bc

Double E

book_age18+
529
FOLLOW
2.9K
READ
CEO
drama
bxg
genius
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Ed dan Ed dua nama yang sama, karakter berbeda namun sebuah tragedi menyatukan mereka dengan satu rahasia yang menguji cinta keduanya. Ed ingin mengatakannya, tapi ia masih memiliki tujuan lain, sedangkan Ed ingin Ed jujur kepadanya.

chap-preview
Free preview
Plester Bintang-Bintang
Cowok itu mengoleskan semacam antibiotik ke lututku yang tergores, lalu meniup-niupnya, aku kegelian di bagian belakang lututku. "Sakit?" Pemuda itu bertanya. Matanya disipitkan, kelihatannya ia tengah berusaha untuk melihat dengan jelas. Aku menggeleng. "Kau pakai kacamata ya?" Dia tertawa pelan. "Iya, tapi pecah kena injak gajah, abangku. Mama belum punya duit buat beli yang baru. Jadi yah, owe tidak bisa liat ha, pusing pala owe." Aku tergelak mendengar leluconnya. Cowok itu ikut-ikutan tertawa. Tawa kami berderai. Di sekitaran apotik tak ada orang, jadi kami menguasai teras apotik untuk diri kami sendiri. Duduk menjelepak tanpa alas di lantai keramik yang dingin dan retak-retak, tapi siapa peduli. "Oh, aku Ed, Edgar, biasanya sih baik hati, apalagi kalau di traktir indomie." Ia menjulurkan tangannya, aku masih tertawa. Tanpa pikir panjang aku pun menyebutkan nama."Elle, biasanya sih cantik tapi selalu menolak ikutan kontes hewan peliharaan." lagi-lagi mereka tertawa. Perkenalan malam itu lain daripada yang lain. Edgar manis, dan pastinya baik hati. Buktinya ia mau saja menolong gadis yang baru ditemuinya, tanpa pikir panjang dan tanpa banyak tanya kenapa si gadis sampai terluka. Ia lalu mengeluarkan sebuah plester dari saku jaket army-nya, plester dengan gambar bintang-bintang berwarna biru, lalu dengan lembut ditempelkannya ke lukaku. Sedikit perih, tapi ketika Ed melihat ke mataku, rasa perih itu beralih ke jantungku yang berdetak dua kali lipat. Mata itu tersenyum, dan ia pun berkata, "kau akan baik-baik saja." Aku hanya terdiam membalas tatapan matanya, dan, Aku rasa aku jatuh cinta. *************************************************** "Kenapa Elle? kenapa lututmu?" Mama memang seperti itu, selalu khawatir kepadanya, padahal lukanya tak seberapa. "Makanya, minta Pak Minto buat nganterin kamu, eh, ini malah nekat bawa sepeda sendiri, mana udah malam lagi." Wanita cantik itu lalu memeriksa luka di lututnya yang di tutupi plester bintang-bintang. "Nggak apa-apa kok ma, lagian rumah Echa kan di blok sebelah, kasian Pak Minto dibangunin malam-malam." Ia tersenyum mengisyaratkan ia baik-baik saja. Mama hanya mendesah pasrah. "Kamu memang anak baik, Elle." Pintu depan terbuka, seorang gadis masuk. Jaket denimnya kotor, celana jeans-nya yang sobek-sobek dan makin terlihat tak berbentuk karena banyak kotoran yang menempel. Kupluk abu-abunya menutupi semua rambutnya. "Kamu berantem lagi? pulang malam, berkeliaran dengan berandalan, berkelahi! sampai kapan kamu seperti itu Ed? ha? jawab Mama!" Suara Mamanya yang tadi selembut sutra berubah tajam bak mata pisau. Wanita itu memandang lurus ke arah si gadis yang mukanya biru-biru dan sudut bibirnya berdarah. "Aku ke kamar dulu." Gadis itu menjawab lirih, ia sudah terbiasa diperlakukan seperti ini sejak ia masih kecil. Dengan langkah pelan ia naik ke lantai dua menuju kamarnya, tak dipedulikannya sorotan tajam mata perempuan itu yang seolah sedang menembus batok kepalanya. Biasanya ia langsung tertidur dan langsung bertemu si mimpi yang tak pernah mau bersahabat dengannya, tapi tidak kali ini, ia berbaring telentang di kasur yang beralas hitam bergambar tengkorak. Matanya memandang langit-langit, sebuah senyum lebar menghiasi