harinya.
.karena setiap pagi sampai siang hari, biasanya Venya sekolah. Dan sekarang ketika sudah lulus, Venya lebih sibik fi luar. Atau bahkan dia biasanya bangun sore hari setelah semalaman begadang untuk membuat ide dari outline yang sudah ia sempat buat. Venya sendiri tidak terlalu banyak bersosialisasi. Dia hanya bersosialisasi seperlunya. Tidak ada yanh spesial tapi Venya nyaman dengan zonanya sekarang.
"Masih ga percaya aja gue udah dari kantor penerbit sebanyak itu." Kata Venya beemonolog.
Untuk Venya sendiri, menggunakan nama Venya, biasanya membuat dirinya sendiri menjadi tidak percaya diri. Dimana dirinya merasa asing di dunia kepenulisan saat menggunakan namanyanm yang sekarang. Namun, jika emnggunakan nama Flora, Venya sangat semangat. Dia bahkan bisa dikenal orang banyak berkat nama itu. Setidaknya, terima kasih Flora sudah membuat Venya mendatkan uang dan juga cukup ketenaran pada masa yang sulit ini.
Kenapa Venya menyebutnya masa sulit?
Karena memang kehidupan sebelum mengenal Flora adalah masa sangat sulit untuk Venya. Dia menjalani rutinitas kecil begitu saja. Tidak tahu bagaimana menikmati hidup karena teeus bergantung pada yang namanya 'sumbangan' dan juga kata 'adopsi' adalah salah satu harapan terbesar seorang Venya pada masa itu.
Tidak semua beejalan baik. Hanya beberapa namun baik belum tentu tidak sulit. Bahkan jika bisa di katakan, Venya terseok - seok untuk ada sanpai di titik ini. Dia harus menjalani rumitnya suasana panti. Tidak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Dan tentu saja, menulis cweita satu bab saja dia harus membayar sepuluh ribu rupiah untuk menyewa komputer di warung internet. Dieinya tidak memiliki ponsel saat itu.
Membalas komentar dan menulis hanya di satu waktu saja. Tidak banyak dan tentu saja sangat tidak efektif mengingat Venya harus pulang dan pergi ke warung internet di dekat sekolahnya. Bahkan uang jajannya harus di simpan karena dia membutuhkan uangnya untuk online di warung internet itu.
Venya menarik nafasnya, "masa sulit yang patut untuk di nikmati." Katanya pelan dengan lapang d**a.
Dan sekarang, dia sudah mengenal Flora yang sangat membantunya. Membantu orang lain dan juga membantu teman dan oeang - orang di dekatnya. Dan yang terpenting adalah, sangat membantu dirinya sendiri.
Venya tidak tahu jika Flora bisa menyembuhkan luka ini. Namun, Venya merasa bahwa dirinya sangat beruntung. Sangat - sangat beruntung. Dia menemukan Flora di ujung pencariannya terhadap orang yang berniat mengadopsi dirinya. Dia juga iseng sekali menamai dirinya Flora di akun orangee terdahulu. Dimana Flora adalah bunga. Dan tentu saja bunga tidak ada yang tidak cantik. Bahkan bunga bangkai pun dianggap cantik oleh serangga sehingga bisa memerangkapnya.
Venya ingin menjadi Flora. Yang cantik dan begitu di nikmati dan memikat orang yang melihatnya. Dia ingin menjadi Flora dan memikat hati orang yang datang ke panti asuhan dan mengadopsi dirinya. Namun, gagal.
Flora gagal di dunia nyata.
Tapi dia berhasil menggaet orang - orang yang tertarik dengan namanya. Flora berhasil menggaet orang untuk menyukainya. Di dunia maya memang. Namun, sebegitu menarik Flora untuk minat baca orang - orang yang senang dengan ceritanya. Orang - orang yang bahkan membaca dan membeli koin. Rela menghabiskan uangnya untuk membuat Flora senang.
Setidaknya, Flora sangat menguntungkan bagi Venya.
"Terima kasih, Flo." Kata Venya kepada akun dimana dirinya sendiri yang memilikinya.
Venya sedang ada di depan laptopnya. Membuka akun kepenulisan yang sangat berarti baginya. Tentu saja tanpa editor diantidak akan menjadi seperti sekarang. Editor yang menjembatani Flora di dunia itu. Dimana dunianya kini menjadi lebih baik lagi. Belajar dan terus belajar untuk menulis sesuatu. Memecahkan rekor target dan juga mendapatkan uang lebih. Flora melakukan itu di akun itu berkat bantuan dari editor lamanya.
Kenapa editor lama?
Karena sekarang editor dunia kepenulisannya diganti. Jika ditanya kenapa diganti, Flora akan menjelaskannya sesingkat - singkatnya.
Dulu sekali, Flora di rekrut oleh orang yang mengaku dirinya editor di plaform yang sekarang di tempati oleh Flora. Dia di bayar menggunakan uang dollar dan juga di bayar di kuka. Dulu bayarannya sangat menggiurkan sehingga Flora dengan santainya setuju. Padahal, pada awalnya dia pikir dia akan tertipu oleh editor yang mengaku - ngaku akan membayarnya dengan jumlah uang cukup besar. Di atas seuluh juta rupiah jika dollar itu di rupiahkan. Dimana Flora dulu sangat membutuhkan uang itu untuk kehidupannya.
Venya di dunia nyata juga sangat tercengang dengan tawaran semacam itu. Jikalau itu penipuan juga, Venya dan Flora tidak akan merugi. Toh ceritanya yang di jual itu adalah ceeita yang ditl tulisnya beberapa tahun ke belakamg. Oleh karena itu, Venya dan juga Flora di dunia maya menyetujuinya dengan imbalan bahwa dirinya akan di bayar sebulan setelah Flora memindahkan seluruh ceritanya ke platform yang sekarang di tempatinoleh Venya dan Flora tentu saja sebagai penulisnya.
Menandatanganinkontrak dan setelah utu, dia menerima uangnya sebulan kemudian setelah Flora memindahkan seluruh ceeitanya dari dunia orangee ke dunia yang sekarang ditemlatinya. Dan benar saja, uang itu muncul di rekening milik bunda Kori. Karena dulu, Venyantidak punya rekening. Jadi, dia meminjam milik binda Kori.
Saat itiu, bunda Kori terkejut tentu saja. Venya juga terkejut namun tidak seterkejut bunda Kori yang bahkan tidak menyangka Venya bisa menghasilkan itu, uang sebanyak itu akibat pulang peegi ke warung internet di dekat panti asuhan.
Dari uang itulah, ponsel pertama Venya dipegang olehnya.
Bunda Kori beekata, "handphonenya di pakai untuk yang bermanfaat ya. Jangan sampai di pakai yang macam - macam." Kata bunda kori.
Tentu saja sata itu Venya merasa bahwa platform ini menjanjikan. Dia ingin lagi menjual cerita namun, ceritanya habis terjual semuanya. Ada empat cerita waktu itu.
Dan editor menyarankan untuk menulis secara on going di platform tersebut. Editor itu menyebutkan banyak sekali bonus yang bisa di dapatkan. Dan tentu saja Venya juga Flora tertarik dengan kata bonus. Hingga akhirnya, Flora menulis beberapa ceeita di sana dna mendapatkan bonus yang sesuai dengan pernyataan dari editor lamanya itu.
Setelah ceeita itu laju keras, Flora mendalatkan kabar buruk karena editornya di pecat darinlerusahaan karena katanya dia mem'plagiat'kan ceeita orang lain. Menurut cerita snag editor sendiri, dia sama sekali tidak memplagiatkan. Dia yang menulisnya pertama di akun orange miliknya terdahulu dan di pindahkan ke platform menulis ini. Sehingga akun orange di sana tidak bisa menjadi bukti karena sudah dihapus keseluruhannya.
Jadilah Flora mendapat editor yang baru.
"Kangen di editorin kak Humaira." Kata Venya pelan di depan laptopnya yang sudah membuka ceritanya.
Tangannya di atas mouse tanpa kabel dan mengarahkannya kepada tulisan, 'episode baru' untuk menulis bab selanjutnya. Sering kali Venya lupa ceritanya sudah sampai mana. Sehingga dia mengecheck dulu bab sebelumnya. Membacanya dan meneruskan menulisnya.
Dalam menulis sebuah cerita tentu saja Venya maupun Flora harus mendapatkan feelnya. Dimana dia harus masuk ke dalam ceritanya walaupun hanya sebentar. Kemudian jari - jemari Venya mulai merangkai kata dengan mengetikkan tulisan yanh di rangkai sedemikian rupa. Jari - jemarinya menekan - nekan tombol di atas keyboard laptopnya secara bergantian dan tentu saja tidak lupa menekan tombol delete ketika merasa tekanan pada tombol di keyboardnya tidak benar.
Flora tenggelam dalam ceritanya.
*** ***
Ketukan pintu membuat Venya segera menoleh. Dia yakin itu passti Gemma. Tidak ada orang lain lagi yang sudi untuk mengetuk pintunya ataupun sekedar bertamu kepada Venya selain Gemma atau satu lagi orang yang ada kebutuhan khusus untuk Venya adalah tukang kurir. Paket yang dikirimkan toko online itu biasanya langsung naik ke lantai dua setelah diijinkan oleh satpam rumah kosan ini. Dimana sang satpam sudah mengenali orang - orang di dalam rumah ini. Salah satunya adalah Venya.