wajahnya, tak dipedulikan wajah dan tubuhnya yang perih akibat luka-luka. Benar ia tak peduli, karena inilah malam terbaik seumur hidupnya, karena pada akhirnya. Ed Jatuh Cinta. **************************************** Elle merasa ada yang memperhatikannya, refleks ia menoleh ke samping dan melihat seorang cowok tengah menatapnya malu-malu, rambutnya lurus sebahu dan dikuncir di bagian tengahnya. Si cowok kuncir sedang duduk di meja di sebelah mejanya. Kafetaria sekolah selalu penuh di jam istirahat, jadi meja-meja yang disediakan disini panjang-panjang dengan dudukan dari kayu seperti yang biasa kita temui di tempat tunggu dokter. Sekalinya ramai ya ramai, satu kursi yang muatannya lima orang, bisa diisi tujuhorang atau lebih. Elle sendiri duduk dengan tiga sahabatnya, Malika, Hanum dan Galuh, selebihnya adalah teman-teman satu kelasnya yang lain. Cowok itu masih menatapnya, Elle tiba-tiba gugup. "Yaelah, kayak agen rahasia aja sih Elle, main kode-kodean." Hanum menyentil hidungnya. Teman-temannya yang lain tertawa, Elle merasa mukanya memanas karena tertangkap basah. "Oh..mereka kan lagi jadi hot issue, si kembar empat super hot yang baru pindah dari tanah seberang." Oke, itu si Galuh yang hobi menempelkan apa saja di mading sekolah, entah itu cerpen, berita, info terbaru atau pamflet. Tak heran jika ia selalu menjadi orang yang paling update satu sekolahan. "Oh ya, gue juga baru denger tuh, kan mereka baru pindah hari ini yah, owh gue penasaran sama yang tiga." Malika tak kalah centil, ia baru putus dengan pacarnya tiga hari yang lalu, di keningnya sekarang tertulis i'm single and available. "Tuh orangnya." Galuh mengedikkan kepala ke arah jalan masuk menuju kafe. Ada tiga orang, super ganteng, berbadan tegap, berambut gondrong, berbahaya dan bermuka sama, dan itu deskripsi secara umum. Kalau di lihat satu-satu, yang paling depan jelas ganteng, tampan dengan sedikit rasa kebule-bulean, rambutnya ikal sebahu, matanya menyiratkan kenakalan luar biasa. Yang kedua, jelas juga ganteng, tampak berasa bule, berambut ikal setengkuk, cool or cold?Tersenyum bukan sifat dasarnya, rahangnya tegas dan ada aura kepemimpinan yang besar. Dan yang terakhir, oh Good Lord, He's beautiful. Kafetaria dipenuhi desahan kekaguman dan bisik-bisik anak perempuan. Ada yang berteriak kecil disudut lalu diiringi suara cekikikan. Gerombolan si tampan menuju ke meja di sebelah Elle, tempat si empat menunggu saudara-saudaranya. Meja yang penuh langsung kosong sebagian. Ada beberapa anak yang menghindar ketakutan dan memberikan si kembar tempat duduk. "Wuih kenapa tuh anak-anak?" Hanum tampak heran dengan kejadian di meja sebelah. "Oh tadi, katanya yang rambutnya ikal dan lebih panjang, mukulin Bang Bram di toilet. Sampai-sampai Bang Bram harus di gotong ke klinik." Galuh memberikan info yang bisa dipastikan akurat. Yang lainnya serempak bergumam "oh". Bang Bram yang dimaksud adalah senior mereka yang dikenal sebagai raja bully dan belum ada yang berani melawan kekejamannya. "Siapa namanya si pitung ini?" Mata Malika berbinar-binar. Ia menemukan sebuah sinar harapan untuk kisah cintanya. "Don't know, Skylar, Skyler...whatever." Galuh memang tak peduli, ia hanya peduli pada kontes puisi yang akan diikutinya pekan depan. "Owh sweeet. Sky... ahhh aku ingin membangun istana di atas awan bersamamu Skyyy." Malika berada di atas awan sekarang. Biru, luas dan kondisinya mendukung untuk dibangun sebuah kastil. Cuma Malika bingung, kastilnya dibangun pakai apa, bata atau batako. Elle geleng-geleng kepala menyaksikaan kekonyolan sahabat-sahabatnya, ketika ia menoleh sekali lagi, si kuncir kini tengah sibuk mengobrol