Hari itu tidak ada paket yang di tunggu oleh Venya. Dia hanya menulis dan belum mau membeli apapun di online shop. Dia biasanya membeli apa yang ia butuhkan dulu. Seperti kemarin sore, dia membeli alat mandi seperti gayung dan ember. Memang di sediakan dari pihak kosan. Tapi menurut Venya dia memerlukan lebih dari satu. Juga keranjang cucian kotor. Dia membelinya di obline shop akrena harganya lebih murah. Terjangkau tapi worth it untuk di beli
Venya melihat jam di sudut kanan bawah layar laptopnya yang masih menyala. Sudah pukul delapan malam. Dan Venya sedari tadi duduk di depan laptopnya. Dia bahkan lupa untuk mandi. Dia hanya bangkit dari tempat duduknya karena membawa air minum ataupun ke kamar kecil untuk buang air kecil. Selebihnya, Venya hanya duduk di sana dan menakan - nekan tombol keyboard di laptopnya yang bahkan ttidak bersuara. Dia hanyut ke dalam cerita yang ia buat sendiri.
Kemudian, dia bangkit dari tempat duduknya, meregangkan pinggangnhmya dan juga merehangkan sendi - sendi jarinya sendiri smapai berbunyi. Dia sendiri sudah melakukan itu lebih dari biasanya. Dua bab untuk platform online yang sudah biasa ia isi, satu bab di platform online lain dan dua bab untuk penerbit.
Jika di pikir - pikir dia hampir lima jam duduk di kursinya, menatap laptopnya dan satu bab satu jam. Lebih kurang dia menulis sepuluh ribu kata total untuk semuanya.
Venya melemaskan otot lehernya kemudian berkata, "waaah produktif sekali gue sore ini." Kata Venya pelan lalu ia menggapai gagang pintu kamar kosannya. Gemma muncul di sana dengan tatapan kecurigaan.
"Ngapain aja lo di dalem? Betah banget dari tadi balik jalan." Tanya Gemma.
Tanpa basa - basi, Gemma langsung masuk ke kamar Venya, duduk di karpet dekat ranjang dan menyimpan keresek yang ia bawa. Venya hanya terkekeh melihat kelakuan Gemma. Lantas dia ikut duduk juga setelah menutup pintu kamarnya.
"Kerja lah gue." Kata Venya menjawab pertanyaan Gemma, "apaan nih?" Tanya Venya sekarang sambil membuka bungkusan kresek yang bahkan sudah terlihat dari luar jika itu adalah makan malam untik Venya, "kok lo tau sih gue lagi pengen ricis?" Kata Venya.
Gemma berdecak, "ya gue tadi jalan terus liat cewek - cewek banyak mgumpul di sana. Sekalian modus sekalian beli makan." Kata Gemma.
Venya memberhentikan tangannya yang sedang membuka kotak makan dari dus itu lalu menatap Gemma. Gemma auto diam, "oh gitu." Kata Venya kemudian lalu membuka lagi dus itu, "lo pikir, gue peduli?" Tanya Venya.
Gemma menggeram, "sial. Lo belom sayang sama gue apa? Kenapa ga cemburu sih?" Tanya Gemma sedikit kesal karena dia bahkan tidak pernah mendapat perhatian dari Venya.
"Lo berfikir gue sayang sama lo?" Tanya lalu mengigit ayam merah ricis itu setelah mencelupkannya kepada saus keju yang tersedia terlebih dahulu besar - besar, "ya enggak lah." Kata Venya kemudian dengan mulut penuh dengan ayam dan bibir penuh dengan saus sambal dari ayamnya.
Gemma menatap Venya, "lo ga serius kan?" Tanya Gemma pelan.
Venya menatap Gemma yang masih menatapnya lalu Venya tersenyum, "enggaklah." Kata Venya singkat setelah menelan ayamnya. Kemudian dia tersenyum, "ga serius gue." Kata Venya setelah melihat Gemma yang menatapnya masih menunggu jawaban.
Tarikan nafas dari Gemma, membuat Venya terkekeh lagi, "gue itu bukannya ga peduli sama lo kalo lo mau deket sama siapapun termasuk cewek." Kata Venya, "gue ga mau batesin lo buat bersosialita," tambah Venya kemudian dia menatap Gemma lagi, "gue ini udah kudet banget buat urusan bertemen, kata - kata gaul dan lain halnya di dunia luar. Gue ga mau pacar gue ini juga sama." Kata Venya.
Gemma menghembuskan nafasnya kesal, "kalo gue di ambil sama cewek lain, lo masih ga peduli?" Tanya Gemma.
Venya mengangguk, "gue ga peduli, tapi gue mau tanya sama lo. Kalo lo mau di ambil sama cewek, apa lo mikirin gue?" Tanya Venya pada Gemma yang masih menatapnya.
"Ya mikirin lah." Kata Gemma langsung.
"Ya udah kalo gitu." Kata Venya lagi.
Gemma mengerutkan keningnya, "ya udah? Ya udah gimana, Ven?" Tanya Gemma tidak mengerti.
Venya mengunyah ayamnya lagi yang sudah ia gigit tadi sebelum Gemma bertanya, "ya udah, kalo lo mikirin gue, lo bakal mau ga di ambil sama cewek lain?" Tanya Venya lagi.
Gemma diam.
"Intinya, kalo lo ga respon itu cewek yang mau ngambil lo dari gue, dia ga bakal berhasil dapetin lo. Apalagi kalo di tambah lo yang mikirin gue di sii." Kata Venya, "benar?"