dengan saudara-saudaranya dan Elle merasa sedikit dijauhi. "Kenapa si Ed?" Hanum menyenggol lengannya, Elle melihat Ed masuk ke kantin, wajahnya masih ada bilur-bilur biru, Elle juga melihat luka lebam di kakinya. "Nggak tahu." Ia cuma mengangkat bahu dan tak mau tahu dengan Ed serta kelakuannya. "Woi Ed!! my favorit man!" Sebuah suara kencang menyapa Ed. Si Sky-Sky kesukaan Malika sekarang bertos riang dengan Ed yang tertawa-tawa karena rambut pendeknya di acak Sky. Malika berdecak melihat kegembiraan disampingnya, ia tak suka. "s**t, kan gue yang duluan daftar jadi mis Claudy?" "What? Mis, what? Claudy? ogh! never mind!" Galuh menelan protesnya, karena Malika mendelik ke arahnya sekarang. "Sudahlah." Elle menengahi kedua sahabatnya yang sering sekali beradu pendapat. Ketika hendak kembali ke mangkuk baksonya, ia melihat si kuncir kini memberikannya sebuah senyuman yang manis sekali. Elle merasakan dadanya berdebur kencang. Elle membalas dengan sebuah senyuman tak kalah manisnya. *************************** "Kenapa anak kembar bisa beda?" "Ah, itu pertanyaan bagus, sama seperti kenapa cuma lu yang b******n diantara kita berempat." "Karena gue ganteng, sedangkan Ed tolol." "Ed juara dua." "Yeah, dan rangking lo paling buntut." "Bukan, gue nomor dua, nomer satu Ed." "Nomor satu dari belakang." "Nggak usah dijelasin." "Nah sekarang lo ngerti kan?" "Sky nggak bodoh, cuma otaknya tinggal setengah, separohnya lagi di gadaikan di lapak vcd porno." "Diam lu Ed, lu nggak asyik kayak Ed." "Gue bingung, what's her name once again?" "Edna." ********************************* Edna yang dimaksud adalah Savior Edna Tamrin, gadis berambut pendek, preman dan paling bodoh satu sekolahan. Nilai-nilainya tak pernah ditulis dengan tinta hitam, selalu merah. Langganan kena setrap guru karena hobi membuat huru hara, dan katanya, Ed anak gank motor dan sudah ditiduri banyak laki-laki diluar sana. Edna is a w***e or a criminal, entahlah, mungkin keduanya. Anak-anak tak ada yang mau berteman dengannya, selain karena berotak dungu, Ed juga kerap membuat masalah. Gadis itu pernah membuat wc sekolah mampet hingga air dan kotoran meluber keluar. Suatu hari ia mengganti bendera merah putih dengan celana dalam penjaga sekolah di ujung tiang, Edna juga pernah merekam video m***m kepala sekolah dan salah seorang wali murid yang ber-TKP di dalam sebuah mobil di parkiran sekolah. Heboh, massa syok dengan tersebarnya video, akhirnya si kepala sekolah di pecat dan Edna sempat meludahi kepala botaknya. Mereka masih menoleransi Ed karena saudara kembarnya, Grace Elleanor Tamrin, yang mempunyai sifat kebalikan dari Ed. Elle cantik, berkulit bersih, berambut panjang dan cerdas. Sebelum Kivlan Zacharino datang, ia juara umum di sekolah, lalu dengan rela memberikan tahtanya ke si cowok cantik yang ternyata adalah seorang pemalas sejati. Elle baik hati dan ramah kepada siapapun, semua orang menyukai dan menyayanginya. Makanya tak ada yang rela Edna menjadi kembaran Elle yang suci seperti Bunda Maria. They like angel and grim reaper, Elle putih, Ed hitam dan dikerubungi belatung, mereka sama tapi berbeda. Desas desus mulai berkembang, dan itu tak ada yang masuk akal, yaitu tentang Ed yang pernah mencoba mendorong Elle dari lantai empat sekolah, tapi karena Elle punya sayap, kematianpun terhindari. Lalu ada kabar bahwa Ed menjual jiwanya kepada setan yang menghuni gunung krakatau, dan membuat Ed mempunyai sembilan nyawa, abadi sepanjang jaman, ia hanya bisa mati jika mendengar kucing mengaum. Banyak lagi kabar yang berhembus, membuat Ed makin dijauhi oleh semua murid.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook